Politik & Pemerintahan

Belum Memenuhi Syarat, Penyaluran Dana Otsus Tahap 2 Ditunda

Foto bersama usai kegiatan

MIMIKA, BM

Dalam rangka percepatan penyaluran dana Otonomi Khusus (Otsus) dan fisik tahun 2024, Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Kabupaten Mimika menggelar sosialisasi Permenkeu nomor 33 dan 25.

Kegiatan yang berlangsung di Hotel Horison Diana, Selasa (10/9/2024) diikuti seluruh OPD pengguna dana Otsus dan Dana Alokasi Khusus (DAK).

Diketahui, dana Otsus ini ada dua yaitu Block Grand yang dikelola oleh 14 OPD dan Spesifik Grand dikelola 7 OPD.

Sekretaris BPKAD Kabupaten Mimika Yandry Sedubun mengatakan, sosialisasi ini sangat penting dilakukan karena sampai saat ini penyaluran dana Otsus tahap dua tertunda karena belum memenuhi syarat.

"Jadi masih tertunda, sementara untuk tahap satu sudah disalurkan. Laporan pekerjaan tahap satu belum 50 persen. Nanti akan disalurkan ketika pelaporan kita mencapai 50 persen. Kita berharap teman-teman OPD bisa melaksanakan tugasnya," ungkapnya.

Yandry mengatakan bahwa ada dua kemungkinan yang menyebabkan penyaluran tahap dua ini ditunda yaitu, ada pekerjaan di tahap satu yang belum dilaksanakan atau pekerjaannya sudah dilaksanakan tapi belum dilaporkan.

"Jadi itu sangat berpengaruh juga. Sehingga dengan adanya sosialisasi ini bisa ada percepatan realisasi," ujarnya.

Pj Sekda Mimika Petrus Yumte mengatakan, dalam rangka percepatan penyerapan realisasi kegiatan maupun anggaran, perlu dilakukan sosialisasi dalam mendukung terwujudnya pemerintahan yang baik.

Pemerintah Kabupaten Mimika merupakan bagian daerah otonomi yang saat ini melakukan pengelolaan terhadap dana otonomi khusus dan Dana Alokasi Khusus (DAK).

"Di mana dana otsus merupakan bagian dari TKD yang dialokasikan kepada daerah otonom untuk mendanai pelaksanaan otonomi khusus,"kata Petrus.

Sementara Dana Alokasi Khusus selanjutnya adalah DAK fisik yang merupakan bagian dari TKD yang dialokasikan untuk mendukung pembangunan atau pengadaan sarana dan prasarana layanan publik daerah.

Tujuannya untuk mencapai prioritas nasional, mempercepat pembangunan daerah, mengurangi kesenjangan layanan publik dan mendorong pertumbuhan perekonomian daerah.

"Berdasarkan data capaian realisasi kegiatan yang bersumber dari dana Otsus dan DAK Pemerintah Kabupaten Mimika masih sangat rendah, sedangkan saat ini sudah memasuki triwulan ketiga tahun 2024," tuturnya.

Ia juga menghimbau agar para kepala OPD dan jajarannya melakukan aksi nyata dalam percepatan untuk mendorong realisasi kegiatan maupun keuangan yang bersumber dari Otsus dan DAK fisik tahun 2024. (Shanty Sang)

Dishub Gelar Seminar Pendahuluan Pengembangan Bandar Udara Mozes Kilangin

Foto bersama kepala dinas bersama tamu undangan

MIMIKA, BM

Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Mimika melakukan seminar pendahuluan pengembangan Bandar Udara Mozes Kilangin mulai dari runway, taxyway, apron fasilitas pendukung lainnya.

Agar mendukung rencana ini, Dishub menggandeng PT Esa Pratama Cipta Selebes (EPCS), perusahaan yang bergerak di bidang perencanaan arsitektur, supervisi, dan manajemen konstruksi.

Seminar pendahuluan ini berlangsung di Hotel Swisbelin, Jumat (30/8/2024).

Kepala Dinas Perhubungan Mimika, Jania Basir mengatakan, bahwa tujuan seminar pendahuluan ini untuk memperoleh dokumen perencanaan teknis.

Dan perencanaan yang akan dilakukan ini untuk keseluruhan pengembangan bandara, bukan hanya sebagian saja, tetapi seluruh fasilitas dan bangunan yang ada di dalamnya.

"Tahun 2020 kan kita sudah rencana penambahan panjang dan pelebaran runway, cuma karena dokumen perencanaan bandara dari perencanaan awal saat pembangunan belum pernah dibuat review design makanya sekarang dibuat seminar pendahuluan pengembangan bandara,"kata Jania.

Katanya, masa kadaluarsa dokumen perencanaan itu ada sehingga tahun ini Dishub menganggarkan untuk perencanaan pengembangan Bandar Udara Mozes Kilangin.

Lebih lanjut dikatakan Jania, proses perencanaan ini dijadwalkan berlangsung hingga Desember 2024.

Setelah dokumen perencanaan awal selesai, akan dilanjutkan dengan seminar antara dan seminar akhir sebagai bagian dari tahapan pengembangan lebih lanjut.

"Jadi tahun ini, kami mengalokasikan anggaran khusus untuk perencanaan pengembangan bandara ini dulu. Nanti akan berlanjut lagi,"ungkapnya. (Shanty Sang

Rumah di Kampung Wakia Terbakar, Warga Memilih Tinggal di Tanjung

Kondisi Warga Kampung Wakia Saat Ini 

MIMIKA, BM

Pasca konflik di Kampung Wakia oleh oknum masyarakat dari kampung tetangga yang mengakibatkan rumah warga terbakar sehingga membuat warga Kampung Wakia memilih tinggal di Tanjung.

Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Assisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Septinus Timang, pada Minggu (01/9/2024) turun langsung ke lokasi pengungsian di pantai Wakia, untuk melihat langsung kondisi warga kampung Wakia.

Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesra Setda Mimika Septinus Timang didampingi Sekretaris Distrik Mimika Barat Tengah, Melkisedek Snae dan staff Distrik turun ke pantai dan bertemu langsung dengan warga wakia yang memilih tinggal di pantai dengan mendirikan tenda-tenda untuk mereka huni sementara.

Septinus mengatakan perintah Bupati Mimika Johannes Rettob yang disampaikan kepada Pj Sekda, Petrus Yumte untuk melihat langsung situasi dan kondisi terutama masyarakat yang rumahnya dibakar dan mengungsi di pantai.

"Saya ditugaskan langsung oleh pimpinan untuk mengecek situasi, keadaan masyarakat yang mengungsi karena rumahnya di kampung terbakar. Kami juga mau dengar apa yang sebenarnya yang terjadi di sana dan keluhan masyarakat yang menjadi korban itu apa saja selain bantuan perumahan tentunya," kata Septinus.

Ia menambahkan, Pemda kaget dengan situasi kejadian ini. Setelah dilakukan koordinasi dengan Forkopimda, salah satu hal yang disampaikan sekretaris distrik bahwa warga sudah mengungsi ke pinggir pantai.

"Atas nama Pemerintah, saya berharap semua warga yang ada di pinggir pantai ini bisa menjaga kesehatan dan tetap tenang, jangan terpancing dengan isu-isu yang beredar. Karena pemerintah dan keamanan tidak mungkin tinggal diam, kami akan secepatnya mencari solusi terbaik agar masyarakat tidak tinggal di pinggir pantai tetapi ada rumah yang bisa dihuni sementara pemerintah selesaikan konflik Wakia,"ujarnya.

Untuk diketahui, warga yang mengungsi di pinggiran pantai bukan saja warga dari Kampung Wakia tetapi ada beberapa pendulang yang selama ini sudah hidup berbaur dengan masyarakat layaknya keluarga.

"Masyarakat pengungsi di pinggir pantai Wakia mengharapkan bantuan seperti pakaian layak pakaian, tenda dan tikar. Karena masyarakat merasa lebih nyaman berada disana selama konflik,"ungkapnya. (Shanty Sang)

Top