Hukum & Kriminal

Persempit Kaburnya Tersangka R, Polisi Lakukan Penyekatan

Kapolres Mimika, AKBP I Gede Putra 

MIMIKA, BM

Pihak keamanan masih melakukan pengejaran terhadap salah satu tersangka yang kabur usai ikut terlibat dalam kasus mutilasi terhadap 4 warga Nduga pada tanggal 22 Agustus lalu.

Salah satu tersangka yang juga sudah ditetapkan sebagai DPO itu berinisial R. Oleh karena itu untuk mempersempit kaburnya R keluar dari Kabupaten Mimika, pihak keamanan sudah melakukan penyekatan baik lewat perairan maupun udara.

"Mudah-mudahan tim kami yang sampai sekarang masih bekerja dilapangan itu bisa cepat menangkapnya,"ungkap Kapolres Mimika,AKBP I Gede Putra saat ditemui di Rimba Papua Hotel (RPH), Senin (5/9).

Kata Kapolres, dari keterangan saksi-saksi ternyata pelaku R sangat aktif dalam kasus ini, sebab R diketahui ikut dalam perencanaan hingga mutilasi dan pembakaran.

"R ini juga yang menyiapkan bensin bahkan R ini juga sebagai penghubung dengan pihak korban,"kata Putra.

Disampaikan juga bahwa pada saat dilaksanakan rekontruksi, ditemukan ada beberapa fakta-fakta baru yang berkaitan dengan keterangan dari masing-masing tersangka.

"Jadi sebagai bentuk tindaklanjut atas penemuan fakta-fakta baru, penyidik sudah melakukan pemeriksaan-pemeriksaan tambahan," ujarnya.

"Fakta-fakta baru itu seperti salah satu tersangka (J) yang awalnya dia tidak mengaku tidak ikut melakukan penganiayan di TKP di Budi Utomo, namun pada saat rekontrusksi ada beberapa saksi yang menyampaikan bahwa dua juga ikut melakukan penikaman,"ungkap Putra. (Ignas)

Pangdam Akan Perketat Pengawasan Keluar Masuk Muhandak

Mayjen TNI Muhammad Saleh Mustafa saat melakukan konferensi pers di Rimba Papua Hotel, Senin (5/9/2022)

MIMIKA, BM

Mayjen TNI Muhammad Saleh Mustafa baru saja dilantik sebagai Pangdam XVII Cenderwasih pada Sabtu (3/9/2022).

Saat berada di Mimika, Pangdam Mustafa mengatakan bahwa sesuai arahan Panglima TNI, ia akan memfokuskan pengawasan terhadap kasus jua beli amunisi dan senjata di Papua yang dilakukan oleh oknum TNI maupun Polri.

"Diduga ada keterlibatan TNi polri dalam jual beli amunisi, khususnya TNI sehingga ada beberapa orang yang sudah kita periksa," ujarnya di Rimba Papua Hotel, Senin (5/9/2022).

Sebagai Pangdam, Mayjen TNI Muhammad Saleh Mustafa mengatakan ia akan melakukan evaluasi secara menyeluruh sekaligus melakukan pengetatan terhadap keamanaan dari material muhandak (amunisi, bahan peledak).

"Ini akan saya tingkatan. Klasifikasi terkait keamanan ini (muhandak) akan saya evaluasi mulai dari gudang, sistem keluar masuk sampai pencatatanya akan kita perketat. Jika tidak sesuai maka sudah pasti ada yang sengaja bermain disitu," ungkapnya.

Bahkan ia juga akan secara langsung menentukan anggota TNI yang bertugas untuk menjaga keamanan di gudang peluru.

"Petugas gudang kita pilih nanti adalah yang benar-benar bertanggungjawab karena ini sumber masalah. Kita akan evaluasi semua karena masalah ini sangat membahayakan bagi kita semua, bukan hanya TNI dan Polri namun juga masyakarat," ungkapnya.

Selain pendekatan hukum, Pangdam Cenderwasih XVII Mayjen TNI Muhammad Saleh Mustafa selama bertugas di Papua juga akan melakukan pendekatan budaya, adat dan istiadat terhadap masyarakat.

"Kami juga akan terlibat dalam melakukan pendekatan ekonomi termasuk membantu akses ekonomi kepada masyarakat. Selain itu juga olahraga dan seni," terangnya.

Sementara terkait kasus mutilasi yang melibatkan 6 oknum TNI termasuk 2 oknum TNI lainnya yang kini sedang diperiksa, Pangdam menegaskan bahwa ia akan mengawal kasus ini hingga penetapan hukum di pengadilan.

"Saya juga meminta kepada semua pihak untuk bergandengan tangan bersama kami TNI Polri dalam menjaga keamanan dan kebersamaan diantara kita. Sementara terkait kasus mutilasi, prosesnya sedang berjalan, mari kita sama-sama juga mengawal kasus ini hingga proses hukumnya selesai," harapnya. (Ronald Renwarin)

Pangdam : Oknum TNI Pelaku Mutilasi Akan Diberhentikan Tidak Dengan Hormat


Foto bersama Pangdam XVII Cenderwasih, Mayjen TNI Muhammad Saleh Mustafa bersama Dandmin, Kapolres, Komnas HAM dan Tim Investigas di Rimba Papua Hotel, Senin (5/9/2022)

MIMIKA, BM

Mengawali kerjanya sebagai Pangdam XVII Cenderawasih, Mayjen TNI Muhammad Saleh Mustafa langsung melakukan tugas awalnya di Mimika.

Kehadirannya di Mimika guna mengecek investigasi perkembangan kasus mutilasi yang dilakukan oleh 6 oknum TNI bersama 4 warga sipil terhadap 4 warga Nduga pada 22 Agustus lalu.

Kepada media di Rimba Papua Hotel, Senin (5/9/2022), Mayjen TNI Muhammad Saleh Mustafa didampingi Dandim 1710 Mimika Letkol Inf Dedy Dwi Cahyadi, Kapolres Mimika AKBP I Gede Putra serta tim investigasi dan perwakilan Komnas HAM menjelaskan perkembangan kasus tersebut.

"Ini hari pertama kerja di Mimika setelah saya dilantik pada tanggal 3 kemarin. Saya datang ke Mimika karena ini merupakan tangungjawab saya setelah menerima jabatan. Saya datang untuk mendengarkan perkembangan dari investigasi tim, baik dari Polres maupun Komnas Ham," jelasnya.

Ia menegaskan bahwa perintah Panglima TNI dan Kasad adalah bahwa kasus ini harus dibuka secara transparan dan akuntabiltas, baik dari aspek keadilan hukum maupun kecepatan penanganan kasus.

"Dari proses awal hingga saat ini, kasus mutilasi ini sudah masuk tahap penyidikan. Artinya sudah ada tersangka yang ditetapkan. Mereka dikenakan pasal berlapis, diantaranya padal 340 dan 365," ungkapnya.

Dijelaskan Pangdam, kasus ini juga telah dilakukan rekonstruksi kejadian dan kini dalam penyempurnaan, artinya dalam waktu dekat akan ditingkatkan ke proses hukum selanjutnya.

"Kita berharap ini cepat, jangan lambat dan ada kepastian hukum sehingga keadilan dalam hukum ini dirasakan oleh semua pihak, baik oleh masyarakat, keluarga korban maupun tersangka. Pelaku harus mendapat hukuman yang setimpal dan sesuai dengan perbuatannya," tegasnya.

Ia berharap agar masyarakat terutama keluarga korban tetap bersabar menunggu proses hukum kasus ini. Ia juga meminta semua pihak untuk ikut mengawalnya.

"Mari kita kawal sama-sama kasus ini mulai dari penyidikan sampai tahap pengadilan. Jika ada hal-hal yang terlewatkan, mari kasih masukan dan saran kepada kami," ucapnya.

Pangdam Saleh juga mengatakan bahwa Komnas Ham juga terlibat dalam dalam kasus ini. Menurutnya mereka sebagai penyeimbang.

"Akan ada tindak lanjut dari penyedikan yang dilakukan oleh Komnas HAM kepada pelaku sipil maupun militer. Penting Komnas HAM hadir sebagai penyeimbang dalam rangka kita mendapatkan keadilan dalam hukum ini," jelasnya.

Sementara itu terkait 2 oknum TNI yang kini sedang dalam pemeriksaan karena ada kemungkinan terlibat dalam kasus ini, Pangdam mengatakan keduanya sedang dalam penyidikan.

"Dua anggota yang yang kini sedang dalam penyidikan adalah pratu P dan prada Y. Kita akan optimalkan kasus ini termasuk membantu kepolisian secara bersama mencari pelaku sipil (R) yang kini masih buron karena dari hasil penyelidikan, yang berangkutan merupakan otak yang memainkan permainan ini," jelasnya.

Sementara itu terkait dengan permintaan keluarga korban agar proses hukum dilakukan di Mimika, Pangdam XVII Cenderwasih, Mayjen TNI Muhammad Saleh Mustafa menjelaskan dalam pengadilan militer ada tingkatannya.

"Kalau pengadilan sudah ada aturannya. Kalau pengadilan di sipil mungkin bisa tapi kalau militer ada tingkatannya di Jayapura dan Makassar," ujarnya.

"Tapi saya mau yakinkan semua bahwa proses ini akan dilakukan secara terbuka. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Kemungkinan yang bersangkutan akan dipecat tidak dengan hormat," tegasnya.

Pada momen ini, Pangdam XVII Cenderawasih, Mayjen TNI Muhammad Saleh Mustafa juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.

"Kami menyampaikan turut berdukacita dan belasungkawa atas meninggalnya para korban. Semoga keluarga bisa kuat dan tabah menerima duka ini dan para korban di tempatkan disi Tuhan Yang Maha kuasa," ujarnya. (Ronald Renwarin)

Top