Kesehatan

RSUD Mimika Semakin Keren dan Membanggakan

Bupati didampingi Direktur RSUD menandatangani prasasti

MIMIKA, BM

Masyarakat Kabupaten Mimika patut berbangga karena memiliki Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) yang kini menjadi salah satu rumah sakit favorit di Provinsi Papua.

Selain terus memperbaiki dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan kepada masyarakat, RSUD Mimika juga terus mengupgrade berbagai sarana dan fasilitas pendukung kesehatan.

Hal ini wajib dilakukan karena merupakan salah satu prioritas dalam visi dan misi Bupati Mimika Eltinus Omaleng dan Wakil Bupati Johannes Rettob.

Sejak ditetapkannya status tanggap darurat secara nasional akibat Covid-19, pada Maret lalu pemerintah daerah Mimika melakukan langka cepat khususnya di RSUD untuk melakukan persiapan pencegahan dan penanganan Covid-19.

Bupati dan wakil bupati pada waktu itu bahkan mengunjungi RSUD untuk melihat kekurangan yang harus dipenuhi RSUD sebagai rumah sakit rujukan Covid-19.

Bupati dan wakil bupati saat itu meminta Direktur RSUD, dr Antonius Pasulu untuk segera melakukan identifikasi kebutuhan, perencanaan dan pelaksanaan teknis dalam menghadapi  badai Covid-19 di Mimika.

Dua hal utama yang kemudian menjadi prioritas saat itu adalah membangun gedung isolasi tekanan negatif (gedung elang-red) bagi pasien Covid-19 dan membangun mess petugas siaga bencana khusus bagi perawat yang menangani pasien.

Tidak menunggu lama, pekerjaan kedua gedung ini bersama fasilitas pendukung lainnya hanya dalam waktu 4 bulan berhasil diselesaikan.


Pengguntingan pita oleh Bupati Omaleng

Pada hari ini, Rabu (5/8) Bupati Mimika Eltinus Omaleng meresmikan kedua gedung tersebut yang ditandai dengan penandatanganan prasasti dan pengguntingan pita. Bupati Omaleng hadir bersama forkompinda, staf khsusus, staf ahli dan pimpinan OPD Mimika.

Direktur RSUD Mimika, dr. Anton Pasulu dalam sambutannya mengatakan beberapa kegiatan yang dibangun dan direhab secara bersamaan adalah merehab gedung elang dan pagar keliling, areal parkir multifungsi dan pembangunan rumah ambulance.

Selain itu merehab gedung A4 dengan fasilitas 43 tempat tidur yang didalamnya terdapat ruang hemodialisa (cuci darah-red), ICU dan kamar bersalin serta merehab kamar operasi dan laboratorium.

"Sejak 12 Juni 2020 laboratorium RSUD Mimika secara mandiri sudah melakukan pemeriksaan RT-PCR. Sampai hari ini sudah 1650 sample yang diperiksa. Dalam satu minggu, kami lakukan dua kali pengambilan sample dengan jumlah 200-300 sample yang diperiksa," jelasnya.

Ia menjelaskan, total anggaran renovasi gedung elang Rp3.700.000.000 yang dikerjakan kontraktor PT Aurel Intan Permata.

Pembangunan ruang isolasi tekanan negatif anggarannya sebesar Rp24.850.000.000 dikerjakan oleh kontraktor PT Karisma Sahaja.

Sementara Pembangunan Mess Petugas Siaga Bencana totalnya Rp3.600.000.000 dan dikerjakan PT Ayaro.

"Kita patut bersyukur dan berbangga karena ruang isolasi tekanan negatif ini adalah yang pertama dan satu-satunya di Papua. Setelah masa covid selesai, kita akan gunakan untuk infeksi lainnya seperti multidrug-resistant tuberculosis (TB MDR)," ujarnya.


Foto bersama manajemen RSUD dengan Bupati Omaleng

Pada kesempatan ini, dr. Anton Pasulu mewakili seluruh pejabat dan staf RSUd Mimika, menyampaikan terimakasih atas kebijakan Pemda Mimika dalam mendukung pencegahan penyebaran dan penanganan Covid-19 melalui RSUD dengan memberikan fasilitas gedung yang dilengkapi dengan sistem yang canggih.

Anton Pasulu juga menyampaikan terimakasih kepada seluruh anggota DPRD, forkompinda dan seluruh Tim Gugus Tugas Covid-19 Mimika termasuk kontraktor, pengawas dan juga para tukang yang telah bekerja maksimal dalam pembangunan gedung ini.

"Atas nama pribadi, ijinkan saya mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada bapak bupati atas kesempatan yang diberikan untuk berkarya dan memimpin di RSUD Mimika. Kami mohon maaf jika masih ada kekurangan. Kami selalu mohonkan bimbingan dan arahan agar kami semakin baik dalam memberikan pelayanan yang paripurna kepada masyarakat," ungkapnya.

Bupati Mimika Eltinus Omaleng menjelaskan, penunjukan RSUD Mimika sebagai salah satu rumah sakit rujukan Covid-19 di Provinsi Papua didasari atas Surat Keputusan Gubernur Papua No 188.4-138 tahun 2020 dan Surat Edaran Bupati Mimika Nomor 443.1-254 tentang langkah-langkah nyata dalam upaya pencegahan Covid-19.

Dengan adanya tanggung jawab yang diberikan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Mimika dalam penanganan penyebaran Covid-19, maka sudah menjadi tugas bersama seluruh lapisan masyarakat untuk melengkapi dan memenuhi berbagai kebutuhan medis yang diperlukan.

“Dengan komitmen bersama, kita semua melihat kepedulian dan keseriusan kita dalam menangani penyebaran Covid-19 di Indonesia khususnya di Mimika melalui pengadaan alat-alat kesehatan, obat, bahan habis pakai medis dan memenuhi sarana dan prasarana kesehatan serta pemberian insentif bagi petugas kesehatan yang menangani Covid-19,” ujarnya.

Dikatakan pembangunan ruang isolasi tekanan negatif tersebut merupakan pemenuhan sarana dan prasarana yang patut disyukuri sebagai tempat perawatan pasien-pasien yang terpapar Covid-19. Selain itu, mess petugas siaga bencana merupakan tempat karantina bagi para petugas kesehatan yang langsung merawat pasien-pasien Covid-19.

Pada momen ini Bupati Omaleng juga memuji pembangunan dua gedung ini yang dinilainya sangat cepat sesuai harapan bersama.

Bupati Omaleng mengaprsiasi dan mengucapkan terimakasih atas komitmen semua pihak secara bersama-sama dalam menangani penyebaran Covid -19 yang ada di Kabupaten Mimika.

"Kita semua harus bangga karena ruangan isolasi tekanan negatif ini merupakan satu-satunya dan pertama ada di Provinsi Papua, khususnya rumah sakit rujukan untuk Covid-19 yang juga dilengkapi dengan mess untuk petugas siaga bencana. Saya berharap dapat dipergunakan dengan baik dan dalam menunjang kinerja para petugas kesehatan sehingga pada akhirnya memenuhi fasilitas RSUD Kabupaten Mimika sebagai rumah sakit rujukan Covid-19 dan rumah sakit regional wilayah adat Meepago dapat terwujud,” harapnya. (Ronald)

Thermo Scanner Dari Jepang Dipasang Di Bandara Mozes Kilangin

Alat thermo scanner sudah dipasang di ruangan masuk bandara 

MIMIKA, BM

UPBU Mozes Kilangin telah memasang alat pendeteksi suhu tubuh (thermo scanner) dan desinfektan kotak untuk mengantisipasi masuknya virus corona melalui para pelaku perjalanan dengan pesawat terbang. Alat ini dipasang di pintu kedatangan UPBU Mozes Kilangin.

Alat tersebut merupakan bantuan dari Pemerintah Daerah (Pemda) Mimika melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang didatangkan dari Negeri Samurai, Jepang.

Kepala UPBU Mozes Kilangin, Ambar Suryoko memberikan apresiasi kepada Pemda Mimika karena dengan tersedianya fasilitas ini, sangat membantu pihaknya dalam mengantisipasi peredaran covid-19 khususnya dari luar Mimika.

"UPBU Mozes Kilangin di sisi selatan saat ini mendapat fasilitas desinfektan tember dan kemarin sudah ada termo scanner. Alat ini memberikan fungsi pengawasan lebih baik terhadap semua yang melewati area ini karena suhu mereka akan langsung terdeteksi," ungkap Ambar Suryoko.

Ambar mengatakan keberadaan alat ini menggantikan pengukuran suhu manual (termogun-red) yang selama ini mereka gunakan di bandara. Ketika terdeteksi suhu penumpang di atas rata-rata maka langsung memudahkan tim gugus tugas melakukan lokalisir.

Sementara Kasubag Program dan Keuangan BPBD Mimika, Ida Adriani kepada BeritaMimika mengatakan alat ini juga akan di pasang di pintu masuk Pelabuhan Paomako.

"Alat ini di pesan dari Jepang, pemesanan sudah dilakukan dari 3 bulan lalu namun pengirimannya yang terlambat. Ada 3 unit kami pesan untuk bandara lama, UPBU dan di pelabuhan, jadi nanti alat ini kita hibahkan," tutur Ida.

Thermo scanner mendeteksi suhu tubuh penumpang tanpa menyentuhnya. Suhu tubuh secara otomatis akan terbaca langsung di depan layar. Alarm alat ini akan langsung berbunyi jika suhu tubu penumpang melebihi suhu batas normal.

Alat ini ke depan akan dioperasikan langsung oleh petugas di bandara dan pelabuhan. Namun saat ini tim teknisi dari penyeria alat yakni BPBD masih mengoperasikannya sambil memberikan sosialisasi penggunaan alat tersebut.

"Jadi nanti alat ini akan dikelola langsung oleh UPBU Mozes Kilangin untuk di bandara," ungkapnya. (Shanty)

Ternyata 26 Karyawan PTFI Yang Ditemukan Positif Covid, Sebagian Besar Turun di Bulan Juni

Jubir Covid-19 Mimika, Reynold Ubra

MIMIKA, BM

Pernyataan manajeman PTFI yang menyatakan 26 karyawan PTFI yang disebutkan positif Covid-19 saat melakukan cuti di Timika sejak lockdown Maret, ternyata tidak sesuai dengan data lapangan yang dikemukakan Tim Covid-19 saat melakuan tracing.

Juru Bicara Tim Gugus Tugas Reynold Ubra membantah pernyataan tersebut. Ia menyebutkan bahwa dari 26 karyawan, hanya 2 orang yang berada di Mimika pada Maret dan April. Sisanya turun ke Timika pada Bulan Juli.

Hal Ini ditegaskan Reynold Ubra berdasarkan data lapangan Tim Penyidikan Edpidemologi ketika melakukan tracing kasus atas temuan ini. Informasi ini mereka dapatkan saat melakukan proses wawancara.

"26 yang ditemukan positif ini akan naik ketika dilakukan swab. 2 orang sudah di Timika sejak Maret dan April. Tapi sebagian besar baru turun dari Tembagapura di bulan Juni. Mereka punya jawaban ada yang baru dua minggu bahkan ada yang baru beberapa hari turun setelah New Normal diberlakukan. Faktanya seperti itu," ujar Reynold Ubra.

Reynold Ubra tidak menyalahkan kondisi 26 karyawan ini. Ia bahkan mengatakan mereka tidak salah karena merekapun tidak tahu sudah terinfeksi karena tanpa gejala.

Hanya saja mereka tidak kooperatif ketika dilakukan tracing, bahkan petugas yang melakukan tracing terhadap mereka kena cacian dan makian.

"Bukan hanya itu, ada kata hinaan dan kotor dari karyawan juga ditulis di akun facebook. Sebenarnya kami bisa gunakan UU ITE karena saya pikir itu sangat tidak sopan. Siapa juga yang mau ada disana? Kami juga punya tempat kerja. Cuman karena situasi wabah sehingga kami punya tanggungjawab melindungi masyarakat termasuk karyawan, maka mereka seharusnya beritikad baik. Dari 26 orang hanya 2 yang punya itikad baik. Kami sangat sesalkan sikap mereka," ungkapnya.

Ubra menegaskan, dalam kondisi wabah Pandemi Covid-19 saat ini, sektor kesehatan paling menentukan dan bertanggungjawab terhadap keselamatan masyarakat termasuk karyawan di Timika.

"Ini wabah, kamu harus tunduk pada aturan pemerintah daerah. Kami melindungi semua orang. Bukan hanya masyarakat tapi juga karyawan. Kami bertanggungjawab atas keadaan saat ini. Kenapa ketegasan dan kedisipilnan ini kami lakukan? supaya masyarakat termasuk karyawan dan keluarga kalian tidak jadi korban," tegasnya.

"Kami punya baju untuk dimaki tapi ada batas makian. Saya sangat berharap itikad baik dari karyawan untuk mengikuti protokol yang kami perlakukan di sini. Semua wajib patuh termasuk penumpang dari luar yang mau ke Timika. Kami bukan hanya lindungi anda tapi juga keluargamu dan rekan-rekanmu yang lain," sesalnya.

Selain itu menurut Reynold Ubra, mereka ini ternyata tidak patuh melakukan isolasi mandiri. Bahkan ada yang sudah melakukan perjalanan ke mall, swalayan, pasar hingga gereja.

"Sama seperti yang lain, 26 kasus ini akan kami tracing bukan hanya anggota keluarga tapi kemana mereka pergi dan siapa-siapa yang sudah mereka temui. Kita akan konfirmasi untuk melihat jangan sampai penularan sudah meluas dimana-mana. Setelah itu kami akan dorong untuk isolasi mandiri sambil dipersiapkan untuk rapid atau PCR untuk yang kita tracing," jelasnya.

Reynold Ubra mengatakan terkait dengan keadaan 26 pasien ini, pada Selasa (14/7) kemarin, pihaknya melakukan pertemuan dengan manajemen PTFI.

"Pertemuan kemarin kami sampaikan karena Tembagapura dan Mimika Baru merupakan zona merah. Sangat baik dan bijak jika perpindahan ke wilayah ini karyawan turun harus di swab dengan PCR, kebetulan fasilitas PCR PTFI ada. Karena faktanya dengan tes antibodi saja, di atas negatif tapi ketika turun ke Timika bisa saja positif," ungkapnya.

Selain itu ia juga meminta agar manajemen PTFI mengingatkan karyawan mereka atas situasi saat ini. Mereka yang sudah di Timika harus kooperatif, menghargai dan mengikuti aturan pemerintah daerah terutama dalam menerapkan protokol kesehatan demi keselamatan banyak orang.

Hal ini disampaikan Reynold Ubra, pasalnya beberapa waktu lalu pihaknya juga menemukan salah satu karyawan positif yang lolos hingga ke Timika.

"Kasus yang lolos menurut penjelasan dari manajemen PTFI (PHMC) saat melakukan tes hasilnya antibodi positif IgG sehingga dianggap sudah selesai. Kalau kami di sini tidak bisa begitu karena orang yang antibodi IgG maupun IgM peluang positif PCR sama. Jadi kita tetap menganggap mereka adalah kasus yang harus dipantau," jelasnya. (Ronald)

Top