Kesehatan

TP PKK Mimika Canangkan Gerakan Orang Tua Asuh Untuk 48 Anak Stunting di Distrik Mimika Timur

Sekretaris I TP PKK Mimika Ny. Saralisa Rombe Payung

MIMIKA, BM

Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) melalui Pokja IV terus menunjukkan komitmennya menjadi perpanjangan tangan pemerintah untuk menurunkan angka stunting di Kabupaten Mimika.

Hal ini ditunjukkan dengan pemberian makanan tambahan (pmt) berupa kacang hijau dan telur, bantuan susu dan supplemen vitamin di setiap kunjungan kerja yang dilaksanakan.

Kini, TP PKK Mimika mencanangkan gerakan Orang Tua Asuh Stunting untuk 48 anak stunting di Distrik Mimika Timur.

Hal ini disampaikan oleh Ketua TP PKK Mimika Ny. Suzy Herawaty Rettob melalui Sekretaris I PKK Mimika Ny. Saralisa Rombe Payung pada Sabtu (24/10/2026) di Puskesmas Mapurujaya dalam Giat Baksos Pekan Bakti Noken Medis yang digelar oleh IDI Mimika.

Ny. Saralisa memaparkan gerakan orang tua asuh stunting dilaksanakan melalui program “Telurku Ada 2”.

Program ini dimulai dengan memberikan telur kepada 48 anak, dengan dukungan para orang tua asuh stunting dan pendampingan IDI Mimika serta Pokja IV PKK Mimika.

Ketua Bidang Pokja IV Ny. Alice Wanma, Ketua Pokja IV Ny. Endang Farmasi bersama pengurus Pokja IV TP PKK Mimika

Program ini menunjukkan bahwa membantu anak tumbuh sehat tidak selalu dimulai dengan langkah besar, namun kepedulian sederhana yang dilakukan secara konsisten dan terarah.

Telurku ada 2 tidak berhenti pada kegiatan pemberian bantuan, tetapi disertai edukasi gizi, pendampingan keluarga, pemantauan pertumbuhan anak dan tindak lanjut pelayanan kesehatan bagi anak yang membutuhkan.

“Jadi dari 48 anak ini kami akan carikan satu orang tua asuh untuk satu anak. Karena tugas kami untuk membantu pemerintah menurunkan angka stunting,” kata Ny. Saralisa kepada awak media.

Dengan pendampingan yang diberikan oleh orang tua asuh selama jangka waktu tiga hingga enam bulan diharapkan dari 48 anak tersebut dapat berkurang.

“Kita awali dari Distrik Mimika Timur nanti ke distrik-dsitrik lainnya supaya orang-orang tergerak untuk menjadi orang tua asuh stunting,” tandasnya. (Elfrida Sijabat)

Tingkatkan Kompetensi, Dinkes Mimika Latih Nakes Tentang Program Gizi, KIA dan Kepro

Suasana berlangsungnya kegiatan pelatihan

MIMIKA, BM

Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika menggelar kegiatan Evaluasi Implementasi Jejaring dan Supervisi Fasilitatif Layanan Program Gizi, Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan Kesehatan Produksi (Kepro) tahun 2026.

Kegiatan tersebut berlangsung di Ballroom Hotel Horison Diana Timika, Kamis (29/10/2026).

Kepala Bidang Kesehatan Lanjutan, Kefarmasian, dan Alat Kesehatan Dinkes Kabupaten Mimika, Farida, menyampaikan tujuan pelatihan ini adalah untuk meningkatkan kualitas serta mengoptimalkan pelaksanaan jejaring dan supervisi fasilitatif pada layanan kesehatan masyarakat, khususnya yang mencakup program gizi, KIA, dan Kepro di wilayah Kabupaten Mimika. 

Ia menekankan pentingnya peran strategis tenaga kesehatan di Puskesmas sebagai garda terdepan dalam memastikan setiap anak mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas, berkesinambungan, serta sesuai standar. 

"Karena, pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan masa yang sangat menentukan kualitas tumbuh kembang anak," kata Farida.

Dijelaskan, bahwa pada periode ini pemenuhan gizi yang baik, pelayanan kesehatan yang berkualitas, stimulasi perkembangan yang tepat, serta deteksi dini terhadap gangguan pertumbuhan dan perkembangan menjadi hal yang sangat krusial. 

Kendati demikian, Farida mengakui bahwa tantangan pelayanan kesehatan anak di Kabupaten Mimika masih memerlukan perhatian dan kerja keras bersama. Keberhasilan pelayanan kesehatan anak tidak sekadar diukur dari banyaknya anak yang datang berkunjung ke Posyandu atau Puskesmas.

"Keberhasilan pelayanan kesehatan anak diukur dari sejauh mana kita mampu memastikan bahwa setiap anak tumbuh sehat, berkembang optimal, dan memperoleh penanganan sedini mungkin ketika ditemukan masalah," ujar Farida.

Melalui kegiatan pelatihan yang dilaksanakan, diharapkan seluruh peserta dapat meningkatkan kompetensi dalam beberapa hal utama, antara lain melakukan pemantauan pertumbuhan dan mendeteksi secara dini adanya gangguan perkembangan. 

Peserta kata Farida diharapkan juga memberikan stimulasi yang tepat serta melaksanakan konseling kepada orang tua dan keluarga mengenai pentingnya pemberian makan dan pengasuhan yang baik bagi balita serta anak prasekolah. 

Tidak hanya itu, peserta juga harus melaksanakan pencatatan, pelaporan, dan pemantauan secara tertib dan berkesinambungan agar setiap permasalahan tumbuh kembang anak dapat segera ditindaklanjuti. 

"Pelatihan ini diharapkan bukan sekadar kegiatan peningkatan pengetahuan dan keterampilan semata, melainkan wujud nyata komitmen bersama dalam memperkuat mutu pelayanan kesehatan anak di Kabupaten Mimika," ungkapnya. (Shanty Sang)

Dinkes Mimika Susun Rencana Aksi Daerah Tuberkolosis 2026-2030

Suasana berlangsungnya kegiatan

MIMIKA,BM

Pemerintah Kabupaten Mimika melalui Dinas Kesehatan menyususn Rencana Aksi Daerah (RAD) Penanggulangan Tuberkulosis (TBC) Tahun 2026–2030. Langkah strategis ini diambil untuk mempercepat upaya penanggulangan penyakit menular tersebut, sejalan dengan target nasional Indonesia Bebas TBC pada tahun 2030.

Penyusunan RAD tersebut dibahas dalam workshop yang resmi dibuka oleh Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesea Setda Mimika, Ananias Faot yang berlangsung di Hotel Horison Ultima, Selasa (20/10/2026).

Dalam sambutannya, Ananias mengatakan tuberkulosis masih menjadi salah satu persoalan kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian serius. Menurutnya, penanganan TB tidak dapat hanya mengandalkan sektor kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh pihak.

“Masalah tuberkulosis atau TB masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang membutuhkan perhatian serius. Penanggulangannya tidak dapat dilakukan hanya oleh sektor kesehatan, tetapi memerlukan keterlibatan dan kerja sama seluruh pihak,”kata Ananias.

Workshop ini bertujuan untuk menyusun dokumen RAD TB yang akan menjadi pedoman bersama selama lima tahun ke depan.

Ia menjelaskan, dokumen ini mencakup analisis situasi TB di Mimika, sasaran, strategi, program, indikator, target, kebutuhan pendanaan, serta prioritas pembangunan daerah.

"Langkah tersebut diharapkan menghasilkan rencana aksi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat, realistis, dan dapat dilaksanakan secara konsisten," ujarnya.

Ananias juga menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor dalam memperkuat penanggulangan TB. Upaya tersebut meliputi pencegahan penularan di lingkungan keluarga dan masyarakat, deteksi dini, pengobatan, serta pemantauan dan evaluasi program secara berkelanjutan.

Menurut dia, pembagian peran dan komitmen yang jelas diperlukan agar setiap pihak dapat berkontribusi sesuai tugas dan kewenangannya.

"Kolaborasi ini diharapkan memperkuat pelayanan kesehatan sekaligus mendukung percepatan penanggulangan TB di Mimika. Dan menghasilkan kesepakatan strategis, matriks rencana aksi, pembagian peran lintas sektor, serta indikator dan target yang terukur," tuturnya.

Katanya, hasil pembahasan tersebut selanjutnya akan disempurnakan menjadi dokumen resmi rencana aksi daerah.

"Kami pemerintah berharap RAD TB menjadi landasan bagi pelaksanaan program penanggulangan yang lebih terarah, terukur, dan berkelanjutan demi meningkatkan derajat kesehatan masyarakat," ungkapnya. (Shanty Sang)

Top