Kesehatan

Tim Kerja Deputi Bidang KH Turun ke Lapangan Tanggap Wabah ASF di Timika

Tim kerja saat melakukan koordinasi dengan Dinas Peternakan dan Keswan Mimika

MIMIKA, BM

Tim Kerja Ketertelusuran dan Tindakan Karantina Hewan Deputi Bidang Karantina Hewan Badan Karantina Indonesia (Barantin) turun ke lapangan untuk menanggapi wabah penyakit demam babi Afrika atau African Swine Fever (ASF).

Hal demikian untuk melakukan mitigasi lanjutan, yang mengancam ribuan ekor babi sehat, sehingga tidak menyebar luas ke luar wilayah Papua Tengah.

"Kami dari Tim Kerja Ketertelusuran mengimplementasikan sistem ketertelusuran yang termaksud dalam Pasal 77 Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan dapat terlaksana dengan baik," kata Ketua Tim Kerja Ketertelusuran Direktorat Manajemen Risiko Sri Endah Ekandari dalam siaran pers yanb diterima BeritaMimika.com, Selasa (27/2/2024). 

"Sistem ketertelusuran yang terintegrasi diperlukan dalam rangka penjaminan kesehatan hewan dan produk hewan, serta keamanan dan mutu pangan dan atau pakan, serta media pembawa lain," lanjutnya.

Endah menjelaskan dengan mempertimbangkan "swill feeding" (pemberian pakan babi menggunakan sampah) sebagai salah satu cara penyebaran virus ASF, maka kunjungan lapangan ini bertujuan untuk secara intensif mengamati dan mengumpulkan informasi alur penjaminan kesehatan babi yang dilalulintaskan keluar masuk Timika.

Dalam rangka melaksanakan pengamatan dan evaluasi, tim juga berkoordinasi dengan pemangku kepentingan, di antaranya Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Mimika, Dinas Lingkungan Hidup, UPBU Bandar Udara Mozes Kilangin, AVCO, PT Freeport Indonesia, dan perusahaan pengelola sampah di Kota Timika.

Kegiatan ini untuk mendalami jalur ("pathway") kemungkinan masuknya virus melalui bandara maupun pelabuhan laut.

Tim juga mempelajari alur pembuangan sampah dan mengambil sampel sampah karantina yang diturunkan dari pesawat udara dan kapal di Kota Timika. Termasuk kemungkinan masih adanya babi atau produk babi yang masuk ke wilayah Timika.

"Wabah ini meresahkan peternak di Kota Timika yang mayoritas mengandalkan nafkah hidupnya dari beternak babi. Keberhasilan Timika sebagai sentra penghasil babi yang menyuplai babi di wilayah Papua dan swasembada daging babi pun terancam menurun," tambah Endah.

Merespon awal wabah ASF ini, Endah mengatakan bahwa Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Papua Tengah (Karantina Papua Tengah) telah melakukan gerak cepat untuk mencegah pemasukan dan pengeluaran media pembawa HPHK (Hama Penyakit Hewan Karantina), yang berpeluang menyebarkan virus ASF ke wilayah lain.

Hal tersebut sejalan dengan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Mimika yang telah menerbitkan larangan peredaran dan penjualan produk babi di wilayahnya.

Untuk diketahui, kematian babi pada peternakan yang terletak di Distrik Wania, Mimika Baru, dan Kuala Kencana dilaporkan semakin meningkat setiap harinya hingga mencapai 2.469 ekor per 25 Februari 2024.

Sejak wabah ini dilaporkan pertama kali tanggal 22 Januari 2024 dengan jumlah kematian 66 ekor. Setiap harinya diperkirakan lebih dari 100 ekor babi yang mati dan kurang lebih 8.500 ekor populasi babi saat ini terancam virus ASF.

Beberapa temuan tim di lapangan, yaitu belum tersedianya fasilitas pemusnahan sampah di area bandara maupun pelabuhan laut, masyarakat mengambil sampah di tempat pembuangan akhir (TPA), dan belum tertibnya masyarakat melaporkan barang bawaannya kepada pejabat karantina di tempat pengeluaran dan atau pemasukan. Selain itu, terindikasi adanya pemasukan ilegal di pelabuhan laut yang belum ditetapkan oleh pemerintah.

"Temuan di lapangan menjadi prioritas yang perlu ditindaklanjuti karantina untuk berkolaborasi dengan kementerian/lembaga terkait, baik di bandara dan pelabuhan, pihak penanggung jawab bandara dan pelabuhan milik pemerintah maupun PT Freeport, dan pemerintah daerah Timika," ucap Saswono dari Tim Kerja Tindakan Karantina Hewan yang turut turun ke lapangan.

Sesuai Pasal 54 UU No. 21/2019, Saswono menegaskan bahwa sampah yang diturunkan dari alat angkut wajib dimusnahkan oleh penanggung jawab alat angkut di tempat pemasukan atau tempat transit di bawah pengawasan pejabat Karantina. Jika melanggar, dapat dikenakan sanksi pidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan pidana denda paling banyak Rp 6 miliar. (Shanty Sang)

Lagi, Bangkai Babi Dibuang Seenaknya di Jalan Solter Elmas

Bangkai babi yang dibuang sembarangan oleh orang tidak dikenal di pertigaan Jalan Soter Elmas - Budi Utomo ujung

MIMIKA, BM

Sejumlah masyarakat yang melewati jalan tembusan Solter Elmas - Budi Utomo Ujung, Rabu (17/5/20224) pagi, dibuat kaget dengan adanya satu ekor bangkai hewan babi yang dibuang seenaknya oleh orang tidak dikenal di pertigaan jalan tersebut.

Selain keberadaannya yang sangat mencolok karena berada di pertigaan jalan, bau busuk menyengat yang tercemar dari bangkai babi sangat menarik perhatian semua yang melewati jalan tersebut.

Warga yang melintasi jalan ini merasan heran dan mengecam tindakan biadap tersebut karena sangat mengganggu aktiftas dan tentunya berdampak pada kesehatan.

Salah satu warga yang berdomisili di area tersebut kepada BeritaMimika mengatakan bahwa ini merupakan kali kedua bangkai babi dibuang di tempat tersebut.

"Iya ini kali kedua karena sebelumnya itu mereka buang kepala babi. Bisa jadi pelakunya orang yang sama. Kami kaget kenapa sampai ada lagi yang buang babi di tempat ini," ungkapnya.

"Ini sangat mengganggu dan bau sekali sehingga kami berharap ada perhatian dari pemerintah atau mungkin pihak kebersihan untuk segera mengangkat karena ini sangat berhubungan dengan kesehatan semua orang terutama kami yang ada di tempat ini," harapnya.

Terkait masalah ini, BeritaMimika kemudian menghubungi Kepala Disnak & Keswan drh Sabelina Fitriani. Ia mengatakan ini sudah tidak menjadi tanggungjawab dinasnya saja namun telah menjadi tanggungjawab semua pihak.

Hanya saja Sabelina menyayangkan mengapa masih ada masyarakat yang kemungkinan besar adalah peternak babi, membuang bangkai babi seenaknya saja.

"Tempat penguburan di Iwaka itu sudah ditutup sehingga kita berharap masyarakat terutama peternak menguburkannya secara mandiri. Tidak boleh seperti itu, kami sudah himbau itu berulang termasuk di group-group WA," ujarnya.

Ia mengatakan kasus virus African Swine Fever (ASF) di Mimika selama empat bulan ini telah membuat 6.250-an ekor babi mati terjangkit virus tersebut.

"Kasusnya sudah menurun karena memang secara populasi juga sudah banyak berkurang, lebih dari 50 persen sudah berkurang sehingga kita harapkan masyarakat bisa mandiri untuk menguburkan bangkai babi. Jangan dibuat begitu saja di jalan," ungkapnya.

Sabelina menuturkan bawah virus tersebut masih ada dan sampai saat ini belum ditemukan vaksin ASF. Selama belum ada vaksin maka virus tersebut akan selalu ada.

"Untuk ternak yang tersisa kita berharap masyarakat tetap menjaga beo securitynya. Kami dinas menyediakan vitamin, desinfektan, serum dan vaksim hokolera. Vaksin ini membantu babi bisa bertahan dan bisa terhindar. Vaksin ASF sampai sekarang belum ada," ungkapnya.

Ia meminta peternak selain menjaga bio security juga harus mejaga daya tahan tubuh ternak babi yang dipelihara.

"Kalau di buang seperti ini ya pasti akan menular lagi ke yang lain. Ini yang seharusnya jadi kesadaran bersama bagi para peternak karena pemerintah tidak bisa lakukan penguburan terus-menerus, biayanya sangat banyak sehingga dimohon pemahamannya," ujarnya.

Untuk memastikan lagi apakah daging hewan babi di Timika masih aman dikonsumsi? dr Sabelina mengatakan tidak berdampak ke manusia.

"Aman bagi manusia hanya saja manusia bisa menjadi sumber penularan. Untuk komsumsi gak masalah dan sudah pasti kita harus memilih babi yang sehat. Makan tidak masalah tapi sisanya itu yang masalah kalau diberikan kepada ternak atau dibuang ke tempat sampah makan akan mudah menular ke babi yang lain," jelasnya. (Ronald R)

Satu Kasus Polio Tipe 1 Ditemukan di Kampung Jimbi, SP3

Kepala Dinas Kesehatan Mimika Reynold Ubra.

MIMIKA, BM

Satu kasus polio tipe 1 ditemukan di Kampung Jimbi, distrik Kuala Kencana, Mimika, Papua Tengah.

Hal ini bermula dari seorang anak di kampung tersebut yang berusai 11 tahun pada tanggal 14 Januari 2024 datang di Rumah Sakit Mitra Masyarakat (RSMM), tetapi penderita mulai sakit pada tanggal 10 Desember 2024.

Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika, Reynold Ubra kepada BeritaMimika melalui saluran telepon, Jumat (16/2/2024).

Dinas Kesehatan kemudian merespon dengan melihat gejala yang dialami oleh anak tersebut yakni lumpuh layu mendadak disertai demam.

Dinkes kemudian mengambil sampel feses (tinja-red) untuk dikirim ke laboratorium di Surabaya dan setelah di screening dinyatakan polio tipe 1.

“Hasil laboratorium pemeriksaan sequencing itu dinyatakan diskordan, jadi pada saat hasil screening positif tapi sequencing RNA virus itu tidak ditemukan, sehigga dinyatakan belum sebagai kejadian luar biasa (KLB),” katanya.

Kadinkes Reynold menyatakan cakupan imunisasi polio di Kampung Jimbi sudah diatas 95 persen.

“Jadi anak tidak diimunisasi, tinggal di lingkungan kotor, dengan perilaku masyarakat sekitar buang air sembarangan bisa kena polio. Ya, kami sedang menunggu hasil pemeriksaan feses yang sudah diambil sebanyak 33 dan survey dilakukan pada 200 rumah tangga, wilayah yang punya riwayat kontak dengan pasien dan semoga hasilnya negatif,” ungkanpnya.

Lanjutnya, pihaknya pada minggu lalu telah melakukan survey komoditas masyarakat termasuk survey kesehatan lingkungan.

“Kami melakukan cara melihat kebiasaan masyarakat apakah buang air besar sembarangan, ditularkan dari kotoran manusia ke manusia, karena kalau buang air besar sembarangan di sungai, orang mandi cuci di sungai ya anak-anak dibawah lima tahun belum imunisasi polio bisa kena,” ucapnya.

Ia menghimbau kepada masyarakat agar anak-anak mendapatkan imunisasi polio, kemudian menjaga kebersihan lingkungan terutama tidak buang air besar sembarangan.

Pada survey perilaku menunjukkan bahwa perilaku buang air besar sembarangan di wilayah tersebut masih tinggi.

“Jika satu kasus lagi kami temukan maka kami akan melakukan sub pekan imunisasi (sub-PIN) polio di wilayah resiko. Bahkan wilayah-wilayah yang punya hubungan dengan kasus itu kita akan dilakukan sub-PIN polio. Kami sudah mempersiapkan sejak minggu lalu baik berapa jumlah sasaran, jumlah vaksin hingga pos-pos vaksinasi,” jelasnya.

Ia menambahkan Dinkes Mimika sejak minggu lalu bersama tim penyelidikan epidemilogi sudah turun untuk melakukan survey komunitas dan lingkungan. Hari ini juga, sudah menyampaikan kepada Bupati Mimika Eltinus Omaleng melalui Pj. Sekda Mimika Ida Wahyuni dan sudah direspon untuk dibuat surat edaran.

“Tenaga kesehatan tidak bisa bekerja sendiri, kepala kampung, lurah sudah harus mendorong peningkatan cakupan imunisasi di wilayah kampung dan menjaga lingkungan terutama tidak buang air besar sembarangan,” harapnya. (Elfrida Sijabat/Shanty Sang)

Top