Kesehatan

30 Bidan Ikut Pelatihan Pelayanan Kontrasepsi IUD dan Implan Guna Dapatkan Sertifikasi

Suasana berlangsungnya sosialisasi

MIMIKA, BM

30 bidan yang berada di Kabupaten Mimika mengikuti Pelatihan Pelayanan Kontrasepsi Bagi Bidan Pada Fasilitas Kesehatan.

Para bidan berasal dari 26 puskesmas yang ada di Mimika dan satu dari RSUD.

Kegiatan diadakan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Mimika.

Giat ini diadakan di Hotel Horizon Diana selama empat belas hari terhitung sejak Selasa (22/11/2022) hingga Selasa (6/12/2022).

Delapan hari kegiatan akan dilaksanakan secara daring dan menghadirkan nara sumber dari Jayapura sementara lima hari secara luring serta satu hari guna penutupan.

Kepada BeritaMimika Kepala Seksi Ketahanan Kesejahteraan Keluarga Supiah Narawena mengatakan hal ini merupakan bentuk bekerja sama antara BKKBN provinsi, Balai Pelatihan Kesehatan Provinsi, Ikatan Bidan Provinsi dan Ikatan Bidan Mimika.

“Kenapa kegiatan ini sangat penting karena sudah lama bidan kita banyak yang sudah bisa melakukan pemasangan alat kontrasepsi seperti IUD dan implan tetapi mereka belum punya sertifikat sebagai legalitas,” tuturnya.

Menurutnya, berdasarkan peraturan tentu para bidan tidak bisa memasang tetapi dikarenakan kebutuhan di daerah sehingga mereka harus miliki sertifikat tersebut.

“Kami merasa bertanggung jawab sebagai bagian dari tenaga kesehatan dan kita merancang dalam kegiatan di tahun ini. Ini akan berkesinambungan terus, tahun depan kita akan upayakan semua bidan bisa mendapat sertifikat lewat kegiatan ini,” terangnya.

Dikatakan, kegiatan ini merupakan yang pertama kali dilaksanakan di Papua melalui OPD, karena sebelumnya dilakukan oleh BKKBN provinsi dengan keterwakilan satu bidan satu kabupaten saja.

“Bidan-bidan merasa kurang dan kesempatan kecil karena setiap tahun hanya satu orang sedangkan jumlahnya ribuan. Kalau di Timika ada 300-an tetapi untuk sementara 30 orang dulu. Tahun depan kita akan upayakan semua bidan dapat sertifikat,” tandasnya.

Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Keuangan Pemkab Mimika, Maria Rettob mengatakan program KB merupakan salah satu pilar utama dalam upaya membantu penurunan kematian ibu dan bayi.

Program KB berkontribusi dalam mengatur jarak kehamilan dan pencegahan terjadinya kehamilan yang tidak direncanakan.

“Semakin berkembangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya memiliki keluarga yang terencana mengakibatkan penggunaan alat kontrasepsi semakin meningkat. Hal ini mengakibatkan perlunya tenaga medis untuk dapat melayani berbagai jenis alat kontrasepsi yang paling cocok,” ungkapnya.

Lanjutnya, metode kontrasepsi seperti IUD dan implan memerlukan kompetensi khusus dalam pemasangan maupun pencabutannya sehingga memerlukan pengetahuan dan kemampuan yang khusus.

“Pelatihan ini dilaksanakan untuk menyiapkan bidan agar memiliki pengetahuan, keterampilan dan perilaku sebagaimana menjadi tujuan pelatihan berbasis kompetensi sehingga mampu berkontribusi penuh pada pelayanan dan peningkatan kualitas KB di masyarakat,” pungkasnya. (Elfrida Sijabat)

Urai Antrian Panjang di Loket Pendaftaran, RSUD Mimika Kembangkan dan Launching Aplikasi SIDORA

Launching dilakukan oleh Pj Sekda Mimika, Petrus Yumte didampingi Direktur RSUD Mimika Antonius Pasulu, Kepala Bappeda dan Kepala BPJS Kesehatan

MIMIKA, BM

Guna menjawab persoalan antrian pasien yang sering jadi masalah di rumah sakit, maka Direktur RSUD Mimika, Dokter Antonius Pasulu membuat terobosan baru dengan melaunching aplikasi Sistem Pendaftaran Online Pasien Rawat Jalan (SIDORA).

Aplikasi ini secara resmi diresmikan oleh Pj Sekda Mimika, Petrus Yumte didampingi Direktur RSUD Mimika Antonius Pasulu, Kepala Bappeda Yohana Paliling, Kepala BPJS Kesehatan Jayapura Djamal Ardiansyah di RSUD Mimika, Jumat (18/11/2022).

Direktur RSUD Mimika, dr Anton Pasullu mengatakan, aksi perubahan ini dilatar belakangi oleh kondisi saat ini dimana pada loket pendaftaran di RSUD selalu terjadi antrean panjang sehingga mengakibatkan waktu tunggu pasien juga bertambah panjang.

"Hal ini disebabkan karena hampir sebagian besar pasien datang di waktu yang bersamaan, seperti di pagi hari itu biasanya," kata dr Anton.

Ia mengatakan, aplikasi SIDORA saat ini bisa diakses melakui website https:s.id/SIDORA dan kedepan bisa dengan aplikasi yang bisa didapatkan melalui PlayStore.

"Kami dalam proses penyempurnaan. Jadi, sistem ini kedepan yang gunakan kertas-kertas itu sudah tidak akan ada lagi, nanti migrasi ke sistem," ujarnya.

Terobosan ini juga sesuai dengan visi bupati dan wakil bupati Mimika yaitu Mimika cerdas, aman, damai dan sejahtera dengan misi pertama yaitu membangun regulasi SDM yang cerdas dan memahami teknologi informasi yang kemudian di implementasikan sebagai Kabupaten Mimika smart city.

Selain itu hal ini juga sesuai dengan visi RSUD Mimika yaitu menjadi rumah sakit yang berkualitas, mandiri dan terkemuka di wilayah Papua.

Lebih lanjut dr Anton mengatakan, dalam penerapan sistem tersebut diharapkan tidak terjadi lagi penumpukan pasien dan dapat mempersingkat waktu tunggu pasien rawat jalan.

"Aplikasi ini dibuat oleh Yayasan Kanza bekerjasama dengan tim RSUD Mimika. Untuk tahap awal kami hanya menyediakan layanan pendaftaran online. Namun kedepannya akan dikembangkan dengan fitur-fitur informasi yang tersedia yakni ketersediaan tempat tidur, layanan dokter hingga tempat pengaduan," jelasnya.

Saat ini aplikasi SIDORA juga masih dalam tahap menunggu approve dari google karena masih tahap verifikasi.

"Untuk mendaftar pada aplikasi, pasien cukup memasukkan nomor registrasi dan selanjutnya bisa memilih jenis layanan yang akan didapatkan," ungkapnya.

Sementara, Pj Sekda Mimika Petrus Yumte dalam sambutannya mengatakan, di era saat ini hampir tidak pernah lagi ditemukan suatu pelayanan baik pada instansi pemerintah maupun swasta yang tidak menggunakan teknologi informasi dan komunikasi.

Teknologi informasi dan komunikasi menjadi kebutuhan yang sangat penting guna menunjang jangkauan pelayanan pemerintah dan memudahkan masyarakat memperoleh layanan informasi yang terbaik.

"Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat mendorong pemerintah untuk memacu diri mengikuti kemajuan tersebut sebagai bagian yang tidak terpisahkan guna meningkatkan pelayanan kepada masyarakat," tutur Petrus.

Dikatakan, undang-undang nomor 44 tahun 2009 tentang rumah sakit mengulas bahwa setiap rumah sakit wajib melakukan pencatatan dan pelaporan tentang semua kegiatan penyelenggaraan rumah sakit dalam bentuk sistem informasi managemen rumah sakit (SIMRS).

Ini juga didukung dengan Peraturan Pemerintah Nomor 95 tahun 2018 tentang sistem pemerintahan berbasis elektronik (SPBE).

Berdasarkan ketentuan tersebut Pemerintah Kabupaten Mimika mengapresiasi inovasi yang dilakukan oleh Direktur RSUD Mimika dalam rencana aksi perubahan dengan membuat suatu sistem pendaftaran online pasien rawat jalan (SIDORA) di RSUD Mimika.

"SIDORA ini diharapkan mempermudah akses masyarakat dalam berobat di RSUD Mimika dimana pendaftaran pasien rawat jalan dapat dilakukan dari rumah atau dari mana saja melalui handphone sebagai alternatif pendaftaran selain datang langsung ke loket pendaftaran. Dengan demikian masyarakat semakin terlayani dengan baik," tutupnya. (Shanty Sang)

Puskesmas Timika Paparkan Hasil Pelaksanaan Gebrak Malaria di Dingo Narama

Suasana pemaparan hasil pelaksanaan gebrak malaria di halaman Kelurahan Dingo Narama, Distrik Mimika Baru, Jumat (18/11/2022)

MIMIKA, BM

Puskesmas Timika memaparkan hasil kegiatan gebrak eliminasi malaria yang telah dilakukan selama 10 hari dari tanggal 1 sampai 10 November 2022 di Kelurahan Dingo Narama, Distrik Mimika Baru.

Pemaparan hasil dilaksanakan di pelataran Kantor Kelurahan Dingo Narama, Jalan Elang, Jumat (18/11/2022).

Kepala Puskesmas Timika, dr Mozes Untung saat diwawancarai seusai kegiatan menyampaikan, selama 10 hari kegiatan, pihaknya telah melakukan pemeriksaan darah kepada 80 persen penduduk di wilayah Kelurahan Dingo Narama.

"Dari 4.979 orang yang kita periksa, ada 171 kasus malaria yang kami temukan. Malaria tropika 78, tersiana 63, dan malaria mix ada 30. Semua juga sudah kita kasih obat," ujarnya.

Dikatakan juga bahwa dari 171 orang yang terkena malaria itu, 39 orang diantaranya sudah pernah sakit malaria dalam tiga bulan terkahir. Sementara 65 persen mengaku tidak menghabiskan obat yang telah diberikan.

Secara keseluruhan, kata Mozes, persentase kasus malaria di wilayah Dingo Narama memang kecil, yaitu 3,4 persen.

"Akan tetapi, kalau kita bagi menurut RT-nya ada beberapa yang perlu menjadi fokus kita, yaitu RT 6, RT 11, RT 9, RT 10, RT 12, RT 2, dan RT 4. Itu karena angka persentasennya di atas 5 persen," tandasnya.

Selain pemeriksaan darah, pihak Puskesmas Timika juga memeriksa tempat-tempat yang terindikasi sebagai tempat perkembangbiakan nyamuk malaria.

"Jadi kami sudah petakan kejadian malarianya menurut RT termasuk juga tempat perkembangbiakan nyamuk malaria menurut RT. Nanti intervensi tindak lanjutnya akan lebih spesifik ke tingkat RT," jelasnya.

Selanjutnya, terang Mozes, akan dilakukan penyemprotan ke rumah-rumah penduduk dengan target minimal 80 persen rumah di wilayah kelurahan Dingo Narama.

"Ini kalau disemprot, efeknya itu bisa bertahan selama enam bulan, sehingga ini akan rutin kita laksanakan. Pemeriksaan darah masal juga kami rencanakan lagi di bulan Februari tahun depan untuk melihat apakah tindak lanjut dari kegiatan kami kali ini memiliki dampak penurunan," tuturnya.

Di samping itu, Mozes juga menyebutkan beberapa cara yang dapat dilakukan untuk menghindari kasus malaria, yakni yang pertama, memberantas tempat perkembangbiakan nyamuk yang ada di sekitar rumah.

"Yang kedua, jangan sampai kita digigit nyamuk malaria, yaitu dengan pake anti nyamuk, kelambu, dan kalau kena malaria ya diusahakan minum obatnya sampai habis," pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Kelurahan Dingo Narama, Oktovina Naa, S. IP, berharap dengan adanya program gebrak eliminasi malaria ini, angka kasus malaria di wilayahnya dapat berkurang.

Dia juga menghimbau kepada warganya agar senantiasa memperhatikan kebersihan lingkungan. Menurutnya, masyarakat dan pemerintah harus bersinergi agar hasilnya lebih maksimal.

"Masyarakat harus memperhatikan lingkungan. Karena kalau kita bicara hindari malaria tapi lingkungan tetap kotor, tidak diperhatikan, dan banyak genangan air ya sama saja. Rumput itu dibersihkan, got-got dibersihkan, rumah juga harus. Kalau kita bersih pasti nyamuk menghindar," ucapnya.

"Jadi saya mengharapkan warga saya melalui bapa ibu RT yang ada menghimbau kepada masyarakat itu agar tidak bosan-bosan untuk membersihkan lingkungannya, baik itu rumahnya maupun halamannya agar terhindar dari sarang nyamuk," pungkasnya. (Endy Langobelen

Top