Kesehatan

Warning, Rumah Sakit di Mimika Krisis Tabung Oksigen

Bupati Omaleng dan Wabup Rettob saat mengunjungi RSUD guna melihat kesiapan rumah sakit dalam menangani pasien Covid-19 tahun 2020 lalu

MIMIKA, BM

Warga Mimika harus tahu bahwa sejumlah rumah sakit di Mimika saat ini mulai kekurangan tabung oksigen untuk pasien covid-19.

Keadaan ini harus menjadi perhatian bersama agar semua orang dapat mematuhi penerapan protokol kesehatan.

Berdasarkan hitungan medis, satu orang dengan kondisi kritis dalam 1x24 jam bisa membutuhkan empat tabung oksigen.

Guna memenuhi kebutuhan oksigen di Mimika, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Mimika, Reynold Ubra mengusulkan untuk mengkonversi gas industri PT Freeport menjadi gas medis.

"Bayangkan kalau 5 orang atau 10 orang sehari itu berarti akan menggunakan 40 tabung. 40 tabung ini untuk satu hari saja," tutur Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Mimika Reynold Ubra saat ditemui, Rabu (14/7).

Reynold mengatakan, produksi oksigen di Mimika hanya bisa sampai 30 tabung per hari. Kebutuhan oksigen sangat ditentukan oleh jumlah pasien

"Kalau 30 tabung perhari berarti hanya bisa digunakan untuk 2 sampai 3 orang saja,” katanya.

Ia mengakui bahwa ada bantuan 70 tabung oksigen dari PT Freeport namun tidaklah cukup untuk memenuhi kebutuhan di RSUD Mimika.

Saat ini RSUD memiliki 1.000 tabung oksigen kosong, hanya saja untuk memproduksi 1.000 okaigen dalam kondisi saat ini sangat tidak mungkin karena pabrik oksigen di Mimika hanya satu, sementara dalam proses pembuatannya dibutuhkan waktu lebih dari 12 jam.

"Ada langkah-langkah yang Freeport juga bantu, misalnya pengiriman oksigen dari Surabaya ke Timika. PTFI fasilitasi namun pasien setiap hari bertambah, jadi kita tidak bisa menunggu. Yang hari ini bisa dilakukan adalah mengkonversikan oksigen industri ke gas medis,” ujarnya.

Reynold mengatakan bawah untuk mengkonversi oksigen industri menjadi gas medis akan melibatkan para ahli pembuat oksigen.

"Kalau saya tidak salah saat ini masih menunggu alat-alat untuk melengkapi itu. Setelah nantinya bisa digunakan maka perlu ada surat persetujuan dari Dinkes seperti rekomendasi untuk penggunaan gas industri yang dikonversikan ke gas medis karena dalam pertimbangan digunakan untuk kondisi darurat,” kata Reynold.

Saat ini, kasus positif covid-19 di Kabupaten Mimika terus bertambah setiap harinya. Laporan pada Senin (12/7) kemarin menyebutkan terjadi penambahan 88 kasus positif.

9 diantaranya dirawat di Rumah Sakit, sehingga menambah total pasien covid-19 dirawat kini menjadi 72 orang. 46 orang di RSUD, 21 orang di RS Tembagapura dan 5 di Klinik Kuala Kencana.

Dengan terus bertambahnya pasien covid-19 yang dirawat di RSUD kaka kondisi saat ini, RSUD krisis tempat tidur. Saat ini tersisa 17 dari 63 tempat tidur.

"Tiga hari ini terjadi peningkatan jumlah orang yang dirawat di rumah sakit. Namun pemerintah tidak hanya berorientasi pada kapasitas tempat tidur saja, tetapi juga pada ketersediaan oksigen," tuturnya.

Menurutnya, pasien yang saat ini berada di rumah sakit adalah pasien dengan gejala berat dan pasien kritis yang sangat membutuhkan oksigen. (Shanty)

Waspada, Jangan 'Crot' Sembarangan, Temuan Kasus HIV-AIDS di Mimika Terus Bertambah

Kadinkes Mimika, Reynold Ubra

MIMIKA, BM

Jumlah kasus HIV-AIDS di Kabupaten Mimika, terus bertambah berdasarkan temuan hasil VCT (voluntary Counseling and Testing) di 6 Puskesmas serta kegiatan pemeriksaan (screening) keliling yang dilakukan petugas kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Reynold R Ubra saat ditemui, Selasa (13/7) mengungkapkan, dari tahun 1996 hingga akhir Juni 2021 penemuan baru infeksi HIV dan kasus AIDS di Mimika sebanyak 6.518 kasus.

Menurut Ubra, jumlah ini meningkat dari temuan bulan sebelumnya per Maret 2021 yang berjumlah 6.364 orang.

Di Mimika, penularan HIV-AIDS mayoritas disebabkan hubungan seks dengan rasio sekitar 98 persen. Selebihnya, hanya sedikit penderita yang tertular virus jahat tersebut.

"Baik kelompok heteroseksual dan kemudian sisanya ditulari melalui ibu ke anak. Lalu kelompok usia produktif yang paling banyak adalah kelompok usia antara 25 tahun sampai 49 tahun,” tutur Reynold.

Untuk HIV sendiri, kata Reynold pihaknya terus berupaya agar semua orang yang terkena HIV diobati ARV.

"Di tahun 2030 targetnya adalah xero invection. Dan saya pikir di Timika pengendalian HIV sudah sangat baik. Cakupan orang yang minum ARV itu sangat tinggi meskipun untuk retensi. Jadi virusnya tidak terdeteksi itu menjadi tantangan karena kepatuhan,”katanya.

Reynold mengatakan, hingga sekarang stigma tentang ODHA di Mimika masilah tinggi sehingga perlu adanya dukungan keluarga. Karena orang dengan HIV-AIDS takut untuk menyampaikan itu.

"Tetapi saya pikir pelayanan untuk orang HIV sudah sangat baik dengan adanya fasilitas kesehatan yang cukup memadai. Memang yang jadi persoalan adalah bagaimana seumur hidup ini kita minum obat. Jadi apapun pengobatannya harus tetap dijalani, tetap patuh minum ARV supaya tetap produktif,” ujarnya.

Reynold menegaskan, orang HIV bisa memiliki anak, dapat menjadi pegawai negeri hingga bisa bekerja apapun sehingga jangan ada stigma yang berlebihan terhadap ODHA.

"Saya berterimakasih sekali karena media juga sudah membantu dalam 20 tahun terakhir untuk mengkampanyekan anti stigma dan anti diskriminasi dengan ODHA. Memang masih ada tapi tidak terlalu banyak apalagi stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV,”ungkapnya.

Data penemuan baru infeksi HIV dan kasus AIDS dari Januari hingga Juni 2021 diantaranya, temuan kasus gejala untuk HIV sebanyak 94, AIDS sebanyak 60 sehingga total kasus gejala 154.

Sedangkan, temuan kasus menurut jalur penularan ada 2 yakni jalur seksual untuk HIV 94 dan HIV 58 dengan total 152 dan jalur ibu ke anak untuk HIV 0 dan AIDS 1.

Sementara, temuan kasus menurut jenis kelamin laki-laki dan perempuan berjumlah 154 dengan rincian, untuk laki-laki dengan HIV sebanyak 55 dan AIDS 20 dan perempuan dengan HIV 39 dan AIDS 40.

Lainnya, temuan kasus dengan IMS (sifilis-GO) diantaranya, HIV dengan IMS untuk HIV 13 dan AIDS 11 sehingga total 24.

HIV tanpa IMS, untuk HIV 69 dan AIDS 43 dengan jumlah 112 dan HIV tanpa periksa IMS untuk HIV 12 dan AIDS 6 dengan total 18.

"Jumlah pasien baru yang telah memulai ART dari Januari - Juni 2021 untuk HIV sebanyak 97 dan AIDS 41, sehingga totalnya ada 138 kasus," ungkapnya. (Shanty)

Vaksinasi Anak Usia 12 - 17 Rencananya Dilakukan Secara Terpisah di Sekolah

Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Reynold Ubra

MIMIKA, BM

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Papua, Reynold Ubra mengatakan bahwa selain masyarakat rentan yang diberikan vaksinasi, anak usia 12-17 juga diharuskan melakukan vaksinasi.

Terkait hal ini, Ubra mengatakan bahwa untuk anak-anak usia 12-17 baiknya dilakukan di sekolah masing-masing. Dinas Kesehatan Mimika juga tengah mempertimbangkan strategi yang tepat untuk pemberian vaksin kepada anak-anak.

"Kita lakukan itu supaya hindari anak-anak berkerumun dengan orang dewasa karena justru berpeluang mereka tertular," ujarnya.

Guna formulasi tepat imunisasi nanti, Dinas Kesehatan akan melakukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan termasuk pihak sekolah agar dalam pelaksanaan nanti dapat dilakukan secara terorganisir.

"Untuk anak-anak dan remaja kami akan koordinasi dengan pihak terkait dalam hal ini Dinas Pendidikan, pihak sekolah, komite sekolah, supaya pelayanannya bisa strategis yang memang khusus untuk anak-anak," tutur Kepala Dinas Kesehatan, Reynold Ubra saat ditemui, Senin (12/7).

Reynold mengatakan, agar familiar dan tidak menakutkan anak-anak, penggunaan kata vaksinasi akan diganti menjadi imunisasi.

"Kalaupun tidak ada pelaksanaan sekolah tatap muka namun pelaksanaan vaksinasi untuk anak-anak bisa dijadwalkan. Penjadwalan juga termasuk lansia dan masyarakat yang memiliki komorbit. Pelaksanaanya dilakukan secara terpisah," ujarnya. (Shanty)

Top