Olah Raga

TD Judo dan Tarung Derajat Pertanyakaan Keseriusan Mimika untuk Venue Mereka

TD Judo dan Tarung Derajat saat melihat Graha Eme Neme

MIMIKA, BM

Pada Agustus 2018 lalu, Perry G Pantouw yang adalah Tim Delegate Cabang Olahraga Judo telah meninjau Graha Eme Neme Yauware sebagai venue Judo pada PON XX Papua di Mimika.

Dalam kunjungan saat itu, ia meminta agar dilakukan sejumlah perubahan baik secara internal maupun external agar Graha Eme Neme layak digunakan sebagai venue Judo.

Beberapa permintaan yang disampaikan waktu itu diantaranya, renovasi ruang dalam Graha Eme Neme guna penambahan dua tribun penonton, renovasi ruang Vip dan media, perbaikan toilet-toilet, penambahan ac dan lighting (pencahayaan) serta penambahan video thron untuk kebutuhan entertainment.

Namun sayangnya, semua yang ia rekomendasikan untuk segera diperbaharui hingga saat ini belum satupun dilakukan. Ia merasa kecewa dengan kondisi tersebut.

Perry G Pantouw yang datang kali kedua ke Graha Eme Neme Yauware, Rabu (11/3) bersama Technical Delegated Cabor Tarung Derajat, Noves Narayana, meminta agar Pemda Mimika bersama PB PON Cluster Mimika menseriusi usulan dan permintaan mereka.

“Gedung ini sangat layak tapi belum ada perubahan yang harus dilengkapi. Kunjungan kami hari ini untuk melihat semua kesiapan. Waktu lalu saya juga minta toilet diperbaiki dan diperbanyak untuk putera dan puteri tapi belum ada,” ungkapnya.

Padahal menurutnya, PBJSI merencanakan akan melakukan tes even Judo di Timika pada Juni tahun ini. Sehingga ia berharap Mei atau awal Juni, semua permintaan mereka sudah dilaksanakan.

Ia menegaskan, Graha Eme Neme Yauware harus segera dilakukan penambahan daya listrik (power-red) agar sesuai dengan standarisasi gedung yang akan digunakan. Selain itu panitia diminta juga untuk memenuhi kebutuhan air conditioner (ac).

“Ini harus disiapkan karena ketika lampu mati harus ada backup. Mengapa? Karena dalam pertandingan Judo kita pakai ITE sehingga jangan sampai menggangu pertandingan,"ungkapnya.

“Kita juga minta penambahan ac karena standar cabor Judo untuk penyelenggaran even nasional suhu udaranya minimal 20 derajat. Jadi didalam ruangan ini bisa dihitunglah berapa unit ac termasuk di belakang untuk pemanasan atlit dan lobi depan untuk tamu VIP," ujarnya.

Senada, TD Tarung Derajat, Noves Narayana menegaskan kembali agar apa yang diusulkan harus segera dipenuhi mengingat waktu menuju perhelatan PON menyisahkan beberapa bulan lagi.

"Sebab apa yang kami usulkan tentang pembangunan tribun kiri dan kanan pada saat kunjungan pertama ternyata masih belum dilaksanakan, karena ini yang paling utama bagi kami dalam tarung derajat," tegas Noves Narayana.

"Kami mohon kepada pihak terkait untuk lebih memperhatikan hal tersebut, karena rencananya bulan Agustus kita akan adakan tes venue di sini. Saat tes even semua sudah harus beres, tidak ada kekurangan-kekurangan lagi,” ungkapnya. (Ronald)

Agustus Mimika Selenggarakan Tes Even Panjat Tebing

Tim technical delegate saat meninjau lokasi venue panjat tebing

MIMIKA, BM

Sebanyak 11 tim Technical Delegated (TD) dari 11 mata lomba yang akan dipertandingkan pada PON XX Papua di Mimika, saat ini sedang berada di Timika.

Kehadiran mereka untuk melihat secara keseluruhan kesiapan venue-venue PON, melakukan rapat koordinasi dengan Panitia Pengawas Pertandingan (Panwasra) dan Panitia PB PON Sub Mimika.

Sapto Hardiono, Technical Delegate Panjat Tebing PON XX Papua kepada wartawan, Rabu (11/3) mengatakan pembangunan venue panjat tebing di Timika, ditergetkan selesai sebelum Agustus tahun ini.

“Sesuai dengan target kita, semua akan selesai di bulan Agustus. Setelah selesai kita langsung adakan tes even panjat tebing di sini,” ujarnya.

Ia telah melihat proses pekerjaan penimbunan di tempat panjat tebing. Walau belum banyak bergerak namun ia optimis Mimika akan menyelesaikan pembangunan sesuai waktu yang ditetapkan.

“Dengan adanya kunjungan hari ini, saya optimis semua akan jalan dengan baik dan benar dan mudah-mudahan diselesaikan dengan cepat,” ungkapnya.

Dikatakan, untuk pelaksanaan tes even panjat tebing Agustus nanti akan dihadiri oleh atlet dari 22 Provinsi dengan jumlah keseluruhan yang sudah diupdate sebanyak 136 atlet.

Sementara official yang direncanakan hadir berjumlah 60 sampai 70 orang. Secara keseluruhan baik atlet maupun official jumlahnya mencapai 206 hingga 210 orang.

“Kami dari tim delegate tetap mendorong agar proses pengerjaan venue panjat tebing secepatnya selesai sebelum Agustus. Kami satu minggu akan berada di Timika agar proses pembangunannya dipercepat,” ujarnya.

“Untuk kesiapan tes even nanti kita sudah siapkan panitia sebanyak 144 orang, dari jumlah ini sebanyak 44 orang kita datangkan dari luar Papua sedangkan 100 orang dari Papua termasuk juri dan pembawa jalur,” ungkap Sapto Hadiono. (Ronald)

Cuaca Panas di Timika ‘Dikeluhkan’ Para Atlet Atletik

MIMIKA, BM

Kondisi cuaca panas yang begitu menyengat di Timika menjadi tantangan tersendiri bagi para atlet yang akan mengikuti PON XX Papua, dimana Mimika merupakan tuan rumah penyelenggara cabang olahraga atletik.

Hal ini diungkapkan oleh beberapa atlet, termasuk juara lomba marathon putra, Imam Mahdin dan juara jalan cepat Putri Salfia kepada BeritaMimika usai mengikuti Babak Kualifikasi Ketiga Test Event PON XX Papua yang dilangsungkan di alun-alun Kuala Kencana Sabtu (29/2).

"Di sini lintasannya cukup bagus hanya saja bukan karena capainya tapi panas di sini sangat berbeda dengan daerah kami. Saya berharap kalau bisa waktu pertandingan nanti dimulai jam 5 pagi," keluh Salfia yang menargetkan medali emas di PON XX.

Menanggapi hal tersebut, Technical Delegate Drs. Umaryono didampingi rekannya Drs. Dwi Priyono M.Pd mengatakan bahwa kondisi cuaca berlangsungnya rest event PON di Kuala Kencana semula sejuk namun menuju pukul 09:00 wit hingga 10:00 wit cuaca berubah menjadi lebih panas.

"Tadi kita start lebih pagi sekitar jam enam sehingga jam setengah dua belas baru finish. Kalau bisa start lebih pagi misalnya jam empat atau setengah lima kondisinya sejuk dan atlet masih semangat. Karena test event, jadi kita melihat kemampuan atlet dan petugas daya dukungnya seperti apa. Makanya medis terus mengikuti atlet karena khawatir atlet kolapse di jalan," ujarnya.

Umaryono berharap pada tiitk-tiitk perputaran lintasan selain ada water position, perlu juga diadakan moist stand atau air yang berembun sehingga ketika cuaca panas, atlet yang melewati lintasan secara otomatis terkena siraman air. Hal ini untuk mencegah dehidrasi dan menambah pendinginan suhu tubuh para atlet.

"Ini harus disiapkan karena kita membentuk empat lintasan tanda plus sehingga di masing-masing tempat harus ada moist stand itu seperti kipas angin yang embun layaknya shower yang otomatis bisa dimatihidupkan. Kalau perlu dibuat lima sekaligus untuk di garis finish. Memang sudah ada kolam berisi es batu tetapi sayangnya, tendanya belum tersedia sehingga mereka kepanasan," jelasnya.

Selain itu dari sisi psikologis atlet sendiri, untuk lintasan dikatakan banyak putaran sehingga menjadi beban psikologis. Lain halnya bila atlet menempuh lintasan sekali putar langsung menuju garis finish.

"Cuman kita mesti cari jalur yang benar-benar clear dan clean sementara kita akan gunakan yang ada dulu supaya mudah pengamanan sekaligus memperkenalkan karakter marathon seperti itu kepada atlet. Menuju PON belum ada perubahan jalur tetapi kita akan lihat evaluasi nanti," ucapnya.

"Kondisi kejiwaan atlet juga harus kita pikirkan. Kalau bisa look satu puraran itu dapat 42 kilo. Saya yakin disekitar kompleks ini memang ada tetapi kita harus survey lebih mendalam tapi dari yang ada ini sudah cukup bagus. Kendalanya karena atlet harus putar empat kali jadi mereka boring (bosan-red)," tandasnya.

Sementara itu, Ketua Harian Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) Provinsi Papua Yulianus Worabay kepada BeritaMimika mengatakan Papua selaku tuan rumah penyelenggaraan PON XX mendapatkan kuota sebanyak 55 atlet.

"Verifikasi di Rakernas, Papua dapat 55 seat termasuk Mimika di dalamnya sudah terakomodir. Selain memberi ruang setiap kabupaten untuk ikut kegiatan event nasional, even ini juga merupakan tahapan seleksi. Sehingga dari lomba lari atau marathon maupun jalan, walau ada yang tidak ikut TC tapi mereka bisa diakomodir masuk. Jadi, kami memberi ruang yang seluas-luasnya sehingga tidak pilih kasih karena kita butuh prestasi," terangnya. (Elfrida)

Top