Olah Raga

Bertemu Para Atlit, Wagub NTT Dan Bupati Ngada Berpesan Harus Menerima Apapun Hasil Pertandingan

Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Josef Nae Soi dan Bupati Ngada, Andreas Paru saat bertemu dengan atlit NTT di Centra Pendidikan

MIMIKA, BM

Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Josef Nae Soi dan Bupati Ngada, Andreas Paru saat ini sedang berada di Timika.

Kedatangan Wagub NTT dan Bupati Ngada ini disambut oleh Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob dan masyarakat Flobamora yang ada di Timika di Terminal  Mozes Kilangin sisi Selatan Sabtu (9/10).

Keduanya datang ke Timika untuk menyemangati atlet mereka yang tampil di PON XX Papua.

Saat mengunjungi para atlet di Sentra Pendidikan, keduanya berpesan agar semua atlet harus selalu menerima apapun hasilnya.

"Sebagai Wakil Gubernur dan mewakili seluruh masyarakat NTT, saya mengucapkan selamat kepada atlit yang sudah membawa nama NTT. Apapun hasilnya itu harus kita terima, karena dalam olahraga ada yang menang dengan hormat dan kalah dengan hormat," ungkap Wagub.

Sebagai orang nomor dua di Provinsi NTT, Josef Nae juga meminta kepada seluruh atlit, pelatih dan manager untuk menunjukan prestasi, sportifitas serta daya juang. Sebab dalam olahraga kekalahan merupakan kemenangan yang tertunda.

"Sebagai orang yang bertanggung jawab kepada semua atlit yang datang berlaga, saya juga berterimakasih kepada pelatih dan manager yang sudah mengantarkan nama NTT.  Puji Tuhan, kita sampai hari ini sudah peroleh 1 emas, 1 perak dan 1 perunggu. Mudah-mudahan ada cabang andalan kita seperti tarung derajat , tinju, pencak silat dan kempo  bisa peroleh hasil yang baik buat NTT," ujar Wagub.

Ia menjanjikan, ketika kontingen usai berlaga di PON XX Papua, ia akan menyambut mereka secara resmi di Kantor Gubernur NTT.

"Tanggal 17 Oktober saya dan gubernur akan terima secara resmi dan akan umumkan apresiasi pemerintah kepada semua atlit," kata Wagub.

Pada kesempatan ini, Wagub NTT  juga menyampaikan bahwa pemerintah Provinsi NTT sedang berjuang agar menjadi tuan rumah pada perhelatan PON tahun 2028 nanti.

"Anak-anak saya sekalian jangan putus asa karena bapak lagi memperjuangkan pada tahun 2028 PON harus di NTT. Semua gubernur dan wakil gubernur sudah setuju bahwa tahun 2028 kita akan jadi tuan rumah PON. Tdak hanya jadi tuan rumah PON saja, tapi tahun depan juga kita akan jadi tuan rumah Pesparawi," ujarnya.

"Tahun 2023 kita juga akan jadi tuan rumah pertemuan pemimpin-pemimpin negara di seluruh dunia yang akan berkumpul di Labuan Bajo. Saya kemarin sudah dipanggil bapak Presiden Jokowi untuk rapat dan ditunjuk sebagai ketua panitia,"ungkapnya.

Ia juga mengucapkan terimakasih kepada Wabup Mimika dan masyarakat Flobamora di Timika yang sudah menyempatkan diri menyambut kedatangannya bersama Bupati Ngada.

"Epan gawan golo, kalian sangat luar biasa. Badan kalian boleh disini tapi perasaan kalian ada di NTT, dimanapun kita berada tanah leluhur kita tidak boleh dilupakan. Tadi saya terharu melihat saya punya mama-mama menari hegong dengan musik tradisional gong waning," ucap Wagub sembari tersenyum kepada para atlet.(Ignas)

Tim Basket Putri Jawa Timur Raih Medali Emas PON XX Papua

Tim Basket Putri Jawa Timur berhasil menyabet emas usai mengalahkan Bali dalam partai Final Bola Basket 5x5 di Mimika Sport Complex, Sabtu (9/10/2021). Foto: Humas PPM/Joseph Situmorang

MIMIKA, BM

Tim Basket Putri Jawa Timur (Jatim) akhirnya membawa pulang medali emas untuk Cabor Basket 5x5 pada ajang PON Papua Tahun 2021.

Kemenangan para atlit basket kota pahlawan ini diraih setelah menang melawan basket putri Bali di babak final basket putri 5X5 di GOR Mimika Sport Complex (MSC), Sabtu (9/10).

Dari hasil pertandingan babak final ini juga, tim basket putri Bali harus puas membawa pulang medali perak dan tim basket DKI Jakarta mendapat medali perunggu setelah mengalahkan Sulsel.

Kemenangan tim basket putri Jatim adalah moment yang luar biasa karena terakhir membawa pulang medali emas di ajang PON pada tahun 1996 lalu.

Pelatih Jatim, Lena mengakui jika pada babak final mental anak-anak asuhnya sangat kuat. Dengan keyakinan, timnya bisa meraih bintang di lapangan basket dan mempersembahkan medali emas untuk kota pahlawan.

"Di final ini anak-anak mainnya mental saja, mental kuat maka dapat juara. Mental anak-anak bagus. Kita terakhir dapat emas di PON tahun 1996. Maka, kali ini kita akan tetap buktikan ke Jatim, ini dapat emas," ujar Lena bahagia.

Kurun waktu dua tahun, timnya benar-benar berlatih dan tekun sehingga bisa memberikan yang terbaik di ajang pesta olahraga terbesar skala nasional ini.

Dari ajang PON XX ini, Lena juga takjub dengan permainan dari tim-tim luar pula Jawa yang diakuinya bermain cukup bagus. Ini kata dia menandakan olahraga basket dengan pembinaannya di daerah-daerah luar pula Jawa telah berjalan baik.

Selanjutnya, untuk pertandingan yang dilakukan di Klaster Timika sendiri, ungkap Lena, panitia PB PON bekerja sangat maksimal. Di tengah pandemi covid-19 yang juga belum usai, panitia dan segenap unsur terkait sudah menyelenggarakan PON khususnya pada pertandingan basket dengan baik.

"Panitia oke, persiapan di tengah pandemi seperti ini," ungkapnya.

Senada dengan hal itu, pemain Jatim nomor 13 yang juga kapten tim, Christine Aldora Thundawan mengaku sangat excited dengan hasil pertandingan basket 5x5 yang sudah diikutinya.

Meraih medali emas, sebut Christine, bukan hal mudah. Butuh pengorbanan, dari meninggalkan keluarga, menunda kuliah dan keluar dari pekerjaan dilakukan para pemain agar bisa fokus untuk berlatih.

Selama satu tahun, mereka berlatih sangat keras. Pengorbanan dan jerih payah ini kata dia tidak sia-sia. Dengan dukungan penuh keluarga, pelatih, kawan-kawan se tim, masyarakat Jatim, maka medali emas berhasil mereka dapatkan.

"Kita excited, kita sudah latihan satu tahun. banyak pengorbanan yang sudah kita lakukan, kita tidak sia-sia mengorbankan itu semua, kita main habis-habisan, all out, syukur kita menang," jelasnya.

Sementara pelatih Bali, Muflih Farhan mengakui kekalahan timnya melawan Jatim.

Walaupun di awal permainan anak-anak bermain all out, namun semangat itu kendor di quarter selanjutnya. Tidak berhasil membawa pulang medali emas, namun ia akui anak-anak sudah bermain sangat bagus.

Pengorbanan mereka sebutnya sudah sangat luar biasa, bukan lagi 100 persen namun anak-anak sudah bermain sampai 200 persen.

Tidak bawa pulang medali emas, kata Muflih, ini tetap menjadi sejarah baru bagi basket putri Bali. Hal ini disebabkan karena mereka baru ke dua kalinya mengikuti ajang PON. Setelah di tahun 2016, tahun ini timnya pertama kali masuk sampai babak final. Ini adalah prestasi yang paling baik.

"Sepanjang kami ikut basket di ajang PON , kali ini baru masuk final, ini yang terbaik, ini untuk saya paling baik. Untuk putri ini baru lolos semi final sampai final, tahun 2016 baru pertama kali ikut PON, main dengan kondisi begini (pandemi) dan bisa masuk final dan bawa medali itu sudah sangat baik," ungkapnya.

Dari ajang PON ini sendiri, ia akan jadikan pelajaran berharga untuk pembinaan atlit basket di Bali. Mereka yang sudah dibina sejak usia 12 tahun akan terus dipersiapkan untuk menjadi atlit profesional bukan saja di ajang nasional namun juga internasional.

Ungkapan syukur karena bisa masuk babak final dan meraih medali perak juga diungkapkan kapten tim yang juga pemain nomor, Dewa Ayu Kusuma.

Menurutnya, permainan yang ditunjukkan oleh timnya ini sudah yang paling baik. Mengaku bermain kurang konsisten sehingga tertinggal point dan kalah dari Jatim, namun Ayu tetap bersyukur bisa berada di fase terbaik dalam sejarah basket putri Bali.

Untuk itu, ia mengucapkan terima kasih kepada orang tua, pelatih, timnya dan masyarakat Bali yang sudah mendukung penuh timnya hingga bermain sangat baik di PON XX.

"Kami sudah memberikan yang terbaik, walaupun memang kurang konsisten dan susah kontrol game. Terima kasih sudah mendukung kami, orang tua dan masyarakat Bali," ujarnya. (Humas PPM/ Sitha dan Stefanus Ambing)

Dukung Guru Olahraga 'Bakupukul' di PON, Warga di NTT Rela Patungan Beli Paket 5GB



Warga Kampung Klotong, Kabupaten Sikka, NTT saat berkumpul di balai kampung menonton pertarungan Yoseph Armomeus melawan Maki Mubarok asal Jawa Timur. Foto : Humas PPM/Kristin Rejang

MIMIKA, BM 

Warga Kampung Klotong, Kota Maumere, Kabupaten Sikka, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) sangat berbangga karena salah satu putra terbaik dari kampung mereka bisa mengikuti Pekan Olahraga Nasional (PON) XX di Papua.

Warga Kampung sekitar 50-an orang berkumpul di Kantor Balai Desa persiapan Bura Bekor menonton menggunakan handphone yang disambung dengan speaker bluetooth kecil.

Antusias masyarakat yang menonton walau hanya menggunakan hp kecil dengan situasi sinyal dan paket data seadanya, namun mereka begitu bahagia dan senang.

Puncak kebahagiaan dalam kesederhanaan ini terhempas penuh suka cita dan kegirangan ketika Yoseph Amoreus, petarung yang mereka cintai ini berhasil mengalahkan Maki Mubarok dari Jawa Timur dengan skor 2:1.

Rikardus Nong Son, seorang warga yang juga kerabat dekat dari Yoseph bercerita keseharian Yoseph adalah seorang guru olahraga.

"Dia orangnya baik dan rendah hati. Makanya meskipun pulsa paket seadanya tapi kami berusaha tunggu sampai om (panggilannya untuk Yoseph) bertanding," kata Rikardus melakui sambungan telepon, Jumat (8/10/2021).

Ia bercerita, ada yang berusaha nonton lewat TVRI namun ternyata tidak bisa jika menggunakan parabola, sehingga semua masyarakat berbondong-bondong menonton di balai kampung.

"Kami sangat bangga karena kami punya keluarga bisa masuk tv bisa ikut pertandingan di Papua. Semoga bisa juara 1, Amin. Dan kami harus nonton dengan cara apapun. Besok kalau Om main kami akan nonton lagi, kami akan baku tambah uang untuk beli pulsa internet," kata Rikardus.

Sebelumnya, Marianus Jago, Pelatih Atlet Tarung Derajat NTT opitimis pulang kampung membawa emas pada Cabang Olahraga (Cabor) Tarung Derajat kelas 52,5 - 55 kg pada PON XX Papua.

Marianus Jago menyampaikan terima kasih pada anak asuhnya yang sudah memberikan hasil yang memuaskan pada babak penyisihan.

"Saya sangat yakin di pertandingan selanjutnya, pasti kami akan menang lagi, ketika melawan atlet dari Aceh pada, Minggu (10/10) nanti," ujarnya yakin.

Sementara itu Yoseph Amormeus, Atlet Tarung Derajat kelas 52,5 - 55 Kg Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang kesehariannya adalah seorang guru olahraga, tetap merendah dengan kemenangan yang telah diraihnya.

"Apapun hasilnya, menang atau kalah pada pertandingan selanjutnya, saya tetap bersyukur, karena apapun kehebatan kita,Tuhan yang menentukan. Saya bisa melangkah lagi karena dukungan doa dari semua," Ucap Amor dengan senyumnya yang ramah. (Humas PPM/ Anius Nining, Kristin Rejang dan Ronald Renwarin)

 

Top