Olah Raga

PON Sudah di Depan Mata Namun Panwasrah Temukan Ternyata Masih Ada Masalah

Rapat koordinasi Panwasrah dan PB PON Cluster Mimika di sekretariat Jalan Poros SP2-SP5, Kamis (16/9)

MIMIKA, BM

Panitia Pengawas dan Pengarah (Panwasrah) PON XX Papua Cluster Mimika, pada hari ini, Kamis (16/9) melakukan rapat koordinasi dengan PB PON Cluster Mimika di sekretariat Jalan Poros SP2-SP5.

Rapat ini dihadiri Ketua Harian PB PON Cluster Mimika, Marthen Paiding, Sekretaris Cesar A Tunya, Ketua Panwasra Gadang Pambudi dan anggota Panwasrah serta ketua-ketua koordinator bidang.

Marthen Paiding mengatakan, pada pertemuan ini Mimika menyampaikan segala persiapan yang sudah dilakukan oleh PB Cluster Mimika.

"Panwasrah hadir untuk memberikan potret sejauh apa kesiapan kita dan apa yang harus kita siapkan karena PON kurang lebih tinggal dua minggu lagi. Ini merupakan kajian umum dari rapat hari ini," ungkapnya.

Ketua Panwasrah Gadang Pambudi kepada BM menggaris bawahi bahwa ada hubungan komunikasi yang tidak berjalan semestinya antara PB PON Papua dan PB Cluster Mimika.

"Hasil rapat mengisyaratkan bahwa komunikasi antara PB PON dengan Sub PB PON sampai hari ini tidak lancar. Masih ada kendala misalnya peralatan sudah di sini namun belum diserahterimakan. Kuncinya masih dipegang PB PON. Percuma kalau begitu, barang ada disini, mereka mau persiapan tapi harus tergantung ke PB PON," ungkapnya.

Komunikasi yang berjalan kurang bagus ini bukan hanya terjadi pada satu atau bidang namun hampir semua bidang merasakan hal serupa.

"Bahkan sampai saat ini masih ada dana yang belum turun. Mereka mau berbuat tapi tidak bisa, misalnya bimtek. Mau lakukan bimtek tapi tidak bisa karena dana masih di PB PON. Seharusnya bimtek dulu baru tes even. Dana untuk tes even sudah ada tapi bimtek belum ada, jadi percuma karena mau lakukan tes even tapi pelaku-pelaku yang mengoperasikan peralatan belum siap, ya percuma saja," ungkapnya.

Ia menjelaskan, sebagian besar peralatan cabor untuk PON di Mimika sudah didatangkan tapi sejauh ini belum ada petunjuk untuk dioperasionalkan.

"Mudah-mudahan ini tidak jadi batu sandungan kalau kami nanti bantu komunikasikan dan cari solusi. Pemerintah Daerah Mimika saya lihat juga sepakat dan optimis bahwa Mimika bisa sukses selenggarakan PON," ungkapnya.

Menurut Gadang Pambudi, hasil rapat ini akan segera ditindaklanjuti dan laporkan kepada Panwasrah Pusat.

"Kami Panwasrah cluster akan informasikan ke Panwasrah Pusat bahwa ada persoalan seperti ini sehingga mereka segera konunikasikan dengan PB PON karena tanggal 18 sudah ada kontingen yang datang jadi kita harus cepat bergerak. Hari ini kami akan langsung laporkan," jelasnya.

Ia mengatakan, walau ada kendala seperti itu namun Mimika sejauh ini tetap konsisten untuk melaksanakan dan mensukseskan PON sebagai tuan rumah.

"Mimika semangat sekali. Ini bisa disimpulkan bahwa semua masyarakat di Mimika siap untuk menyelenggarakan PON karena ini membawa nama kabupaten sehingga apapun masalahnya terus jalan dan jangan bergantung. Justru harapan kami, Mimika bisa jadi penjuru, ada apa-apa belajar dari Mimika. Semua hal pasti ada masalah namun semua itu akan membuat kita lebih kuat dan lebih maju," terangnya. (Ronald)

Namanya Susana Epa! Wanita Cenderawasih Ini Meraih Emas PON XIX di Negeri Lahirnya Tarung Derajat, Jawa Barat

Susana Epa, atlet Tarung Derajat Papua yang berhasil meraih Emas pada PON XIX di Jawa Barat

MIMIKA, BM

Akdamina Susana Epa (33) yang akrab disapa Susi, merupakan perempuan kelahiran Jayapura, 16 Mei 1988.

Susi merupakan buah cinta pasangan Edwin Epa dan Ubertina Owula. Ia merupakan anak pertama dan perempuan satu-satunya dari lima bersaudara.

Namanya masih harum hingga saat ini karena telah menorehkan sejarah sebagai peraih medali emas dalam even Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX Jawa Barat pada cabang olahraga Tarung Derajat, tahun 2016.

Ia mengharumkan nama Papua di tanah Jawa Barat yang mana merupakan tempat lahirnya Tarung Derajat.

BeritaMimika berkesempatan menemuinya saat ia dan rombongan Atlet Tarung Derajat Papua, tiba di Timika, Rabu (15/9), di Hotel Kamoro Tame.

Perempuan yang memiliki wajah lembut dan rendah hati ini sangat jauh dari kesan sangar sebagai seorang petarung.

Bagi kamu yang belum mengenalnya, namun ketika berpapasan dengannya di jalan, kamu tidak akan percaya bahwa dia adalah seorang petarung dengan raihan medali emas.

Dengan senyuman manisnya, ia pun bercerita perjalannya hingga berhasil meraih emas di PON XIX Jawa Barat.

“Awalnya saya adalah atlet tinju. Saya ikut tinju karena kakak kelas di SMA YPPK Taruna Bakti mengajak, tujuannya untuk dapat menjaga diri sendiri," ujarnya mengawali kisahnya.

“Saat itu tahun 2007 saya ikut kejuaraan daerah (kejurda) tinju tapi tidak lolos. Dari sana saya bersama rekan lain dari Karate dan Tae Kwon Do yang juga tidak lolos ada delapan orang digabungkan masuk Tarung Derajat. Yang terpilih empat orang, satu menjadi asisten pelatih AA Boxer dan tiga atlet langsung dilatih oleh AA Boxer pendiri Tarung Derajat, salah satunya saya,” kenangnya.

Setelah itu, pada tahun 2015 ia mengikuti babak kualifikasi pra PON XIX untuk Tarung Derajat dan berhasil meraih emas.

Saat PON XIX berlangsung sebagai atlet putri satu-satunya asal Papua ia mampu membuktikan diri dengan memperoleh medali emas.

“Memang perjuangan sekali karena basicnya tangan dan kaki belum bisa. Lalu kami digenjot selama tiga bulan untuk pra-PON di Jawa Barat. Perasaan saya waktu itu campur aduk ada bahagia dan sedih karena harus meninggalkan keluarga. Hingga saya berhasil dapat emas, itu merupakan suatu kebanggan tersendiri untuk keluarga,”ucapnya.

Ia mengatakan dukungan yang diberikan oleh keluarga 100 persen sehingga itu sangat memotivasinya untuk terus bertahan di cabor ini.

Dukungan antara sesama tim pun disebut Susi adalah faktor pendukung dimana tidak ada istilah senior junior melainkan kakak adik sehingga kekeluargaan itu begitu terasa.

“Prinsip saya saat itu ingin tunjukkan yang terbaik untuk tanah Papua, jika kita berikan yang terbaik pasti medali akan ada ditangan. Prinsip ini saya pegang terus sampai sekarang,” tandasnya.

Susi mengatakan untuk persiapan PON XX kali ini, ia bersama tim telah mengikuti pemusatan latihan selama dua tahun. Susi akan turun di kelas 54,1-58 kg.

“Selalu andalkan Tuhan dalam segala hal, takut akan Tuhan. Jangan sekali-kali tunjukan rasa bosan saat berlatih. Yakin dan percaya Tuhan akan membantu dalam apapun cita-cita kita. Jika di tanah orang kita bisa, kenapa di tanah sendiri tidak bisa,” pesannya menyemangati seluruh atlet Papua yang akan bertanding di ajang PON XX. (Elfrida)

BOX! Atlet Tarung Derajat Papua Tiba di Mimika

Foto bersama dengan perwakilan PB POB dan KONI Mimika di Hotel Kamoro Tame

MIMIKA, BM

Rombongan tim atlet Tarung Derajat PON XX Papua tiba di Bandara Mozes Kilangin, Kabupaten Mimika, Rabu (15/9), dengan menggunakan maskapai Sriwijaya Air pukul 15.00 wit.

Rombongan yang berangkat dari Jayapura ini berjumlah 28 orang yang terdiri dari 22 atlet (12 putera dan 10 putri), tiga pelatih beserta official.

Sementara satu atlet akan menyusul dari Jawa Barat dan langsung menuju Timika atas nama Gabriel Sadewa, sehingga secara keseluruhan 23 atlet akan berlaga dalam PON XX Papua.

Sebagai tuan rumah untuk cabang olahraga Tarung Derajat, perwakilan KONI Mimika dan PB PON menyambut kedatangan rombongan dan mengantar hingga di tempat penginapan Hotel Kamoro Tame.

Setibanya di Kamoro Tame, mereka disambut Sekretaris Umum KONI Mimika Caesar A. Tunya. Selain mengucapkan selamat datang, Cesar juga mengingatkan rombongan untuk selalu menjaga protokol kesehatan walau kasus covid di Mimika sedang mengalami penurunan.

“Tujuan disini untuk bertanding. Mulai saat ini sampai pertandingan tolong dijaga. Saya diberikan tugas dari KONI provinsi untuk turut menjaga adik-adik mulai dari persiapan sampai penyelenggaraan dan. Pengkab juga tolong dibantu untuk persiapannya selama disini. Selamat datang di Timika,” ucapnya.

Sementara itu, Pelatih Tarung Derajat Papua Manuel Maker mengatakan para atlet datang lebih awal untuk penyesuaian sebelum bertanding.

“Ada 18 nomor nanti yang dipertandingkan yakni empat nomor seni dan 14 tarung bebas. Kita disini ada yang ikut pentas tarung kebanyakan masih pemula. Ada satu atlet dia peraih medali emas di PON XIX Jawa Barat bernama Akdamina Susana Epa di kelas tarung bebas,” katanya.

Manuel mengungkapkan meski para atlet kebanyakan pemula tetapi telah memiliki jam terbang yang sebelumnya sebagai pesilat, karateka hingga petinju.

“Pengprov masih baru karena baru tiga tahun berjalan. Di Jayapura belum berkembang tetapi mereka sudah dibina dan diberi bekal. Kita tidak banyak bicara tetapi target dua emas dan tidak menutup kemungkinan sebagai tuan rumah kita bisa meraih lebih,” imbuhnya.

Manuel yang juga berpengalaman sebagai asisten pelatih Sang Guru Rimba di Buah Batu, Jawa Barat, mengatakan Tarung Derajat merupakan bela diri asli Indonesia.

Olahraga ini sangat mengutamakan kedisiplinan. Selain itu melatih cara berpikir yang positif dan juga sebagai wadah pembinaan akhlak dan membentuk kepribadian.

“Saat babak kualifikasi kemarin Bali merupakan juara umum tetapi kekuatan tarung derajat ada banyak misalnya Jawa Barat. Meski anak-anak banyak yang pemula tetapi saya optimis mereka bisa tampil maksimal,” ungkapnya. (Elfrida)

Top