Kesehatan

Sebagian Besar Warga Tiga Kampung Masih Tinggal di SD Banti

Kapolsek dan Kadistrik Tembagapura

MIMIKA, BM

Kapolsek Tembagapura, Ipda Eduardus Edison menyatakan bahwa saat ini situasi di Distrik Tembagapura aman terkendali, paska kepulangan warga Kampung Banti 1, Banti 2 dan Opitiawak.

Di wilayah ini telah dibangun tiga pos Brimob dan satu pos TNI. Bahkan rencaanya dalam waktu dekat akan ditambahkan satu lagi pos TNI.

"Situasi keamanan sampai sekarang aman terkendali, masih kondusif dan aktifitas normal. Di sana dijaga oleh 150 Brimob dan Satgas Pamrawan TNI. Mereka ditempatkan di Banti," jelasnya.

Sementara itu terkait kebutuhan ekonomi di atas, Kepala Distrik Tembagapura, Thobias Yawame mengatakan hingga saat ini warga tidak kesulitan karena bantuan pemerintah daerah malui Dinas Sosial berupa sembako selalu didistribusikan secara bertahap.

Hanya saja sebagian besar warga tiga kampung ini masih menetap di SD Banti 1. Mereka menempati ruangan kelas sebagai tempat tinggal dan dibuatkan dapur umum.

"Rumah warga masih bagus hanya saja fasilitas banyak yang rusak seperti pintu, jendela, kasur dan alat-alat dapur sudah tidak layak pakai. Baru beberapa warga yang pulang ke rumah, sebagian besar masih di sekolah. Keadaan ini buat sehingga tempat tinggal mereka harus di renovasi," ungkapnya.

Dikatakan sudah 670 jiwa yang kembali namun sebagian besar masih ditampung di SD Banti. Kebutuhan sembako masih terpenuhi namun masalah utama yang mereka hadapi saat ini adalah tidak adanya tenaga medis dan masalah air bersih.

"Ini emeregensi yang yang harus dipikirkan bersama dan cepat untuk jangka pendek. Tidak ada pelayanan publik medis di sana, tidak ada tenaga medis, air kita sambung pipa dari polsek sementara untuk penerangan lima kelas kita sambung listrik dari pos Brimob," ungkapnya.

Kadistrik berharap agar apa yang menjadi kebutuhan jangka pendek seperti renovasi rumah warga segera terealisasi oleh Pemda dan PTFI.

"Harapan dan keadaan masyarakat seperti itu. Mereka harap Pemda dan PTFI memperhatikan kondisi mereka, terutama pelayanan kesehatan dan renov rumah mereka," ujarnya. (Ronald)

Warga Mimika Masih Bandel, Mickey Mouse Akhirnya Turun ke Jalan

Anggota polisi saat memberikan himbauan protokol kesehatan di Jalan Hasanuddin

MIMIKA, BM

Hingga saat ini, penularan Covid-19 di Mimika masih terus terjadi. Berbagai upaya telah dilakukan untuk membendung penularannya, salah satunya melalui himbauan.

Sayangnya, masih ada sebagian warga Mimika yang hingga kini tergolong bandel dalam menerapatkan protokol kesehatan.

Secara kasat mata yang paling mudah terlihat adalah masih ditemukannya warga yang tidak menggunakan masker dalam situasi saat ini. Begitupun dengan kerumunan warga.

Walau demikian, Tim Covid-19 yang didalamnya merupakan gabungan lintas sektor, tidak pernah lelah menyadarkan masyarakat lewat himbauan yang mereka sampaikan. Salah satunya, Polres Mimika.

Pada hari ini, Polres Mimika bahkan melakukan himbauan dengan cara yang unik dan berbeda dari biasanya. Mereka hadirkan Mickey Mouse di jalan.

Mickey Mouse yang dihadirkan bukanlah nyata seperti pada tayangan film anak-anak namun hanyalah costum (maskot) yang digunakan agar menarik perhatian warga dalam menyampaikan himbauan.

Kegiatan Bimas Noken Polri dan Humas Polres Mimika ini juga bekerjasama dengan Pramuka dan Komunitas motor, dilangsungkan di Jalan Hasanuddin tepatnya perempatan lampu merah, Selasa (2/2).

Kapolres Mimika melalui Ps Kasubag Humas, Ipda Hempy Ona menerangkan bahwa kegiatan yang diselenggarakan ini berdasarkan instruksi Bupati Nomor 2 tahun 2021 tertanggal 26 Januari hingga 8 Februari 2021.

"Dalam instruksi menjelaskan tentang penerapan protokol kesehatan. Jadi kami lakukan ini agar masyarakat dapat melihat kegiatan ini benar dilakukan, sehingga paham dalam menerapkan protokol kesehatan,"ujarnya.

Menurut Hempy, kehadiran Mickey mouse juga menampilkan wajah yang berbeda dalam menyadarkan masyarakat. Selain itu, akan menarik perhatian warga, khususnya anak-anak.

"Tadi pagi Polres Mimika dibawah satuan Bimas, Samapta dan Satlantas juga berikan himbauan yang sama di Jalan Cenderawasih. Jadi pagi dan siang kami beri himbauan, pada malam hari kami melakukan penindakan terhadap para pengguna jalan maupun para pelaku usaha yang tidak mematuhi instruksi bupati," terangnya. (Ignas)

Penderita Kusta di Potowaiburu Ada 34 Orang

Kepala Puskesmas Potowaiburu, Cornelis TE Hurulean

MIMIKA, BM

Pada 2020 kemarin, penyakit yang paling rentan dialami Masyarakat Potowaiburu, Distrik Mimika Barat Jauh adalah Ispa dan malaria.

Namun salah satu penyakit menular yang paling diwaspadai di distrik yang miliki lima kampung ini adalah penyakit kusta.

Berdasarkan data akhir Puskesmas Potowaiburu per Desember 2020, jumlah penderita kusta di distrik ini ada 34 warga, rata-rata penderita adalah laki-laki namun ada juga anak-anak.

"Ada 34 yang terdata di kami tapi akhir tahun kemarin, dinas kesehatan lakukan pelayanan ke sana mereka ada temukan kasus baru namun belum update ke kami. Penderitanya didominasi laki-laki dewasa," jelas Cornelis T E Hurulean, Kepala Puskesmas Potowaiburu.

Kepada BM Hurulean menjelaskan bahwa kusta merupakan penyakit menular yang paling rawan terjadi pada masyarakat ekonomi rendah.

Penyebab utama seseorang terkena kusta adalah karena kurangnya kebersihan diri. Penyebaran kusta hampir sama dengan TB yakni dengan kontak hanya saja masa inkubasinya lebih lama jika dibandingkan TB.

Penyembuhan kusta dilakukan dengan meminum obat program secara rutin tiap hari. Jika rutin, maka antara 6-8 bulan sudah sembuh.

"Kalau penderita tidak minum obat sampai lewat 40 hari maka dinyatakan DO. Kalau minum lagi maka dianggap mulai dari awal.
Sebenarnya kasus kusta penangannya sederhana. Intinya kalau pasien rutin minum obat, bisa sembuh sendiri. Kalau dari sisi petugas dan obat selalu tersedia," terangnya.

Guna menjaga agar penularan kusta tidak sampai berdampak luas, pegawai kesehatan Puskesmas Potowaiburu rutin melakukan edukasi ke pasien dan masyarakat umum.

Hanya saja yang disayangkan pihak puskesmas adalah ketidakpatuhan pasien dalam mengkonsumsi obat. Ini menjadi tantangan berat bagi pegawai kesehatan terutama penderita.

"Mereka kadang tidak patuh, lupa dan lalai. Padahal untuk beri obat, petugas langsung turun tiap hari ke pasien. Kadang turun berobat, mereka tidak ada. Mereka jalan tidak kasih tahu petugas sampai banyak yang belum tuntas minum obat sehingga penyembuhannya kadang lama," jelasnya.

Walau kasus kusta di Potowaiburu terhitung tinggi namun tidak ada kasus kematian. Selain itu pada 2020 lalu, sebanyak 4 penderita kusta dinyatakan sembuh.

"Kita selalu ingatkan masyarakat untuk jaga kebersihan dengan pola hidup bersih seperti rajin mandi dan mandi harus gunakan sabun. Yang paling penting, kami juga selalu ingatkan bahwa kusta bukan penyakit kutukan, stop stigma dan diskriminasi karena kusta bisa disembuhkan," ungkapnya. (Ronald)

Top