Kesehatan

Terabaikan, Tahun Ini Dinkes Fokuskan Pelayanan di Wilayah Pegunungan

Kadis Kesehatan Mimika, Reynold Ubra

MIMIKA, BM

Dinas Kesehatan (Dinkes) Mimika pada tahun 2022 ini akan mulai fokus lakukan pelayanan di wilayah pegunungan.

Pasalnya, sejak beberapa tahun terakhir ini tidak ada pelayanan kesehatan di wilayah pegunungan karena masalah keamanan yang tidak kondusif.

"Tahun ini kita fokus pelayanan pada 5 wilayah di pegunungan yakni Arwanop, Tsinga, Hoeya, Alama dan Jila," tutur Kadinkes Mimika, Reynold R Ubra saat ditemui, Jumat (7/1).

Reynold mengatakan, sebelum lakukan pelayanan di wilayah pegunungan Dinkes Mimika akan berkoordinasi dengan semua pihak termasuk pihak keamanan untuk memastikan wilayah tersebut aman dan tidak ada gangguan apapun.

Hal tersebut dilakukan, kata Reynold, agar para petugas yang akan ditempatkan di 5 wilayah tersebut dapat bertugas dengan aman dan tidak lagi ada rasa takut.

"Keamanan memang menjadi isu utama, namun Dinas Kesehatan akan melakukan pendekatan dengan mengajak seluruh masyarakat untuk berkontribusi dalam pelayanan kesehatan, termasuk aparat keamanan," katanya.

Katanya, Dinkes akan membuat rencana aksi kesehatan kampung bersama masyarakat setempat.

Soal transportasi sebut Reynold sudah aman. Karena, pihaknya telah menyiapkan anggaran khusus untuk para tenaga kesehatan sebesar Rp.3 miliar untuk mobilisasi dan sarana prasarana kesehatan.

"Anggaran sebesar tiga miliar itu bersumber dari dana otonomi khusus (Otsus) yang digunakan untuk mobilisasi tenaga kesehatan, sarana prasarana termasuk obat-obatan. Kalau Januari ini kontrak kerjasama sudah disepakati pelayanan di wilayah gunung segera dijalankan," ungkapnya. (Shanty)

Kasus Malaria di Mimika Tahun 2021 Terkonfirmasi 18.919 kasus

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra

MIMIKA, BM

Malaria masih menjadi salah satu penyakit tertinggi yang diderita masyarakat Kabupaten Mimika.

Menyikapi keadaan ini, berbagai stakeholder bersama pemerintah daerah melakukan jemput bola ke lapangan guna memberi pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, mengakui bahwa jumlah kasus malaria di wilayah itu mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir ini.

Berdasarkan data kesehatan, kasus malaria konfirmasi minggu 40 sampai minggu 51 dilaporkan banyak terjadi di Mimika sepanjang 2021 berjumlah 18.919 kasus.

Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Reynold Ubra saat ditemui, Kamis (6/1) mengatakan, jika melihat grafik trend kejadian malaria di Provinsi Papua dari minggu 40 sampai minggu 51 mengalami fluktuatif.

Artinya, dari minggu ke minggu selalu terjadi kenaikan dan penurunan kasus namun memasuki minggu ke 41, kasus malari mengalami peningkatan.

"Saya pikir kalau melihat data-data ini kasus malaria di Kuala Kencana dan di wilayah gunung itu masih ada di 1 per 1000 penduduk. Tapi secara keseluruhan data yang saya terima dari minggu pertama sampai minggu ke 51 tahun 2021 jumlah kasus malaria itu 18.919," tutur Reynold.

Meski berdasarkan data banyak terjadi kasus malaria di Mimika, namun Reynold Ubra menyakini bahwa kasus malaria di Mimika perlahan sudah mengalami penurunan.

Reynold menjelaskan, Pemda Mimika telah menetapkan tahun 2026 sebagai tahun eliminasi malaria yang dituangkan dalam rencana strategis program pengendalian malaria.

"Sehingga upaya pengendalian penyakit malaria di Mimika akan terus ditingkatkan mengingat jika tidak ditekan maka bisa memuncak lagi pada waktu-waktu mendatang," ujarnya.

Tidak hanya kasus malaria, jika dilihat berdasarkan Sistem kewaspadaan dini dan Respon (SKDR) untuk Kabupaten Mimika kinerja kelengkapan dan ketepatannya sudah mencapai target laporan yaitu 80 persen dan belum semua mengirimkan datanya.

Adapun data SKDR untuk kasus gigitan hewan Penular Rabies atau di kenal dengan istilah GHPR, minggu 40 sampai 51 dilaporkan banyak terjadi di Kabupaten Mimika dengan jumlah 11 kasus dan paling sedikit di Kabupaten Biak Numfor dan Kabupaten Boven Digoel yakni 1 kasus.

Sedangkan, kasus Suspek Dengue minggu 40 sampai minggu 51 dilaporkan terbanyak terjadi di Kabupaten Mimika dengan jumlah 7 kasus dan paling sedikit di Kabupaten Asmat sebanyak 2 kasus.

Sementara, kasus Diare konfirmasi minggu 40 sampai minggu 51 dilaporkan banyak terjadi di Kabupaten Mimika dengan jumlah 2.607 kasus dan paling sedikit di Kabupaten Intan Jaya sebanyak 8 kasus.

Lainnya, kasus Pnemonia konfirmasi minggu 40 sampai minggu 51 dilaporkan banyak terjadi di Kabupaten Mimika dengan jumlah 528 kasus dan paling sedikit di Kabupaten Sarmi sebanyak 1 kasus.

Dan Kasus ILI konfirmasi minggu 40 sampai minggu 51 dilaporkan banyak terjadi di Kabupaten Mimika dengan jumlah 10.170 kasus dan paling sedikit di Kabupaten Tolikara sebanyak 15 kasus.

"Jika melihat grafik trend Kejadian dari semua kasus sesuai data SKDR Provinsi Papua dari minggu 40 sampai minggu 51 mengalami fluktuatif artinya dari minggu ke minggu terjadi naik turun temuan kasus," ungkapnya. (Shanty)

Cegah Malaria, Warga Kelurahan Wania Bersama Babinsa Lakukan Ini


Suasana warga dan Babinsa Koramil 1710-07 saat melakukan pembersihan parit

MIMIKA, BM

Menyadari bahaya penyakit malaria yang disebabkan karena serangan nyamuk, Babinsa Koramil 1710-07/Mapurujaya bersama warga laksanakan gotong-royong membersihkan parit dan selokan sekitar di Kelurahan Wania Distrik Mimika Timur, Rabu (5/01/2022).

Gotong royong yang dilakukan oleh Babinsa bersama warga dimulai pukul 08.00 WIT dengan membawa peralatan kebersihan yang dibutuhkan seperti cangkul dan parang sabit.

“Kita tahu bahwa nyamuk anopheles sebagai pembawa bibit malaria suka bersarang di tempat-tempat kotor, oleh sebab itu kita mau membersihkan parit dengan cara bergorong-gorong bersama warga sekitar,” ujar Serda Tangkas yang turut dalam kegiatan tersebut.

Dikatakan, gotong royong ini juga memberikan  contoh kepada warga, agar mereka juga lebih peka terhadap kebersihan lingkungan rumah masing-masing.

Selain itu untuk membangun kebersamaan diantara masyarakat agar lebih peduli terhadap persoalan lingkungan dan kesehatan.

"Kami berharap pemerintah bisa melihat apa yang menjadi kebutuhan warga masyarakat karena di kelurahan Wania masih banyak parit yang belum di semen sehingga cepat ditumbuhi rumput," ungkap Serda Tangkas. (Red)

 

Top