Kesehatan

363 Tenaga Kesehatan Bersertifikat Internasional Backup PON di Mimika

Reynold Ubra saat memimpin tim kesehatan melakukan observasi di tiap venue PON

MIMIKA, BM

Bidang Kesehatan Sub PB PON Mimika akan menyiapkan 363 tenaga kesehatan untuk pelaksanaan PON XX Papua.

Tenaga kesehatan ini terbagi dalam beberapa tim inti yang terdiri dari dokter dan para medis seperti perawat, ada juga tenaga akupresur dan sopir.

Semua tenaga kesehatan ini akan ditempatkan di venue-venue olahraga dan tempat menginap kontingen baik di hotel maupun non hotel.

"Kami sudah bentuk 25 tim tenaga kesehatan yang tentu sudah dilatih oleh Kemenkes dan mereka itu sudah memiliki sertifikat berstandar internasional," tutur Kepala Dinas Kesehatan, Reynold Ubra saat ditemui, Jumat (17/9).

Selain tenaga kesehatan, kata Reynold, kesiapan transportasi juga sudah disiapkan ada 15 unit ambulans transport dan 6 unit mini ICU.

"Tidak hanya itu, obat-obatan dan emergency kit juga sudah disiapkan dan sudah dibagi untuk kebutuhan di masing-masing venue," tutur Reynold.

Sementara itu terkait pengiriman alat-alat kesehatan dan obat-obatan dari PB PON Papua, Reynold mengungkapkan dalam waku dekat sudah tiba di Mimika karena telah dilakukan serah terima. (Shanty)

Reynold Ubra Paparkan Kesiapan Bidang Kesehatan PB PON Cluster Mimika Secara Menyeluruh

Kadis Kesehatan Mimika, Reynold Ubra

MIMIKA, BM

Bidang Kesehatan PB PON XX Klaster Mimika telah melakukan sejumlah persiapan demi mendukung suksesnya jalan even PON XX Papua di Mimika.

Ditemui BeritaMimika, Kamis (16/9) di Sekretariat PB PON XX Klaster Mimika, Koordinator Bidang Kesehatan Reynold Ubra mengatakan bahwa tim inti untuk pelayanan kesehatan baik di venue maupun poliklinik sudah terbentuk.

Selain itu, alat kesehatan (alkes) dan obat-obatan guna kebutuhan PON di Mimika sudah disetting sedemikian rupa.

“Hari ini (kemarin) di provinsi sudah melakukan serah terima dua unit mobil ambulance kemudian penyerahan DPA dari PB Bidang Kesehatan dan alkes, obat-obatan termasuk perlatan untuk tes covid-19 yakni rapid antigen untuk cluster Mimika,” katanya.

“Sebelum semua itu diberikan ke kami, kita di Timika secara mandiri melakukan kunjungan lapangan, meminta tim inti yaitu tim pelayanan kesehatan dan darurat untuk menyiapkan emergency kit, jadi sambil menunggu semua dari Jayapura, kami sudah siapkan semua,” imbuhnya.

Reynold mengungkapkan untuk transportasi baik mobil kesehatan dan ambulance sudah dilakukan pengecekan dan siap digunakan.

Sementara itu, untuk empat medical centre yakni Klinik Kuala Kencana, RSIA Herlina, RSMM dan RSUD Mimika yang ditunjuk sebagai rumah sakit rujukan di klaster Mimika secara khusus sudah disiapkan tempat tidur ruang VIP dan VVIP.

“Tanggal 20 September nanti lima puskesmas mulai melakukan pelayanan 24 jam. Cara mencatat dan melapor kami berbasis website, ada Sistem Informasi Kesehatan Kabupaten Mimika dan Sistem Rujukan Terpadu milik Kemenkes untuk merujuk dari venue atau poliklinik ke medical centre, itu akan dipakai,” jelasnya

Selain masalah malaria, Reynold juga menyebutkan aplikasi P-Care akan digunakan untuk menginput jika ada atlet yang sakit.

“Ada kartu malaria untuk memantau atlet, paling lama tiga bulan setelah meninggalkan Mimika untuk mengecek kesehatannya apakah terpapar malaria atau tidak," ujarnya.

"Untuk pelayanan covid-19, tim kami akan melakukan swab test saat atlet sebelum bertanding atau pulang, seperti atlet judo dan tarung derajat akan swab di tempat akomodasi dimana atlet tinggal,” paparnya.

Menurutnya, tempat penginapan untuk para atlet dan kontingen tidak berbuka untuk umum karena PON XX Papua harus melaksanakan protokol kesehatan.

Hal tersebut juga katanya didukung oleh tim Panitia Pengawas dan Pengarah (Panwasrah).

“Sebenarnya hari ini kita sudah bisa turun ke level II, mudah-mudahan dalam beberapa hari kedepan sampai paling lambat tanggal 23, karena target kami tanggal 20 besok itu cakupan vaksinasi yang tersisa 26.216 kita sudah bisa mencapai 70 persen,” ungkapnya.

Dikatakan, untuk rata-rata kecepatan suntik vaksinasi di empat klaster, Mimika berada di urutan kedua setelah Jayapura tetapi kalau cakupan vaksin sudah hampir sama yakni di posisi 55 persen.

“Sisa 15 persen lagi. kalau masyarakat mau berpartisipasi, sehari kita bisa menyuntik 5000 orang karena jumlah vaksinator ada 30 tim besar sebenarnya. Sekarang kuncinya ada di masyarakat, kita sudah bisa buktikan 96 persen pasien covid-19 yang meninggal karena penyakit tidak menular dan diperberat dengan tidak divaksin,” ungkapnya.

Bidang Kesehatan PB PON XX Klaster Mimika telah menyiapkan aplikasi Peduli Lindungi  sehingga dapat terintegrasi untuk mencapai herd immunity 70 persen.

“Jika tercapai maka semua masyarakat bisa menonton PON, tetapi kalau tidak tercapai kemungkinan tidak akan ada penonton,” tandasnya.

Reynold mengatakan hari ini positivity rate ada dibawah lima persen dan maksimal hanya tiga persen maka itu sudah dapat dikatakan terkendali.

Rata-rata kecepatan tes covid-19 juga diatas 300 per hari yang berarti covid-19 di Mimika dapat dikendalikan, tentu saja semua karena vaksinasi.

“Solusi hari ini adalah sebagai warga negara dapat menerima vaksin secara gratis dan pelaksanaan prokes. Hari ini kita yang menggunakan masker dan sudah divaksin memberikan perlindungan kepada mereka yang belum divaksin,” ujarnya.

Ia menuturkan ketika Mimika sudah mencapai herd immunity minimal 70 persen, maka akan ada roadmap menuju adaptasi kebiasan normal misalnya masuk ke tempat umum dan menggunakan alat transportasi umum untuk berpergian ke luar daerah harus menunjukan sertifikat vaksin.

“Jakarta sedang menuju daerah endemis, kita juga kalau sudah 70 persen menuju daerah endemis dimana covid-19 adalah penyakit biasa selagi sudah divaksin jadi jangan membuang hak kita. Varian delta kalau dilihat perkembangannya dengan kecepatan vaksinasi maka angka kematian menurun, penambahan kasus baru juga turun,” tukasnya

“Mari sama-sama kita sukseskan tiga even besar yakni PON XX, Pesparawi XIII dan Konferensi Sinode Kingmi. Dengan demikian kalau kita berhasil lewati dengan bagus maka kedepan saat memasuki masa Minggu Adven dan Natal kita bisa melakukan aktivitas seperi biasa,” pungkasnya (Elfrida)

Masalah Dalam Pembangunan Kesehatan adalah Beban Ganda Penyakit

Foto bersama usai kegiatan sosialisasi di Hotel Grand Tembaga

MIMIKA, BM

Guna mengetahui kondisi kesehatan dan bisa mengendalikan penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes serta jantung, maka Dinas Kesehatan (Dinkes) Mimika membuka Pos Pembinaan Terpadu (Posbindu).

Namun, Posbindu sejauh ini kurang dikenal dan dipahami masyarakat. Agar lebih dikenal maka Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika memberi sosialisasi pos pembinaan terpadu penyakit tidak menular (Posbindu PTM) yang berlangsung di Hotel Grand Tembaga, Rabu (15/9).

Sasaran sosialisasi ini mulai dari kepala distrik, kelurahan dan kampung, kepala puskesmas, pelaksana program dinas kesehatan dan kader-kader kesehatan.

Asisten I Bidang Pemerintahan Setda Mimika Julianus Sasarari dalam sambutannya mengatakan, permasalahan yang dihadapi saat ini dalam pembangunan kesehatan adalah beban ganda penyakit.

Artinya, masih banyak penyakit infeksi menular yang harus ditangani, sementara di sisi lainnya, semakin meningkatnya penyakit tidak menular yang berdampak pada kelompok.

Peningkatan prevalensi penyakit tidak menular menjadi ancaman yang serius dalam pembangunan karena selain berpengaruh terhadap kualitas, juga mengancam pertumbuhan ekonomi nasional.

Guna mengantisipasinya, salah satu strategi dalam meningkatkan pembangunan kesehatan adalah melalui pemberdayaan dan peningkatan peran masyarakat serta melibatkan sektor terkait.

"Untuk itu maka dikembangkan model pengendalian penyakit tidak menular (PTM) berbasis masyarakat melalui pos pembinaan terpadu (posbindu) PTM," tutur Julianus.

Posbindu PTM merupakan bagian integral dari sistem pelayanan kesehatan yang mencakup berbagai upaya promotif dan preventif melalui gerakan masyarakat hidup sehat yang dimulai dari diri sendiri dan di lingkungan tempat tinggal masing-masing.

"Melalui posbindu ini dapat segera dilakukan pencegahan secara dini faktor risiko PTM sehingga resiko PTM di masyarakat dapat ditekan," katanya.

Pendirian posbindu PTM oleh Dinas Kesehatan ini, mendapatkan apresiasi dari pemerintah daerah karena merupakan langkah awal dalam memperkenalkan program posbindu PTM kepada masyarakat.

Kepala Dinkes Mimika Reynold Ubra kepada BM menjelaskan secara detail bahwa posbindu merupakan wadah untuk mengendalikan PTM, seperti hipertensi, diabetes, jantung, asam urat, kolesterol dan penyakit lainnya.

"Kita berharap dengan adanya posbindu ada upaya-upaya pencegahan yang dilakukan agar tidak terjadi PTM," kata Reynold.

Menurut Ubra, PTM bisa dicegah dan di kendalikan karena di posbindu akan ada pengukuran tekanan darah, berat badan, lingkar perut dan pemeriksaan gula darah dan lainnya.

"Sosialisasi ini dilakukan untuk bagaimana ada komitmen dari para kepala distrik serta kelurahan dan kampung bisa membentuk Posbindu di wilayah mereka masing-masing," ujarnya.

Ketua Panitia Sosialisasi, Lenni Silas dalam laporannya mengatakan, posbindu adalah sarana bagi masyarakat untuk melakukan deteksi dini atau pencegahan melalui screening sesuai standar pada usia 15-29 tahun jika dirasakan ada masalah kesehatan.

Dengan adanya posbindu, tenaga kesehatan bisa mengetahui, memantau dan bisa mengambil solusi untuk memberikan penangan yang efektif.

"Perlu ada dukungan kerjasama dari sektor terkait untuk perluas cakupan posbindu," kata Lenni.

Sosialisasi ini juga untuk memperkenalkan program posbindu PTM sehingga diharapkan mendapat dukungan dari lintas sektor terkait. (Shanty)

Top