Tahap Pertama, Tim Riskesdas Kolaborasi Pemda dan PTFI Turun di 11 Kampung

Sosialisasi di Horison Diana diikuti oleh 70 tenaga kesehatan

MIMIKA, BM

Sebanyak 70 tenaga kesehatan (Nakes) Kabupaten Mimika mulai mengikuti pelatihan enumerator Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas).

Pelatihan enumerator Riskesdas ini berlangsung di Hotel Horison Diana, Selasa (2/11) dan dilangsungkan selama 4 hari dengan mendatangkan konsultan kesehatan dari Bali yang sudah bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan.

Setelah mengikuti pelatihan ini, tenaga enumerator mulai melakukan survey pada tanggal 8 November 2021.

Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Reynold R Ubra mengatakan, tim akan dibagi menjadi 2 tahapan, tahap pertama akan ada 11 kampung mulai dari Nawaripi, Koperapoka, Tipuka, Ayuka, Amamapare, Nayaro, Omoga, Fanamo, Otakwa, dan Omawita. Ada juga di Atuka, Timika Pantai, Keakwa. Kampung-kampung ini dipilih secara acak sesuai meteologi dari pada suatu riset.

"Kita targetnya mudah-mudahan kalau tidak ada halangan dalam pertengahan bulan November sampai akhir, 11 kampung ini sudah beres setelah itu kita akan bergeser ke wilayah pegunungan," tutur Reynold.

Ia mengatakan, 11 kampung ini juga ada termasuk program pemerintah dan kerja sama dengan PTFI dimana penanganan kesehatan juga ada.

Dijelaskan, bahwa Enomerator ini adalah semua tenaga kesehatan yang bekerja di wilayah survey. Misalnya kalau ada di wilayah Tipuka atau Ayuka berarti itu Puskesmas dari Ayuka di bawa koordinator langsung Kepala Puskesmasnya.

"Saya pikir ini sangat baik, rencananya di bulan Maret minggu pertama kami sudah bisa launching," kata Reynold.

Reynold menjelaskan, pihaknya mendatangkan konsultan dari Bali supaya riset ini betul-betul memiliki aspek hukum atau legalitas yang jelas.

Ini merupakan yang pertama kali di Indonesia yang dilakukan secara mandiri yang menggabungkan antara pengumpulan data, wawancara dan juga biomedis.

"Kami berterima kasih kepada PTFI atas kerjasama ini. Hal ini sebenarnya bukan hal baru untuk kami di Mimika karena Riskesnas (Riset Kesehatan Nasional) yang setiap secara berkala dilakukan oleh Kemenkes, teman-teman Puskesmas sudah terlibat. Terakhir itu Risfaskes (Riset Fasilitas Kesehatan) sudah dilakukan juga," Ujarnya.

Katanya, pihaknya juga pernah ikut dalam survey infeksi saluran reproduksi, STBP (survey terpadu biologi perilaku). Survei ini memiliki kesamaan dengan Riskesdan namun diintegrasikan antara wawancara untuk 13 indokator kesehatan dasar dengan pemeriksaan spesimen darah.

"Ada pengukuran juga tentang stunting. Jadi semua lengkap saat tim turun lakukan survey di lapangan," Ungkapnya.

Reynold mengharapkan dukungan dari pemerintah distrik apalagi pada pekan lalu mereka pun telah diberikan sosialisasi tentang Riskesdas itu sendiri.

"Saya pikir mereka mendukung. Saya sangat berharap dukungan semua pihak untuk Riskesdas ini supaya pembangunan kesehatan 5- 10 tahun kedepan dan secara khusus 5 tahun masa RPJMD bisa terlaksana dengan baik," tutur Reynold.

Sementara itu, Manager Eksternal Media Relationship Corporate Communications (Corpcom) PT Freeport Indonesia, Kerry Yarangga menjelaskan pelatihan enomerator ini adalah bagian dari riset kesehatan dasar yang diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan bekerjasama dengan sentral of public health Inovation dan PTFI.

"Pelatihan enomerator ini untuk melatih para tenaga enomerator untuk nanti akan turun ke lapangan melakukan riset kesehatan dasar di 30 kampung total dari area surveynya," Kata Kerry.

Dikatakan, untuk tahap pertama mereka akan melakukan survey di 11 kampung dan pelatihan ini berlangsung selama 4 hari di bawa koordinasi sepenuhnya oleh Dinas Kesehatan.

"PTFI ikut mendukung didalam kegiatan ini dengan melibatkan 20 tenaga enomerator. Mereka akan menjadi bagian dari tim riskesdas. Totalnya nanti ada 70 tim Riskesdas yang akan turun ke lapangan sebagai tenaga enomerator," ungkapnya. (Shanty)

Top