
Direktur RSUD dr Anton Pasulu bersama Humas RSUD Luki Mahakena saat memberikan keterangan kepada media, Senin (7/3)
MIMIKA, BM
Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mimika diresmikan pada 12 November 2008. Selama 14 tahun berkembang, RSUD kini telah menjadi rumah sakit tipe C plus (C+).
Mengapa statusnya kini naik menjadi tipe C+ karena RSUD merupakan rumah sakit rujukan untuk wilayah Mee Pago.
Walau hanya untuk wilayah Mee Pago, rumah sakit ini juga sering menerima rujukan dari Asmat padahal Asmat adalah wilayah Anim Ha.
Dalam perkembangnnya, manajemen RSUD terus memperbaharui diri terutama dalam upaya meningkatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Hal ini kemudian berdampak positif, RSUD Mimika telah berhasil meraih sejumlah predikat dan prestasi dalam bidang kesehatan.
Pada 2017 lalu, RSUD berhasil meraih akreditasi paripurna. Predikat ini merupakan hasil penilaian tertinggi yang biasanya diberikan berdasarkan penilaian terhadap manajemen mutu dan keselamatan pasien yang diterapkan di RSUD.
Tidak hanya itu, pada 2020, RSUD ditetapkan sebagai rumah sakit rujukan covid dan rujukan PON serta Pesparawi pada 2021 lalu. RSUD Mimika juga merupakan rumah sakit rujukan Satgas Nemangkawi.
Terbaru, pada Desember 2021, RSUD Mimika bahkan berhasil meraih penghargaan dari BPJS Ketenagakerjaan sebagai rumah sakit Pusat Pelayanan Kecelakaan Kerja Terbaik di Papua.
RSUD Mimika bahkan mengalahkan puluhan rumah sakit di 4 provinsi sekaligus yakni Bali, NTB, Papua dan Papua Barat.
Perlu diketahui, di RSUD Mimika ada 14 bentuk pelayanan yang menjadi standarisasi SOP dalam melakukan pelayanan kesehatan.
14 pelayanan tersebut adalah rawat jalan atau poliklinik, rawat inap, rawat darurat, ruang bersalin, ICU, NICU, rehab medik, ruang operasi, laboratorium, radiologi, farmasi, bank darah dan kamar jenazah.
Direktur RSUD Mimika, dr Anton Pasulu kepada wartawan, Senin (7/3) menjelaskan, untuk rawat jalan jam operasionalnya dimulai sejak pukul 7.30 - 14.15 Wit.
Namun dalam pelayanannya, diakui dr Anton, hampir setiap hari biasanya melampaui jam yang ditetapkan.
Hal tersebut dikarenakan ada pasien yang mungkin masih menunggu hasil pemeriksaan darah dan pemeriksaan lanjutan lainnya, sehingga bisa melewati batas pelayanan pukul 14.15 WIT.
Saat ini di poliklinik rawat jalan ada 11 layanan spesialis yang terdiri dari 4 dasar yaitu spesialis bedah penyakit dalam, anak dan kandungan, spesialis mata, THT, jantung, kulit kelamin, paru, bedah saraf dan 2 spesialisi gigi.
"Selain itu kami juga ada 3 dokter spesialis penunjang yaitu dokter spesialis radiologi, patalogi klinik yang di laboratorium dan juga anastesi," ungkapnya.
Dijelaskan dr Anton, respon time untuk kategori rawat jalan sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang dikeluarkan oleh Kemenkes adalah 60 menit atau 1 jam.
Artinya, waktu tunggu maksimal mulai dari pasien mendaftar sampai ketemu dokter adalah 1 jam atau 60 menit.
"Yah kita harapkan kurang dari situ, tapi kan ini pasien banyak sehingga kadang-kadang maksimal di 1 jam pas ketemu dokter," kata Anton.
RSUD Mimika sejauh ini memiliki layanan rawat inap yang terdiri dari kelas VIP, kelas 1, 2 dan kelas 3. Rumah sakit ini juga memiliki 2 ruang isolasi yakni isolasi pasien TB dan covid. Selain itu terdapat pula ruang rawat darurat.
Dokter Anton menjelaskan, layanan ruang rawat darurat RSUD dibuka 24 jam dengan kapasitas 15 tempat tidur (bed). Jumlah ini bahkan bisa ditambahkan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi kepenuhan pasien.
Ruang rawat darurat merupakan ruang triase yang bertujuan untuk menyortir, memisahkan dan memilah para pasien saat datang berobat berdasarkan kualifikasi penyakit yang dialami atau dideritanya.
Karena mendasari SOP di masa pandemi Covid-19 maka rumah sakit ini juga mengharuskan layanan pemeriksaan covid yang dibagi menjadi kasus respiratorik dan kasus non respiratorik. Respiratorik berhubungan dengan pernapasan yang merupakan gejala utama covid.
"Petugas triase berfungsi untuk melihat, mengelompokkan, menilai dan mengarahkan pasien tersebut dikategori apa. Apakah gawat darurat atau tidak gawat darurat? Ada indikator-indikator yang mereka periksa dan mereka nilai untuk memisahkan atau mengelompokkan kategori pasien tersebut," jelas Anton.
Lanjutnya, respon time sesuai SPM dari Kemenkes adalah kurang dari 5 menit dokter harus sudah melakukan pemeriksaan atau menangani pasien.
Namun, berdasarkan capaian RSUD Mimika, hampir 100 persen tidak ditemui catatan kasus darurat yang ditangani lebih dari 5 menit. Bahkan kurang dari 5 menit, pasien gawat darurat lansung mendapatkan penanganan secara langsung.
Penentuan apakah pasien tersebut merupakan pasien kategori gawat darurat atau tidak, biasanya ditentukan melalui triase.
Berdasarkan hasil triase, perawat akan menentukan pasien mana yang harus terlebih dahulu mendapatkan prioritas pelayanan.
"Kalau memang gawat darurat kita akan antar ke bed gawat darurat. Jika ada gejala sesak berdasarkan hasil triase gawat darurat maka pasien akan diarahkan ke tempat yang sudah disiapkan. Bahkan kalau kasusnya emergency harus langsung juga kami siapkan ruangan maksimal 2 bed," jelasnya.
Lalu bagaimana dengan pasien yang dikategorikan tidak darurat? dr Anton menjelaskan, pasien akan mendapatkan pelayanan di poliklinik IRD.
"Jadi sistem pelayanan di poli IRD sama dengan sistem pelayanan poli rawat jalan," tambahnya.
RSUD Mimika saat ini memiliki ruang bersalin yang berada di kawasan IRD dengan kapasitas 7 bed. 5 bed untuk pelayanan biasa dan 2 bed untuk pasien yang terpapar covid.
Manajemen RSUD Mimika berencana kedepan IRD konsepnya akan menjadi kawasan rawat darurat. Dimana dalam area ini ada ruang operasi, ruang bersalin, kamar operasi rawat darurat, laboratorium dan ruang radiologi.
"Ini kita upayakan supaya ada kemajuan dalam rangka agar pasien bisa terlayani dengan baik, cepat dan tepat. Mudah-mudahan tahun ini sudah bisa aktif," ungkapnya.
Sementara di lantai 2 yang berada di atas ruangan IRr akan dibuatkan ruang ICU, kamar operasi dan kamar perawatan.
"Jadi kedepan nantinya kawasan itu betul-betul menjadi kawasan emergency. Respon time yang diharapkan bisa lebih cepat, jadi pasien tidak di bawa kesana kemari tapi hanya beredar di kawasan instalasi gawat darurat sampai pasien stabil baru kita dorong ke rawat inap. Itu konsepnya," jelasnya.
"Kami juga punya Intensif care unit ada 5 bed, NICU ada 11 bed, rehab medik dan cuci darah. Ini merupakan pelayanan unggulan kami di RSUD Mimika yang ada 10 bed. Kemudian ada 5 ruang operasi, 1 itu kami peruntukan untuk ruang isolasi operasi," ujarnya.
RSUD Mimika juga memiliki laboratorium dan sejak Agustus 2020 RSUD sudah bisa melakukan pemeriksaan PCR secara mandiri.
RSUD juga memiliki radiologi dan CTSCAN.
"Tahun 2019-2020 sempat mengalami kerusakan namun sudah diperbaiki dan masih berjalan sampai sekarang," ungkapnya.
Pelayanan lainnya adalah pelayanan farmasi atau apotik. Selain itu ada pula bank darah dan kamar jenasah.
"Hanya saja bank darah ini hanya untuk melayani pasien yang dirawat di RSUD, jadi tidak menerima permintaan darah dari rumah sakit lain ataupun dari tempat lain," ungkapnya.
Walau memiliki semua kelengkapan tersebut, dokter Anton mengatakan tidak ada pelayanan yang sempurna, walau pihaknya terus berupaya untuk semaksimal mungkin.
Menurutnya, dalam menjalankan pelayanan, terkadang ada kekurangan sebab kesempurnaan itu tidak pernah dimiliki oleh semua orang.
"Kami ada indikator namanya kepuasan pelanggan. Tahun 2020-2021 ada peningkatan yang belum mencapai 100 persen tapi sudah ada perubahan. Di tahun 2020 kepuasan pelanggan 85 persen, 2021 bahkan tingkat kepuasan pelanggan mencapai 90 persen," tambahnya.
Terkait dengan kepuasan, yang namanya keluhan dan komplain selalu ada. Walau demikian, pihak RSUD Mimika tidak alergi terhadap saran, masukan bahkan kritikan yang diberikan.
"Kami RSUD Mimika sangat menghargai dan berterima kasih jika saran, masukan maupun kritikan itu disampaikan kepada kami dengan cara yang baik dan benar. Jangan hanya karena satu kekurangan, semua layanan yang ada digeneralisasi buruk. Setiap saat kami berupaya maksimal namun yang namanya kesempurnaan itu tidak akan pernah ada," tegasnya.
Mengapa kadang terjadi perdebatan antara pasien dan petugas kesehatan? dokter Anton mengatakan hal tersebut sebenarnya terjadi karena kurangnya komunikasi.
Diakuinya, manajemen RSUD selama ini terus berupaya untuk mengubah mindset petugas agar lebih komunikatif kepada pasien atau keluarga pasien.
"Ini yang saya lagi berusaha namun memang tidak mudah. Sejak tahun 2020 saya dilantik, ini menjadi target utama saya untuk mengubah mindset semua petugas di rumah sakit ini. Saya selalu sampaikan bahwa pasien datang ke rumah sakit bukan untuk jalan-jalan, jadi harus selalu terapkan 3S (senyum, salam dan sapa)," terang Anton.
Diakui dokter Anton, kebanyakan di IRD pasien tidak tahu sistem pelayanannya sehingga terkadang mereka merasa terabaikan. Selain itu, hal ini juga akibat kurang komunikatifnya perawat yang bertugas.
Sedari awal, dokter Anton telah menekankan agar petugas dapat berkomunikasi dan memberi perhatian dengan baik kepada pasien. Karena menurutnya, komunikasi yang baik akan menguatkan, meringankan dan menenangkan pasien yang datang berobat.
"Misalnya, pasien sudah pasang infus tapi menunggu lama karena hasil lab belum keluar. Kadang pasien merasa dibiarkan padahal
sembari menunggu hasil lab, petugas juga melayani juga pasien yang lain. Inilah yang selalu saya bilang, tidak ada salahnya menyapa mereka, kasitahu kondisinya agar mereka tidak merasa diabaikan," terangnya.
"Kami terus berupaya memaksimalkan bentuk komunikasi yang efektif dalam pelayanan. Belum semua berjalan baik namun dibandingkan yang dulu 40 persen, kini naik menjadi 60 persen. Mudah-mudahan apa yang kami nilai ini sesuai dengan indikator di lapangan. Kami akan terus berupaya untuk memperbaiki kekurangan yang ada," ungkapnya. (Shanty)