Kesehatan

Pemda Lakukan Rembuk Stunting Pencananangan Pemberian Vitamin A Dan Tablet Tambah Darah

Suasana pertemuan rembuk stunting di Horison Diana, Kamis (11/8/2022)

MIMIKA, BM

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mimika menggelar kegiatan Rembuk Stunting yang dirangkaikan dengan pencanangan pemberian Vitamin A pada anak usia 6-59 bulan dan pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri di Kabupaten Mimika tahun 2022.

Kegiatan tersebut berlangsung di Hotel Horison Diana Timika pada Kamis (11/8/2022) dengan narasumber dari Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Bappeda, dan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana.

Ketua Panitia Penyelenggara, Lenni Silas melalui sambutannya mengatakan kegiatan rembuk stunting ini merupakan suatu langkah penting yang harus dilakukan Pemkab Mimika demi memastikan pelaksanaan rencana kegiatan intervensi, pencegahan, dan penurunan stunting di Mimika.

Dijelaskan bahwa vitamin A merupakan zat gizi yang sangat esensial bagi manusia sebab zat gizi tersebut tidak dapat dibuat oleh tubuh sehingga harus dipenuhi dari luar.

"Vitamin A penting untuk kesehatan mata dan mencegah kebutaan dan yang lebih penting lagi bahwa vitamin A akan meningkatkan daya tahan tubuh," jelasnya.

"Anak yang cukup mendapat vitamin A akan menjadi lebih kebal dan apabila terkena diare, campak, atau penyakit infeksi lainnya tidak mudah menjadi parah sehingga tidak membahayakan jiwa anak dan merupakan salah satu upaya percepatan penurunan stunting," imbuhnya.

Oleh karena itu, bulan Februari dan Agustus dijadikan sebagai bulan Vitamin A yang diperuntukkan bagi bayi dan balita agar kebutuhannya tetap dipenuhi

"Selain itu, pemberian tablet tambah darah bagi remaja putri juga penting untuk mencegah terjadinya anemia. Remaja cukup rentan mengalami anemia ketika mereka sudah mengalami masa menstruasi. Akibatnya terjadi penurunan berat badan,"

Menurutnya, upaya pencegahan dan penanggulangan anemia dapat dilakukan dengan mengkonsumsi makanan yang cukup mengandung zat besi dan protein.

"Itu dapat meningkatkan pembentukan hemoglobin serta penyerapan zat besi dalam tubuh. Ditambah juga dengan konsumsi tablet tambah darah secara teratur, 1 tablet setiap minggu dan 52 tablet selama setahun," tuturnya.

Lenni menyebutkan, terjadinya stunting pada anak berkaitan erat dengan remaja putri yang sudah memiliki anemia.

"Itu berpeluang besar menderita anemia pada saat hamil atau setelah menikah dan akan semakin buruk sebab pada saat hamil dibutuhkan zat gizi yang lebih banyak," terangnya.

"Jika itu tidak ditangani, maka akan beresiko terjadinya perdarahan saat persalinan dan akan terjadi berat badan lahir rendah sehingga dapat menyebabkan bayi atau balita stunting," lanjut Lenni menjelaskan.

Di samping itu, Lenni menyampaikan bahwa ada lima tujuan yang akan dicapai dari pada kegiatan ini, yakni sebagai berikut.

Pertama, menyampaikan hasil analisa situasi dan rancangan rencana kegiatan intervensi penurunan stunting di kabupaten/kota secara terintegrasi untuk pelaksanaan rembuk stunting pada tahun kedua dan selanjutnya.

Kedua, mendeklarasi komitmen pemerintah daerah dan menyepakati rencana kegiatan intervensi penurunan stunting secara terintegrasi.

Ketiga, membangun komitmen publik dalam kegiatan penurunan stunting secara terintegrasi di kabupaten/kota.

Keempat, memberikan suplementasi kapsul vitamin A sebanyak dua kali setahun pada bulan Februari dan bulan Agustus bagi balita sebagai salah satu intervensi kesehatan yang berdaya tinggi bagi pencegahan kekurangan vitamin A dan kebutaan serta penurunan kejadian kesakitan dan kematian pada balita.

Kelima, meningkatkan status gizi remaja putri untuk memutus rantai terjadinya stunting, menurunkan kasus anemia dan meningkatkan asupan zat besi dalam tubuh sebagai bekal mempersiapkan generasi yang sehat, berkualitas, dan produktif.

Di samping itu, Asisten Bidang Administrasi Umum Setda Mimika, Henriette Tandiono mengatakan, sebagai bentuk dukungan aksi ini, perlu dilaksanakan deklarasi komitmen bersama tentang pentingnya peran lintas sektor antar pemangku kepentingan untuk melakukan percepatan seluruh perangkat pengintegrasian daerah rencana.

"Kegiatan pencegahan dan penurunan stunting perlu juga terintegrasi ke dalam rencana kerja masing-masing. Demikian pula kepada pemerintah dan lembaga non pemerintah maupun swasta untuk mendukung upaya kegiatan ini yang disesuaikan dengan tupoksinya masing-masing," kata Hendrite dalam sambutaanya.

Dia berharap kerja keras dari setiap pihak terkait dapat membawa hasil bagi penurunan angka stunting di kabupaten mimika.

"Mari kita bersama-sama saling bahu membahu berkomitmen untuk mencerdaskan anak cucu kita dengan mendukung pertumbuhan mereka menjadi anak-anak yang sehat kuat untuk generasi muda yang berkualitas dan memiliki daya saing yang tinggi.

Untuk diketahui, kegiatan ini diikuti oleh kurang lebih 80 peserta yang terdiri dari Forkopimda, OPD terkait, tim penggerak PKK kabupaten, kKepala Distrik, kepala Puskesmas yang ada dalam wilayah lokus stunting, dan pendamping-pendamping Kabupaten Mimika. (Ade)

Inovasi Baru Dinas Kesehatan : Lima Puskesmas Di Timika Kini Buka Sampai Jam 5 Sore

Kepala Puskesmas Timika, dr Mozes Untung

MIMIKA, BM

Dinas Kesehatan (Dinkes) Mimika melalui 5 puskesmas di wilayah kota melakukan inovasi baru dengan membuka layanan poliklinik hingga pukul 17.00 Wit sore guna meningkatkan pelayanan kepada masyarakat di wilayah masing-masing.

Kelima puskesmas ini adalah Puskesmas Timika, Timika Jaya, Wania, Pasar Sentral dan Puskesmas Jile Ale.

Kepala Puskesmas Timika, dr Mozes Untung menjelaskan, tambahan jam pelayanan sampai jam 5 sore ini dilaksanakan sesuai arahan Kepala Dinas Kesehatan, Reynold Ubra.

Karena sebelumnya pelayanan di Puskesmas hanya dilakukan sampai jam 1 siang.

"Dengan dibukanya pelayanan hingga sore diharapkan dapat memberi manfaat yang seluas-luasanya bagi masyarakat dalam hal pelayanan kesehatan," kata Kepala Puskesmas Timika dr Mozes Untung saat ditemui di Hotel Horison Ultima, Kamis (11/8/2022).

Pelayanan hingga sore dibuka untuk semua jenis pelayanan mulai dari pendaftaran, pemeriksaan dokter, rekam medis, pemeriksaan lab dan layanan apotik.

“Jadi sebenarnya sama saja dengan pelayanan yang dilakukan pagi hari, ” kata dr. Mozes.

Ia mengatakan, untuk menghindari keramaian di pagi hari maka jika masyarakat ingin memeriksa kesehatan bisa datang di siang atau sore hari karena layanannya sama.

Dikatakan juga bahwa salah satu tujuan dilakukan layanan hingga sore adalah untuk meningkatkan cakupan Puskesmas.

"Selama ini kan pasien di paksa datang pagi karena layanan kita sampai jam 1 siang,” tuturnya.

Terkait kecukupan tenaga kesehatan, dokter Untung mengatakan pegawainya cuku untuk dilakukan mobile pelayanan.

Perlu diketahui, pelayanan di Puskesmas Timika mulai hari Senin sampai Kamis pelayanan dibuka sampai hingga pukul 17.00 Wit. Sementara Jumat dan Sabtu hanya hingga pukul 16.00 Wit.

dokter Moses Untung mengatakan dengan pelayanan yang lebih lama ini diharapkan bisa menjadi pintu untuk mendeteksi semua kasus-kasus yang kemungkinan bisa menjadi permasalahan dan berhubungan langsung dengan mutu Puskesmas.

“Misalnya seperti penyakit menular dan tidak menular, sehingga pasien yang dengan penyakit kronis sekarang dengan BPJS tidak perlu ragu karena pelayanan sudah sampai sore, karena selama ini mereka terbatas sampai jam 1 siang," ungkapnya. (Shanty)

IDI : Mimika Masih Membutuhkan Penambahan Dokter Spesialis, Bidang Apa Saja?

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Mimika, dr Leonard Pardede

MIMIKA, BM

Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Mimika, dr Leonard Pardede menyebutkan, Kabupaten Mimika masih kekurangan dokter spesialis di bidang neurologi atau saraf, ortopedi, jantung, kulit dan dokter mata.

Walau Mimika termasuk memiliki banyak dokter spesialis namun khusus untuk empat bidang itu masihlah minim sehingga perlu ada penambahan.

“Orang selalu tanya kenapa belum ada dokter mata. Kita berharap ke depan ada yang mau datang yah termasuk dokter kateterisasi jantung," harapnya.

dr Pardede menyebutkan anggota IDI di Kabupaten Mimika saat ini berjumlah 270 orang. Jumlah ini didominasi oleh dokter umum yang mana sebagiannya bekerja di fasilitas kesehatan primer dan praktek mandiri. Sementara jumlah dokter spesialis ada 41 orang.

"Kalau ada dokter-dokter spesialis itu yang mau kerja di Mimika pasti saya akan pakai untuk di Rumah Sakit Kasih Herlina," ujarnya.

Ia menjelaskan, jumlah dokter spesialis di satu wilayah tidak dapat disamakan, sebab bergantung pada kebutuhan masyarakat.

Dokter Leo berharap, agar kebutuhan dokter spesialis yang masih dibutuhkan itu bisa ditempatkan di RSUD Mimika.

"Dengan adanya kekurangan dokter spesialis ini tidak jarang bila ada pasien dengan diagnosis jantung misalnya harus dirujuk ke daerah lain yang memiliki dokter spesialis tersebut," ungkapnya.

Tambahnya, dengan kebutuhan ini tentunya harus ada kerja sama dan solusi terbaik dari Dinas Kesehatan dan pihak terkait lainnya.

"Kami dari IDI berharap semoga kekurangan dokter spesialis ini bisa segera dipenuhi di rumah-rumah sakit yang ada di Mimika," Ungkapnya. (Shanty)

Top