Kesehatan

Dinkes Mimika Dan Loka POM Beri Klarifikasi Terkait Video Viral 'Obat Puyer Dicampur Kaca' Dari Klinik Rafael


Pertemuan klarifikasi sekaligus konferensi pers ini dilakukan dengan menghadirkan sejumlah perwakilan media di Timika

MIMIKA, BM

Dinas Kesehatan Mimika bersama Loka POM dan pemilik Klinik Rafael bersama keluarga pasien melakukan pertemuan bersama di Grand Tembaga Hotel, Jumat (22/7).

Pertemuan ini dilakukan guna mengklarifikasi peredaran video obat puyer yang dicampuri kaca dari Klinik Rafael yang dibuat oleh keluarga pasien dan telah viral beberapa hari terakhir di media sosial.

Pertemuan klarifikasi ini dihadiri oleh Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Reynold Ubra, Kabid SDM Kesehatan Provinsi Papua, dr Yohannes Tebai, Kepala Loka POM Lukas Dosonugroho, pemilik Klinik Rafael, dr Moses Untung, perwakilan keluarga pasien yang membuat video, Pendeta Deserius Adii serta awak media di Timika.

Kadis Kesehatan Mimika, Raynold Ubra menjelaskan, pertemuan ini dilakukan sebagai bukti bahwa pemerintah hadir untuk masyarakat.

Artinya pemerintah hadir untuk menjembatani dan memberikan penjelasan secara resmi terkait persoalan viralnya video obat puyer kaca dari Klinik Rafael yang telah diviralkan oleh keluarga pasien agar diketahui khalayak umum.

Ia mengatakan, secara kronologis, pada Senin (19/7), keluarga pasien membawa anak mereka (AY) berusia 1,3 tahun untuk di periksa di klinik Rafael.

"Selain keluhan batuk dan pilek, ia juga terkena malaria. Ia kemudian diberikan obat puyer yang ditambahkan gula pasir. Namun sampai di rumah orangtua mengira bahwa itu adalah kaca. Kedua pihak baik keluarga pasien maupun pemilik klinik sudah dipertemukan dan itu bukan kaca tapi gula," ungkapnya.

Reynold Ubra mengatakan, dari kejadian ini kedua pihak telah berdamai namun ada pelajaran besar yang dapat dipetik terutama dalam melakukan pelayanan kesehatan.

"Yaitu saat memberikan pelayanan harus dilakukan dengan hati-hati. Yang jadi masalah di sini adalah komunikasi ketika obat itu diberikan," ujarnya.

Selain itu, Reynold menambahkan bahwa di setiap layanan kesehatan baik milik pemerintah maupun swasta, pengawasan kesehatan harus terus dilakukan.

"Kami bersyukur kepada keluarga pasien dan klinik Rafael serta IDI, Laka POM dan Polres Mimika yang sudah fasilitasi sehingga masalah ini telah berakhir. Jadi publik harus tahu bahwa itu bukanlah kaca namun gula," ungkapnya.

Kepala Loka POM Lukas Dosonugroho, juga menjelaskan tentang apa yang mereka lakukan ketika menerima informasi ini. Menurutnya, pihaknya mendengar dan mengetahui pertama kali tentang video tersebut dari laporan masyarakat.

"Sesuai tugas fungsi kami maka kami wajib turun melindungi masyarakat. Kami turun bersama tim di rumah pasien dan klinik. Sudah lakukan wawancara dan melihat keterangan dokter terkait obat yang mereka berikan. Ternyata ada 4 jenis obat yakni parasetamol, dexametazon dan ctm dicampur gula. Jadi tidak benar bahwa yang ditemukan itu adalah pecahan kaca," tegasnya.

Ia kemudian menjelaskan bahwa secara kemasan empat obat ini terdaftar di Laka POM. Selain itu dalam ilmu apoteker, diperbolehkan untuk menambah sirup dan gula asal asalkan merupakan resep dokter.

"Ini pembelajaran bagi kita semua untuk tetap menjaga keamanan obat yang beredar. Empat obat yang diberikan resmi terdaftar di Loka POM dan itu merupakan serbuk obat yang ditambahkan dengan gula, buka serpihan kaca sebagaimana disebutkan dalam video viral itu," jelasnya.

Pemilik Klinik Rafael, dr Moses Untung mengatakan mereka pun terkejut ketika video viral itu beredar luas di media sosial dan telah menjadi konsumtif publik.

Akibatnya, masalah ini kemudian difasilitasi oleh pihak kepolisian guna diselesaikan secara damai karena hal ini secara tidak lansung telah merugikan pihak Klinik Rafael.

"Ketika kami dapat di media sosial, kami juga sudah berikan penjelasan di medsos namun pendeta Adii menelpon IDI, ketua IDI menelpon kami dan kita selesaikan persoalan ini dengan baik-baik di kepolisian," ungkapnya.

Sementara itu, mewakili keluarga pasien yang membuat video tersebut, Pendeta Deserius Adii selain menceritakan kronologis pembuatan video tersebut, ia juga menyampaikan bahwa pihak keluarga meminta maaf atas kejadian ini.

"Pihak keluarga pasien sudah bertemu dengan dokter dan sudah ada penjelasan tentang hal ini. Dokter sudah menjelaskan bahwa obat dicampur dengan gula tapi keluarga sudah terlanjur sebarkan video. Keluarga minta maaf atas kejadian ini dan sudah buat pernyataan di kantor polisi dan telah menghapus video tersebut di media sosial. Kami minta maaf jika video itu sudah terlanjur viral," ungkapnya.

Kabid SDM Kesehatan Provinsi Papua, dr Yohannes Tebai kemudian menyimpulkan bahwa masalah ini sudah diselesaikan secara baik oleh kedua pihak yakni keluarga pasien dan pihak Klinik Rafael sehingga tidak ada lagi masalah.

"Kesimpulannya bawah masalah ini sudah selesai dan ini jadi perhatian bersama agar jangan sampai terulang lagi. Perlu kesadaran bersama bahwa pelayanan kesehatan adalah pelayanan yang mulia dan dibutuhkan oleh semua orang," terangnya.

Menurutnya, dari kasus ini ada tiga hal utama yang harus menjadi perhatian bersama yakni media, SOP serta komunikasi dan etika profesi.

"Media termasuk media sosial merupakan alat penyebar informasi dan juga sebagai pengontrol layanan kesehatan. Hal ini kemudian viral di media sosial juga baik supaya dengan ini dapat mengarahkan dan mengingatan kita semua agar harus hati-hati dalam melakukan pelayanan kesehatan yang kita berikan," ujarnya mengingatkan.

Menurutnya setiap pelayanan kesehatan harus dilakukan sesuai SOP yang ada. Pelayanan kesehatan harus terus ditingkatkan. Sementara
dari sisi komunikasi dan etika profesi, pelayanan kesehatan bukan hanya tentang penyembuhan namun juga prosesnya. Jika hal ini tidak dijelaskan secara baik kepada masyarakat, maka terkadang menjadi sumber masalah. (Ronald R/Ignas)

Obat Biru Di Puskesmas Bhintuka Kosong, Kunjungan Pasien Malaria Meningkat 30-50 Pasien Per Hari

Salah satu pasien malaria yang hendak meminum obat di Puskesmas Bhintuka

MIMIKA, BM

Kabupaten Mimika merupakan salah satu penyuplai kasus malaria tertinggi di Indonesia. Bahkan setengah penduduk Mimika sudah terinfeksi malaria.

Tidak mengherankan jika tingginya sumbangsih kasus ini menempatkannya menjadi penyakit urutan pertama di rumah sakit, puskesmas termasuk klinik di Mimika, salah satunya di Puskesmas Bhintuka.

Penyakit malaria disusul Ispa merupakan 2 penyakit tertinggi di wilayah tersebut. Bahkan di Puskesmas Bhintuka, kunjungan bisa mencapai 30-50 orang setiap harinya karena malaria.

Untuk menurunkan angka kasus malaria, Puskesmas Bhintuka mengambil langkah membuat pojok malaria yang bekerjasama dengan kader-kader malaria, Perdakhi, Unicef dan Dinas Kesehatan.

Kepala Puskesmas Bhintuka Agustina Wanimbo saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (21/7/2022) menjelaskan, dengan adanya pojok malaria ini maka setiap pasien yang ditemukan positif saat melakukan pemeriksaan di Puskesmas Bhintuka diwajibkan meminum obat di depan petugas kesehatan sebelum pulang ke rumah.

"Ini untuk memutus rantai penularan. Kalau kita cuma kasih obat, misalnya berobat pagi hari bisa saja minum obatnya nanti malam atau justru ditunda sampai esok hari, sedangkan jumlah parasit dalam darah itu banyak. Tanpa adanya obat membunuh parasite ketika digigit nyamuk maka bisa menularkan ke orang lain," jelasnya.

Agustina mengaku, bukan hanya di Puskesmas Bhintuka, penyakit malaria saat ini sedang menjadi trend di Mimika sehingga pelayanan  harus diberikan secara maksimal kepada masyarakat.

"Karena obat biru masih kosong jadi kami masih berikan obat kina kepada pasien malaria," tutur Agustina.

Ditanya apakah di Puskesmas Bhintuka sudah ditemukan kasus DBD, ia mengaku belum ada dan berharap agar kasus tersebut tidak ditemukan di wilayahnya.

Sejauh ini, kata Agustina pelayanan di Puskesmas Bhintuka berjalan dengan baik dan lancar. Petugas masuk pukul 8.30 WIT dan pulang pukul 13.00 WIT.

Diketahui, wilayah Puskesmas Bhintuka ada 6 kampung yakni, Kampung Utikini 1, 2, 3, Pioka Kencana, Mimika Gunung dan Kampung Bhintuka.

"Kampung Mimika Gunung mencakup PT PAL. Kami juga ada 5 Posyandu dan selalu aktif setiap bulannya melakukan pelayanan,"ungkapnya. (Shanty)

Kasus Malaria Di Mimika Terus Meningkat, Ini Salah Siapa?!

Wabup John saat bertemu dengan beberapa dokter dan petugas kesehatan di Mimika

MIMIKA, BM

Data terakhir, Annual Parasite Incidence (API) malaria ada di angka 500 per 1000 penduduk, artinya kasus malaria di Mimika terus mengalami kenaikan bukannya cenderung menurun.

Angka tersebut berarti setengah penduduk Mimika terinfeksi malaria atau dari 10 orang warga, 5 diantaranya positif malaria.

"Dulu kita bicara 300 per seribu, sekarang sudah 500 per seribu. Ini kenaikan yang luar biasa," kata Ketua Malaria Center yang juga Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob melalui rilis yang diterima BeritaMimika.com, Kamis (21/7/2022).

Wabup John mengatakan bahwa pangkal persoalannya ada pada ketidakpedulian dari masyarakat. Misalnya, tidak minum obat sampai tuntas dan warga yang tidak peduli pada kebersihan lingkungan.

Di lingkup pemerintahan, eliminasi malaria sebetulnya sudah ada di dalam RPJMD Mimika. Namun sayang, program kegiatan atau rencana kerja tahunan OPD terkait tak mengikuti RPJMD.

Padahal kata John Rettob, dalam upaya eliminasi malaria, peran sektor kesehatan hanya 25 persen, sisanya adalah bagian atau peran sektor-sektor lain.

"Peran RT dan kepala kampung juga sangat besar," katanya.

Anggota Tim Kerja Penyakit Tular Vektor Kemenkes, dr Desriana Elisabeth Ginting mengatakan ada dua strategi menyelesaikan malaria di Mimika.

Pertama, menemukan kasus sebanyak-banyaknya dan diobati. Strategi ini serupa dengan strategi penanganan covid-19.

"Menemukan kasus sebanyak mungkin dan diobati sehingga jumlah plasmodium yang beredar di tubuh manusia di Timika bisa berkurang," katanya.

Strategi kedua adalah intervensi lingkungan. Faktanya, nyamuk anopheles yang menularkan malaria butuh air yang berbatasan langsung dengan tanah untuk berkembang biak seperti genangan atau kolam ikan.

"Kalau saya bilang ini masalah ketidakpedulian. Masyarakat harus diajar peduli pada diri sendiri dan lingkungan," kata Desriana.

Padahal katanya, malaria jelas berpengaruh pada banyak hal. Misalnya dari sisi ekonomi, tingkat produktivitas di Mimika dipastikan turun karena banyak yang sakit malaria.

Di sisi pengembangan SDM, malaria juga membawa dampak. 25 persen diantara para penderita malaria adalah anak-anak dan ibu hamil, yang menyebabkan peningkatan berbagai risiko kesehatan seperti gangguan tumbuh kembang anak dan janin, stunting, keguguran, gangguan kecerdasan, dan bahkan kematian.

"Stunting tinggi hanya karena malaria. Sekitar 20 persen anak-anak ketiak dicek malaria dia positif. Tanpa malaria kita bisa lebih produktif, Papua pasti lebih maju,"Ungkapnya. (Shanty)

Top