Politik & Pemerintahan

Pemda Beri Hibah ke Kingmi Rp1,2 Miliar, Bupati : Bantuan Sudah Dianggarkan Bersama DPRD

 

Bupati Mimika Eltinus Omaleng saat menyerahkan hibah kepada salah satu klasis Kingmi

MIMIKA, BM

Pemerintah Daerah (Pemda) Mimika kembali memberikan dana Hibah kepada organisasi masyarakat (Ormas) keagamaan yakni gereja Kingmi sebesar Rp1,2 miliar.

Sebelumnya Pemda Mimika menyerahkan dana Hibah ke 13 ormas keagamaan sebesar Rp10,5 miliar pada Sabtu (9/4) lalu.

Bantuan ke Gereja Kingmi diserahkan langsung oleh Bupati Mimika, Eltinus Omaleng, Selasa (12/4) di Gereja Kingmi Jemaat Marten Luther 32.

Dana tersebut akan dibagi kepada 6 Klasis Kingmi Koordinaor Amungsa yang mana masing-masing mendapat Rp200 juta.

Bupati Mimika Eltinus Omaleng mengatakan bantuan seperti ini bukan hanya diberikan Pemda Mimika kepada gereja Kingmi saja, namun semua dedominasi gereja dan juga agama lainnya yang ada di Mimika maupun di luar Mimika termasuk Wamena.

“Semua gereja itu kita sudah melayani mereka, bantuan sudah jalan sampai di provinsi saya sudah bantu semua. Gidi, baptis, GKII, GKI, bahkan Katolik. Kita sudah bantu mereka punya kepentingan untuk kegiatan-kegiatan konferensi kemudian peresmian gereja. Bukan saya punya uang, tapi uang punya pemerintah, yang penting jelas yah kita bantu. Kalau urusannya jelas kita bantu," ungkapnya.

Eltinus mengatakan, dana hibah yang sudah diserahkan semuanya sudah dianggarkan dan hasil merupakan hasil pembahasan bersama DPRD Mimika.

“Kalau orang bilang tidak tahu barangkali mereka tidak pernah ikut dalam pembahasan anggaran itu. Uang besar begitu kan tidak mungkin juga tiba-tiba muncul kalau Tanpa pembahasan. Jadi uang itu sudah dibahas dan peruntukkannya sudah jelas melalui mereka punya permohonan atau proposal,”ujarnya.

Ditanya berapa besaran jumlah dana hinah yang disiapkan Pemda Mimika tahun ini, Bupati Eltinus mengaku belum menghitungnya karena ada yang diambil dari anggaran keagamaan dan anggaran tidak terduga.

Khusus untuk dana hibah Rp10,5 miliar yang diserahkan ke beberapa ormas dalam pelepasan safari dan Paskah itu dianggarkan di Kesbangpol.

“Hibah tahun ini belum di total. Jadi itu yang kita taruh banyak-banyak begitu. Karena inikan penting untuk keagamaan,"ungkapnya. (Shanty)

Pemda : PT Asian One Air Menunggak Rp21,8 Miliar ke Pemda Mimika

Pesawat milik Pemda Mimika

MIMIKA, BM

Pemerintah Daerah (Pemda) Mimika melalui Dinas Perhubungan (Dishub) mencatat tunggakan pengelolaan pesawat dan helikopter milik Pemda Mimika oleh PT Asian One Air sebesar Rp21,8 miliar.

“Total dari 2019 - 2021 tagihan pesawat dan heli itu Rp21,8 miliar yang belum dibayarkan oleh pihak ketiga,” kata Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Mimika, Jania Basir saat ditemui di Kantor Bapenda, Senin (11/4).

Jania menjelaskan, tunggakan ini termasuk tagihan untuk pesawat mulai Januari sampai September 2021 sebesar Rp10,4 miliar.

Walau sejak Oktober 2021 Pesawat ini sudah diambil kembali oleh Dinas Perhubungan, namun tunggakan tetap masih ada dan tetap terhitung.

Katanya, pihaknya sudah mengirimkan tagihan kepada pihak ketiga sebagai pengelola pesawat. Namun, hingga 2022 ini belum ada kepastian pembayaran tunggakan tersebut.

Dijelaskan, tagihan uang dibuat juga sudah direkon bersama pihak ketiga untuk persamaan jam terbang pesawat maupun heli.

Dalam proses rekon untuk besaran tagihan kedua pihak memiliki catatan jumlah jam terbang pesawat.

“jadi harusnya mereka sudah setuju dong tagihannya, kan mereka sudah ada perhitungan jam terbang, mereka punya catatan sendiri dan kami juga punya,” jelas Jania.

Ia menambahkan, untuk biaya sewa pesawat per jam sebesar Rp10 juta sedangkan helikopter per jam disewa sebesar Rp12,5 juta rupiah.

Sementara itu, Kepala Bapenda Mimika, Dwi Cholifah menambahkan, tunggakan ini sudah menjadi piutang pendapatan daerah, karena sudah direkon bersama pihak ketiga.

“Karena sudah jadi piutang pendapatan daerah maka itu harus kita tagihkan nantinya,” ungkapnya. (Shanty

 

 

Umat Kristen Rayakan Kamis Putih, Ada Dua Makna Iman Pada Perayaan Ini

Penghormatan terhadap Sakramen Mahakudus oleh Umat Katolik St. Stefanus Sempan pada Perayaan Kamis Putih

MIMIKA, BM

Yesus Kristus bersama kedua belas muridnya melakukan perjamuan malam terakhir. Perjamuan ini disebut sebagai perayaan Kamis Putih oleh umat kristiani di seluruh dunia.

Perayaan Kamis Putih merupakan satu dari tiga perayaan iman umat kristen yang disebut Tri Hari Suci yakni Kamis Putih, Jumat Agung dan Malam Paskah.

Di Gereja Katolik St. Stefanus Sempan, perayaan Kamis Putih, Kamis (14/4), dihadiri oleh ratusan umat Katolik yang sebagian besarnya hadir dengan menggunakan pakaian bercorak warna putih.

Walau diguyur hujan di pertengahan hingga akhir namun perayaan misa kedua di gereja ini berlangsung dengan begitu hikmat.

Pastor Paroki St. Stefanus Sempan, Pastor Maximilianus Dora OFM mengatakan ada dua peristiwa yang terjadi pada malam Kamis Putih yakni ritual pembasuhan kaki yang Yesus lakukan kepada para muridnya dan perpisahanNYA dengan mereka.

Lewat pembasuhan, Yesus mau mengingatkan kepada para murid dan umatnya bahwa identitas kemuridan adalah pelayanan. Mengapa? karena pelayanan merupakan hal terpenting dalam kehidupan umum.

Lewat perjamuan malam terakhir ini, Yesus juga mau mewujudkan kasih yang efektif bagi umatnya. Dimana kasih yang sempurna pasti memerlukan pengorbanan.

Korban yang sempurna itu tertuang dalam perayaan ekaristi dan ekaristi bagi umat Katolik merupakan sakramen yang menebus dosa manusia.

"Perjauan makan bersama yang dilakukan oleh Yesus bersama para muridnya merupakan perjamuan perpisahan. Perjamuan ini diadakan karena Tuhan Yesus telah mengetahui bahwa saatNYA telah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada BapaNYA," ujar Pastor Max.

Dalam Injil Yohanes yang dibacakan pada perayaan ini, ditegaskan bahwa, sama seperti Ia senantiasa mengasihi muridNYA, demikianlah sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya.

Dikatakan, kasih Tuhan Yesus, perhatian dan kepeduliannya terus bertahan dan berlangsung hingga akhir ajal umat manusia. Yesus akan selalu mencintai umatnya hingga pada kesudahannya.

Karena cintaNYA, sekalipun saatNYA sudah tiba untuk beralih dari dunia ini kepada BapaNYa di surga namun Tuhan Yesus tetap masih bersedia untuk makan bersama dengan para muridNYA.

"Bahkan pada momentum terakhir itu Yesus sampai rela merendahkan diriNYA. Ia membasuh kaki murid muridnya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggangnya," ujarnya.

Pastor Max mengatakan bagi Tuhan Yesus orang lain selalu lebih utama, lebih penting dan lebih terhormat daripada diriNYAsendiri. Menurutnya, dari sikap Tuhan ini, ada dua hal yang perlu direnungkan dan dihayati dalam kehidupan bersama dalam keluarga, komunitas, lingkungan, paroki maupun masyarakat.

"Pertama, hendaklah kita membangun dan meningkatkan perhatian serta kepedulian kita terhadap orang lain," katanya.

Menurutnya, hal ini mengartikan bahwa tidak ada manusia yang hidup sendiri karena selalu memiliki hubungan dengan orang lain. Sifat dan tingkah laku seseorang selalu lahir dari suatu relasi.

"Hubungan dengan orang lain adalah jalan utama menuju kehidupan kita yang benar dan baik. Lebih dari itu sebagai manusia kita semua di dalam gereja adalah suatu persekutuan yang organis yang hidup sebagai keluarga Allah dalam tubuh Kristus sendiri," jelasnya.

Dengan dasar ini, Pastor Max meminta umat Katolik agar tidak lupa memberi perhatian dan kepedulian terhadap sesama terutama kepada mereka yang sangat membutuhkan uluran tangan sesamanya.

"Apapun kepentingan dan urusan pribadi, kita tidak boleh menutup diri dan hati kita terhadap orang lain. Sebab itu bertolong-tolonglah dengan juga menanggung beban mereka karena dengan saling menolong dalam hidup bersama, beban hidup pribadi akan menjadi ringan dan menjadi mudah untuk diatasi secara bersama pula," khotbahnya.

Kedua, Pastor Max mengatakan jika umat Katolik mengasih dan memperhatikan serta melayani orang lain maka hendaknya dilakukan dengan mengikuti teladan Yesus.

"Lakukan sampai tuntas. Jangan beri perhatian yang setengah-setengah karena cinta kasih dan pelayanan seperti ini tidak memiliki makna atau arti yang signifikan untuk membangun kehidupan itu sendiri dan kehidupan orang lain," ujarnya.

"Sebab itu harus seperti Kristus. Cinta kasih, perhatian dan pelayanan kita senantiasa harus penuh, utuh dan tuntas. Kitapun hendaknya seperti Kristus yang memberi perhatian, cinta kasih dan pelayanan dengan rendah hati dan tanpa pamrih tanpa harus melihat siapa yang lebih utama dan lebih penting," terang Pastor Max di akhir khotbah Misa Kamis Putih. (Ronald Renwarin)

Top