Politik & Pemerintahan

Tidak Berkantor, Pegawai Pemda Mimika Bekerja Dari Rumah

Apel pagi di Sentra Pemerintahan, Rabu (18/3)

MIMIKA, BM

Menindaklanjuti Surat Edaran Gubernur Papua Lukas Enembe yang juga merupakan turunan dari kebijakan pemerintah pusat, maka sejak Rabu (18/3) seluruh pegawai Pemerintah Daerah Kabupaten Mimika akan bekerja dari rumah.

Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Mimika, Marthen Paiding mengumumkan hal ini pada apel pagi yang diselenggarakan di Sentra Pemerintahan, SP III, Rabu tadi pagi.

Keputusan ini diambil guna meminimalisir penyebaran virus corona (Covid-19) di Indonesia, terutama di Mimika.

Putusan tersebut berisikan ketentuan penyesuaian sistem kerja, sehingga seluruh ASN di lingkungan instansi pemerintah dapat menjalankan tugas kedinasan di rumah atau di tempat tinggalnya.

"Saya sudah koordinasi dengan bupati dan bupati menyampaikan bahwa mulai besok pegawai tetap bekerja tapi bekerja dari rumah sampai dengan tanggal 5 April 2020,” ungkapnya.

Marthen mengatakan, walau tidak berkantor bukan berarti pegawai seenaknya meliburkan diri dan tidak bekerja namun tetap menjalankan aktifitas kerja dari tempat tinggalnya. Hal ini agar roda pemerintahan tetap berjalan.

Sedangkan untuk kegiatan kemasyarakatan yang melibatkan banyak orang untuk sementara dilarang pelaksanaannya. Pemda Mimika juga akan mengeluarkan himbauan kepada masyarakat agar kegiatan-kegiatan yang melibatkan banyak orang dihindari.

"Yang sudah kena virus itu bisa disembuhkan tapi yang belum harus di jaga. Kita mulai dengan menjaga diri sendiri, keluarga dan lingkungan masing-masing. Kita harus satukan pemahaman kita bersama bahwa virus ini perkembanganya sangat cepat dan bisa mengancam siapa saja,” ujarnya.

Apabila masyarakat tidak masif secara bersama untuk menjaga diri sendiri, keluarga dan lingkungan sekitar maka masyarakat dianggap tidak ikut membantu melawan penyebaran virus ini.

"Instruksi negara adalah kita tetap bekerja walau dari rumah. Di rumah pun kita menjaga jarak sehingga keluarga kita juga terhindar dari penularan virus ini. Kalau ini kita lakukan bersama-sama maka kabupaten kita akan aman, makanya harus ada kerjasama antara masyarakat, pemerintah dan semua stakeholder dan pionernya kita sebagai ASN,” katanya.

Walau bekerja dari rumah namun ada pengecualian bagi petugas medis. Mereka ini tetap melaksanakan aktifitas seperti biasanya karena mereka yang langsung bersentuhan dengan masyarakat untuk melakukan pelayanan. Walau demikian, Marthen Paiding meminta mereka untuk selalu mawas dan menjaga diri.

Tambahnya, mercermati perkembangan yang terjadi di negara ini, Pemda Mimika kemarin telah melakukan pertemuan internal dan salah satu putusannya adalah pembentukan gugus penanggulangan percepatan covid-19.

Dengan demikian maka apa yang menjadi instruksi Presiden Joko Widodo sudah mulai dijalankan di Mimika.

Ia juga mengingatkan agar warga Mimika untuk sementara tidak boleh bersentuhan secara langsung serta menjaga jarak komunikasi supaya mempersempit ruang penularan virus corona.

"Dalam beraktifitas dengan melibatkan banyak orang kita menjaga jarak kurang lebih satu meter untuk menjaga penularan dan berkembangnya virus corona diantara kita,” ujarnya mengingatkan warga Mimika. (Shanty)

Masih Ada Pegawai Pemda Yang Sembrono Gunakan Pakaian Dinas

Pegawai Pemda Mimika saat mengikuti apel pagi

MIMIKA, BM

Wakil Bupati Mimika, Johanes Rettob sejak menjabat sebagai orang nomor dua di kabupaten ini sedari awal selalu menyoroti kedisiplinan para pegawai dalam menggunakan pakaian dinas.

Hal ini menjadi prioritansya karena menurut Wabup John, pegawai pemerintah harus menjadi contoh dan teladan yang baik bagi semua orang terutama dalam kedisiplinan berpakaian.

Sayangnya hingga saat ini masih saja ada pegawai baik ASN maupun honorer di lingkup Pemda Mimika masih terlihat sembrono dalam menggunakan pakaian dinas beserta kelengkapan atributnya.

Masalah berpakaian kembali disorotinya saat memimpin apel pagi di Sentra Pemerintahan, Selasa (17/3).

Ia kembali mengingatkan para bawahannya untuk memperbaiki penampilan mereka agar lebih neces dan rapih. Ia menegaskan bahwa displin bukan hanya tentang ketepatan waktu masuk dan pulang kantor saja namun juga tentang kelengkapan diri.

“Dalam penggunaan pakaian dinas, kita sudah diatur kapan menggunakan pakaian warna coklat keki, pakaian batik maupun pakaian olahraga, begitu juga dengan honorer. Tapi saya lihat masih ada yang gunakan pakaian dinas lengkap, tapi pakai sepatu olahraga. Ada juga pakaian yang tidak isi dalam tapi keluar. Tolonglah hal-hal yang kecil seperti ini harus diperhatikan, jangan kita ingatkan terus-menerus,” ujar Wakil Johanes Rettob.

"Kita sebagai ASN adalah yang melayani masyarakat, bagaimana kita mau melayani orang sedangkan diri kita sendiri saja tidak kita perhatikan," lanjutnya.

Selain menyoroti soal disiplin pegawai, pada apel pagi Selasa, Wabup John juga menyoroti Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang belum melakukan lelang.

"Sudah masuk minggu ke 3 dan saya masih dengar ada OPD yang belum lakukan lelang. Jangan lihat sudah ada job fit, lelang jabatan jadi takut nanti tidak di OPD itu lagi, tapi lelang kegiatan itu wajib dilakukan,"tegasnya.

Wabup John menyemangati para pegawainya agar tetap semangat dan antusias dalam bekerja. Ia meminta mereka untuk tidak terlalu memikirkan roling dan sebagainya.

Menurutnya, jabatan adalah amanah dan titipan. ASN sejati tidak perlu takut dan khawatir jika jabatannya dicopot atau digantikan oleh pimpinan.

"Sekali lagi, saya ingatkan jangan selalu menunda pekerjaan. Kalau bisa lakukan hari inu, lakukan. Kalau ditunda justru akan menimbulkan rasa malas untuk menyelesaikannya. Kerjalah sesuai dengan aturan dan tupoksi yang ada. Segeralah lakukan pelelangan agar tidak menghambat proses pemerintahan di tahun ini,” tegasnya. (Shanty)

Cegah Corona, Pemda Mimika Bentuk Gugus Tugas

Pertemuan di lantai III gedung A Pusat Pemerintahan

MIMIKA,BM

Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Mimika akhirnya membentuk tim gugus petugas pencegahan virus corona jenis baru atau Covid-19. Hal ini agar masyarakat tidak khawatir terhadap serangan penyakit menular yang berbahaya dan mematikan itu.

Pertemuan pembentukan gugus tugas ini dilaksanakan di ruang rapat lantai 3, Kantor Pusat Pemerintahan, Selasa (17/3) kemarin yang dipimpin Wakil Bupati Mimika, Johanes Rettob didampingi Penjabat Sekda Mimika, Marthen Paiding, Asisten 3 Nicolas Kuahaty dan dihadiri direktur RSUD, direktur RS Kasih Herlina, Plt dinas kesehatan bersama pimpinan OPD lainnya.

Wakil Bupati Mimika, Johanes Rettob mengatakan, pembentukan tim gugus tugas serta layanan fasilitas kesehatan merupakan instruksi presiden. Hal ini harus segera dibentuk guna mencegah adanya warga Mimika yang terjangkit Covid-19.

Tidak hanya itu, pembentukan gugus tugas juga sekaligus untuk mengcounter segala kesimpangsiuran pemberitaan tentang penyebaran corona di Mimika sehingga informasi tentang hal ini hanya dapat diakses memalui satu pintu informasi.

"Terutama kita bisa berikan informasi yang benar menyangkut penyebaran virus corona dan pencegahannya bisa di lakukan sedini mungkin, jika masyarakat mengetahui informasi ini secara baik dan benar,"jelas Wabup John.

Direktur RSUD Antonius Pasulu mengatakan dari hasil kunjungan ke fasilitas kesehatan bersama dinas kesehatan (Senin) ke beberapa layanan kesehatan seperti rumah sakit dan klinik maka Mimika sudah harus mempersiapkan diri sedini mungkin untuk mengatasi virus ini.

Ia mengatakan, di RSMM ada 4 ruang isolasi yang selama ini dipergunakan untuk pasien TB, hanya saja masih minim alat pelindung diri (APB), ia berharap agar kekurangan ini segera difasilitasi. Sementara di Klinik ISOS, ada 2 ruang isolasi yang dapat dimodifikasi.

"Kita juga harus melakukan pemeriksaan bagi karyawan yang baru pulang cuti dari luar daerah, terutama daerah yang terjangkit covid-19. Bagi karyawan yang tidak memiliki keluarga di Timika, akan disiapkan tempat di mile 38 sekaligus untuk memantau mereka,"jelasnya.

Lanjutnya, RSUD memiliki 2 ruang isolasi yang ada anteroom dan 4 ruangan yang bisa di gunakan. Namun kendala yang mereka miliki yakni belum adanya sekat (safety) untuk membatasi jangkauan dari luar.

“Semua bisa diakomodir terutama di RSUD karena ini keadaan darurat. Fasilitas memang terbatas walaupun SDM siap. Namun secara umum kita siap menghadapi covid-19 tentu dengan upaya-upaya yang maksimal dilakukan sembari kita siapkan SOP-nya,” ujarnya.

Selanjutnya, Plt Kadinkes Reynold Ubra, mengatakan bahwa kekisruhan yang terjadi selama ini bukan pada kasusnya namun maindset orang yang harus diubah agar bagaimana dapat menyelamatkan orang yang tidak sakit (terinfeksi-red).

"Langkah yang harus di lakukan adalah preemtif yang merupakan golden time yang harus dilakukan mulai dari Sentra Pemrintahan, RSUD dan lainnya,"kata Reynold.

Sementara itu, Direktur RS Kasih Herlina sekaligus Ketua IDI, Leonard Pardede mengatakan, kematian bisa capai 1-2 persen dengan usia 60 tahun ke atas di sertai sakit gula, ginjal dan lainnya.

"Kita harus siap dan jangan ada dokter yang libur. Setiap penumpang yang datang dari luar Timika kita anggap pembawa, agar tidak terjadi ODP dan PDP. Saya usulkan harus ada call center 24 jam dan brosur sebagai alat sosialisasi. Pencegahan harus mulai dari pintu masuk. Kita juga harus melakukan pengadaan termoscan dan desinfektan serta rutin melakukan sosialisasi kepada masyarakat,” ujar Leo.

Dalam pertemuan ini diberikan juga sosialisasi tentang Covid-19 oleh Dokter Spesialis Anak di RSUD, dr Rini Poesprojo.

Ia menjelaskan tentang bagaimana pola hidup sehat, tidak bersalaman, etika batuk dan bersin agar tidak membuat orang lain terjangkit serta pentingnya jarak bicara 1 meter.

Menurutnya, Covid-19 sangat rentan pada usia 60-an tahun. Penderita diabetes, ginjal, hipertensi bisa semakin parah jika terinfeksi virus ini. (Shanty)

Top