Cegah Corona, Pemda Mimika Bentuk Gugus Tugas

Pertemuan di lantai III gedung A Pusat Pemerintahan

MIMIKA,BM

Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Mimika akhirnya membentuk tim gugus petugas pencegahan virus corona jenis baru atau Covid-19. Hal ini agar masyarakat tidak khawatir terhadap serangan penyakit menular yang berbahaya dan mematikan itu.

Pertemuan pembentukan gugus tugas ini dilaksanakan di ruang rapat lantai 3, Kantor Pusat Pemerintahan, Selasa (17/3) kemarin yang dipimpin Wakil Bupati Mimika, Johanes Rettob didampingi Penjabat Sekda Mimika, Marthen Paiding, Asisten 3 Nicolas Kuahaty dan dihadiri direktur RSUD, direktur RS Kasih Herlina, Plt dinas kesehatan bersama pimpinan OPD lainnya.

Wakil Bupati Mimika, Johanes Rettob mengatakan, pembentukan tim gugus tugas serta layanan fasilitas kesehatan merupakan instruksi presiden. Hal ini harus segera dibentuk guna mencegah adanya warga Mimika yang terjangkit Covid-19.

Tidak hanya itu, pembentukan gugus tugas juga sekaligus untuk mengcounter segala kesimpangsiuran pemberitaan tentang penyebaran corona di Mimika sehingga informasi tentang hal ini hanya dapat diakses memalui satu pintu informasi.

"Terutama kita bisa berikan informasi yang benar menyangkut penyebaran virus corona dan pencegahannya bisa di lakukan sedini mungkin, jika masyarakat mengetahui informasi ini secara baik dan benar,"jelas Wabup John.

Direktur RSUD Antonius Pasulu mengatakan dari hasil kunjungan ke fasilitas kesehatan bersama dinas kesehatan (Senin) ke beberapa layanan kesehatan seperti rumah sakit dan klinik maka Mimika sudah harus mempersiapkan diri sedini mungkin untuk mengatasi virus ini.

Ia mengatakan, di RSMM ada 4 ruang isolasi yang selama ini dipergunakan untuk pasien TB, hanya saja masih minim alat pelindung diri (APB), ia berharap agar kekurangan ini segera difasilitasi. Sementara di Klinik ISOS, ada 2 ruang isolasi yang dapat dimodifikasi.

"Kita juga harus melakukan pemeriksaan bagi karyawan yang baru pulang cuti dari luar daerah, terutama daerah yang terjangkit covid-19. Bagi karyawan yang tidak memiliki keluarga di Timika, akan disiapkan tempat di mile 38 sekaligus untuk memantau mereka,"jelasnya.

Lanjutnya, RSUD memiliki 2 ruang isolasi yang ada anteroom dan 4 ruangan yang bisa di gunakan. Namun kendala yang mereka miliki yakni belum adanya sekat (safety) untuk membatasi jangkauan dari luar.

“Semua bisa diakomodir terutama di RSUD karena ini keadaan darurat. Fasilitas memang terbatas walaupun SDM siap. Namun secara umum kita siap menghadapi covid-19 tentu dengan upaya-upaya yang maksimal dilakukan sembari kita siapkan SOP-nya,” ujarnya.

Selanjutnya, Plt Kadinkes Reynold Ubra, mengatakan bahwa kekisruhan yang terjadi selama ini bukan pada kasusnya namun maindset orang yang harus diubah agar bagaimana dapat menyelamatkan orang yang tidak sakit (terinfeksi-red).

"Langkah yang harus di lakukan adalah preemtif yang merupakan golden time yang harus dilakukan mulai dari Sentra Pemrintahan, RSUD dan lainnya,"kata Reynold.

Sementara itu, Direktur RS Kasih Herlina sekaligus Ketua IDI, Leonard Pardede mengatakan, kematian bisa capai 1-2 persen dengan usia 60 tahun ke atas di sertai sakit gula, ginjal dan lainnya.

"Kita harus siap dan jangan ada dokter yang libur. Setiap penumpang yang datang dari luar Timika kita anggap pembawa, agar tidak terjadi ODP dan PDP. Saya usulkan harus ada call center 24 jam dan brosur sebagai alat sosialisasi. Pencegahan harus mulai dari pintu masuk. Kita juga harus melakukan pengadaan termoscan dan desinfektan serta rutin melakukan sosialisasi kepada masyarakat,” ujar Leo.

Dalam pertemuan ini diberikan juga sosialisasi tentang Covid-19 oleh Dokter Spesialis Anak di RSUD, dr Rini Poesprojo.

Ia menjelaskan tentang bagaimana pola hidup sehat, tidak bersalaman, etika batuk dan bersin agar tidak membuat orang lain terjangkit serta pentingnya jarak bicara 1 meter.

Menurutnya, Covid-19 sangat rentan pada usia 60-an tahun. Penderita diabetes, ginjal, hipertensi bisa semakin parah jika terinfeksi virus ini. (Shanty)

Top