Kesehatan

Obat Biru Di Puskesmas Bhintuka Kosong, Kunjungan Pasien Malaria Meningkat 30-50 Pasien Per Hari

Salah satu pasien malaria yang hendak meminum obat di Puskesmas Bhintuka

MIMIKA, BM

Kabupaten Mimika merupakan salah satu penyuplai kasus malaria tertinggi di Indonesia. Bahkan setengah penduduk Mimika sudah terinfeksi malaria.

Tidak mengherankan jika tingginya sumbangsih kasus ini menempatkannya menjadi penyakit urutan pertama di rumah sakit, puskesmas termasuk klinik di Mimika, salah satunya di Puskesmas Bhintuka.

Penyakit malaria disusul Ispa merupakan 2 penyakit tertinggi di wilayah tersebut. Bahkan di Puskesmas Bhintuka, kunjungan bisa mencapai 30-50 orang setiap harinya karena malaria.

Untuk menurunkan angka kasus malaria, Puskesmas Bhintuka mengambil langkah membuat pojok malaria yang bekerjasama dengan kader-kader malaria, Perdakhi, Unicef dan Dinas Kesehatan.

Kepala Puskesmas Bhintuka Agustina Wanimbo saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (21/7/2022) menjelaskan, dengan adanya pojok malaria ini maka setiap pasien yang ditemukan positif saat melakukan pemeriksaan di Puskesmas Bhintuka diwajibkan meminum obat di depan petugas kesehatan sebelum pulang ke rumah.

"Ini untuk memutus rantai penularan. Kalau kita cuma kasih obat, misalnya berobat pagi hari bisa saja minum obatnya nanti malam atau justru ditunda sampai esok hari, sedangkan jumlah parasit dalam darah itu banyak. Tanpa adanya obat membunuh parasite ketika digigit nyamuk maka bisa menularkan ke orang lain," jelasnya.

Agustina mengaku, bukan hanya di Puskesmas Bhintuka, penyakit malaria saat ini sedang menjadi trend di Mimika sehingga pelayanan  harus diberikan secara maksimal kepada masyarakat.

"Karena obat biru masih kosong jadi kami masih berikan obat kina kepada pasien malaria," tutur Agustina.

Ditanya apakah di Puskesmas Bhintuka sudah ditemukan kasus DBD, ia mengaku belum ada dan berharap agar kasus tersebut tidak ditemukan di wilayahnya.

Sejauh ini, kata Agustina pelayanan di Puskesmas Bhintuka berjalan dengan baik dan lancar. Petugas masuk pukul 8.30 WIT dan pulang pukul 13.00 WIT.

Diketahui, wilayah Puskesmas Bhintuka ada 6 kampung yakni, Kampung Utikini 1, 2, 3, Pioka Kencana, Mimika Gunung dan Kampung Bhintuka.

"Kampung Mimika Gunung mencakup PT PAL. Kami juga ada 5 Posyandu dan selalu aktif setiap bulannya melakukan pelayanan,"ungkapnya. (Shanty)

Kasus Malaria Di Mimika Terus Meningkat, Ini Salah Siapa?!

Wabup John saat bertemu dengan beberapa dokter dan petugas kesehatan di Mimika

MIMIKA, BM

Data terakhir, Annual Parasite Incidence (API) malaria ada di angka 500 per 1000 penduduk, artinya kasus malaria di Mimika terus mengalami kenaikan bukannya cenderung menurun.

Angka tersebut berarti setengah penduduk Mimika terinfeksi malaria atau dari 10 orang warga, 5 diantaranya positif malaria.

"Dulu kita bicara 300 per seribu, sekarang sudah 500 per seribu. Ini kenaikan yang luar biasa," kata Ketua Malaria Center yang juga Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob melalui rilis yang diterima BeritaMimika.com, Kamis (21/7/2022).

Wabup John mengatakan bahwa pangkal persoalannya ada pada ketidakpedulian dari masyarakat. Misalnya, tidak minum obat sampai tuntas dan warga yang tidak peduli pada kebersihan lingkungan.

Di lingkup pemerintahan, eliminasi malaria sebetulnya sudah ada di dalam RPJMD Mimika. Namun sayang, program kegiatan atau rencana kerja tahunan OPD terkait tak mengikuti RPJMD.

Padahal kata John Rettob, dalam upaya eliminasi malaria, peran sektor kesehatan hanya 25 persen, sisanya adalah bagian atau peran sektor-sektor lain.

"Peran RT dan kepala kampung juga sangat besar," katanya.

Anggota Tim Kerja Penyakit Tular Vektor Kemenkes, dr Desriana Elisabeth Ginting mengatakan ada dua strategi menyelesaikan malaria di Mimika.

Pertama, menemukan kasus sebanyak-banyaknya dan diobati. Strategi ini serupa dengan strategi penanganan covid-19.

"Menemukan kasus sebanyak mungkin dan diobati sehingga jumlah plasmodium yang beredar di tubuh manusia di Timika bisa berkurang," katanya.

Strategi kedua adalah intervensi lingkungan. Faktanya, nyamuk anopheles yang menularkan malaria butuh air yang berbatasan langsung dengan tanah untuk berkembang biak seperti genangan atau kolam ikan.

"Kalau saya bilang ini masalah ketidakpedulian. Masyarakat harus diajar peduli pada diri sendiri dan lingkungan," kata Desriana.

Padahal katanya, malaria jelas berpengaruh pada banyak hal. Misalnya dari sisi ekonomi, tingkat produktivitas di Mimika dipastikan turun karena banyak yang sakit malaria.

Di sisi pengembangan SDM, malaria juga membawa dampak. 25 persen diantara para penderita malaria adalah anak-anak dan ibu hamil, yang menyebabkan peningkatan berbagai risiko kesehatan seperti gangguan tumbuh kembang anak dan janin, stunting, keguguran, gangguan kecerdasan, dan bahkan kematian.

"Stunting tinggi hanya karena malaria. Sekitar 20 persen anak-anak ketiak dicek malaria dia positif. Tanpa malaria kita bisa lebih produktif, Papua pasti lebih maju,"Ungkapnya. (Shanty)

Reynold Ubra : Ada Tiga Pedoman Utama Bagi Tim Untuk Mengusulkan Tenaga Honorer Formasi P3K

Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Reynold Ubra

MIMIKA, BM

Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Reynold Ubra saat ditemui di Kantor Pusat Pemerintahan SP3, Senin (11/7/2022) menyampaikan saat ini pihaknya sedang mengagendakan pengusulan tenaga honorer formasi P3K.

"Kami sedang mempersiapkan tim dari Dinas Kesehatan, RSUD Mimika, dan BKPSDM untuk berangkat mengurus pengusulan tenaga honorer untuk formasi P3K," ujarnya kepada awak media.

"Untuk kuota di Mimika kalau untuk Dinas Kesehatan saja itu ada lebih kurang ada 300-an. Jadi tenaga yang hari ini kerja kami usulkan semua," imbuhnya.

Saat ini, kata Reynold, proses pengusulan tersebut masih dalam tahapan pendataan.

"Ini kan baru tahap pendataan, tahap seleksi administrasi, dan yang kurang-kurang tetap kami coba lengkapi," ucap Reynold.

Di samping itu, dia menjelaskan bahwa ada tiga hal penting yang dijadikan pedoman tim untuk mengangkat para tenaga yang diusulkan.

"Pertama yaitu pendidikan minimal D3, yang kedua memiliki surat tanda registrasi yang dikeluarkan atau diterbitkan oleh Majelis Tenaga Kesehatan Indonesia, dan yang ketiga itu memiliki surat izin praktek profesi. Itulah yang kita coba untuk menseleksi," jelasnya.

"Kemudian baseline data kita adalah tenaga honorer yang sudah ditetapkan dalam surat keputusan Bupati Mimika. Jadi itulah yang kami coba usulkan," sebut Reynold melanjutkan.

Reynold mengatakan, dengan adanya pengusulan ini maka ke depannya Dinkes Mimika sudah bebas honorer.

"Semoga kalau ini semua diterima berarti (honorer) sudah nggak ada lagi. Jadi semoga di Januari tahun 2023, kami tidak lagi mempekerjakan honorer. Jadi semua sudah punya status kepegawaian," tuturnya.

Lebih lanjut Reynold menyebutkan saat ini Dinkes Mimika sangat membutuhkan tenaga spesialis di beberapa bidang.

"Tenaga yang hari ini kami butuh, yang memang masih sangat kosong itu adalah dokter gigi, kemudian ahli gizi nutrition atau nutrisionis, serta tenaga laboratorium, dan tenaga Farmasi," paparnya.

"Sementara di sisi lain memang kalau kita lihat di Timika ini, perawat bidan dan lainnya sebenarnya sudah tercukupi," pungkasnya. (Ade)

Top