Kesehatan

Puskesmas Kwamki Narama Tangani 300-an Pasien ISPA Dalam Sebulan, Malaria 8-10 Kasus Sehari

Pelayanan kesehatan di Puskesmas Kwamki Narama

MIMIKA, BM

Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan penyakit yang paling banyak ditangani Puskesmas Kwamki Narama yang merupakan urutan pertama dari 10 besar penyakit tertinggi.

Menyusul pada urutan kedua adalah penyakit malaria yang juga sama banyaknya ditangani Puskesmas Kwamki Narama.

"Untuk Ispa itu dalam sebulan sebanyak 300-an pasien yang ditangani. Sedangkan, untuk malaria pasien per harinya ada sekitar 8-10 pasien jadi kalau untuk perbulannya biasanya 200-an pasien malaria," Kepala Puskesmas Kwamki Narama, dr. Armin Ahyudi saat ditemui di Kwamki Narama, Selasa (5/7).

Amir mengatakan, tingginya kedua penyakit tersebut karena masih kurangnya kesadaran dari masyarakat akan pentingnya pola hidup sehat dan baik sehingga membuat tingkat kunjungan pasien tinggi dengan dua penyakit tersebut.

Dijelaskan, malaria dengan DBD penyebabnya sama yakni karena gigitan nyamuk namun untuk malaria itu dikarenakan gigitan nyamuk Anopheles sementara DBD karena gigitan nyamuk Aedes aegypti.

"Jadi kami menekankan agar masyarakat dapat terapkan perilaku hidup bersih dan sehat," tutur Amir.

Selain itu, kata Amir pihaknya juga menekankan kepada masyarakat agar menjaga diri terhindar dari gigitan nyamuk terutama pada sore hingga malam hari.

Guna mencegah hal tersebut maka diharapkan masyarakat yang ada gejala malaria segera melakukan pemeriksaan atau screaning malaria.

Apabila masyarakat sudah terdiagnosa malaria dari hasil pemeriksaan darah biasanya mereka berikan. Pemberian kelambu kadang diberikan langsung ke rumah warga sekaligus mengecek perilaku hidup bersih dan sehat di rumah warga.

"Apabila ada tempat penampungan air kami membagikan bubuk abate untuk mematikan jentik-jentik nyamuk yang ada di tempat penampungan air sehingga nyamuk tidak berkembang dan menggigit masyarakat yang mengakibat penularan penyakit malaria maupun DBD," Jelasnya.

Diketahui bersama cuaca di Timika tidaklah menentu, kadang panas dan kadang hujan sehingga hal itulah yang menjadi terjadinya peningkatan kasus.

"Setiap bulannya cukup banyak kasus malaria dan Ispa, untuk itu kami lebih meningkatkan kegiatan promotif dan preventif," ungkapnya. (Shanty)

'Ketika Efek Anjing Rabies' Membuat Tiga Pimpinan OPD Pemda Mimika Berbeda Pendapat, Namun Semuanya Baik

Ilustrasi Anjing Rabies (Foto Google)

MIMIKA, BM

Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika menemukan adanya 8 kasus gigitan anjing rabies sejak awal januari hingga Juli 2022.

Laporan ini mereka dapatkan dari RSUD Mimika dan dalam dua minggu lalu, pihak rumah sakit kembali menemukan 1 gigitan hewan penular rabies (GHPR).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (4/6/2022) menyampaikan hal ini.

"Ini tentu saja menjadi sinyal buat kita bahwa ada masalah kesehatan lama tapi baru di Timika. Mungkin dulu ada, tapi selama beberapa tahun terakhir ini tidak ditemukan," ujarnya.

"Oleh karena itu, kita memang haru hati-hati terhadap kasus ini. Dan kami dari Dinas Kesehatan sendiri akan melakukan kordinasi dengan teman-teman di Dinas Peternakan yang menangani kesehatan hewan untuk duduk mendiskusikan ini bersama," tutur Reynold.

Pernyataan Kadinkes Mimika, Reynold Ubra ini telah dipublish BeritaMimika pada edisi, Senin (4/7/2022)  dengan judul 8 Kasus Rabies ditemukan dinkes tahun ini, Reynold Ubra Minta Warga Hati-Hati.

Namun pernyataan ini berbeda dengan apa yang disampaikan oleh Direktur RSUD Mimika, dr Anton Pasulu dan Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Mimika, drh. Sabellina Fitriani. Keduanya menyangga pernyataan tersebut.

Kepada BM, Selasa (5/7/2022), melalui telepon dr Anton Pasulu mengatakan bahwa selama 2022, RSUD mencatat ada 47 kasus gigitan anjing yang mereka tangani.

Menurutnya, semua pasien ini mendapatkan perawatan jalan. Artinya, gigitan anjing yang mereka rasakan masih dalam kategori aman.

“Apakah ada pasien yang terjangkit rabies akibat gigitan anjing, sampai sekarang belum kami temukan,” ungkap dr Anton.

Hal senada juga diungkapkan oleh Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak Keswan) Mimika, drh Sabellina Fitriani.

Ia bahkan mengatakan bahwa setiap tahun pihaknya terus melakukan survei rabiesrabies dan hal ini rutin mereka lakukan.

“Hasil survei kita itu tidak ditemukan penyakit rabies pada anjing. Jadi, hingga saat ini Mimika masih aman dari rabies. Mungkin hanya kasus gigitan biasa saja,” ujarnya pada Selasa (5/7/2022).

Sabeline juga mengatakan bahwa pada SK Mentan nomor 428 tahun 2018 juga dinyatakan bahwa Papua bebas rabies.

"Saya juga telah berkoordinasi dengan Direktur RSUD terkait kasus gigitan anjing dan memang bahwa hanya gigitan biasa dan tidak menimbulkan kematian pada manusia," ungkapnya.

Secara teori, Sabelina menjelaskan bahwa untuk mendiagnosa hewan terjangkit rabies dibutuhkan uji laboratorium yang melalui beberapa tahapan.

"Sebetulnya rabies pada anjing itu kita harus melakukan pemeriksaan laboratorium dulu. Dan juga, jika memang anjing itu betul rabies kemudian melakukan gigitan dan terjadi kematian pada manusia, itu baru mungkin kita bisa lakukan diagnosa," jelasnya.

"Kita melakukan uji Fluorescent Antibody Technique (FAT), kita mengambil hippocampus pada anjing, kemudian ada juga dilakukan pewarnaan sellers', di situlah kita bisa mendiagnosa kalau anjing itu rabies," imbuhnya.

Yang jelas, kata Sabellina, kalau anjing menggigit kemudian diduga rabies, maka anjing tersebut perlu diisolasi dalam waktu dua minggu untuk dipastikan rabies atau tidak.

"Kalau dia memang anjing rabies, maka dia akan mati sebelum dua minggu. Sehingga dia menggigit manusia dan menyebabkan rabies pada manusia," katanya.

Sesudah terbukti bahwa anjing itu adalah anjing rabies barulah disiapkan Serum Anti Rabies (SAR) bagi korban yang digigit.

Oleh sebab itu, belum bisa dibenarkan bahwa saat ini di Mimika terdapat 8 kasus rabies karena sejauh ini pihaknya belum menemukan ada kasus anjing yang mati dalam waktu dua minggu setelah menggigit korban.

Di samping itu, Sabellina menyebutkan secara historis Papua belum pernah ada kasus rabies sama sekali.

"Dan itu sudah masuk dalam SK Menteri Pertanian tahun 2019 yang menyatakan bahwa Papua bebas rabies. Itu sudah diuji juga di depan komisi ahli," tandasnya.

Selain itu, pihak Dinas Peternakan juga setiap tahun selalu melakukan surveilans tentang rabies yang mana tidak pernah ditemukan kasus rabies pada anjing.

"Sudah tiga tahun ini kita juga lakukan vaksinasi rabies pada anjing secara rutin. Tahun ini kita mendapatkan 500 dosis. Ini untuk semua jenis anjing. Jadi kita survei, kita data, kemudian kita melihat hasilnya di lapangan seperti apa," jelasnya.

Lebih lanjut, dr. Sabellina juga menjelaskan dan memaparkan bagaimana ciri-ciri anjing dengan gejala rabies.

"Gejala anjing yang rabies itu dia agresif, ganas, air liur banyak berbusa-busa kemudian demam, dan ada kelumpuhan. Dia juga suka menyerang hewan lain dan tanpa diprovokasi pun dia akan mengigit" ucapnya.

Sementara itu dihubungi BM tadi malam, Selasa (5/7/2022), Kadinkes Mimika Reynold Ubra mengungkapkan maksud pernyataanya itu secara ilmiah.

Ia mengatakan, dalam survelence penyakit menular, Dinkes melihat trend satu penyakit menular baik dari manusia ke manusia maupun hewan ke manusia.

Gigitan anjing itu harus diantisipasi karena laporan yang disampaikan dalam pencegahan penyakit menular, dari hewan ke manusia terutama gigitan anjing hewan penular rabies saat ini trendnya lagi tinggi di Timika.

"Sesuai tren total keseluruhan itu ada 13, itu artinya bahwa kita harus antisipasi. Ada saja gigitan anjing selama beberapa hari terakhir. Ini namanya early warning sistem atau sistem deteksi sejak awal, bukan kejadiannya sudah parah baru kita tanggulangi. Ini menjadi signal juga buat masyarakat," ungkapnya.

Kepada BM, Reynold kemudian menyampaikan data terkait gigitan anjing selama 6 bulan terakhir, data Dinas Kesehatan dari rumah sakit.

Dalam laporan kejadian gigitan binatang pembawa rabies disebutkan bahwa dari minggu pertama hingga minggu ke 24 ada 11 gigitan (data terbaru sudah 13).

Berdasarkan jenis kelamin, dari 11 kasus ini, 8 merupakan lelaki dan 3 adalah perempuan.

Berdasarkan klasifikasi usia, U 0-5 tahun (1 kasus), 5-11 tahun (2), 12-16 tahun (1), 17-25 tahun (1), 26-35 tahun (2), 36-45 tahun (1), 46-55 tahun (2), 56-65 tahun (1).

Gigitan ini terjadi di 10 wilayah di seputaran kota Timika. Nawaripi (2 kasus), Jalan Kaimana (1), Jalan Restu (1), Km5 (1), pendidikan (1), perum Satpol PP (1), Budi Utomo (1), Leo Mamiri (1), Patimura (1), dan Jalan Yos Sudarso (1).

Sementara sesuai grafik waktu, gigitan pada Januari (5 kasus), Februari (5), dan April (1).

"Ini menunjukan bahwa entah nanti dia terkonfirmasi rabies atau tidak, tetapi dengan setiap bulan rata-rata gigitan mengalami trend kenaikan maka kita sudah wajib antisipasi apalagi data di RSUD disebutkan ada 47 kasus. Ini merupakan kasus dengan trend yang sangat tinggi," ungkapnya.

"Hal ini berarti bahwa dinas terkait dan masarakat harus mengantisipasi hal ini. Karena penyakit menular dari hewan ke manusia, di hewan itu tidak bermasalah. Tapi ketika berpindah ke manusia itu bermasalah, sama dengan malaria dan DBD," jelasnya.

Dijelaskan Reynold Ubra, bahwa untuk deteksi dini penyakit menular, dilakukan suspect, probable dan confirm lab.

"Jadi kalau misalnya digigit hewan penular rabies kemudian dari tanda dan gejala tidak menimbulkan rabies, maka syukur. Tetapi kan harus ada upaya yang kita lakukan untuk sampaikan kepada masyarakat dan juga fasilitas kesehatan lainnya, supaya jika itu terjadi maka apa yang harus dilakukan. Bukan ada rabies atau tidak," jelasnya.

Ia kemudian membuat sample dari penyakit DBD. Dikatakan, DBD bukan penyakit endemis di Timika sehingga ada satu saja orang terkonfirmasi DBD maka harus segera dilakukan langka antisipasi.

"Entah dia atau yang berikut nanti terkonfirmasi DBD atau tidak, maka agar jangan sampai terjadi penularan lebih luas, sudah harus diambil langka-langkanya. Upaya pencegahan perlindungan masyarakat itu penting. Itulah ilmu kesehatan masyarakatnya ada di situ," terangnya.

Ia mengatakan bahwa data yang mereka peroleh untuk 11 kasus diatas didapatkan dari RSUD Mimika.

"Tim kami pergi ke rumah sakit untuk kumpulkan data-data. Entah nanti terkonfirmasi lab itu rabies atau bukan rabies, itu kewenangan rumah sakit dan saya tidak bisa salahkan itu. Tapi jika itu memang rabies maka kita harus segera lakukan langka-langka antisipasi," terangnya.

Reynold Ubra juga menyampaikan bahwa di Timika terdapat banyak anjing liar. Anjing peliharan yang mungkin divaksinasi jumlahnya jauh lebih sedikit dengan anjing rumahan yang sama sekali tidak diperiksa kesehatannya.

"Ini sama dengan anti bisa ular. Kita tidak tahu kapan itu orang digigit ular, tapi ketika ada yang digigit ular maka yang harus dibuat adalah anti bisa ular harus disiapkan. Supaya jangan yang digigit meninggal," jelasnya.

Reynold juga menjelaskan bahwa Ilmu Kesehatan Masyarakat merupakan ilmu untuk melindungi populasi yang banyak.

"Tetapi kalau sudah bersifat klinis berarti orang per orang maka tentu saja tata laksananya adalah penegakan diagnosa berdasarkan hasil lab. Tanda maupun gejala hasil lab. Jadi bagi saya tidak masalah tapi apa yang saya sampaikan itu menjadi atensi untuk masyarakat agar mereka tahu dan lebih waspada karena itu merupakan kewajiban kita," terangnya.

Terkait masalah ini, Reynold Ubra mengatakan akan mengundang pihak RSUD dan Dinas Peternakan untuk melakukan koordinasi bersama dan menyiapkan upaya pencegahan melindungi masyarakat.

"Rencananya hari ini (kemarin-red) tapi teman-teman yang sedang siapkan data masih lakukan investigasi lanjutan. Muda-mudahan besok (hari ini-red) atau lusa kami bisa mengundang direktur rumah sakit, kadis peternakan dan kepala-kepala puskesmas. Tapi kami mungkin rencananya dengan dinas peternakan terlebih dahulu," ungkapnya. (Ronald Renwarin)

Sejak 2020 Hingga Saat Ini Tidak Ada Kasus DBD Di Puskesmas Kwamki Narama

dr. Armin Ahyudi, Kepala Puskesmas Kwamki Narama

MIMIKA, BM

Kepala Puskesmas Kwamki Narama, dr. Armin Ahyudi mengaku bahwa sejak tahun 2020 hingga saat ini, tidak ditemukan adanya kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Puskesmas Kwamki Narama.

Walaupun, berdasarkan data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Mimika sudah ditemukan sedikitnya 32 kasus DBD, namun di wilayah Puskesmas Kwamki Narama tidak ditemukan.

"Kalau misalnya kami temukan ada gejala ke arah demam berdarah itu biasanya kami lakukan pemeriksaan dulu. Tapi untuk saat ini belum ada tanda dan gejala yang kami dapatkan kasus DBD untuk wilayah kerja dari Puskesmas Kwamki Narama," tutur Kepala Puskesmas Kwamki Narama, dr. Armin Ahyudi saat ditemui di Kwamki Narama, Selasa (5/7).

Mengingat sudah banyak kasus DBD di Mimika, kata dr Armin, untuk mencegah terjadinya penyakit DBD maka hal yang dilakukan oleh Puskesmas Kwamki Narama adalah kegiatan-kegiatan promotif.

Karena menurut penjelasannya, fungsi dari Puskesmas lebih pada bagaimana mendekatkan kegiatan promotif dan preventif dibanding kegiatan kuratif dan reabilitatif.

"Untuk itu kami Puskesmas Kwamki Narama melakukan kegiatan promotif. Jadi pencegahan dengan 3M yakni menguras bak mandi, tempat penampungan air, mengubur barang bekas dan kita biasanya lebih menekankan untuk perilaku hidup bersih dan sehat," jelasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat bahwa, apabila ada tempat penampungan air maka bisa diberikan bubuk abate guna mematikan jentik-jentik nyamuk sehingga nyamuk tidak berkembang dan menggigit masyarakat yang berakibat pada penularan penyakit malaria maupun DBD. (Shanty)

Top