Kesehatan

Wabub Rettob : Stok Obat Malaria Sudah Ada, Masyarakat Tidak Perlu Khawatir

Wakil Bupati Kabupaten Mimika, Johannes Rettob

MIMIKA, BM

Stok obat anti malaria (OAM) yang sebelumnya dikabarkan kosong di Mimika, kini sudah terpenuhi alias sudah ada.

Hal ini disampaikan Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob saat ditemui di Hotel Horison Diana Timika, Jumat (1/7/2022).

"Bahwa janjinya itu kan di akhir Juli, semoga datang. Tetapi untuk memenuhi kuota yang ada di Mimika itu sudah mulai ada jadi masyarakat tidak perlu khawatir," ujarnya.

Selain obat biru, stok obat malaria lainnya juga dikatakan masih ada meskipun dalam jumlah yang kecil.

Lebih lanjut, Wabup Rettob menjelaskan dalam pengedropan OAM Mimika akan diprioritaskan sebab kontribusi Mimika akan malaria sangat besar di Papua dan Indonesia.

"Kita targetkan pemerintah pusat melalui kementrian kesehatan akan mengedrop lewat dinas kesehatan provinsi, kemudian provinsi drop kepada kita di Mimika," jelasnya.

"Dan itu akan kembali normal di akhir bulan Juli. Untuk berapa banyak permintaanya saya tidak hafal tetapi mereka sudah hitung stok sesuai dengan kebutuhan malaria dan jumlah peningkatan penyakit malaria yang ada di sini," terangnya.

Di sisi lain dari ketiadaan stok yang terjadi sebelumnya, Wabup Rettob bersyukur karena selama stok obat malaria kosong di Mimika, masyarakat jadi disiplin hidup sehat.

"Selama obat malaria ini tidak ada, orang sakit malaria juga ternyata tidak bertambah. Kemungkinan karena masyarakat tahu kalau obat ini tidak ada sehingga mereka betul-betul menjaga kesehatannya sesuai dengan yang sudah kita sosialisasikan terkait pemasangan kelambu, pakai autan, dan tidak keluar malam. Jadi ada nilai positifnya juga dari kekosongan stok kemarin," imbuhnya menutup. (Ade)

Dinas Kesehatan Kejar Target 41 Ribu Anak-Anak Mimika Imunisasi MR

Seorang anak kecil terlihat tidak takut ketika diberi suntikan imunisasi MR oleh seorang perawat

MIMIKA, BM

Pemerintah Daerah (Pemda) Mimika melalui Dinas Kesehatan dan Puskesmas melaksanakan imunisasi campak rubela atau MR di Diana Shopping Center, Rabu (29/6).

Kegiatan ini dilakukan untuk mensukseskan Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) dan juga sebagai upaya dinas kesehatan agar imunisasi MR dapat terlaksana secara maksimal di Timika.

Pasalnya, target capaian yang dijekar Dinkes Mimika dalam program imunisasi MR ini ditargetkan menyasar 41 ribu anak.

Kepala Seksi Imunisasi, Nelsi Bungan Allo ditemui di sela-sela kegiatan menjelaskan, kegiatan BIAN yaitu pemberian campak pada bayi dan balita juga anak-anak untuk usia 9 bulan hingga 12 tahun.

Mengapa dilaksanakan di tempat umum? karena kegiatan BIAN ini sudah dimulai sejak bulan Mei hingga sekarang ini, telah memasuki liburan sekolah sehingga capaian belumlah maksimal.

Sehingga, bagi anak-anak yang belum sempat mendapat imunisasi MR di sekolah dan Posyandu, bisa mendapatkan imunisasi campak rubela di Diana Shopping Center.

"BIAN ini juga memberikan kesempatan kepada anak-anak yang belum lengkap imunisasinya saat bayi seperi imunisasi DPT, Polio dan lainnya di sini. Imunisasi yang belum lengkap untuk anak-anak 1-5 tahun," Kata Nelsi.

Menurut penjepasan Nelsi, selain campak rubela ada juga namanya imunisasi kejar yang artinya diberikan imunisasi kepada anak usia 1-5 tahun yang belum lengkap semasa waktu bayi.

Dengan demikian, maka anak-anak akan mendapat 2 kali suntikan yakni campak rubela dan imunisasi kejar, khusus untuk anak usia 1-5 tahun.

"Kalau sudah 5-12 tahun maka yang diberikan hanyalah campak rubela atau MR," ujarnya.

Nelsi menjelaskan, tujuan imunisasi adalah untuk memberikan kekebalan tubuh kepada anak-anak. Karena campak rubela tidak hanya dilaksanakan di Papua tapi di beberapa provinsi di Indonesia dilaksanakan dalam 2 tahap.

Tahap pertama, yakni Papua, Kalimantan, Maluku, Nusa Tenggara. Sedangkan tahap kedua Jawa hingga Bali.

"Jadi ini bukan hanya ada di Kabupaten Mimika tapi di seluruh Indonesia. Walaupun dilaksanakan tidak bersamaan. Karena tahap kedua nanti akan dilaksanakan pada bulan Agustus untuk pulau Jawa dan Bali," tuturnya.

Menurutnya, imunisasi merupakan hak anak sehingga orang tua harus berpartisipasi dengan semua pihak yang terkait baik kepala sekolah, RT dan kelurahan yang terlibat dalam pelaksanaan ini agar bisa memberikan informasi kepada masyarakat.

*Karena saat ini sekolah sudah libur baik TK maupun SD sehingga Puskesmas Timika maupun Puskesmas dalam kota serta pesisir dan pegunungan mengadakan swiping ke rumah-rumah untuk memberikan pelayanan imunisasi," ungkapnya.

Selain itu, pihaknya juga berencana membuka posko-posko imunisasi MR di beberapa tempat umum dan terbuka untuk umum.

Hingga akhir Juni 2022, dari target 41 ribu yang baru tercapai hanya 47 persen atau 19 ribuan anak sudah mendapat MR.

"Artinya, masih ada setengahnya yang belum. Masih banyak yang belum mendapat imunisasi dari pada yang di imunisasi. Oleh sebab itu petugas kesehatan melaksanakan swiping supaya anak-anak itu bisa mendapatkan imunisasi MR. Karena imunisasi sangat penting untuk anak-anak. Dan juga supaya Mimika bisa kejar target," katanya.

Ia mengatakan, kasus campak rubela sudah ditemukan ada di Papua sehingga pihaknya terus gencar agar anak-anak mendapatkan perlindungan melalui imunisasi guna mendapat kekebalan tubuh.

"Kami tidak menentukan waktunya sampai jam berapa, yang penting sasaran masih ada kami tetap melayani. Di sini juga kan kami tidak melayani imunisasi saja tapi screaning penyakit tidak menular dan TBC seta lakukan pemeriksaan gula darah. Jadi selain anak-anak mendapat pelayanan orang tua juga mendapat pelayanan," ungkapnya. (Shanty)

Sambut Pemekaran, RSUD Mimika Bakal Dikembangkan

Direktur RSUD Mimika, dr Anton Pasulu

MIMIKA, BM

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Mimika, tengah mempersiapkan diri menjadi Rumah Sakit tipe B.

Peningkatan status ini membuat Rumah Sakit membutuhkan kajian Amdal, penambahan infrastruktur bangunan dan lain sebagainya.

Saat ini RSUD Mimika merupakan rumah sakit tipe C plus karena merupakan rujukan untuk wilayah Mee Pago dan Asmat.

"Kedepan kita akan naik tipe dari tipe C ke tipe B dan tentunya ada penambahan pelayanan yang diikuti dengan penambahan infrastruktur bangunan," kata Direktur RSUD Mimika, dr Antonius Pasulu saat ditemui di Hotel Horison Ultima Timika.

dr Anton mengatakan, saat ini pihaknya sudah membuat master plan untuk pengembangannya. Ada beberapa tahapan yang diperlukan, salah satu tahapannya adalah pembuatan dokumen analisis dampak lingkungan atau Amdal.

Persyaratan menjadi rumah sakit tipe B harus memiliki tempat tidur minimal 200 dan saat ini sudah ada 197 tempat tidur.

"Saat ini kita ada pembangunan di lantai 2 IRD yakni kamar VVIP dengan kapasitas 3 bed sehingga jika sudah beroperasi maka bisa berjalan 200 bed. Jadi kita bisa mengusulkan dinaikkan tipenya menjadi tipe B,” jelasnya.

Selain itu, dalam pembangunam gedung IRD akan disiapkan juga dengan tempat Helipad. Yang mana helipad ini disiapkan mengingat banyak rujukan dari wilayah pegunungan.

Dengan adanya helipad, aksesnya bisa langsung ke rumah sakit tanpa melalui bandara sehingga respon timenya cepat guna penanganan pasien.

"Untuk pengembangan ini sebenarnya sudah mulai sejak tahun 2021, itu ada di gedung D yakni gedung IRD. Jadi ini sudah bertahap mulai dari lantai 2 IRD," tuturnya.

Sedangkan untuk sumber anggaran ini, pihak RSUD sebenarnya hanya merencanakan dan membuat program juga perencanaan. Jadi, untuk anggaran diharapkan mendapat support dari pusat, provinsi maupun kabupaten.

"Saya berusaha memperjuangkan agar mungkin gedung D ini dulu yang bisa fix bangunannya sehingga kegiatan di emergency bisa berjalan. Konsep emergency nantinya jadi 1 kawasan yang terintegrasi," ujarnya.

Ruangan emergency akan dibuat jadi kawasan yang terintegrasi karena didalamnya selain sebagai layanan darurat ada juga layanan kamar bersalin, NICU, kamar operasi emergency, ICU dan kamar operasi.

"Dan di belakang juga ada pemeriksaan laboratorium dan radiologi, sehingga masyarakat atau pasien yang membutuhkan layanan emergency itu tidak terlalu jauh tapi bisa mengakses layanannya,” jelasnya. (Shanty)

Top