Hukum & Kriminal

Pangdam : Oknum TNI Pelaku Mutilasi Akan Diberhentikan Tidak Dengan Hormat


Foto bersama Pangdam XVII Cenderwasih, Mayjen TNI Muhammad Saleh Mustafa bersama Dandmin, Kapolres, Komnas HAM dan Tim Investigas di Rimba Papua Hotel, Senin (5/9/2022)

MIMIKA, BM

Mengawali kerjanya sebagai Pangdam XVII Cenderawasih, Mayjen TNI Muhammad Saleh Mustafa langsung melakukan tugas awalnya di Mimika.

Kehadirannya di Mimika guna mengecek investigasi perkembangan kasus mutilasi yang dilakukan oleh 6 oknum TNI bersama 4 warga sipil terhadap 4 warga Nduga pada 22 Agustus lalu.

Kepada media di Rimba Papua Hotel, Senin (5/9/2022), Mayjen TNI Muhammad Saleh Mustafa didampingi Dandim 1710 Mimika Letkol Inf Dedy Dwi Cahyadi, Kapolres Mimika AKBP I Gede Putra serta tim investigasi dan perwakilan Komnas HAM menjelaskan perkembangan kasus tersebut.

"Ini hari pertama kerja di Mimika setelah saya dilantik pada tanggal 3 kemarin. Saya datang ke Mimika karena ini merupakan tangungjawab saya setelah menerima jabatan. Saya datang untuk mendengarkan perkembangan dari investigasi tim, baik dari Polres maupun Komnas Ham," jelasnya.

Ia menegaskan bahwa perintah Panglima TNI dan Kasad adalah bahwa kasus ini harus dibuka secara transparan dan akuntabiltas, baik dari aspek keadilan hukum maupun kecepatan penanganan kasus.

"Dari proses awal hingga saat ini, kasus mutilasi ini sudah masuk tahap penyidikan. Artinya sudah ada tersangka yang ditetapkan. Mereka dikenakan pasal berlapis, diantaranya padal 340 dan 365," ungkapnya.

Dijelaskan Pangdam, kasus ini juga telah dilakukan rekonstruksi kejadian dan kini dalam penyempurnaan, artinya dalam waktu dekat akan ditingkatkan ke proses hukum selanjutnya.

"Kita berharap ini cepat, jangan lambat dan ada kepastian hukum sehingga keadilan dalam hukum ini dirasakan oleh semua pihak, baik oleh masyarakat, keluarga korban maupun tersangka. Pelaku harus mendapat hukuman yang setimpal dan sesuai dengan perbuatannya," tegasnya.

Ia berharap agar masyarakat terutama keluarga korban tetap bersabar menunggu proses hukum kasus ini. Ia juga meminta semua pihak untuk ikut mengawalnya.

"Mari kita kawal sama-sama kasus ini mulai dari penyidikan sampai tahap pengadilan. Jika ada hal-hal yang terlewatkan, mari kasih masukan dan saran kepada kami," ucapnya.

Pangdam Saleh juga mengatakan bahwa Komnas Ham juga terlibat dalam dalam kasus ini. Menurutnya mereka sebagai penyeimbang.

"Akan ada tindak lanjut dari penyedikan yang dilakukan oleh Komnas HAM kepada pelaku sipil maupun militer. Penting Komnas HAM hadir sebagai penyeimbang dalam rangka kita mendapatkan keadilan dalam hukum ini," jelasnya.

Sementara itu terkait 2 oknum TNI yang kini sedang dalam pemeriksaan karena ada kemungkinan terlibat dalam kasus ini, Pangdam mengatakan keduanya sedang dalam penyidikan.

"Dua anggota yang yang kini sedang dalam penyidikan adalah pratu P dan prada Y. Kita akan optimalkan kasus ini termasuk membantu kepolisian secara bersama mencari pelaku sipil (R) yang kini masih buron karena dari hasil penyelidikan, yang berangkutan merupakan otak yang memainkan permainan ini," jelasnya.

Sementara itu terkait dengan permintaan keluarga korban agar proses hukum dilakukan di Mimika, Pangdam XVII Cenderwasih, Mayjen TNI Muhammad Saleh Mustafa menjelaskan dalam pengadilan militer ada tingkatannya.

"Kalau pengadilan sudah ada aturannya. Kalau pengadilan di sipil mungkin bisa tapi kalau militer ada tingkatannya di Jayapura dan Makassar," ujarnya.

"Tapi saya mau yakinkan semua bahwa proses ini akan dilakukan secara terbuka. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Kemungkinan yang bersangkutan akan dipecat tidak dengan hormat," tegasnya.

Pada momen ini, Pangdam XVII Cenderawasih, Mayjen TNI Muhammad Saleh Mustafa juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.

"Kami menyampaikan turut berdukacita dan belasungkawa atas meninggalnya para korban. Semoga keluarga bisa kuat dan tabah menerima duka ini dan para korban di tempatkan disi Tuhan Yang Maha kuasa," ujarnya. (Ronald Renwarin)

Datangkan Ganja Hingga 30 Plastik Ukuran Besar, Polisi Tangkap Pasangan Suami Istri



Pasangan suami istri saat diamankan bersama BB di Polres Mimika

MIMIKA, BM

Kepolisian Mimika melalui Satresnarkoba Polres kembali menangkap pasangan suami istri yang terlibat kasus narkotika jenis ganja.

Hal ini diketahui dalam release yang diberikan oleh Kasi Humas Polres Mimika Ipda Hempi kepada media BeritaMimika Minggu (4/9) malam.

Dalam release diterangkan bahwa penangkapan dua orang pelaku berinisial AM (43) dan AS (40) dipimpin langsung Kasat Narkoba Polres Mimika AKP Mansur bersama 4 personilnya.

"Pasangan suami istri ini di tangkap di Bandara Baru Timika Sabtu (3/9). Dari tangan pelaku polisi berhasil menyita 30 (tiga puluh) plastik bening ukuran besar berisi Narkotika jenis ganja, 3 (tiga) lembar almunium foil (pembungkus paket), 3 (tiga ) gulungan lakban coklat (pembungkus paket)," ungkapnya.

Dalam release tersebut juga disampaikan bahwa penangkapan berawal dari adanya laporan yang mencurigai bahwa ada seorang wanita salah satu penumpang pesawat dari Jayapura (AS) akan tiba di Timika dengan membawa narkotika jenis ganja.

"Pelaku AS membawa 3 bal yang berisi narkotika jenis ganja yang disembunyikan dalam tas ransel warna hitam dengan gulungan pakaian, sedangkan AM (43) pemilik narkotika tersebut menunggu di area kedatangan," kata kasi humas.

Atas perbuatannya pelaku telah melanggar Pasal 111 ayat (1), Pasal 115 ayat (1) dan Pasal 114 ayat (1) UU RI No 35 thn 2009 tentang Narkotika.

"Pelaku saat ini sudah di amankan di Mapolres Mimika bersama barang bukti guna pemeriksaan lebih lanjut," ujar Hempi.(Ignas)

Rekonstruksi Kasus Mutilasi Tengah Berlangsung : Diketahui Pelaku Tiga Kali Berkumpul Di Satu TKP



Rekonstruksi adegan ke 34, salah satu pelaku menembak korban AL yang melarikan diri ke depan Mushola di Jalan Budi Utomo ujung

MIMIKA, BM

Rekonstruksi kasus mutilasi empat warga asal Kabupaten Nduga di Mimika mulai dilakukan sejak pukul 09.00 Wit di Jalan Budi Utomo ujung, Sabtu (3/9/2022).

Hingga pukul 15.00 Wit, rekonstruksi masih berlangsung dan saat ini dilakukan di TKP Lokpong setelah sebelumnya di tiga TKP yang berlokasi di Jalan Budi Utomo dan satu lokasi di Nawaripi, Kampung Mauwokau Jaya.

Di TKP Nawaripi tepatnya di gudang milik tersangka APL alias Jack, diketahui ternyata merupakan tempat pertemuan awal untuk merencanakan aksi pembunuhan.

Di TKP ini beberapa pelaku juga membuat alat tajam dari besi dan pipa yang tencananya digunakan untuk mengeksekusi korban.

Selain itu, di gudang ini juga dijadikan sebagai tempat akhir pertemuan untuk pembagian uang hasil rampokan sebesar Rp250 juta. Tiga kejadian ini terjadi pada tanggal 20 dan 23 Agustus lalu.

Saat rekonstruksi kasus dilakukan sejak pagi tadi, sebanyak 220 anggota gabungan dari Polres Mimika, Brimob Yon B, dan TNI dikerahkan untuk menjaga berlangsungnya proses tersebut.

Dalam rekonstruksi ini, semua pelaku dimana 6 pelaku merupakan anggota TNI bersama 4 pelaku lainnya yang merupakan warga sipil dihadirkan. Keberadaan mereka dikawal secara ketat oleh tim gabungan.

Kapolres Mimika, I Gede Putra saat diwawancarai wartawan mengatakan rekonstruksi kasus mutilasi ini akan dilakukan di enam lokasi kejadian.

"Di bengkel Nawaripi, Budi Utomo ujung, Mushola, tempat mutilasi, pembuangan, dan lokasi pembakaran kendaraan," ujarnya di sela-sela waktu rekonstruksi dilakukan di Jalan Budi Utomo ujung.

Di samping itu, kata Kapolres, rekonstruksi juga akan dilakukan di beberapa lokasi mobile para tersangka di luar enam lokasi yang telah disebutkan.

Dari pantauan beritamimika.com, dalam rekonstruksi yang berlangsung di Jalan Budi Utomo ujung, turut hadir Kompolnas, anggota DPR Provinsi, Komnas HAM, Sub Denpom, dan Kejaksaan Negeri(Kejari) Mimika.

Ada pun beberapa tokoh dari DPRP dan pihak keluarga korban turut jadir dan menyaksikan secara langsung rekonstruksi tersebut.

Sebelumnya pada edisi Jumat (2/9/2022) kemarin, BM telah mempublikasikan enam TKP kasus mutulasi empat warga ini.

TKP pertama berada di salah satu gudang (Nawaripi) yang merupakan tempat dimana para pelaku mulai menyusun rencana.

TKP kedua berada di samping perumahan BTN Bintang Timur. Di tempat ini para pelaku dan korban awalnya bertemu untuk melakukan transaksi.

TKP ketiga berada di depan salah satu mushola yang berbekatan dengan perumahan BTN Bintang Timur.

Di tempat ini ditemukan proyektil dan selongsong sekaligus tempat diduga terjadinya penembakan yang sempat mengagetkan warga sekitar pada saat kejadian.

TKP empat berada di Jalan Pomako tepatnya sekitar 2 kilometer dari jembatan. TKP kelima merupakan tempat pembuangan jenazah di jembatan Pomako.

Sementara TKP keenam merupakan tempat pembakaran mobil di Jalan Trans Nabire dekat jembatan panjang. (Ade/Red)

Top