Politik & Pemerintahan

Polemik Semboyan dan Tagline, Wabup Kemong : Jangan Buat Pemahaman yang Kabur Sebagai Kebenaran

 Wakil Bupati Kabupaten Mimika, Emanuel Kemong saat ditemui di kediamannya, Kamis (18/9/2025) malam

MIMIKA, BM

Wakil Bupati Kabupaten Mimika, Emanuel Kemong ikut menyoroti polemik semboyan Eme Neme Yauware dan tagline Mimika Rumah Kita yang selama beberapa hari terakhir, salah dipersepsikan oleh sebagian orang.

Kepada BM di Irigasi, Kamis (18/9/2025) malam, Wabup Kemong merasa heran mengapa hal ini dipersoalkan bahkan sampai menyebutkan bahwa pemerintah daerah melakukan pembohongan publik.

Wabup Emanuel memulai menyoroti persoalan ini dengan menyandingkan sambil membacakan lirik lagu Mimika Rumah Kita dan Eme Neme Yauware agar makna dari kedua lagu ini dapat dipahami secara bersama. Berikut kutipan dua lagu tersebut.

Lirik lagu ‘Eme Neme Yauware’

Derap-derap langkah meniti impian karya anak bangsa
Padamu persada anak cucu kita ingin ku sembahan
Terbit matahari dari timur sana kuikut menyapa
Menyinari pusaka taman eden kedua di tanah Papua

Rencana strategis sebagai tolak ukur membangun papua
Visi dan misi dorongan terpadu menuju cita-cita
Dua ribu sebelas rancangan tujuan prestasi perdana
Bangun seluruh kampungku, budayakan masyarakatku
Untuk mandiri sejahtera...

Eme neme jauware... Eme neme jauware... Bersatu bersaudara kita membangun tanah Papua Eme Neme Jauware... Eme neme jauware... Biarlah tangan Tuhan memberkati tanah Papua tercinta

Lirik lagu ‘Mimika Rumah Kita’

Dari timur nusantara terlihat indah dan permai tanah Mimika. Kita semua ada disini Hidup dalam keragaman suku budaya dan agama. Bumi Amungsa membentang dari gunung, Kota dan pantai

Eme Neme Yauware, bersatu bersaudara kita membangun, semua distrik yang ada jadi pilar yang kokoh, pusat jasa dan industri agar terwujud masyarakat Mimika damai dan sejahtera

Amolonggo saudaraku, ku sapa kau dengan kasih, kita ada bersama Bergandeng tangan dan untuk Mimika

Nimowitimi sauadaraku Kurangkul kau dengan cinta dalam keanekaragaman kita wujudkan Mimika Aman dan indah. Saipa untuk semua, jadikan Mimika Rumah Kita

Pertanyaanya, dimana terjadi pembohongan publik? Dimana letak benturan di dua lagu ini.  Dua lagu ini memberikan semangat dan makna yang sama,” ungkapnya setelah membacakan lirik kedua lagu.

Ia mengatakan, lirik dalam kedua lagu ini memiliki lima makna yang terkandung dan berhubungan erat antara satu dan lainnya yang mewakili segala harapan untuk Mimika

Pertama, kedua lagu ini mengisahkan semanagat kebersamaan. Kedua, cinta tanah air. Ketiga, pembangunan berkelanjutan. Keempat, warisan untuk generasi mendatang dan kelima, harapan untuk masa depan.

“Saya bingung sekali ada masalah apa dengan kedua lagu ini? Saya dan bupati tidak ada perintah atau keputusan yang mengatakan bawah tagline Mimika Rumah Kita menggantikan semboyan Eme Neme Yauware,” katanya.

“Eme Neme Yauware merupakan moto, semboyan dan semangat yang harus terus kita pertahankan. Tidak ada yang mengubahnya. Makanya di lagu Mimika Rumah kita ada kalimat Eme Neme Yauware, Bersatu Bersaudara, Kita Membangun,” lanjutnya.

Wakil Bupati Emanuel Kemong menegaskan agar hal ini dapat dipahami dan dimengerti oleh semua pihak.

“Jangan coba buat pemahaman-pemahaman yang membuat kabur dan sepihak sehingga membuat orang lain menanggapi sebagai sebuah kebenaran, padahal tidak! Lagu Eme Neme Yauware dan Mimika Rumah Kita adalah representasi kita untuk membangun semangat kebersamaan,” tegasnya.

Wabup Kemong juga menyoroti ada ungkapan yang menyebutkan bahwa lagu Eme Neme Yauware tidak lagi dinyanyikan di acara pemerintahan dan telah digantikan sepenuhnya dengan lagu Mimika Rumah Kita.

“Ada juga yang berikan komentar, kenapa lagu ini tidak lagi dinyanyikan? Kami menyanyikan dua lagu ini secara bergilir. Kami tidak melupakan Lagu Eme Neme, bahkan lagu Tanah Papua kami nyanyikan,” katanya.

Menurutnya, ketiga lagu ini merupakan semangat yang menyatakan bahwa kita adalah anak-anak daerah ini yang perlu menjunjung tinggi harkat dan martabat untuk membagun daerah kedepan dan melindungi semua orang yang ada.

“Kami tidak mengkerdilkan Amunge dan Kamoro. Mereka adalah tuan di negeri ini. Mereka adalah segalanya dan harus dihormati dan dihargai di negerinya sendiri namun harus juga memberikan ruang juga bagi orang lain,” terangnya.

“Mimika Rumah Kita adalah Amunge Kamoro menjadi tuan di rumah sendiri untuk semua suku bangsa yang ada di negeri ini sehingga tidak boleh ada gesekan, perampasan dan lainnya,” tegasnya.

Sekali lagi Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong menegaskan bahwa tidak perlu ada tendensi apapun, mari bersama menjaga Mimika ini dengan semangat Eme Neme Yauware.

Kemong menjelaskan tagline Mimika Rumah kita merupakan brand daerah yang berhubungan dengan Smart City yang dirancang agar kedepan Mimika semakin lebih baik.

“Ini kita punya rumah sama-sama. Kita mau lari kemana lagi? Kita jaga baik-baik,” harapnya.

Wabup Kemong mengatakan ia bersama bupati ingin merangkul semua orang sehingga jika ada pemahaman yang berbeda, ada ruang diskusi untuk mencari kebenaran.

“Disini tidak ada musuh, kita semua adalah sahabat dan kawan. Kalau tidak mengerti atau tidak setuju, mari diskusi yang baik,” ujarnya.

Ia mempertanyakan mengapa hal seperti ini harus dipersoalkan dan menurutnya tidak masuk akal.

“Setelah saya sampaikan ini saya harap tidak ada lagi komentar-komentar. Bagi mereka yang berikan dukungan komentar untuk menjelaskan, saya ucapkan terimakasih. Mereka mengerti tentang Mimika rumah kita,” katanya.

“Bagi yang belum mengerti, Saya berharap kalau anda tidak mengerti mari kita diskusi. Jangan buat pernyataan yang semakin buat kabur. Kalau kita sampaikan sesuatu yang kita sendiri tidak paham, bagaimana dengan orang lain?,” tanyanya.

Wabup Kemong mengatakan bahwa semboyan Eme Neme Yauware tidak bisa diganti namun tagline Mimika Rumah Kita bisa diganti tergantung siapa yang jadi pimpinan daerah dan apa yang menjadi visi dan misinya.

“Jadi setelah pemerintahan kami, setelah lima tahun ke depan, bupati dan wakil bupati terpilih mungkin punya tagline yang bisa saja berbeda dan tidak harus meneruskan yang sudah ada. Dan itu haknya bupati dan wakil bupati karena mereka adalah pimpinan daerah. Mereka mau buat dalam bentuk apa, itu kewenangan mereka dan tidak perlu dipersoalkan,” jelasnya.

Lagipula menurutnya, penggunaan tagline Mimika Rumah Kita untuk Smart City sudah disepakati dan disosialisasikan kepada stakeholder, SKPD hingga tokoh masyarakat dan agama dan hal ini telah dipublikasikan.

“Semua setuju dan sudah kita umumkan secara bersama. Jadi sekali lagi, Eme Neme Yauware merupakan moto dan landasan orang Mimika. Apalagi ada dua bahasa yakni Amungme dan Kamoro di nama itu. Saya rasa ini sudah selesai dan mari bersama dukung pemerintah daerah untuk membangun Mimika semakin lebih baik kedepan,” tegasnya. (Ronald Renwarin)

Disdukcapil Mimika Perkuat Layanan Adminduk Melalui Forum Konsultasi Publik

Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Mimika, Inosensius Yoga Pribadi foto bersama tamu undangan

MIMIKA, BM

Forum Konsultasi Publik (FKP) Peningkatan Pelayanan Administrasi Kependudukan (Adminduk) bagi Penduduk Rentan adalah kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Mimika untuk mengumpulkan masukan dari masyarakat dan pemangku kepentingan guna meningkatkan kualitas pelayanan Adminduk, dengan fokus pada kelompok rentan agar lebih inklusif, akurat, dan sesuai kebutuhan.

FKP yang digelar di Hotel Horison Diana, Selasa (7/10/2025) dibuka secara resmi oleh Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Mimika, Inosensius Yoga Pribadi.

Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Mimika, Inosensius Yoga Pribadi dalam sambutannya mengatakan, Adminduk merupakan dasar dari pelayanan publik dan perencanaan pembangunan nasional maupun daerah.

Melalui data kependudukan yang akurat dan mutakhir, pemerintah dapat menyusun kebijakan yang tepat sasaran.

"Namun demikian, masih terdapat kelompok masyarakat yang tergolong sebagai penduduk rentan administrasi kependudukan sebagaimana diatur dalam permendagri nomor 96 tahun 2019," kata Yoga.

Kelompok masyarakat yang tergolong sebagai penduduk rentan ialah korban bencana alam dan sosial, orang terlantar, komunitas terpencil, lansia, penyandang disabilitas, dan masyarakat miskin, penghuni panti asuhan, panti jompo, lembaga pemasyarakatan, dan rumah sakit jiwa.

"Kelompok-kelompok ini sering menghadapi kendala dalam mengakses layanan Dukcapil karena faktor geografis, ekonomi, sosial, maupun keterbatasan fisik," ujarnya.

Oleh sebab itu, kegiatan FKP ini memiliki arti penting karena dapat mendiskusikan solusi dan strategi konkrit dalam mempercepat pelayanan kepada penduduk rentan, membangun kolaborasi lintas sektor, antara pemerintah daerah, lembaga pendidikan, organisasi sosial, dan masyarakat.

Selain itu, dapat juga meningkatkan kesadaran publik tentang pentingnya dokumen kependudukan seperti ktp-el, kartu keluarga, akta kelahiran, dan dokumen lainnya dan mendorong pelayanan dan digitalisasi layanan dukcapil menjadi lebih inklusif, efisien, dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

"Pemerintah Kabupaten Mimika berkomitmen penuh untuk mendukung berbagai inovasi pelayanan publik yang digagas oleh Dinas Dukcapil, seperti pelayanan mobile, kolaborasi dengan distrik, kampung, serta lembaga sosial," tutur Yoga.

Menurut Yoga, semua ini sejalan dengan visi untuk mewujudkan "Mimika Cerdas, Mandiri, dan Berdaya Saing" yang berkeadilan dan inklusif bagi seluruh masyarakat.

"Kami harap melalui forum ini akan lahir rekomendasi dan langkah nyata yang dapat meningkatkan kualitas layanan administrasi kependudukan, sehingga tidak ada lagi warga Mimika yang tertinggal atau tidak terdata dalam sistem kependudukan nasional,"ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Panitia kegiatan Venska Sylvia Gomies, S.Si.,M.Si dalam laporannya mengatakan, tujuan kegiatan ini adalah untuk memastikan hak kependudukan penduduk rentan terpenuhi dan meningkatkan kepemilikan dokumen kependudukan dan kualitas pelayanan publik yang inklusif dan berkeadilan. (Shanty Sang)

Hingga September, Realisasi Fisik Pemkab Mimika Baru Capai 47,2 Persen


Kepala Bapenda Mimika, Yohanna Palilig

MIMIKA, BM

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Mimika, Yohana Paliling mengatakan, hingga September realisasi fisik Pemerintah Kabupaten Mimika baru mencapai 47,2 persen. Capaian tersebut masih terbilang rendah.

Rendahnya realisasi fisik dikarenakan beberapa OPD teknis seperti Dinas Perhubungan dan PUPR memiliki kegiatan fisik yang besar dan masih proses tender.

"Targetnya 60 persen tapi kalau kita lihat OPD teknis seperti Dishub dan PUPR yang fisiknya besar itu sekarang mereka masih proses tender dan ada juga yang baru cair uang muka," kata Yohana.

Yohana mengatakan, realisasi program fisik ini merupakan realisasi program kerja Tahun 2025 yang berasal dari 66 OPD yaitu badan, bagian, dinas, distrik, BLUD, Inspektorat, Sekwan, dan Setda.

Realisasi fisik yang kurang dari 50 persen, lanjut Yohana itu ada 17 OPD termasuk 9 distrik. Yang mana kendala pada umumnya yaitu distrik di pedalaman dimana operator tidak menginput ke sistem karena jaringan yang tidak mendukung.

Oleh karena itu, pihaknya akan fokus untuk menangani OPD yang realisasinya masih di bawah 50 persen.

"Ada 9 distrik dan saya yakin bukan karena tidak jalan tetapi karena memang belum menginput. Bahkan ada realisasi keuangan sudah 78 persen tetapi fisiknya masih lima persen. Ini yang sekarang kita fokuskan,"ungkapnya. (Shanty Sang

Top