Pendidikan

Mengejar Kemajuan untuk Merdeka Belajar Dari Momen Perayaan HUT RI ke-76 Di Sekolah Asrama Taruna Papua

Peringatan HUT RI ke-76 di Sekolah Asrama Taruna Papua, Timika, pada Selasa (17/8)

MIMIKA, BM

Puncak perayaan HUT Republik Indonesia (RI) ke-76 bertema "Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh" di lingkungan Sekolah Asrama Taruna Papua (SATP) ditandai dengan Upacara Bendera bersama seluruh civitas akademika SATP pada Selasa, 17 Agustus 2021.

Kegiatan ini berlangsung dengan sangat khidmat, lancar, penuh semangat dan harapan Merdeka Belajar bagi generasi emas Tanah Amungsa Bumi Kamoro. SATP adalah sekolah yang menjalankan model pendidikan berpola asrama (Boarding school based management).
 
Bertindak sebagai Pembina Upacara yaitu Kepala Perwakilan Yayasan Pendidikan Lokon-SATP Timika Andreas Ndityomas dan sebagai Pemimpin Upacara adalah Siswa Kelas 9C Melkior Nawaripi.

Adapun Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) berasal dari siswa-siswi SMP SATP dengan komandan regunya merupakan siswa SD Kelas VI Jackson.

Upacara dilakukan dengan mengedepankan protokol kesehatan. Selama masa pandemi, siswa-siswa SATP menjalankan karantina di lingkungan asrama dan sekolah.
 
Dalam sambutan upacara, Andreas Ndityomas mengatakan tantangan yang dihadapi dunia saat ini diakibatkan oleh pandemi Covid-19, tidak menyurutkan komitmen dan semangat segenap karyawan, guru, dan anak-anak untuk tetap menjalankan proses belajar dan mengajar.

Hal ini dilakukan untuk mengejar kemajuan bagi generasi emas Amungme, Kamoro dan Lima Suku Kekerabatan yang berada di wilayah sekitar operasi penambangan PTFI di Kabupaten Mimika, Papua, Indonesia.
 
Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) adalah salah satu mitra PTFI yang menjalankan program pendidikan yang didanai oleh dana kemitraan dari PT Freeport Indonesia (PTFI). YPMAK hadir dengan komitmen penuh secara terus-menerus mendukung operasional SATP dan menjaga mutu pendidikan bagi seluruh siswa.
 
"Merdeka Belajar bagi anak-anak kami yang berasal dari suku Amungme, Kamoro, Papua menjadi contoh konkrit dalam pengelolaan Boarding School Based Management dengan Kurikulum Berbasis Kearifan Lokal . Dua tahun lebih kita telah mengimplementasikan dan mempraktikkannya di SATP," ungkapnya.

"Kami telah menyediakan modul-modul yang relevan yang mengintegrasikan kearifan lokal, berbasis teknologi internet Microsoft Office 365 untuk mengantar anak-anak ini mengikuti pendidikan dasar dengan metode pengajaran berbasis karakter yang kuat," lanjut Andreas.
 
Harapan ‘merdeka belajar’ juga disampaikan oleh Kepala Sekolah SATP Johana Tnunay. Ia mengatakan, dengan semangat kemerdekaan RI Ke-76, para siswa yang dididik dan dibina di SATP menjadi generasi yang mampu bersaing secara global dan kelak memiliki etos kerja yang kompetitif.
 
"Meski secara umum proses belajar mengajar tidak berlangsung seperti biasanya, namun SATP yang dimiliki YPMAK dan dibawah naungan pengelola YPL mampu beradaptasi dengan kondisi pandemi dan konsep merdeka belajar sudah terlaksana di SATP," tegas Johana.
 
Saling Jaga di Masa Pandemi
 
Di tengah pandemi covid-19 yang masih menjadi tantangan dunia, SATP pun turut mewaspadai hal ini dengan terus menjaga ketat protokol kesehatan dalam penyelenggaraan Puncak Kegiatan HUT RI ke-76.
 
Sebelum melaksanakan kegiatan HUT RI ke 76 di lingkungan sekolah, para karyawan dan guru yang tinggal di dalam lingkungan SATP telah menjalankan tes covid-19 dengan tes Genose dan swab antigen di Klinik SATP pada Senin 16 Agustus 2021.

Bagi yang tinggal di di luar lingkungan SATP menjalan tes yang sama pada tanggal 17 Agustus. Prokes standar lainnya dijalankan selama mengikuti upacara. Hal ini dilakukan demi menjaga kesehatan seluruh civitas SATP.
 
Pihak SATP rutin melakukan tes kesehatan secara berkala di lingkungan SATP demi Zero Covid-19, mengingat keselamatan sekitar seribuan siswa menjadi prioritas utama dalam proses belajar mengajar di tengah pandemi ini.
 
Kegiatan Lomba Dalam Rangka HUT RI ke-76 di Lingkungan SATP
 
Setelah mengikuti Upacara Bendera selama kurang lebih satu jam, kegiatan pun ditutup dengan pengumuman pemenang berbagai lomba edukasi yang diadakan panitia. Para siswa yang berhasil menjadi juara menerima apresiasi atau hadiah atas semangat dan motivasi mereka dalam berbagai lomba yang diadakan selama rangkaian kegiatan Peringatan HUT RI ke-76 di lingkungan SATP sejak 13 Agustus 2021 lalu.
 
Adapun lomba-lomba edukasi yang diadakan, yaitu lomba pidato, membaca puisi, presenter, paduan suara, yel-yel terbaik hingga gerak jalan.
 
Peringatan hari kemerdekaan ini mungkin bisa berakhir dalam satu hari, namun optimisme dan semangat juang menguatkan tekad mewujudkan Indonesia berdaya untuk Indonesia Tangguh dan terus Bertumbuh melalui proses Merdeka Belajar untuk tujuan mulia, melihat generasi Emas Amungme-Kamoro dan Lima Suku Kerabat menjadi tuan di rumahnya sendiri. (Red)

Sekolah Tatap Muka Sepekan Hanya Tiga Kali Belajar

Kadis Pendidikan Mimika, Jenny O Usmani

MIMIKA, BM

Dinas Pendidikan Mimika menerapkan sistem shift dalam mengatur pembagian jumlah siswa untuk penerapan pembelajaran tatap muka. Nantinya di kelas akan dibagi menjadi dua hingga tiga shift dan belajar tatap muka hanya dilakukan tiga kali dalam seminggu.

Kepala Dinas Pendidikan Mimika, Jenny O Usmany saat ditemui Senin (23/8) menegaskan hal ini. Menurutnya pembelajaran tatap muka dilakukan, diawali dengan pertemuan bersama para kepala sekolah guna terkait pengetatan protokol kesehatan.

Protokol kesehatan yang wajib disiapkan sekolah diantaranya penyediaan tempat khusus cuci tangan lengkap dengan sabun. Selain itu jumlah siswa diatur hanya 25 persen dan dalam ruangan kelas harus berjarak.

"Iya sudah bisa belajar tatap muka untuk semua sekolah tapi untuk TK itu hanya TK besar saja dan hanya bisa 25 persen. Nantinya akan dibagi 3 shift," tutur Jenny.

Dengan demikian maka satu siswa dalam seminggu hanya tiga kali masuk kelas dengan durasi waktu belajar hanya 120 menit pembelajaran.

Sementara pelajaran apa yang nantinya di berikan dalam durasi tersebut, sepenuhnya menjadi tanggungjawab sekolah untuk menentukannya.

"Jadi jam 8-10 shift pertama, jam 10-12 shift kedua. Kalau memang ada tiga shift berarti bisa lanjut tetapi tergantung jumlah siswa juga," ujarnya.

Walau penerapan pembelajaran tatap muka dimulai pada 30 Agustus 2021 nanti namun ada sebagian sekolah yang telah memulainya.

"Tidak semua orang tua setuju tatap muka dan jika ada orang tua yang tidak setuju maka pihak sekolah harus melayani daring. Kepala sekolah juga harus buat surat pernyataan bahwa orang tua yang setuju untuk memenuhi semua persyaratannya," ungkapnya. (Shanty)

Pemerintah Daerah Diminta Jangan Abaikan Warga Binaan Lapas yang Sudah Bebas



Wabup John didampingi Kalapas Timika saat meresmikan PKBM Koteka 196

MIMIKA, BM

Setiap orang punya masa lalu dan setiap orang juga punya kerinduan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik, sama seperti yang lainnya.

Namun sayangnya, hal ini kadang tidak dialami oleh sebagian orang karena tidak adanya kesempatan dan peluang bagi mereka.

Kisah ini sering dialami oleh warga binaan Lapas Kelas IIB Timika yang telah selesai menjalani masa hukuman mereka. Mereka merasa tidak diperhatikan karena status hukum yang pernah mereka sandang.

Agar hal seperti ini diperhatikan Pemda Mimika, Lapas Kelas IIB Timika membantu pendidikan bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP) selama berada dalam Lapas dengan membangun Pusat Kegiatan Belajar Mengajar (PKBM) Koteka 196.

PKBM Koteka 196 yang dibangun ini akhirnya diresmikan oleh Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob bersamaan dengan pemberian SK remisi kemerdekaan di Lapas Kelas IIB Timika, Selasa (17/8).

Di hadapan Wabup John, Kalapas Kelas IIB Timika, Marthen Pake Palinoan, berharap adanya dukungan dari Pemda Mimika, agar di kemudian hari warga binaan yang bebas memperoleh bekal dengan mempunyai ijasah paket A, B dan C.

"Kami berharap juga misalnya ada penerimaan honorer di Pemda, kalau bisa satu atau dua warga binaan yang sudah bebas bisa diterima. Supaya ada perubahan kedepannya. Hampir tidak ada perhatian bagi mereka walau mereka sudah merubah hidup mereka jadi lebih baik," harapnya.

Disampaikan juga alasan mengapa pihaknya memberikan nama Koteka 196. Nama ini muncul saat ia mengikuti kegiatan diklat kepemimpinan pengawasan.

"Kita gunakan nama ini karena koteka merupakan bagian adat dari orang Papua yang kita transformasikan ke dalam tatanan organisasi kita," ungkapnya.

Sementara itu, usai meresmikan Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob berharap warga binaan menggunakannya dengan baik agar berguna sebagai proses pengembangan diri.

"Gunakan tempat ini dengan baik dan para pembina lihat apa yang dibutuhkan masyarakat, sehingga berikan pembinaan agar ketika kembali ke masyarakat, mereka jadi lebih baik dari sebelumnya," harapnya. (Ignas

Top