Pendidikan

Kabut Asap Menipis, Pemkab Mimika Evaluasi Pelaksanaan PJJ

Bupati Mimika Johannes Rettob

MIMIKA, BM

Pemerintah Kabupaten Mimika mulai mengevaluasi kebijakan pembatasan aktivitas belajar mengajar di sekolah atau pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Evaluasi tersebut menyusul kondisi kabut asap yang sempat menyelimuti wilayah Kabupaten Mimika, dalam beberapa hari terakhir kini terlihat mulai berkurang dan berangsur hilang.

Namun, keputusan untuk kembali menerapkan pembelajaran normal masih menunggu hasil pemantauan kualitas udara dan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Bupati Mimika, Johannes Rettob, menyampaikan, membaiknya kualitas udara dalam beberapa hari terakhir tidak lepas dari faktor cuaca, terutama turunnya hujan di kawasan tersebut.

"Kabut asap yang menyelimuti wilayah Mimika mulai hilang. Kita lihat satu sampai dua hari ini, ini kan karena hujan saja," katanya saat diwawancarai usai memimpin apel di lapangan Kantor Puspem, Senin (2/11/2026).

Bupati menambahkan sumber kabut asap yang melanda Mimika sejatinya bukan berasal dari wilayah Mimika, melainkan merupakan asap kiriman dari Kabupaten lain.

“Kami akan terus berkoordinasi dengan BMKG untuk memantau prediksi cuaca serta pergerakan asap ke depan,” ujarnya.

Terkait kebijakan kegiatan belajar mengajar, Pemkab Mimika berencana mencabut surat edaran penyesuaian atau pembelajaran mandiri bagi siswa sekolah apabila kondisi udara dipastikan benar-benar aman.

"Jadi kalau misalnya kita lihat prediksi BMKG dan informasinya sudah aman, ya kita cabut pembatasan sekolah, surat edarannya kita cabut," pungkasnya.

Sebelumnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkba) Mimika melalui Dinas Pendidikan resmi mengeluarkan Surat Edaran (SE) Bupati Nomor 85 Tahun 2026. Aturan yang mulai berlaku pada Senin (12/10/2026) ini mengatur penyesuaian Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) akibat dampak buruk kabut asap. (Shanty Sang)

SMAN 1 Merauke Raih Juara 3 Nasional Ilmupedia Berani Jawab Season 7

Tim SMAN 1 Merauke

MIMIKA, BM

Tim Minerale dari SMAN 1 Merauke berhasil meraih Juara 3 Nasional dalam kompetisi cerdas cermat digital Ilmupedia Berani Jawab (IBJ) Season 7.

Prestasi ini membuktikan bahwa pelajar dari Indonesia Timur memiliki potensi dan kemampuan untuk bersaing di tingkat nasional.

General Manager Mobile Consumer Business Telkomsel Region Maluku and Papua, Fajri A. Firmansyah menjelaskan, bahwa ajang tahunan yang diselenggarakan Telkomsel melalui anak perusahaannya, INDICO, ini diikuti 61.968 siswa dari seluruh Indonesia. Khusus wilayah Maluku dan Papua, tercatat 5.169 siswa dari 95 sekolah yang tersebar di Branch Ambon, Jayapura, Sorong, dan Timika.

"Ketersediaan jaringan andal Telkomsel di Papua memberikan kesempatan bagi pelajar untuk mengakses sumber belajar digital dan memungkinkan mereka beradu kemampuan dengan peserta dari berbagai daerah di Indonesia," kata Fajri.

Ia mengatakan, setelah menjadi tim terbaik Area Papua, Maluku, Sulawesi, dan Kalimantan (Pamasuka) dan melaju ke babak final, Team Minerale akhirnya mengamankan posisi ketiga nasional dan berhak memperoleh Tabungan Pendidikan Rp10 juta, piala, serta sertifikat penghargaan.

Katanya, prestasi ini menjadi kebanggaan bagi Papua dan bukti nyata besarnya potensi generasi muda di timur Indonesia. Ke depan, Telkomsel akan terus menghadirkan kegiatan serupa secara berkelanjutan.

"Di Maluku Papua, kompetisi Ilmupedia Berani Jawab memang rutin kami gelar setiap tahun di berbagai sekolah sebagai langkah percepatan digitalisasi di bidang pendidikan, agar generasi muda semakin terbiasa memanfaatkan teknologi untuk belajar," ungkapnya.

Sementara itu, Jonathan Christian Samosir salah satu anggota Team Minerale menyampaikan, mengikuti Ilmupedia Berani Jawab menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Kompetisi ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga mengajarkan pentingnya kerja sama, strategi, dan keberanian menghadapi tantangan.

"Kami bangga bisa membawa nama SMAN 1 Merauke hingga meraih prestasi di tingkat nasional,” ungkapnya. (Shanty Sang)

YPHK Bangun Rumah Transit Pendidikan di Iwaka

Foto bersama pihak yayasan dan anak-anak Kampung Iwaka

MIMIKA, BM

Yayasan Pelita Harapan Kamoro (YPHK) membangun rumah transit di Kampung Iwaka, Distrik Iwaka, Kabupaten Mimika.

Peletakan batu pertama pembangunan rumah transit ini dilakukan pada Sabtu (31/10/2026) yang diawali dengan ibadah yang dipimpin oleh Pastor Yohanis Haryoto, SCJ.

Acara ini dihadiri Mr. Travello selaku pimpinan PT Orica, Zachary Hutchen, Ketua YPMAK, Leonardus Tumuka.

Rumah transit tersebut disiapkan untuk membantu anak-anak setempat mendapatkan akses pendidikan yang lebih baik, terutama mereka yang selama ini kerap ikut orang tua mencari nafkah sehingga kesulitan mengikuti kegiatan belajar secara rutin.

Ketua YPHK, Modestus Takati, mengatakan pembangunan rumah transit merupakan upaya untuk memberikan tempat bagi anak-anak agar tetap bisa belajar sekaligus mendapatkan pemenuhan kebutuhan makan dan minum selama berada di lokasi.

Pasalnya, selama ini sebagian anak harus mengikuti orang tua mencari nafkah. Kondisi tersebut membuat mereka tidak selalu memiliki kesempatan untuk mengikuti pendidikan secara teratur.

"Anak-anak ini setiap kali ikut orang tua mencari alternatif. Yang akan kami lakukan adalah membangun rumah transit supaya anak-anak bisa hadir di sini dan kebutuhan makan minumnya dijamin," kata Modestus.

Ia menjelaskan, anak-anak akan mendapatkan makanan mulai dari sarapan pagi, makan siang hingga makanan ringan pada sore hari.

Selain pemenuhan kebutuhan dasar, rumah transit juga menyediakan waktu belajar tambahan untuk menyelesaikan pekerjaan rumah (PR) maupun tugas-tugas yang diberikan guru di sekolah. Anak-anak juga akan diberikan ruang untuk bermain dan mengembangkan diri melalui kegiatan yang mendukung proses belajar.

Sementara itu, Perwakilan manajemen PT Orica, Zachary Hutchen, mengatakan keterlibatan perusahaan dalam pembangunan rumah transit merupakan bagian dari komitmen untuk mendukung masyarakat setempat dan membuka kesempatan bagi generasi muda.

Dikatakan, peletakan batu pertama bukan sekadar menandai dimulainya pembangunan fisik, tetapi juga menjadi penegasan komitmen bersama terhadap masa depan masyarakat Kamoro.

"Kita tidak hanya menandai dimulainya pembangunan sebuah bangunan, tetapi juga menegaskan kembali komitmen kita kepada masyarakat, keluarga, dan masa depan komunitas Kamoro," katanya.

Zachary berharap rumah transit tersebut menjadi simbol kemitraan, kemajuan, dan peluang yang manfaatnya dapat dirasakan masyarakat dalam jangka panjang.

Ketua Pengurus YPMAK, Dr. Leonardus Tumuka, menyambut baik pembangunan rumah transit tersebut. YPMAK sebelumnya telah menjalin kerja sama dengan YPHK dalam pengelolaan rumah transit di kawasan Gorong-gorong, Timika.

Menurut Leonardus, pembangunan fasilitas serupa di Iwaka berangkat dari keprihatinan terhadap kondisi anak-anak yang harus ikut orang tua mencari penghasilan.

Ia mengaku pernah mendapat informasi bahwa sejumlah anak dari wilayah tersebut pergi ke SP2 untuk menunggu truk pengangkut batu dari kali, kemudian menjualnya demi membantu memenuhi kebutuhan hidup.

Leonardus mengatakan, YPMAK memiliki visi memperkuat organisasi lokal agar masyarakat dapat terlibat langsung dalam program pemberdayaan dan merasakan manfaatnya.

"Terkait dukungan terhadap rumah transit di Iwaka, kami pihak YPMAK akan melihat perkembangan pembangunan dan berkoordinasi dengan YPHK sesuai kemampuan anggaran ke depan," pungkasnya. (Shanty Sang)

Top