Pendidikan

Hari Kedua, 3.804 Siswa SMP di Mimika Mulai Ujian Sekolah

Pelaksanaan ujian sekolah di SMP N 11

MIMIKA, BM

Hari ini, Selsa (27/4) merupakan hari kedua 3.804 siswa SMP dari 58 sekolah di Mimika mulai melaksanakan ujian sekolah. Pelaksanaan ujian ini mulai dilangsungkan Senin (26/4) kemarin.

Kepala Bidang Kurikulum, Dinas Pendidikan Mimika, Manto Ginting saat dihubungi via telepon mengatakan, pelaksanaan ujian ini dilakukan secara mandiri oleh masing-masing sekolah.

Dinas hanya melakukan pemantauan dan tidak lagi berkumpul seperti sebelumnya. Termasuk mengecek soal-soal yang masih disegel.

Diketahui, pelaksanaan ujian kali ini untuk wilayah pesisir dilakukan secara tatap muka. Sedangkan untuk di wilayah kota ada yang mengikuti secara online dan ada yang offline.

Sementara, untuk jadwal dan mata pelajaran yang diujiankan diatur oleh sekolah masing-masing.

"Soalnya dibuat oleh masing-masing sekolah jadi tidak sama soalnya dengan sekolah lain, sehingga tidak ada buka segel soal lagi dari dinas," tutur Manto.

Pelaksanaan ujian di SMPN 11 dilaksanakan dengan mengikuti protokol kesehatan yang ketat dimana setiap siswa memakai masker dan duduk berjarak.

Pihak sekolah dan Satgas pada sekolah sudah menyiapkan tempat cuci tangan, masker hingga tempat duduk yang diberi jarak 1,5 meter di setiap ruangan ujian.

Kepala SMP Negeri 11 Mimika, Damaris Limbong mengatakan, di sekolahnya ada 243 siswa yang mengikuti ujian. Dengan rincian 203 siswa ujian di sekolah dan 40 lainnya mengikuti ujian secara online dari rumah.

"Untuk siswa yang mengikuti ujian di sekolah telah dilakukan kesepakatan antara sekolah dan orang tua dengan menandatangani surat pernyataan," tutur Damaris.

Dikatakan, guna menjaga social distancing, satu ruangan kelas yang biasanya diisi 32 siswa saat ini hanya diisi 16 sampai 17 siswa.

"Mereka datang diarahkan langsung mencuci tangan dan masuk ruangan juga duduk dengan jarak 1,5 meter," Ujarnya.

Damaris mengatakan, untuk standar nilai ujian disesuaikan dengan kriteria ketuntasan minimum (KKM) masing-masing mata pelajaran.

Untuk hasil ujian dan kelulusannya juga merupakan hak sekolah dengan melihat nilai kehadiran siswa mengikuti proses belajar, nilai tugas harian hingga nilai ulangan.

"Itu diserahkan sepenuhnya ke sekolah,"katanya.

Selanjutnya, pelaksanaan ujian di SMPN 2 juga dilakukan protokol kesehatan yang ketat.

Kepala Sekolah SMP Negeri 2 Mimika, Matius Sedan mengatakan, sebanyak 454 siswa mengikuti ujian secara offline atau manual dan online di sekolah menggunakan komputer sekolah.

"Dalam satu hari hanya ujian dua mata pelajaran sesuai kesepakatan semua kepala sekolah SMP di Mimika. Ujian secara offline di sekolah dilakukan dalam dua sesi yakni mulai jam 08.00 sampai 11.30 WIT dan 11.30 sampai 14.30 WIT," jelas Matius.

Dan untuk siswa yang mengikuti ujian manual mengisi enam ruang kelas. Sedangkan yang online mengisi empat ruang komputer yang juga dibagi menjadi dua sesi ujian.

"Soal-soal yang diujikan juga dibuat oleh sekolah yang tetap mengacu pada ujian tahun-tahun sebelumnya. Pada pelaksanaan ujian hari pertama ini ada satu siswa yang tidak mengikuti ujian. Bagi siswa yang tidak masuk hari ini, kebijakan kami dari sekolah ada waktu untuk ujian susulan," Ungkapnya. (Shanty)

Ini Jawaban Pemerintah Terkait Sejumlah Sekolah Sudah Lakukan Tatap Muka

Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob

MIMIKA, BM

Wakil Bupati Mimika Johannes Rettob menegaskan bahwa hingga saat ini pemerintah belum memberikan informasi atau keputusan apapun kepada SMA-SMK terkait pelaksanaan sekolah tatap muka.

Hal tersebut ditanggapi Wabup John lantaran adanya beberapa sekolah SMK di Kota Timika yang sudah melakukan pembelajaran tatap muka tanpa persetujuan pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan.

Guna mengetahui kebenaran informasi tersebut, Wakil Bupati Johannes Rettob mendatangi beberapa sekolah dan mengecek langsung dari beberapa sumber terkait hal ini.

Mengetahui hal tersebut, Wabup John pun mengecek kebenarannya dan setelah mengecek langsung kebenarannya kepada beberapa sekolah ternyata aktivitas di sekolah hanyalah praktek.

"Kami sudah turun dan lihat langsung. Laporan mereka sebenarnya bukan tatap muka belajar, tetapi mereka datang untuk praktek. Karena memang kelasnya untuk kelas praktek,"tutur Wakil Bupati Mimika Johanes Rettob saat diwawancarai di Hotel Grand Tembaga, Kamis (15/4).

John Rettob menegaskan bahwa hingga saat ini pemerintah daerah belum menerima satupun laporan dari sekolah bahwa akan melakukan tatap muka secara langsung, walau sebenarnya Pemerintah Pusat melalui Kemendikbud sudah mengijinkan aktivitas belajar tatap muka.

Sejauh ini pemerintah daerah hanya memberikan ijin kepada siswa kelas VI dan IX untuk melakukan belajar tatap muka dan akan dibahas untuk diperpanjang pada 30 April nanti.

"Untuk tingkat SMA-SMK sendiri belum dibahas karena nanti ada perubahan evaluasi lagi yang akan dilakukan. SMA-SMK ini kita belum bahas untuk kelas 1 dan 2," katanya.

Menurut Wabup John, pada prinsipnya aktivitas tatap muka bisa dilakukan apabila sekolah benar-benar menerapkan protokol kesehatan, memiliki satgas dan mendapatkan persetujuan dari orang tua siswa.

"Itu adalah prinsip-prinsip yang dikeluarkan oleh Kemendikbud. Jadi sebenarnya tidak masalah, hanya saja secara resmi mereka belum melapor ke kami (pemerintah)," Ujarnya.

Hal lain yang menurut Wabup John juga harus dipertimbangkan dalam belajar tatap muka langsung adalah para guru harus mendapatkan vaksin terlebih dahulu.

"Karena siswa yang berangkat ke sekolah mungkin dalam kondisi sehat dan jangan sampai pulang ke rumah membawa virus. Yang kita fikir anaknya ini, inilah yang perlu ditakutkan," tuturnya.

Wabup Juga meminta agar waktu jam belajar di sekolah yang dimulai 07.30 sampai 12.30 WIT harus diperbaharui karena menurutnya terlalu lama.

"Maksimalnya 3 jam tidak boleh 4 jam karena itu sudah terlalu lama. Ini harus diperhatikan oleh tiap sekolah," tegasnya. (Shanty)

Tidak Kantongi Izin Pemda, SMK di Timika Mulai Belajar Tatap Muka. Salah Siapa?

200 Pelajar SMK Tunas Bangsa Kembalikan Surat Persetujuan

MIMIKA, BM

Pandemi Covid-19 yang kini menghantui Mimika selama setahun lebih sudah tidak mampu membendung kerinduan murid maupun guru untuk melakukan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) secara normal.

Terbukti, meski belum mengantongi izin Pemerintah Daerah (Pemda) Mimika beberapa SMK di Kabuapten Mimika telah melakukan belajar tatap muka pada, Rabu (14/4).

Menanggapi tindakan beberapa sekolah yang nekat belajar tatap muka tanpa izin dari Pemda Mimika , Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK se Kabupaten Mimika, John Lemauk mengatakan kecewa dan sangat sesalkan tindakan tersebut.

Menurutnya, untuk memulai belajar tatap muka seharusnya ada izin atau komando terlebih dahulu dari Pemda Mimika.

“Memang sangat disayangkan kalau sekolah sudah jalan tapi belum ada komando secara resmi. Apalagi kalau guru-guru belum vaksin. Walaupun sudah vaksin juga memang tetap harus satu komando,” tutur Ketua MKKS SMK, John Lemauk saat diwawancarai di ruang kerjanya, Rabu (14/4).

Dikatakan, pihaknya telah memasukkan permohonan kepada pemerintah, namun sampai saat ini belum mendapatkan jawaban apakah disetujui untuk melaksanakan tatap muka atau tidak.

“Kami sudah masukkan surat. Tapi sampai sekarang belum ada perintah dari sana bahwa oke SMA-SMK sudah bisa melakukan tatap muka. Belum ada jawaban itu,” tuturnya.

Selain itu, sekolah yang sudah menerapkan belajar tatap muka belum memberikan informasi secara resmi melalui surat pemberitahuan kepada MKKS. Penyampaiannya hanya disampaikan secara lisan.

"Pemberitahuan harus disampaikan secara tertulis agar bisa menjadi pegangan pengurus. Artinya ada beberapa sekolah yang sudah buka tapi belum memberitahukan kepada kami pengurus MKSS, harap supaya segera memberitahu," ungkapnya.

"Harus ada pegangan kepada kami pengurus supaya kalau ada pertanyaan dari pemerintah atau masyarakat maka kami juga bisa jawab. Secara tertulis belum ada yang masukan surat ke MKKS agar kami bisa teruskan kepada Pemda Mimika bahkan ke Pemerintah Provinsi Papua menyangkut yang sudah tatap muka ini,” jelasnya

Ia mengatakan sekolah yang sudah menerapkan tatap muka yakni SMK Tunas Bangsa, SMKN 1 Mimika, SMK Don Bosco dan SMK Amamapare.

Ketika ditanya wartawan BM terkait apakah sekolah-sekolah ini akan mendapatkan teguran? Ia mengatakan mereka harus siap menerima konsekwensi yang akan diberikan.

"Konsekuensi kembali ke kepala sekolah masing-masing karena berani buka berarti siap bertanggung jawab. Intinya bahwa dari pengurus MKKS belum ada komando secara tertulis karena kami keluarkan komando tatap muka itu apabila sudah dikomandoi dari Pemda Mimika, ”ungkapnya.

John berharap, pemerintah bisa segera mengeluarkan penegasan sebagai jawaban dari surat yang mereka sudah ajukan agar sekolah yang belum belajar tatap muka bisa mengambil langkah selanjutnya.

“Menurut kami itu kalau bisa ada persetujuan. Mengapa? Karena sudah lebih satu tahun sekolah ini mubazir. Semua tidak efektif,” ungkapnya.

200 Pelajar SMK Tunas Bangsa Kembalikan Surat Persetujuan

Berdasarkan pantauan BeritaMimika, Rabu (14/4), 200 pelajar SMK Tunas Bangsa yang merupakan siswa kelas X dan XI mengembalikan surat persetujuan yang ditandatangani orang tua diatas materai 10 ribu sebagai bukti mereka setuju belajar tatap muka.

Jurusan di Sekolah Tunas Bangsa ada tiga program keahlian yakni perawatan sosial, akomodasi perhotelan dan administrasi perkantoran.

Sekolah ini telah melakukan proses belajar mengajar tatap muka namun tetap menjalankan protokol kesehatan secara ketat.

Sebelum masuk sekolah, siswa terlebih dahulu memeriksa suhu tubuh kemudian diarahkan mencuci tangan dan siswa pun diwajibkan menggunakan masker.

Jam belajar siswa dimulai pukul 07.30 Wit hingga jam 12.30 WIT. Tidak ada jam istirahat. Dalam sehari hanya 3 mata pelajaran. Proses belajar pun berlangsung dari Senin hingga Jumat.

“Kenapa kami tidak seperti SD dan SMP yang hanya tiga kali pertemuan dalam seminggu untuk masing-masing siswa, karena mata pelajaran kami tidak sama dengan mereka. Di SMK ada 16 mata pelajaran sehingga tidak bisa mengikuti teknis SD dan SMP,” jelas Wakasek Kurikulum SMK Tunas Bangsa, Amsar Sampetoding.

Dijelaskan, alasan SMK Tunas Bangsa sudah menerapkan belajar tatap muka adalah karena sekolah melihat proses belajar dari rumah tidaklah efektif. Bukan hanya pengetahuan dan interaksi namun juga pengenalan siswa terhadap lingkungan sekolah dinilai sangat minim.

Banyak siswa kelas X yang belum mengenal siapa guru mereka. Bahkan para siswa pun tidak saling mengenal karena selama ini hanya mengikuti proses belajar dari rumah.

“Coba dibayangkan, belajar dari rumah sudah satu tahun, tapi siswa kelas X belum kenal gurunya. Belum tahu siapa yang mengajar. Bahkan ada tadi satu yang tidak tahu kelas jurusannya. Ini adalah efek dari belajar dari rumah. Dan hari ini baru dia tahu,” ujarya.

Katanya, antusiasme siswa untuk kembali belajar tatap muka sangat tinggi. Terbukti ketika sekolah mengumumkan akan menerapkan belajar tatap muka, siswa yang tadinya tidak pernah mengambil modul dan mengumpulkan tugas langsung setuju untuk belajar tatap muka. (Shanty)

Top