Hukum & Kriminal

Sebelum Ditemukan, Mayat Perempuan Diduga Terlebih Dahulu Alami Kekerasan

Foto Istimewa/Terlihat dua anggota Inafis saat mengevakuasi mayat perempuan untuk dibawah ke RSUD Mimika.

MIMIKA, BM

Kepolisian Mimika kini tengah mendalami kasus penemuan mayat perempuan berinisial di Jalan Muara Gorong-gorong, Rabu (04/10/2023).

Mayat perempuan diketahui berinisial MW berusia 18 tahun ini diduga sebelum meninggal terlebih dahulu mengalami kekerasan.

Mayat perempuan ini ditemukan dalam posisi tekapar dengan kondisi setengah telanjang dan dikerumuni belatung bahkan hampir sebagian kepalanya tenggelam dalam rawah-rawah.

Kapolres Mimika melalui Kasi Humas, Ipda Hempi Ona bahwa mayat perempuan ini pertama kali ditemukan pada Selasa (kemarin-red) dan sudah dilaporkan ketua RT namun tidak ditanggapi.

Pada hari ini salah satu warga memberitahukn kepada seorang anggota Polres Mimika bahwa ada penemuan mayat.

"Mendapatkan laporan tersebut anggota piket Perintis bersama anggota piket Polsek Mimika Baru mendatangi TKP. Selanjutnya unit Inafis tiba lokasi untuk dilakukan olah TKP, seusai olah TKP jenazah langsung dievakuasi ke kamar jenazah RSUD Mimika,"ungkapnya.

Sementara itu Humas RSUD Mimika, Luky Mahakena saat dikonfirmasi menyampaikan bahwa jenazah tersebut kini berada di kamar jenazah dan sudah ada keluarganya yang datang.

"Betul jenazah itu sudah kami terima dan ada di ruang jenazah dan sudah ada keluarganya yang datang,” katanya. (Ignasius Istanto)

Terlibat Sejumlah Aksi Penyerangan, 1 Anggota KKB Ditangkap

Altau, anggota KKB Ndugama pimpinan Egianus Kogoya, diamankan di Polres Nabire, Papua Tengah

MIMIKA, BM

Satgas Operasi Damai Cartenz 2023 berhasil menangkap 1 anggota kelompok kriminal bersenjata (KKB) di area RSUD Nabire, Papua Tengah pada Selasa 19 September 2023 lalu.

Berdasarkan siaran pers yang diterima Beritamimika.com pada Kamis (21/9/2023), disebutkan bahwa anggota KKB tersebut berinisial ET alias LD alias Altau berusia 27 tahun.

Kepala Operasi Damai Cartenz 2023, Kombes Pol. Dr. Faizal Ramadhani, menyampaikan bahwa Altau merupakan anggota KKB Ndugama di bawah pimpinan Egianus Kogoya, sosok yang hingga kini masih melakukan penyanderaan terhadap pilot Susi Air.

Faizal mengatakan, sesuai hasil pemerikasan, diperoleh keterangan bahwa Altau telah terlibat dalam berbagai aksi penyerangan.

"Pada tanggal 17 Maret 2019, penyerangan terhadap anggota TNI di Kindibam dan berhasil merampas 2 pucuk senjata api (senpi) panjang milik TNI. Tanggal 16 Juli 2022, penyerangan terhadap masyarakat sipil di Kampung Nogolaid dan Kampung Yosoma Kenyam yang mengakibatkan 11 masyarakat meninggal dunia dan 2 luka-luka," papar Faizal.

Selanjutnya pada tanggal 19 Juli 2022, kata Faizal, Altau terlibat kontak tembak dengan aparat keamanan di Kampung Nogolaid, Distrik Kenyam.

Kemudian pada 6 Januari 2023, Altau terlibat aksi penyerangan disertai penembakan terhadap Pos Kotis Brimob Satgas Damai Cartenz di Koteka.

"Pada tanggal 25 Juli 2022, ia terlibat dalam penghadangan masyarakat dan merampas HP di Jalan Poros Kenyam – Batas Batu, Distrik Kerepkuri. Lalu pada tanggal 4 Agustus 2022, terlibat dalam pembakaran alat berat milik PT Tunas Jaya Irian yang mengakibatkan 4 alat berat rusak," ungkap Faizal menambahkan.

Sementara Kasatgas Humas Ops Damai cartenz-2023, AKBP. Dr. Bayu Suseno, mengatakan bahwa pada saat dilakukan penangkapan, terdapat sejumlah barang bukti yang diamankan.

"Barang bukti yang diamankan dari tangan pelaku berupa 1 buah tas selempang hitam biru, 1 buah cas Oppo, uang tunai 750.000 dan 3 unit HP (2 Nokia, 1 Android)," ujar Bayu.

Bayu menyampaikan, saat ini pelaku tersebut telah diamankan di Polres Nabire untuk dilakukan pemeriksaan intensif lebih lanjut.

Dia juga menegaskan bahwa Satgas Damai Cartenz akan terus melakukan upaya pengembangan dan penegakan hukum terhadap KKB.

"Kami akan terus melakukan upaya pengejaran, penangkapan, dan penegakan hukum terhadap KKB demi terjaganya situasi kamtibmas yang kondusif di Papua" pungkas Bayu. (Endy Langobelen)

Nyatakan Duka Nasional, OPM Rilis 5 Nama yang Gugur di Pegunungan Bintang

Anggota TPNPB Kodap 35 Bintang Timur di bawah pimpinan Ananias Ati Mimin

MIMIKA, BM

Manajemen Markas Pusat Komnas TPNPB-OPM menyatakan duka nasional atas meninggalnya lima anggota TPNPB Kodap 35 Bintang Timur di Distrik Serambakon, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua Pegunungan pada 30 September 2023 lalu.

Juru Bicara Komnas TPNPB, Sebby Sambom, melalui siaran pers menyampaikan bahwa pihaknya telah menerima laporan dari Panglima TPNPB Kodap XXXV Bintang Timur pada hari ini, Senin (2/10/2023), bahwa lima anggotanya telah gugur ditembak TNI-Polri.

"Lima anggota TPNPB telah gugur di medan perang, di wilayah Distrik Serambakon, Kabupaten Pegunungan Bintang akibat ditembak oleh pasukan teroris yaitu anggota TNI dan Polri," ujar Sebby.

Berdasarkan laporan yang diterima, Sebby menjelaskan bahwa peristiwa tewasnya kelima anggota TPNPB tersebut terjadi di Kampung Modusit sekitar pukul 05.00 waktu setempat.

Disampaikan bahwa pada saat itu, kelima korban sedang tidur di salah satu rumah yang berada di dalam hutan.

"Setelah itu, TNI masuk kepung di rumah yang pasukan TPNPB tidur itu, lalu serang menggunakan sniper, basoka, dan berbagai senjata lainnya," ungkapnya.

Usai melumpuhkan kelima korban, lanjut Sebby, aparat kemudian mengamankan beberapa senjata, amunisi, dan beberapa barang lainnya milik TPNPB.

"Setelah di lumpuhkan, TNI merampas senjata milik TPNPB Kodap 35 bintang timur. 2 pucuk senjata laras panjang, 1 buah pistol, amunisi atau peluru sekitar 300-an lebih, HP 2 buah, 1 bendera bintang fajar, uang, dan lain-lain," tutur Sebby.

Adapun kelima korban yang tewas dalam peristiwa ini yakni Komandan Batalion 1 Pamerasta, Letkol Otobius Mimin; Komandan Wakil Intel Kodap, Neas Ati Mimin; Otto Kasipka; Alexs Lepki; dan Tarkus Akmer.

"Bukti dan foto belum bisa kami pastikan karena medan dikuasai oleh TNI-Polri gabungan," kata dia.

Lebih lanjut Sebby menyampaikan bahwa pihaknya pun mendapatkan laporan bahwa jenazah kelima korban telah dimutilasi oleh TNI-Polri. Menurutnya, hal itu yang membuat pihak aparat Indonesia hingga kini tidak merilis foto kelima jenazah.

"Kami juga terima laporan bahwa 5 anggota TPNPB yang gugur ini telah dimutilasi seperti binatang. Oleh karena itu, TNI-Polri tidak umumkan foto dan video anggota kami yang mereka tembak mati," jelas dia.

"Oleh karena itu, kami sampaikan kepada masyarakat internasional dan PBB bahwa pasukan militer dan polisi Indonesia adalah benar-benar teroris (the Indonesian Military and Police are real terroris in West Papua)," imbuhnya.

Sebby menegaskan, sebagai bentuk penghormatan terhadap kelima anggota TPNPB yang gugur di medan perang, maka hari ini 2 Oktober 2023 diumumkan duka nasional secara resmi.

"Dan perlu diketahui oleh seluruh komponen rakyat bangsa Papua bahwa mereka (kelima korban) adalah Pahlawan Nasional bangsa Papua karena mereka gugur dalam membela dan selamatkan bangsa Papua dari kepunahan akibat kejahatan militer dan polisi Indonesia yang benar-benar teroris," tegas Sebby.

Sementara Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz 2023, AKBP Dr. Bayu Suseno, ketika dikonfirmasi menyampaikan bahwa tudingan TNI-Polri melakukan mutilasi terhadap kelima jenazah adalah tidak benar.

"Tidak benar itu, bang," ujar Bayu singkat saat dikonfirmasi melalui pesan Whatsapp, Senin (2/10/2023) sore.

Meski demikian, Bayu tidak menjawab pertanyaan perihal kondisi dan keberadaan kelima jenazah saat ini. (Endy Langobelen)

Top