Kesehatan

Reynold : Pembangunan Infrastruktur Harus Sejalan dengan Pembangunan Manusia


Kadinkes Mimika, Reynold Ubra saat menyampaikan materi

MIMIKA, BM

Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika menggelar pertemuan lintas sektor terkait percepatan penurunan Angka Kematian Ibu (AKI), Angka Kematian Bayi (AKB) dan stunting di Kabupaten Mimika, selama 3 hari, Selasa (29/6) hingga Kamis (1/7).

Kegiatan ini dihadiri oleh dinas terkait, Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK)Kabupaten Mimika, kepala distrik dan pimpinan organisasi profesi bidang kesehatan.

Pada Selasa (29/6), Reynold menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur harus sejalan dengan pembangunan manusia dan jangan bertolak belakang.

"Gedung-gedung banyak, lampu jalan ada tetapi ada kematian anak dan bayi prematur, itu menjadi persoalan. Data-data kesehatan mengintrospeksi apakah betul kita sebagai pelayan masyarakat sudah menjawab kebutuhan masyarakat dari sisi pengembangan sumber daya manusia (sdm) atau belum,” ucapnya.

Dikatakan bahwa ukuran kematian rata-rata dari penduduk dalam suatu daerah atau wilayah tertentu (mortalitas) ibu dan anak dipengaruhi pada pelayanan kesehatan dan lingkungan.

“Puskesmas yang bagus apakah pelayanan juga bagus. Fasilitas pelayanan kesehatan berbasis rumah ini menjadi persoalan besar. Kita semua memotret pelayanan kesehatan berstandar tetapi kita belum memikirkan komoditi base camp (rumah-red), karena kami di Dinas Kesehatan, sektor kesehatan memiliki keterbatasan. Oleh karena itu perlu keterlibatan lintas sektor untuk mengatasi itu,” jelasnya

Ia memaparkan ibu hamil pertama kali datang ke puskesmas memeriksakan diri namun setelah itu menghilang. Ia menyayangkan adanya kejadian ini

“Ibu yang resiko tinggi akan kematian tetapi tidak ada yang memberi Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Ini miris. Bayangkan ibu resiko tinggi rata-rata ibu hamil setiap tahun adalah hampir 6000 (2 persen). Di Mimika berarti dari 5000 sekitar 50 yang mendapat PMT, yang lainnya bagaimana? Jadi kita sedang menginvestasi bayi itu tidak sehat,” imbuhnya

Lanjutnya, jika angk gizi buruk naik terus dan kenaikan berat badan bayi yang sangat kurang maka itu adalah investasi untuk stunting.

“Rata-rata masyarakat Mimika menggunakan air per hari diatas 20 liter. 13 dari 100 rumah tangga menggunakan jamban, sisanya ini penyumbang stunting. Air Jamban itu dibuang kemana? jawabannya hampir 80 dari 100 orang yang ditanya itu dibuang di got. Indikasi rumah yang bersih adalah tidak boleh ada lalat, ternyata data pada 2018 mengatakan yang buang di penampung tertutup hanya empat persen dari 100 tetapi hampir 80 persen dibuang ke got,” sesalnya.

Ia meminta agar persoalan seperti ini tidak hanya menjadi tanggungjawab Dinas Kesehatan namun juga lintas sektor terkait.

“Bayi yang stunting diberikan PMT kalau datang ke posyandu, namun jika di rumah saja ya tidak dapat. Saya pikir puskesmas harus berkolaborasi. Yang mendapatkan PMT adalah anak umur 6 sampai 59 bulan dan itu ada di posyandu,” paparnya.

Reynold mengatakan, derajat kesehatan ibu, status bayi dan ibu hamil menjadi permasalahan. Hingga saat ini belum tejadi perubahan yang bermakna padahal sudah ada keterlibatan BPJS.

Ia mengatakan saat ini banyak masyarakat Mimika yang telah menjadi peserta BPJS. Hal ini berarti, warga telah mendapat jaminan paket pelayanan kesehatan nasional yang dijamin oleh pemerintah.

Dengan demikian maka seharusnya, pelayanan masyarakat terutama pelayanan kesehatan ibu, gizi, rumah bersih, air bersih, pengelolaan sampah dan limbah sudah didesain secara baik.

“Kita sebagai pelayan publik harus turut membantu pemerintah untuk bagaimana pelayanan kesehatan ibu dan anak bisa dioptimalkan dan ini dipengaruhi oleh lingkungan. Bidan ada, dokter ada tetapi kalau sampai di rumah tidak ada air bersih, sampah buang sembarangan, PMT tidak didapat, ke posyandu tidak datang maka percuma saja," ungkapnya.

Menurutnya peran lintas sektor sangat penting karena merupakan satu tim atau satu kesatuan dengan Dinas Kesehatan. Jika pelayanan berbasis masyarakat dengan melibatkan lintas sektor kuat, maka dapat berkontribusi terhadap pencapaian 75 hingga 80 persen.

Sementara itu, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Mimika Yulianus Sasarari mengatakan pembangunan kesehatan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional.

Hal ini untuk mewujudkan visi misi presiden, yaitu pembangunan sdm yang dimulai dengan menjamin kesehatan ibu hamil, kesehatan bayi, kesehatan balita dan kesehatan anak usia sekolah.

Dikatakan asisten 1, Pemerintah Kabupaten Mimika terus berkomitmen dalam mengedepankan berbagai urusan pada bidang kesehatan melalui program-program prioritas guna tercapainya kesehatan masyarakat di Mimika.

"Setidaknya ada beberapa program prioritas pembangunan pada bidang kesehatan yang menjadi fokus pemerintah Kabupaten Mimika yakni penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) serta pencegahan stunting,” tuturnya.

Dikatakan bahwa angka kematian ibu dan bayi baru lahir di Indonesia dalam satu dekade terakhir mengalami penurunan, namun masih tergolong tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga di Asia Tenggara.

Faktor yang mengakibatkan AKI dan AKB di Indonesia, selain kehamilan di bawah umur, juga karena kurangnya pengetahuan akan kesehatan sebelum dan selama masa kehamilan serta sarana prasaran atau fasilitas kesehatan yang belum memadai.

“Dalam masa wabah corona seperti sekarang ini, pelaksanaan kegiatan di bawah program prioritas harus terus didorong, hal ini dilakukan untuk mencapai target nasional karena dalam kondisi apapun pencapaian program prioritas nasional akan selau dipantau,” ujarnya

“Sebagai ujung tombak penyedia layanan publik dalam bidang kesehatan, saya berharap kepada Dinas Kesehatan Mimika agar terus berinovasi dan melakukan penyuluhan kepada masyarakat atau ibu hamil akan pentingnya menjaga kesehatan sebelum dan sesudah kehamilan. Ini untuk menghindari AKI dan AKB serta pentingnya perbaikan gizi bagi balita di Mimika sehingga penurunan stunting dapat kita wujudkan guna melahirkan sdm yang sehat, cerdas dan sejahtera,” tutupnya (Elfrida)

Banyak Rumah Warga Di Kampung Mawokauw Jaya Tidak Memiliki MCK

Kepala Kampung Mawokauw Jaya, Edyson Rafra

MIMIKA, BM

Kampung Mawokauw Jaya, Distrik Wania, Kabupaten Mimika memiliki sekitar 800 jiwa penduduk. Beraneka ragam suku tinggal menetap di sana namun mereka hidup secara berkelompok berdasarkan suku (homogen-red).

Seperti di wilayah Rukun Tangga (RT) 1 ditinggali oleh masyarakat dari suku Moni, RT 2 oleh masyarakat yang berasal dari Sorong dan wilayah RT 3 didiami masyarakat suku Kei.

Walau demikian, kehidupan yang homogen ini tidak menjadi pembatas bagi mereka untuk saling berdampingan secara rukun dan damai serta saling menghargai.

Hanya saja, sesuatu yang terlihat mencolok di kampung ini adalah banyaknya rumah warga yang belum memiliki fasilitas mandi, cuci, kakus (mck) sehingga untuk membuang air lebih, kadang mereka numpang atau melakukannya di tempat tertentu.

Hal ini tentunya berbanding terbalik, jika kita lihat di beberapa wilayah Mimika masih ada yang memiliki mck namun justru tidak terawat dan difungsikan dengan baik.

Hebatnya, karena keadaan ini Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Ruang (PUPR) akan membantu membangun 17 unit fasilitas mck di Kampung Mawokauw Jaya.

Kepala Kampung Mawokauw Jaya, Edyson Rafra yang ditemui BeritaMimika di Grand Tembaga mengatakan 17 unit fasilitas mck ini dikerjakan dalam dua tahap.

“Sejak bulan Juni lalu pengerjaan untuk 10 unit dan 8 diantaranya sudah selesai, menyisakan 2 lagi. Sementara 7 sisanya juga sedang dalam pengerjaan. 17 Mck dibuat tersebar di RT 1, 2, 3, 5 dan 6,” ungkapnya.

Edyson Rafra mengatakan salah satu alasan mengapa masih banyak warganya belum memiliki mck karena faktor ekonomi. Sehingga dengan bantuan tersebut, akan menjadi jawaban atas persoalan yang selama ini dialami warganya.

“Mereka layak untuk mendapatkan bantuan itu. Dengan adanya mck ini sangat berguna untuk kepentingan umum dan masyarakat kami. Masyarakat pun tidak menghalangi dan memberi respon yang baik serta mendukung karena mereka sangat butuh mck,” terangnya.

Pemerintah Kampung Mawokauw Jaya sebelumnya telah merencanakan pembangunan mck pada tahun lalu namun karena pandemi covid, hal ini belum dapat dilakukan karena dana desa sebagian besar dialihkan untuk penanganan covid dan membantu ekonomi warga. (Elfrida)

Hampir 3000 Orang Di Mimika Terpapar Covid-19

Reynold Ubra, Kepala Dinas Kesehatan Mimika

MIMIKA, BM

Sama seperti daerah lainnya, sudah setahun lebih pemerintah dan masyarakat Mimika berjibaku melawan momoknya pandemi Covid-19.

Dimulai dari kasus pertama di 2020, hingga 25 Juni 2021 jumlah kasus positif Covid-19 di Mimika mencapai 2786 kasus.

Walau hampir mencapai 3000 kasus namun tingkat kesembuhan penderita covid di Mimika sangat tinggi. 90 persen dari jumlah telah dinyatakan sembuh.

"Jadi kita masih diatas angka kesembuhan provinsi maupun nasional. Sementara kasus kematian 20 atau 0,7 persen," ungkap Kadinkes Mimika Reynold Ubra

Dalam enam bulan terakhir (Januari-Juni 2020), pada minggu pertama hingga keempat kalender epidemilogi, kasus Covid-19 di Mimika puncaknya terjadi di minggu kedua bulan Maret.

Rata-rata perhari mencapai hingga 28 kasus kemudian mengalami penurunan pada bulan Juni sampai tanggal 25 dimana rata-rata kasus per hari hanya 5.

"Di bulan Mei kemarin rata-rata kasus 6 Jadi Mimika kasusnya terkendali. Ini peluang besar ini momen besar bagaimana memberikan perlindungan seutuhnya kepada masyarakat," ungkapnya.

Reynold juga memberikan pemahaman terhadap sebagian warga Mimika yang masih takut dan memiliki anggapan negatif terhadap vaksin yang diberikan.

Menurutnya, jika warga yang telah divaksin terpapar covid maka vaksinasi Covid-19 memberikan daya lindung terhadap tingkat kematian hinga 96 persen dan daya lindung capai 96 persen

"Artinya bahwa siapapun yang sudah divaksin jika dia terpapar maka untuk sampai pada gejala berat dan kritis itu sangat kecil kemungkinannya," jelasnya. (Ronald)

Top