Kesehatan

Sambut Imlek, PSMTI Mimika Lakukan Sejumlah Giat Sosial, Salah Satunya Donor Darah

Wakil Ketua PSMTI Bram Raweyai dan Ketua Panitia Imlek 2023 Vincen Tius Hendra saat menyaksikan proses donor darah

MIMIKA, BM

Dalam rangka memperingati Hari Imlek 2023, Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kabupaten Mimika melakukan kegiatan donor darah, Sabtu (03/12/2022).

Kegiatan ini dilakukan selama tiga hari hingga Senin (5/12/2022) di samping kiri Swalayan Ramayana, Jalan Cenderwasih dan merupakan kerjasama antara PSMTI bersama PMI, Ramayana, UMKM dan Kadin Mimika.

Kepada BM, Wakil Ketua PSMTI Mimika atau dulu dikenal dengan sebutan HPKT, Bram Raweyai mengatakan bahwa setetes darah sangat berarti bagi kehidupan orang lain.

"Tujuan sosial dari kegiatan ini adalah untuk bagaimana darah yang kita miliki dapat bermanfaat bagi banyak orang. Kita berharap donor darah yang kita lakukan ini dapat membantu dan menyelamatkan orang lain yang membutuhkan," ungkapnya.

Bram juga mengajak warga Mimika yang saat ini sedang membanjiri Ramayana agar jika berkenan dapat mendonorkan darah mereka untuk sesamanya yang membutuhkan.

"Donor darah ini merupakan rangkain kegiatan sosial dalam rangka memperingati hari Imlek pada 22 Januari 2023 nanti. Ini juga merupakan kerjasama kami PSMTI dengan PMI, Ramayana, UMKM dan Kadin Mimika," ungkapnya.

Sementara itu Ketua Panitia Hari Imlek, Vincen Tius Hendra kepada BM mengatakan dalam rangka memperingati Hari Imlek 2023, PSMTI melakukan sejumlah kegiatan sosial.

Setelah donor darah selama tiga hari, pekan depan PSMTI akan menyalurkan bantuan pendidikan ke SDN 10 Poumako berupa pakaian seragam, sepatu, tas, alat tulis dan alat olahraga.

Minggu berikutnya, PSMTI juga akan memberikan bantuan kasih kepada warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Mimika di SP5.

"Perayaan hari Imlek tanggal 22 januari. Pada momen itu kita lakukan misa inkulturasi di Gereja Katolik Sempan. Sementara perayaanya kita lakukan pada tanggal 29 Januari di gedung Eme Neme Yauware sekaligus peresmian nama dari HPKT menjadi PSMTI," ungkapnya.

"Tapi sebelum perayaan Imlek nanti, pada awal Januari juga kita akan lakukan pembersihan dan pengecatan ulang tiga bundaran jalan di Mimika. Ini merupakan bagian dari program kita," ujarnya. (Ronald Renwarin)

Dinkes Mimika: Setiap Tahun Rata-rata HIV di Angka 400 Kasus


Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra

MIMIKA, BM

Dalam rentang waktu 10 tahun terakhir, Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika mencatat rata-rata kasus HIV per tahun ada di angka 400 kasus.

Sementara untuk tahun 2022, dari Januari hingga September, angka kasus HIV baru di kisaran 300 kasus.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika, Reynold Ubra, saat ditemui pada sebuah kegiatan di SMP Negeri 2, Timika, Papua Tengah, Senin (5/12/2022).

"Kelompok yang terbesar adalah di kelompok usia produktif. Jadi di tahun ini, yang sudah tes HIV sudah 32.329 orang. Dan jumlah kasus yang kita temukan dari Januari itu HIV-nya ada 237 dan AIDS-nya 23," ujarnya.

Reynold menyebutkan, dari keseluruhan kasus yang ditemukan, penularan terbesar masih melalui hubungan seksual.

"Data riset kesehatan dasar (Riskesda) Kabupaten Mimika itu prevalensinya HIV di populasi masyarakat umum itu 1,02 persen atau lebih rendah dari pada prevalensi HIV di Papua," ungkapnya.

Lebih lanjut disampaikan bahwa saat ini Dinas Kesehatan selalu melakukan deteksi serta pengobatan sedini mungkin lewat pengembangan pelayanan HIV hingga di tingkat Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).

"Puskesmas-puskesmas di dalam kota saat ini sudah bisa langsung untuk meberikan ARV (antiretoviral), yang mana dulunya itu harus ke rumah sakit," ujarnya.

Tahun ini, kata Reynold, pihaknya juga melakukan evaluasi untuk pengobatan terutama pada ibu hamil lewat paket layanan konseling test HIV termasuk pemeriksaan sifilis.

"Teman-teman kita saat ini baru kembali dari beberapa kampung kerja sama dengan PT Freeport. Itu dari hampir 6000 orang yang dilayani termasuk pemeriksaan HIV, itu hanya ditemukan dua kasus. Saya pikir ini gambaran yang sangat baik," katanya.

Dengan melihat bahwa sebagian besar penularan melalui hubungan seksual, Reynold menekankan agar harus dilakukan sosialisasi yang edukatif kepada generasi muda agar tidak melakukan hubungan seks dengan berganti-ganti pasangan.

"Kemudian tingkatkan pengetahuan. Komunikasi ini harus lebih kuat untuk bisa saling mengedukasi . Saya pikir itu gambaran di Timika. Nah, untuk 90 persen sampe di tahun 2030, itu 90 persen orang yang melakukan testing, testing kami di Mimika ini sudah lebih dari 25.000 tes per tiap tahun," terangnya.

"Kemudian 80 persen lebih orang yang ditemukan HIV itu minim ARV. Dan hari ini yang in treat ARV itu ada di 75 persen atau sekitar 750 lebih yang sedang dipantau ARV," imbuhnya.

Di samping itu, dia juga menyampaikan bahwa tahun depan Dinas Kesehatan akan melakukan evaluasi ARV, pemeriksaan Viral Load, serta pemeriksaan CD4.

"Itu kami coba buat untuk ada di layanan puskesmas. Itu sudah kami programkan di tahun 2022 untuk program tahun 2023. Kuncinya adalah tes lebih cepat dan kemudian diobati supaya ARV itu bisa memutuskan rantai penularan juga," ujarnya.

Selain itu, terkait dengan pemberian edukasi untuk meningkatkan pengetahuan, pihaknya juga bakal menghidupkan kembali jejaring edukasi lewat gereja, masjid, serta komunitas pemuda dan pelajar.

"Ini yang harus kami lakukan di tahun depan yaitu meningkatkan komunikasi pengetahuan dan perilaku melalui promosi kesehatan. Pendekatannya adalah kerja sama dengan gereja, masjid, pondok-pondok pesantren, dan pemuda-pemudi di kampung," tandasnya.

"Yang kedua adalah isu upaya gizi masyarakat guna mengembangkan perbaikan gizi masyarakat terutama pada anak remaja dan ibu hamil. Dan yang ketiga adalah bagaimana memastikan sanitasi lingkungan ini harus klir. Jadi, itu program prioritas upaya pencegahan yang kami lakukan," pungkasnya. (Endy Langobelen

30 Bidan Ikut Pelatihan Pelayanan Kontrasepsi IUD dan Implan Guna Dapatkan Sertifikasi

Suasana berlangsungnya sosialisasi

MIMIKA, BM

30 bidan yang berada di Kabupaten Mimika mengikuti Pelatihan Pelayanan Kontrasepsi Bagi Bidan Pada Fasilitas Kesehatan.

Para bidan berasal dari 26 puskesmas yang ada di Mimika dan satu dari RSUD.

Kegiatan diadakan oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Mimika.

Giat ini diadakan di Hotel Horizon Diana selama empat belas hari terhitung sejak Selasa (22/11/2022) hingga Selasa (6/12/2022).

Delapan hari kegiatan akan dilaksanakan secara daring dan menghadirkan nara sumber dari Jayapura sementara lima hari secara luring serta satu hari guna penutupan.

Kepada BeritaMimika Kepala Seksi Ketahanan Kesejahteraan Keluarga Supiah Narawena mengatakan hal ini merupakan bentuk bekerja sama antara BKKBN provinsi, Balai Pelatihan Kesehatan Provinsi, Ikatan Bidan Provinsi dan Ikatan Bidan Mimika.

“Kenapa kegiatan ini sangat penting karena sudah lama bidan kita banyak yang sudah bisa melakukan pemasangan alat kontrasepsi seperti IUD dan implan tetapi mereka belum punya sertifikat sebagai legalitas,” tuturnya.

Menurutnya, berdasarkan peraturan tentu para bidan tidak bisa memasang tetapi dikarenakan kebutuhan di daerah sehingga mereka harus miliki sertifikat tersebut.

“Kami merasa bertanggung jawab sebagai bagian dari tenaga kesehatan dan kita merancang dalam kegiatan di tahun ini. Ini akan berkesinambungan terus, tahun depan kita akan upayakan semua bidan bisa mendapat sertifikat lewat kegiatan ini,” terangnya.

Dikatakan, kegiatan ini merupakan yang pertama kali dilaksanakan di Papua melalui OPD, karena sebelumnya dilakukan oleh BKKBN provinsi dengan keterwakilan satu bidan satu kabupaten saja.

“Bidan-bidan merasa kurang dan kesempatan kecil karena setiap tahun hanya satu orang sedangkan jumlahnya ribuan. Kalau di Timika ada 300-an tetapi untuk sementara 30 orang dulu. Tahun depan kita akan upayakan semua bidan dapat sertifikat,” tandasnya.

Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Keuangan Pemkab Mimika, Maria Rettob mengatakan program KB merupakan salah satu pilar utama dalam upaya membantu penurunan kematian ibu dan bayi.

Program KB berkontribusi dalam mengatur jarak kehamilan dan pencegahan terjadinya kehamilan yang tidak direncanakan.

“Semakin berkembangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya memiliki keluarga yang terencana mengakibatkan penggunaan alat kontrasepsi semakin meningkat. Hal ini mengakibatkan perlunya tenaga medis untuk dapat melayani berbagai jenis alat kontrasepsi yang paling cocok,” ungkapnya.

Lanjutnya, metode kontrasepsi seperti IUD dan implan memerlukan kompetensi khusus dalam pemasangan maupun pencabutannya sehingga memerlukan pengetahuan dan kemampuan yang khusus.

“Pelatihan ini dilaksanakan untuk menyiapkan bidan agar memiliki pengetahuan, keterampilan dan perilaku sebagaimana menjadi tujuan pelatihan berbasis kompetensi sehingga mampu berkontribusi penuh pada pelayanan dan peningkatan kualitas KB di masyarakat,” pungkasnya. (Elfrida Sijabat)

Top