Budaya

ASN Non Muslim Distrik Wania Ikut Menjaga Pelaksanaan Shalat Ied di Tiga Mesjid 

Kadistrik Wania Ria Mandiwa bersama salah satu tim pengawasan Shalat Ied berdiri bersama usai melakukan pengamanan

MIMIKA, BM

Aparatur Sipil Negara (ASN) Distrik Wania yang non muslim turut serta melakukan pengamanan jalannya Shalat Ied di tiga mesjid di Wania.

Pengamanan ini juga melibatkan pihak kepolisian, lurah dan juga kepala kampung di distrik tersebut.

Kadistrik Wania, Ria Mandiwa mengatakan sebelumnya pada Jumat kemarin, pihaknya telah mendatangi tiga mesjid ini untuk memantau kesiapan dan kebersihan pelaksanaan Shalat Ied.

Adapun tiga mesjid tersebut adalah Mesjid Jami’ Baiturrahman (SP4), At-Taubah (SP1) dan Mesjid Jami’ Ai Muhajirn (SP1).

“Kami turun langsung agar masyarakat dapat merasakan kehadiran pemerintah terutama di momen seremonial keagamaan seperti ini. Dan kami bersyukur karena pelaksanaan Shalat Ied di tiga mesjid ini berjalan aman dan lancar,” ungkap Kadistrik Wania.

Pengamanan dan pengawasan ini juga melibatkan 8 anggota kepolisian Polsek Mimika Baru.

“Sebelumnya kami juga menyurati Polsek Mimika Baru untuk bantuan pengamanan. Jadi pengamanan di tiga mesjid ini kami lakukan bersama pihak keamanan,” ungkapnya.

Ria Mandiwa mengatakan pengamanan dan pengawasan di tiga mesjid ini dibagi dalam tiga kelompok. Tiap kelompk terdiri atas 10 orang.

“Tujuan dari pengamanan ini juga sebagai
bentuk toleransi dan kita pemerintah harus menjadi yang terdepan sehingga masyarakat tahu bahwa kami ada, tidak hanya dalam pelayanan pemerintahan saja namun juga dalam urusan sosial maupun keagamaan,” ungkapnya. (Ronald R)

Idul Fitri 1447 H : Bupati Mimika Meminta Nilai-Nilai Kebersamaan dan Toleransi Terus Dijaga

Suasana Shalat Ied di pelataran Eme Neme Yauware, Sabtu (21/3/2026)

MIMIKA, BM

Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah merupakan salah satu kabupaten yang selama ini dikenal sebagai miniaturnya Indonesia.

Ada keberagaman suku, agama, bahasa dan budaya yang menyatu di negeri Amungme Kamoro dan sejauh ini, masyarakat terus mempertahankan dan menjaga keberagaman tersebut dengan sangat baik.

Di momentum Sholat Idul Fitri 1447 H/2026, Bupati Mimika Johannes Rettob berharap agar nilai-nilai toleransi dan kebersamaan ini terus dijaga dan dilestarikan.

JR menegaskan bahwa Pemda Mimika terus berkomitmen mendukung segala bentuk kehidupan beragama yang harmonis dan saling menghargai.

Ia juga mengatakan bahwa pembangunan daerah tidak harus berfokus pada persoalan fisik semata karena yang juga terpenting adalah membangun nilai-nilai keimanan dan ketakwaan serta kebersamaan di dalam masyarakat.

"Mari bersama kita jadikan momentum Idul Fitri ini sebagai sarana memperkuat komitmen dalam menciptakan kedamaian, keamanan, dan ketertiban di tengah masyarakat kita," harapnya.

Menurut Bupati John, Idul Fitri merupakan momentum kemenangan bagi umat Islam setelah sebelumnya menjalani ibadah puasa sebulan penuh.

Kemenangan ini menurutnya bukan hanya tentang bagaimana menahan rasa lapar dan haus namun juga keberhasilan dalam mengendalikan diri, meningkatkan ketakwaan, serta memperbaiki akhlak.

“Kemenangan ini menjadi saat yang tepat bagi kita semua untuk saling memaafkan dan memperkuat persaudaraan tanpa memandang perbedaan suku, agama, ras, maupun golongan,”kata Bupati John.

Bupati John juga meminta umat Muslim di Mimika untuk terus mengamalkan nilai-nilai Ramadan seperti kejujuran, kesabaran, kepedulian sosial serta semangat berbagi kepada sesama.

“Jangan biarkan semangat ibadah menurun setelah Ramadan tetapi harus terus ditingkatkan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Pada akhirnya Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama menjaga persatuan, mendukung pembangunan daerah, serta memperkuat solidaritas sosial demi Mimika yang lebih baik ke depan.

“Atas nama pribadi, keluarga, dan Pemerintah Kabupaten Mimika, saya mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, mohon maaf lahir dan batin,”ungkapnya.

Perlu diketahui, sentral pelaksanaan Shalat Ied tahun ini, Sabtu (21/3/2026) di Timika dipusatkan di halaman Graha Eme Neme Yauware.

Sholat Idul Fitri yang dihadiri ratusan umat ini dipimpin H. Muslimin, S.Ag., M.Pd. Imam Kasi Bimas Islam Kemenag Mimika.

Pantauan Shalat Idul Fitri oleh media ini berlangsung dengan khidmat dan dipenuhi antusias warga karena hujan tidak dapat membatasi kerinduan umat muslim untuk merayakan perayaan kemenangan ini. (Red)

Sambut Hari Raya Nyepi, Bupati dan Wakil Bupati Mimika Lepas Peserta Pawai Ogoh-Ogoh

Foto bersama usai iegiatan

MIMIKA, BM

Bupati Mimika, Johanes Rettob dan Wakil Bupati Mimika, Emanuel Kemong secara resmi melepas peserta pawai ogoh-ogoh yang merupakan Tradisi Leluhur umat Hindu, yakni Ritual dalam rangka mewujudkan keseimbangan dan Keharmonisan Alam.

Pelaksanaan Pawai Ogoh-ogoh yang diselenggarakan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Mimika dimulai di Lapangan Eks Pasar Swadaya, Rabu (18/3/2026) sore.

Ogoh-ogoh sendiri adalah sebuah simbol atau yang melambangkan sifat angkara murka, kesombongan, keserakahan dan prilaku buruk yang ada pada diri manusia, sehingga Ogoh-ogoh pun di arak keliling untuk kemudian dibakar, dengan maksud dan tujuan agar prilaku buruk dan negatif yang ada pada diri manusia bisa ikut bersama ogoh-ogoh yang pada akhirnya terbakar habis bersama dengan prilaku buruk tersebut.

Untuk diketahui, pawai ogoh-ogoh mengambil rute dari lapangan eks Pasar Swadaya menuju lampu merah Bank Papua, kemudian kembali ke titik awal.

Pawai ini turut dimeriahkan dengan tarian Cakalele dari Maluku, atraksi barongsai, serta peserta pembawa obor.

Bupati Mimika, Johanes Rettob dalam sambutannya mengucapkan terima kasih karena tahun ini pelaksanaan pawai ogoh-ogoh kini digelar di tengah Kota Timika. Karena, tahun lalu kegiatan ini hanya dilaksanakan di Pura.

“Dulu pawai hanya dilakukan di sekitar pura di SP4, tetapi sekarang sudah bisa dilaksanakan di tengah kota sehingga seluruh masyarakat dapat melihat dan memahami keberagaman yang ada di Mimika,” kata Bupati Mimika Johanes Rettob.

Bupati mengatakan, momen ini menjadi penting untuk memperkuat nilai toleransi antar umat beragama, terlebih pada tahun ini perayaan Nyepi, Idul Fitri, dan Paskah berlangsung dalam bulan yang sama.

“Ini momentum untuk terus menjaga harmoni dan kerukunan di tengah masyarakat,” ujarnya.

Kegiatan Tawur Agung Kesanga ini bukan hanya sebagai rangkaian ritual keagamaan semata, tetapi juga memiliki makna yang sangat dalam dalam menjaga keseimbangan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam semesta.

"Hari Raya Nyepi merupakan momentum yang sangat sakral bagi umat Hindu. melalui catur brata penyepian, kita diajak untuk melakukan introspeksi diri, menahan diri dari segala aktivitas duniawi, serta mendekatkan diri kepada sang pencipta. Nilai-nilai ini sejatinya tidak hanya relevan bagi umat Hindu saja, tetapi juga menjadi pelajaran berharga bagi kita semua dalam kehidupan bermasyarakat,"ungkapnya.

Sementara itu, Ketua PHDI Mimika, I Nyoman Dwitana, dalam sambutannya menyampaikan bahwa tema Nyepi tahun ini adalah “Vasudhaiva Kutumbakam (Satu Bumi, Satu Keluarga)”.

“Tema ini mengandung makna bahwa umat Hindu di Mimika berkomitmen untuk hidup dalam harmoni dan persaudaraan,” ujarnya.

Ia juga menyebutkan bahwa rangkaian perayaan Nyepi sebelumnya telah diisi dengan kegiatan sosial, seperti donor darah dan halal bihalal. (Shanty Sang)

Top