Budaya

Lima Kontingen Paduan Suara Pria Pesparawi XIII Raih Emas, Tuan Rumah Perak

Kontingen Kabupaten Jayapura, salah satu penerima medali emas pada kategori paduan suara pria Pesparawi XIII di Graha Eme Neme Yauware, Senin (1/11/2021). Foto: Elia Soenari/ PPD Pesparawi XIII

MIMIKA, BM 

Sebanyak lima kontingen dari 11 yang berlomba berhasil menyabet emas kategori Paduan Suara Pria Pesparawi XIII se-tanah Papua yang dilaksanakan di gedung Eme Neme Yauware, Timika, Ibu Kota Kabupaten Mimika, Papua, Senin (1/11/2021).

Dalam pertunjukan tersebut kontingen Kota Jayapura menjadi yang pertama tampil dengan membawakan dua buah lagu, yakni Bagi Dia yang Berkuasa sebagai lagu wajib dan lagu pilihan Lagu Pujian Bagi Tuhan dengan total poin 84,88 sehingga berhak atas medali emas.

Pada penampilan kedua dengan nomor urut 17 Kabupaten Keerom tampil dengan membawakan lagu wajib yang sama, dengan lagu pilihan bebas Bermazmurlah bagi Allah dengan skor akhir 72,13 sehingga berhak mendapatkan perak.

Selanjutnya, nomor urut 23 Kabupaten Yapen menjadi penampil ketiga  dengan membawakan lagu wajib dan lagu pilihan terikat dan bebas, Ada Warna Cemerlang dan Lagu Pujian bagi Tuhan dengan skor akhir 79,75 dan mendapatkan perak.

Peserta keempat yang tampil dengan nomor urut 29 yakni Kabupaten Supiori membawakan lagu wajib dan lagu pilihan terikat yang sama dengan Yapen, namun dengan lagu pilihan bebas berjudul Tuhan Berapa Lama Lagi, berhasil meraih perak dengan total skor 76,03.

Kabupaten Membramo Tengah pada urutan melima dengan nomor urut 28 membawakan lagu wajib, lagu pilihan terikat Aku berseru Ya Tuhan dengarkanlah, dan lagu pilihan bebas Nearer My God To These total skor yang berhasil dikumpulkan 84,75 sehingga berhak mendapatkan emas.

Medali Emas kembali diraih oleh salah satu peserta perlombaan yakni Kabupaten Asmat yang maju dengan nomor urut 06 dengan total nilai 84,85. Mereka membawakan lagu wajib dan lagu pilihan terikat sama dengan lagu yang dibawakan Membramo Tengah. Kemudian untuk lagu bebas Asmat memilih Shout Glory Do. 

Maju sebagai penampil ketujuh Kontingen Waropen membawakan lagu wajib diikuti dengan lagu pujian bagi Tuhan dan lagu pilihan bebas Josua The Battle of Jericho dengan hasil skor akhir 78,45 sekaligus berhak atas medali perak. 

Perlombaan pun pun dilanjutkan dengan penampilan Kontingen Jayawijaya yang maju dengan nomor 19 membawakan lagu wajib dan terikat yang sama dengan Waropen, serta lagu pilihan bebas Just Cant Tell it all, atas penampilannya Jayawijaya berhak mendapatkan perak setelah berhasil mengumpulkan nilai 78,50.

Sementara itu tuan rumah Mimika dengan nomor urut peserta 14 baru tampil pada urutan tampil kesembilan dengan membawakan lagu wajib, diikuti lagu pilihan terikat Ada warna cemerlang dan pilihan bebas Suara mereka berkumandang ke ujung bumi, berkat penampilannya tuan rumah berhasil menyabet medali perak dengan skor akhir 77,60.

Kabupaten Biak Numfor yang mendapatkan urutan tampil ke-10 berhasil menyabet emas dengan total nilai 84,86 usai membawakan lagu wajib, pilihan terikat Lagu pujian bagi tuhan dan Walk in Jerussalem.

Kabupaten Jayapura yang menjadi penampil terakhir berhasil mendapat medali emas dengan total nilai 84,96 setelah membawakan lagu wajib dan pilihan terikat Lagu pujian bagi Tuhan serta pilihan bebas Let There be Light.

Berdasarkan hasil tersebut lima Kontingen yakni Kota Jayapura, Membramo Tengah, Asmat, Biak Numfor dan Kabupaten Jayapura berhasil mendapatkan emas. 

Kemudian sisa kontingen hanya berhasil mengumpulkan perak, termasuk Paduan Suara Tuan Rumah Mimika.

Kabupaten Jayapura berhasil mencetak nilai tertinggi untuk kategori lomba Paduan Suara Pria (PSP) dengan nilai 84,96.   (Aji/Yunita/ Misba/ PesparawiXIII)

Di Pesparawi Nasional 'Kitorang Tra Kosong' Papua Termasuk yang Diunggulkan

Benny Hadi Utomo

MIMIKA, BM

Pengamat musik Indonesia, Benny Hadi Utomo atau yang lebih dikenal dengan Bens Leo dipercaya menjadi salah satu juri untuk Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) XIII se-Tanah Papua pada kategori Vocal Group dan Music Pop Gerejawi.

Ia mengatakan bahwa Provinsi Papua merupakan salah satu tim Pesparawi yang sangat diunggulkan dalam Pesparawi Nasional.

Menurutnya, peserta atau kontingen asal Papua dan Papua Barat memiliki kekuatan tersendiri karena terbiasa menyanyi di gereja. Tidak hanya itu, Papua juga telah melahirkan beberapa penyanyi terkenal karena bakat yang mereka miliki.

“Kalau di Indonesian Idol ada Nowela, itu suatu contoh betapa pentingnya suatu daerah melahirkan bintang-bintangnya," ujarnya.

Ia mengatakan Papua beberapa kali mendapat penghargaan di tingkat nasional seperti yang digelar di Sulawesi Tenggara, Papua menjadi juara pertama.

"Papua dan Maluku ini termasuk yang diunggulkan di tingkat nasional karena kemampuan menyanyi mereka. Mereka ini tradisi menyanyinya cukup bagus,” ucapnya.

Secara khusus, ia meminta kepada siapapun yang akan mewakili Papua dan Papua Barat pada Pesparawi Nasional yang rencananya akan dilaksanakan pada Juni 2022 di Yogyakarta, agar terus tekun berlatih.

“Siapapun yang mewakili Papua hendaknya terus berlatih karena menang dari sini akan bertemu dengan 33 provinsi lainnya dan mereka banyak yang kualitasnya bagus. Bulan Juni tinggal delapan bulan lagi jangan berhenti berlatih,” pesannya.

Pada lomba Paduan Suara Pria 25 Tahun Keatas yang diselenggarakan di Graha Eme Neme Yauware, Senin (01/11), Bens Leo turut hadir mengikuti jalannya perlombaan.

Bens Leo mengatakan kedatangannya ke Mimika adalah untuk menjadi juri dan ini adalah kali pertamanya ia datang ke Papua, khususnya di Kabupaten Mimika.

“Saya disini menjadi Juri Vocal Group dan Musik Pop. Ini adalah kali pertama saya ke Papua, kalau Papua Barat sudah sering kali. Dulu dari pertengahan Februari sampai awal Maret Pesparawi di Papua Barat dari Merauke sampai ke Sorong,” katanya.

Bens juga mengapresiasi dukungan yang diberikan oleh pimpinan daerah Pada Pesparawi  ini. Ia mengatakan Kehadiran para pemimpin daerah di Pesparawi XIII se Tanah Papua memberikan warna tersendiri terlebih bagi para kontingen.

"Yang hebat itu adalah support dari para pemimpin daerah seperti tadi Bupati dari Asmat dan Mamberamo Tengah hadir. Suatu support yang bagus karena kehadiran pemimpin daerah memberi warna pada penampilan peserta," ujarnya. (Elfrida/Sam Nussy/Pesparawi XIII)

 

Solo Kategori Anak Pesaparawi XIII Diikuti 10 Peserta dan Dinilai 3 Juri Profesional

Juri lomba solo kategori anak usia 7-9 tahun Pesparawi XIII di Gedung GKI Diaspora, Senin (1/11/2021). Foto Sevianto Pakiding/ PPD Pesparawi XIII

MIMIKA, BM

Lomba Pesta Padua Suara Gerejawi (Pesparawi) XIII se-Tanah Papua mulai bergulir hari ini, Senin (01/11) untuk beberapa kategori di empat lokasi yang berbeda.

Salah satunya Lomba Nyanyi Solo Kategori Anak yang berlangsung di Gedung GKI Diaspora SP2, Timika yang dipercaya penilaiaannya kepada tiga juri profesional yang didatangkan langsung panitia dan telah diambil sumpahnya untuk bersikap netral selama perlombaan.  

Ketiga Juri yang ditetapkan dalam Lomba Nyanyi Solo Kategori Anak usia 7-9 tahun dan menampilkan 10 kontingen yang masing-masing membawa lagu wajib dan lagu pilihan ini diantaranya Ketua Juri Linda Sitinjak, Diani Rinarti Sitompul sebagai Anggota dan Agus Samori sebagai Anggota.

Linda Sitinjak sebagai ketua juri, diketahui adalah Dosen Institut Seni Indonesia Yogyakarta yang telah memiliki pengalaman menjadi juri Pesparawi serta Pesparani tingkat nasional.

Sebagai seorang dosen, Linda mengajarkan mata kuliah Mayor Vokal, Paduan Suara sampai Kajian Musik Opera. Ia juga memiliki prestasi, enam kali menjadi juara Bintang Radio Televisi.

Juri berikutnya, Diani Rinarti Sitompul  yang juga diketahui telah berpengalaman menjadi juri dalam Lomba Pesparawi  tingkat nasional dan kabupaten/kota di Indonesia.

Diani adalah pendiri KRESENDO & Diani Choir Tahun 1997. Sebagai kecintaannya pada dunia musik, dirinya memperdalam ilmunya lewat pendidikan dengan mengambil jurusan musik pada salah satu Universitas di Yogyakarta.

Juri ketiga adalah Drs Agus Samori, M.Si. Pria kelahiran Serui Kabupaten Kepulauan, 28 Agustus 1962 ini juga Dosen pada Fakutas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Cenderawasih.

Pengalamannya di dunia musik juga tidak diragukan. Dirinya tercatat sebagai seorang Pelatih dan Pembina Paduan Suara. Agus Samori juga sering dipilih menjadi juri pada lomba paduan suara dan solo di berbagai kabupaten/kota se-Tanah Papua.

Dalam penampilan Lomba Nyanyi Solo kategori Anak Usia 7-9 tahun ini, 10 Kontingen yang tampil hari ini terlihat sebelum meninggalkan panggung, setiap peserta bisa langsung mengetahui nilai yang diberikan oleh dewan juri. (Selvi/Sam Nussy/Pesparawi XIII)

Top