Ekonomi dan Pembangunan

Budi Utomo One Way, Antrian Panjang Bakal Terjadi di Lampu Merah dan Dua Jalan Ini

Pegawai Dishub mengeluarkan traffic light (tadi malam) di Jalan Budi Utomo guna mendukung penerapan one way 

MIMIKA, BM

Dinas Perhubungan Kabupaten Mimika Per 1 Juli 2021 besok, mulai melakukan perubahan di Jalan Budi Utomo yang awalnya dua arah, diubah menjadi satu arah atau one way.

Perubahan ini mendasari Undang-undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Selain itu, dasar hukumnya juga mengacu pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 31 Tahun 2001 Tentang Manajemen dan Rekayasa, Analisis Dampak, Serta Manajemen Kebutuhan Lalu Lintas.

Hanya saja, sebagian warga beranggapan bahwa peralihan Jalan Budi Utomo menjadi satu arah hanya malah menambah kemacetan di ruas jalan lain terutama Yos Sudarso dan Ahmad Yani.

Pasalnya, untuk seputaran kota, hanya dua jalan protokol ini yang menjadi alternatif keluarnya kendaraan secara langsung dari Budi Utomo.

Bukan hanya itu, akses kedua jalan ini semakin sempit karena terbagi pembatas jalan, sehingga akan membuat antrian panjang di areal lampu merah. Hal ini akan sangat terlihat ketika jam pulang kerja atau menjelang sore hari.

Warga juga menilai bahwa keadaan ini akan menyulitkan warga dan para pengguna jalan di sekitar Jalan Pendidikan hingga Samratulangi karena mereka harus memutar jauh untuk mengambil rute kembali.

Selain itu, Jalan Pendidikan, Kartini, Patimura Busiri dan Samratulangi juga akan semakin banyak dilalui kendaraan sebagai jalur alternatif. Ketika kendaraan keluar dari empat jalan ini, mereka akan berpapasan dengan kepadatan di Jalan Yos Sudarso di waktu tertentu.

Demikian anggapan sebagian warga menanggapi rencana one way yang dirangkum BeritaMimika dari pernyataan beberapa orang.

"Kami tinggal di pendidikan, untuk kembali lagi ke sini, kami harus putar jauh baru bisa masuk. Misalnya ke Diana, balik dari sana mutar Yos Sudarso bisa sampai Hasanudin kembali Budi Utomo baru masuk pendidikan. Padahal biasanya tinggal balik saja," sesal Ismail.

Rahmawati, pemilik salah satu toko pakaian di Budi Utomo juga menyampaikan hal serupa. Jika dari rumahnya di Jalan Belibis ke tokonya, maka ia harus mengintari Hasanuddin.

"Jalan yang bisa masuk hanya lewat Samratulangi atau Patimura tetapi dengan peralihan ini jalan masuk dari depan Samsat itu pasti sulit karena kendaraan akan semakin ramai di Yos Sudarso. Tapi mau bagaimana lagi, pemerintah atur begitu ya kita harus ikut," ungkapnya.

Menyikapi berbagai anggapan warga Timika, Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Mimika Jania Basir kepada awak media Selasa (29/6) usai mengikuti giat simulasi gabungan SAR Mimika mengatakan hal tersebut dilakukan niatnya hanya untuk mengurai kemacetan.

Ia mengatakan Dishub melakukan pengalihan guna mengantisipasi kemacetan yang akan sangat berdampak pada saat pegelaran PON XX dan Pesparawi XIII nanti.

“Diluar itu pun kita bisa lihat pada saat hari raya hari besar, Jalan Budi Utomo itu sangat macet. Sementara daerah lain seperti jalan Ahmad Yani dan Petrosea tidak terlalu difungsikan,” ujarnya.

Jania menuturkan langkah tersebut juga diambil untuk menghidupkan daerah lain yang mana akses jalannya sudah semakin bagus.

“Salah satu tujuan kita untuk lebih menghidupkan lagi daerah lain. Selama ini kan kegiatan terfokus di Budi Utomo sehingga dari lampu merah Hasanuddin harus satu arah sampai ke Jalan Cenderawasih,” jelasnya.

Diungkapkan, bidang teknis Dinas Perhubungan Mimika telah menghitung bahwa kapasitas Jalan Budi Utomo tidak mampu melayani volume kendaraan yang begitu padat. Kepadatan inilah yang menyebabkan jalan ini selalu macet karena banyaknya kendaraan yang melintas.

“Pemerintah berharap jalan itu bisa hidup kembali, menjadi rame jadi tidak hanya terfokus di Budi Utomo saja,” harapnya.

Lanjutnya, pada pelaksaan besok hari, terhitung selama seminggu ke depan pihaknya akan terus melakukan sosialisasi secara langsung di jalan bersama Satlantas Polres Mimika selama sepekan.

“Untuk satu minggu awal pasti ada pelanggaran namun kami akan mendampingi. Tentunya segala kebijakan yang diambil pemerintah akan ada pro dan kontra namun itu tugas kami untuk tetap menjalankan apa yang menjadi kebijakan pemerintah,” imbuhnya (Elfrida)

Petani Heran, Di Lahan Ini 500 Pohon Cabe Selama Setahun Hasilkan 7-8 Juta Perbulan


Kapolres Era saat membagikan ilmu bercocok tanam kepada petani

MIMIKA, BM

Puluhan petani yang tergabung dalam kelompok tani Mapurujaya dan SP7 yang merupakan binaan Noken Polres Mimika, melakukan kunjungan ke tempat pertanian, peternakan, perkebunan dan budi daya ikan milik kapolres Mimika, Sabtu (26/6).

Di lahan ini mereka belajar bagaimana membuat pupuk kompos, menaman rica dengan pola noken dan menaman jahe secara langsung dari Kapolres Mimika, AKBP AKBP I Gusti Gde Era didampingi Aiptu Lalu Hiskam Anady, pers posko Binmas Noken.

Kepada para petani, Kapolres Era mengatakan Kota Timika terlalu kaya untuk menjadi miskin. Di sini tidak ada musim kemarau karena selalu ada hujan. Selain itu tanahnya datar sehingga mudah dikelola untuk bertani.

"Harapan saya, semua lebih memahami apa yang selama ini kami lakukan. Hanya saja semua perlu belajar. Di lingkungan (lahan-red) kami sudah melakukan beberapa kali penelitian tentang apa saja yang perlu dan bisa dikembangkan untuk meningkatkan kesejahteraan kita bersama," ungkapnya.

Kapolres Era menyebutkan, di lahan ini ditanam segala macam sayuran dan buah dari berbagai jenis termasuk mengembangkan peternakan ayam dan budi daya ikan.

"Semua kami coba tanam dan kembangkan di sini. Saya ingin lihat mana yang kira-kira cocok dan bisa mendukung kemajuan di Mimika terutama bagi petani dan peternak," ujarnya.

Ia berharap agar para petani maupun peternak yang pernah belajar di tempatnya, dapat berkembang dan menjadi besar dalam mengembangkan usaha tani dan ternak mereka.

"Timika kota sentral bagi kabupaten tetangga di pegunungan. Semua kebutuhan di sana mereka datangkan dari Timika. Di sana mereka sulit kembangkan pertanian karena mahalnya pupuk dan transportasi. Kita harus melihat peluang ini untuk berkembang," ajak kapolres.

Ia berharap agar para petani dapat melihat peluang yang ada. Misalnya komoditi apa yang mudah di rawat dan mudah menghasilkan.

"Cabe dan jahe masih normal namun masih didatangkan dari Ambon padahal mudah dirawat dan menghasilkan nilai ekonomi yang tinggi. Harga cabe selalu di atas 50 ribu sampai 120 ribu. Padahal jika dari luar biasa cepat busuk. Otomatis maka kebutuhan ini harus dipenuhi dari Timika sendiri," jelasnya.

Di lahan cabe, Kapolres Era menunjukan dan mencontohkan 500 pohon cabe yang selama setahun ini terus menghasilkan dan tidak mati dimakan hama. Bahkan dalam sebulan, keuntungan yang didapatkan bisa mencapai Rp7-8 juta.

"Kenapa tahan lama? karena kita menanamnya dengan pola noken (polybag). Karena dengan cara ini unsur hara dan pupuk tidak kemana-mana. Kalau di tanah, datang hujan unsur hara dan semuanya menghilang akhirnya jadi kuning," terangnya.

Menaman cabe dengan pola noken juga tidak menggunakan pupuk kimia namun hanya menggunakan pupuk kandang. Cara membuatnya pun sederhana.

Dimulai dengan menyediakan media, menggunakan tanah gembur dan menggunakan kompos tahi ayam. Ketika cabe mulai bertumbuh, pucuknya harus langsung di potong agar bisa bercabang dan berbuah lebat.

"Pada saat curah hujan, kitapun juga harus mengompresnya dengan air tanah waktu pagi dan sore supaya unsur asam di air hujan menghilang," ujarnya.

Pada momen ini, Kapolres Era juga mengajak para petani melihat kebun jahe yang berjajar rapi di lokasi ini. Ia juga menyampaikan bagaimana caranya tanaman jahe ini dirawat, dipelihara dan dipupuk.

Ia mengatakan, jahe temasuk dalam tanaman jangka panjang. Waktu panenya berkisar 8-13 bulan. Dengan rumus perhitungan ekonomi yang sederhana, Kapolres juga menyampaikan bagaimana caranya agar para petani dapat memperoleh keuntungan yang lebih dari sisi ekonomis ketika menanam jahe.

"Kita sudah harus merubah mindset kita untuk menjadi petani yang produktif dan ekonomis. Saya berharap apa yang kalian dapatkan di sini, dikembangkan. Kami juga akan mendukung dan memberikan pendampingan agar kalian bisa maju dan berkembang menjadi petani hebat dan besar di Timika," ungkapnya.

Sementara itu, Pendeta Sawaki dari GPDI Sion Mapurujaya menyampaikan terimkasih atas ilmu, arahan, bimbingan dan motivasi yang diberikan oleh Kapolres Era Adhinata.

"Kami punya kelompok tani pemuda gereja yang sudah menanam cabe sebanyak 80 karung. Dari apa yang dijelaskan, kami akhirnya mengerti bahwa menanam cabe di karung itu tidaklah tepat. Kemudian banyak hal lain juga yang disampaikan kapolres dan membuat kami pada akhirnya tahu dan mengerti. Ini jadi motivasi dan pengetahuan baru bagi kami. Kita dari Mapurujaya ada 7 orang," ungkapnya. (Ronald)

11 Ton Daging Beku Didatangkan Dari Surabaya ke Timika

Daging beku yang didatangkan dari Surabaya

MIMIKA, BM

Saat ini, daging beku telah menjadi pilihan utama untuk dikonsumsi masyarakat. Dikarenakan, daging beku memiliki banyak keunggulan dibandingkan daging segar.

Selain kualitas yang terjamin, daging beku yang beredar pun dipastikan telah bersertifikasi halal.

Pada Kamis (24/06) lalu Karantina Pertanian Timika Wilayah Kerja Pelabuhan Amamapare memeriksa 11 ton daging sapi beku asal Surabaya milik PT PUM yang merupakan salah satu pemasok komoditas lokal PT PSU sebagai kontraktor jasa katering.

Pejabat Karantina Hewan, drh. Stephanus Wahyu Nugroho melalui rilisnya yang diterima Berita Mimika, mengatakan pemeriksaan ini dilakukan oleh petugas secara organoleptik.

Petugas karantina memeriksa baik kesesuaian fisik maupun kemasan, serta alat angkut untuk memastikan daging tetap Aman, Sehat, Utuh, Halal (ASUH) sehingga dapat diterbitkan Sertifikat Pelepasan Karantina Hewan (KH-14).

"Tidak dipungkiri bahwa daging sapi merupakan suatu kebutuhan pangan yang perlu dijaga kestabilannya mengingat kesediaan daging sapi. Tentunya daging sapi beku berasal dari sapi yang terjamin kesehatannya sehingga menghasilkan daging yang aman dikonsumsi," ungkapnya. (Shanty)

BERITA EKONOMI & PEMBANGUNAN

Top