Ekonomi dan Pembangunan

Baru Enam Bulan, Klaim BPJS Ketenagakerjaan Capai Rp136,9 Miliar

Kepala BPJS Ketenagakerjaan Mimika, Verry K Boekan

MIMIKA, BM

BPJS Ketenagakerjaan Cabang Mimika mencatat sejak Januari hingga 23 Juni 2021 jumlah klaim program Jaminan Hari Tua (JHT) sebesar Rp136.927.441.983 dari 6.700 kasus.

Dari kasus ini klaim yang terbanyak dari JHT sebesar Rp131.448.697.550 yang terdiri dari 6.368 kasus.

Kemudian, Jaminan Kematian 70 kasus dengan jumlah klaim Rp2.880.500.000 dan Jaminan Kecelakaan Kerja sebanyak 26 kasus dengan total klaim sebesar Rp1.877.470.848.

Kepala BPJS Ketenagakerjaan Mimika, Verry K Boekan kepada BeritaMimika mengatakan dari klaim yang ada didominasi penerima upah.

Khususnya JHT semuanya merupakan anggota penerima upah sementara Jaminan Kecelakaan Kerja dan Jaminan Kematian, didalamnya termasuk bukan penerima upah.

"Kalau Jaminan Pensiun pasti penerima upah. Jadi dari situ sudah banyak yang penerima upah,” tutur Very.

Ia mengatakan, klaim tahun ini terhitung sangat tinggi, terbukti baru enam bulan jumlah klaim sudah capai Rp136,9 miliar dibandingkan tahun 2020 hingga Desember klaim hanya mencapai Rp187 miliar.

"Tahun ini baru setengah tahun saja sudah Rp136,9 miliar. Artinya ada lonjakan. Tapi semua tergantung PHK. Kalau makin banyak PHK itu pasti banyak yang mencairkan jaminan hari tuanya. Tapi tidak juga PHK saja, ada juga karyawan yang mengundurkan diri atau pensiun juga,” ungkapnya. (Shanty)

Wabup John : Model Penanganan "Bank Sampah" di Bantul Bisa Diterapkan di Timika

Wabup John saat meninjau langsung tempat pengeloaan sampah masyarakat Bantul Jogjakarta

MIMIKA, BM

Metode penanganan sampah di Mimika harus mengalami transformasi agar sampah tidak hanya menjadi "momok" tapi diharapkan bisa memberi nilai ekonomis bagi warga.

Dari kegiatan kunjungan Wakil Bupati Mimika, Johanes Rettob ke Bantul Yogjakarta pekan lalu untuk melihat langsung sistem pengolahan sampah di Bank Sampah Gema Ripah Bantul, Wabup menemukan metode efektif sekaligus menguntungkan dalam proses penanganan sampah.

Wakil Bupati Mimika, Johanes Rettob melalui rilisnya yang diterima Berita Mimika, Kamis (23/6) mengatakan kenapa Bantul terlihat bersih karena warga Bantul sudah menerapkan Bank Sampah di setiap kelurahan dan kecamatan. Itulah keunggulan yang dimiliki Bantul.

Bank Sampah memiliki peran ganda seperti mengurangi kuota sampah yang dibuang di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Bahkan sampah juga bisa menjadi sumber uang untuk masyarakat serta menjadi barang olahan baru yang bisa dijual. Dan yang penting adalah kota pasti bersih.

"Untuk Timika, kita harus bisa mencontohi inovasi yang dilakukan di Bantul, dimana setiap RT dan kecamatan punya bank sampah," tutur Wabup John.

Dikatakan, bank sampah ini yang nantinya digunakan sebagai tempat awal memilah sampah yang sudah dikumpulkan.

Wabup mengatakan perlu adanya sosialisasi yang berkelanjutan terkait hal ini agar masyarakat dapat memahaminya.

Selain itu image pekerja sampah yang selama ini dikenal sebagai pekerjaan hina, juga harus ditepis.

Pekerjaan yang berhubungan dengan pengelolaan sampah adalah pekerjaan yang mulia, bahkan ternyata mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.

Lanjutnya, dengan metode Bank Sampah maka masyarakat adalah nasabah. Masyarakat menampung sampah dengan buku tabungan namun tidak langsung dibayar.

"Bank sampah yang kumpulkan sampah dari masyarakat lalu dipilah, ran kemudian diserahkan ke pihak ketiga untuk dikelola menjadi kerajinan tangan, pupuk atau bahan bakar. Dan Bank sampah juga bisa dikelola oleh masyarakat di tingkat RT, Kelurahan atau Distrik. Bisa juga oleh pribadi dan badan hukum seperti koperasi. Masyarakat juga bisa menjadi pihak ketiga dan bekerjasama dengan Bank sampah untuk mengelola sampah," jelas Wabup John.

Setelah jangka waktu tertentu dan setelah sampah sudah menghasilkan uang, dana yang terkumpul bisa langsung diambil oleh masyarakat, atau ditukarkan dengan sembako, membeli pulsa, atau membayar listrik.

"Saya kira kalau metode ini diterapkan sampah Timika yang bisa mencapai 250 ton sampai 300 ton perhari bisa berkurang sampai 50 persen. Masyarakat bisa tukar, karena ada banyak kategori sampah. Ada sampah plastik, kertas, besi, daun-daun kering atau hidup, sampah dari rumput, organik dan anorganik," ujarnya.

Hal berikut, kata Wabup John, sampah bisa dikelola menjadi pupuk atau bahan bakar dalam bentuk koperasi atau organisasi lain. Atau sampah bisa di ekspor ke tempat lain.

"Ini inovasi yang luar biasa. Orang bisa beda punya kepentingan. Pertama, dia tidak mau daerahnya kotor jadi dia bawa ke bank sampah. Hal kedua sampah bisa jadi uang. Tentu ini jadi pendorong," katanya.

Adapun efek lain yang ditimbulkan adalah sampah bisa mengurangi pengangguran karena menciptakan lapangan kerja baru, menambah penghasilan masyarakat serta mengalihkan perhatian warga pada hal-hal positif.

"Orang tidak sibuk lagi dengan urusan judi tapi pikir mending urus sampah karena pasti bisa lebih menghasilkan uang," ungkapnya. (Shanty)

Pemda Mimika Datangkan 7,5 Ton Benih Jagung

Benih jagung yang di datangkan Distanbun Mimika

MIMIKA, BM

Jagung merupakan salah satu tanaman pangan penghasil karbohidrat serta sebagai sumber pangan utama di Indonesia. Selain nilai ekonomis yang tinggi jagung juga cocok ditanam di Wilayah beriklim tropis seperti di Timika.

Demi mewujudkan ketahanan pangan, Pemda Mimika melaui Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (Distanbun) mendatangkan benih jagung hibrida varietas HJ 21 dari Surabaya menggunakan alat angkut KM Tanto selalu.

Pejabat Karantina Timika Wilayah kerja Pelabuhan Laut Pomako kemudian melakukan pemeriksaan kebenaran isi dan keabsahan dokumen serta pemeriksaan fisik pada benih jagung yang di datangkan pada Kamis (17/6).

Pejabat Karantina Tumbuhan, Sujarwage Zul Akhsan melalui rilisnya yang diterima Berita Mimika, mengatakan, rencananya 7,5 ton benih jagung akan ditanam untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

"Setelah melakukan pemeriksaan kami pastikan benih jagung yang masuk bebas dari organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK) dan tidak lupa diterbitkan sertifikat pelepasan (KT-9) oleh petugas," tutur Sujarwage.

Sujarwage berharap, semoga dengan adanya distribusi benih dari pemerintah daerah, petani di Timika dapat meningkatkan produktivitas panennya. (Shanty)

BERITA EKONOMI & PEMBANGUNAN

Top