Budaya

Jumat Agung : Pengorbanan Yesus mengubah Makna Salib Dari Lambang Kekejaman Menjadi Cinta

 

Pastor Broery saat prosesi penghormatan salib 

MIMIKA, BM

Jumat Agung, merupakan rangkaian dari Tri Hari Suci yang dirayakan umat Katolik untuk mengenang peristiwa sengsara penyaliban dan wafatnya Yesus Kristus untuk menebus dosa manusia.

Umat Gereja Santo Stefanus Sempan, Timika, Mimika, Papua Tengah melaksanakannya pada Jumat (3/4/2026) tepat pukul 15.00 wit.

Ribuan umat memadati gereja hingga halaman gereja dengan memakai pakaian yang didominasi warna hitam dan meski di guyur hujan tidak mengurangi niat umat untuk beribadah.

Dalam Ibadah Jumat Agung ini umat diajak untuk merenungkan dan mengenang peristiwa sengsara dan wafat Yesus melalui pembacaan teks Passio.

Usai itu, Pastor Broery Renyaan, OFM yang memimpin ibadah Jumat Agung dalam homilinya mengatakan kematian tragis seorang utusan Allah yakni Yesus telah dinubuatkan oleh Nabi Yesaya.

“Kita dengar dalam bacaan pertama tadi dan begitu jelas bahwa orang benar diperlakukan sama sekali tidak adil, Ia bahkan digolongkan sebagai pemberontak,” tuturnya.

Lanjutnya, tidak ada seorang pun yang membela-Nya bahkan murid-murid-Nya dan mereka semua yang pernah mengikuti Dia menghilang daripada-Nya. Hanya Yesus seorang diri.

“Kita bisa membayangkan betapa beratnya Yesus berjuang seorang diri. Dia bukan saja menerima pukulan-pukulan tapi juga cibiran dan olok-olokan bahkan lebih lagi daripada itu Ia dianggap tidak berguna,” ucapnya.

Pastor Broery menyebut Yesus yang menjadi korban ketidakadilan tidak melawan. Ia tetap setia memikul salib hingga wafat di kayu salib demi manusia karena Ia mengasihi dan mencintai manusia.

“Kita patut berterimakasih atas pengorbanan Yesus yang luar biasa itu. Yesus mengubah salib yang merupakan lambang kekejaman menjadi lambang cinta karena diatas salib Ia tetap mencintai kita,” ungkapnya.

Dari sikap Yesus ini Pastor Broery mengajak umat untuk belajar memandang orang lain sebagai sesama.

“Kadang-kadang kata-kata dan cibiran kita menyakiti sesama atau malah membuat orang lain susah berkembang. Sabda Yesus tetap sama, cintailah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri dan Yesus menghayatinya sampai mati. Dia tidak membenci apapun,” tandasnya.

Ia menambahkan agar umat tidak mudah menyalibkan orang lain dengan kata-kata maupun perbuatan.

“Kita bersyukur kepada Tuhan karena salib putra-Nya menyelamatkan kita. Tuhan memberkati kita semua,” pungkasnya.

Ibadah Jumat Agung kemudian dilanjutkan dengan penghormatan salib dimana umat mencium kaki Yesus sebagai ungkapan iman akan Yesus yang rela menderita hingga di salib untuk menebus dosa manusia karena cinta-Nya yang besar. (Elfrida Sijabat)

Misa Malam Paskah di Gereja Katedral Tiga Raja, 60 Orang Dibaptis

Proses Pembaptisan oleh Uskup Keuskupan Timika, Mgr Bernardus Bofitwos Baru, OSA


MIMIKA, BM

Umat Katolik di seluruh dunia termasuk umat Katolik di Kabupaten Mimika khususnya Paroki Katedral Tiga Raja merayakan Perayaan Syukur Malam Paskah atau disebut juga Sabtu Suci.

Perayaan Sabtu Suci dipimpin oleh Uskup Keuskupan Timika, Mgr Bernadus Bofitwos Baru, OSA dan diikuti oleh ribuan umat melalui empat bagian liturgi yakni pertama upacara cahaya, upacara sabda, upacara pembaptisan dan keempat upacara Ekaristi.

Prosesi upacara cahaya dengan menyalakan lilin Paskah dilakukan oleh Yang Mulia Mgr Bernardus Bofitwos Baru, OSA didampingi Pastor Benny Magai, Pr.

Selain tradisi lilin Paskah, pada perayaan ini juga dilakukan tradisi pemberkatan, dimana 60 orang yang terdiri dari anak hingga dewasa menerima Sakramen Baptis, Komuni Pertama dan Sakramen Krisma.

Uskup Keuskupan Timika, Mgr Bernardus Bofitwos Baru, OSA dalam homilinya mempertanyakan mengapa pada malam ini Paskah dirayakan?

Permasalahan utama apa yang menjadi faktor penyebab Tuhan Yesus Kristus lahir di dunia ini, mengajar kebenaran hidup dan keselamatan kekal bagi umat manusia? Namun, Dia ditangkap, disiksa, dijatuhi hukuman mati, dibunuh di kayu salib namun Ia bangkit dari kematian?

"Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini ditemukan melalui bacaan yang kita dengarkan pada malam ini, mulai dari Kitab Kejadian hingga Epistola dan Injil," katanya.

Uskup Bernard menuturkan akar persoalan yang membawa manusia jatuh kedalam kebinasaan kekal atau kehancuran abadi adalah kejahatan manusia itu sendiri.

Kejahatan manusia sendirilah yang membawa manusia jatuh kedalam jurang kebinasaan, jurang pemisahan, kematian kekal antara manusia dengan Allah.

"Kejahatan kita manusia yang dilambangkan oleh Adam dan Hawa menjadi dosa asal yang terus melekat dalam diri kita manusia," ujarnya.

Dikatakan manusia senantiasa selalu didorong oleh nafsu-nafsu kejahatan, nafsu kekuasaan, kesombongan, super bisa, ingin menyamakan diri dengan Allah, nafsu ingin menguasai alam ciptaan dan sesama manusia yang lain.

Selain itu juga nafsu ingin memiliki kekayaan berlebihan, mengeruk kekayaan dengan membabi buta, menikmati kenikmatan yang sebanyak-banyaknya, sepuas-puasnya, nafsu untuk berkuasa dan main kuasa atas sesama saudara yang lain.

Untuk diketahui bahwa, melalui Kitab Kejadian diceritakan dan diuraikan secara terinci dan detail bagaimana Allah menciptakan seluruh jagat raya, alam raya dan segala isinya termasuk manusia.

"Bagaimana Allah menciptakan semuanya itu menurut citra Allah sendiri? Kita manusia diciptakan seturut gambar dan rupa-Nya, seluruh proses penciptaan Allah ditutup dengan kalimat Allah melihat bahwa semuanya itu baik,” katanya.

“Dalam bacaan tadi kita melihat ada lima kali kalimat ini digunakan "Allah melihat bahwa semuanya itu baik" dan ditutup dengan satu kalimat terakhir maka Allah melihat segala yang dijadikannya itu sungguh amat baik," imbuhnya.

Lanjutnya, sungguh amat baik rumusan yang super Latif ini artinya kebaikan tertinggi, kebaikan sempurna, kebaikan yang melampaui segala kebaikan yang ada dalam dunia ini dan sang kebaikan itu adalah Allah sendiri, Yesus putra-Nya.

Uskup mengajak umat sekalian untuk mendalami secara sungguh-sungguh uraian penulis dari kitab Kejadian dimana pada poin pertama Allah menciptakan semua yang ada di jagat raya ini, baik yang kelihatan maupun tidak kelihatan, langit dan bumi serta segala isinya dan manusia menurut gambar-Nya adalah baik.

Ada 5 pengertian kata Bonum (bahasa Latin), kata kebaikan yakni pertama semua yang diciptakan Allah itu sangat teratur, terstruktur, terinci dalam ordin dan sangat sistematis serta teratur dari yang kecil sampai yang besar, dari yang kelihatan sampai yang tak kelihatan, dari yang dekat sampai yang jauh itu adalah karya keagungan kemulian Tuhan.

Kedua, pengertian Bonum kebaikan semua yang diciptakan Allah tidak ada kekurangan, tidak ada yang terlewatkan, terlupakan, semuanya sempurna adanya, utuh menyeluruh, tak terbagi-bagi, tak terpecah-pecah, terpakai semuanya.

Pengertian ketiga, semua yang diciptakan Allah bertujuan demi hidup yang baik, hidup yang bahagia bagi ciptaan-Nya yaitu hidup yang saling memberi, saling menerima, meneguhkan, menguatkan, hidup yang resiprositi demi harmoni dan demi keutuhan.

Suasana penyalaan lilin Paskah

"Hal ini berlaku untuk semua mahkluk hidup baik yang hidup bergerak maupun mati termasuk kita manusia. Semua yang diciptakan Allah indah mempesona mata, menawan hati, menggetarkan jiwa dan mengagumkan serta tak terselami oleh akal manusia," tutur Uskup Bernardus.

Ia mengatakan, bahwa secara misteri otak manusia tidak dapat mendefinisikan secara total, secara utuh, walaupun ilmu pengetahuan dapat menguaraikan tapi tidak akan secara total dan utuh.

Karena itu, seorang ahli agama berkebangsaan Jerman Rudolf Otto dalam bukunya The Idea of the Holy atau ide tentang yang kudus mengatakan tiga hal yang mewakili yakni, kekuasaan Allah dan maha kuasanya Allah ini tremendum et Fascinans nominosum misterium.

"Tremendum itu mengagumkan, menggetarkan. Ketika kita lihat gunung berapi di Jawa, Flores banyak orang takut karena laharnya tetapi banyak orang terpesona oleh lahar itu. Banyak wartawan yang mendekati untuk memotretnya itulah mengagumkan, menggetarkan sekaligus menakutkan tapi sekaligus mengasyikkan tapi misteri Allah tak terselam,"ucapnya.

Menurutnya, semua yang diciptakan oleh Allah tidak ada yang cacat, buruk, jelek dan jahat karena semua adalah memiliki fungsi dan perannya masing-masing demi kelangsungan hidup itu sendiri.

Peringatan penting bagi kita umat manusia bahwa apapun yang diciptakan oleh manusia dengan teknologi setinggi apapun tidak akan menyamai ciptaan Allah, tidak akan sempurna seperti ciptaan Allah, tetap terbatas, tetap artifisial, tetap hanya sementara, tidak utuh.

"Kita lihat gunung, kayu, batu dan lainnya itu sulit untuk kita menangkapnya dan itulah keagungan dan kebesaran Allah. Kita manusia yang sejak semula diciptakan serupa dan segambar dengan Allah menjadi hancur karena kejahatan kita umat manusia sendiri," katanya.

Menurut Santo Agustinus akar kejahatan kita manusia terletak pada kebebasan yang diberikan Allah kepada kita. Santo Agustinus menyebutnya libero arbitrio kebebasan yang diberikan Tuhan. Namun, kebebasan yang diberikan Tuhan kepada kita manusia bukan disalahgunakan demi kepentingan. Kebebasan itu harus bebas dari dan bebas untuk. Bebas bertanggungjawab untuk melakukannya karena kebebasan kita diatur oleh aturan-aturan.

"Kebebasan kita diatur oleh aturan, norma, etika, moral, baik, buruk, hukum alam, hukum adat, hukum dan undang-undang bangsa dan negara yang mengatur kita. Tetapi orang Indonesia ini kalau lampu merah lanjut saja, sein kiri jalan ke kanan, tabrak orang tapi malah marah-marah padahal dia yang salah. Itulah manusia tidak tahu aturan dan hukum, hidup menurut kemauannya sendiri. Saya kira negara ini masih gagal mendidik rakyat Indonesia hidup disiplin dan menurut aturan,"ungkapnya.

Pada kesempatan tersebut, Uskup juga menyoroti dua hal penting pertama kejahatan terhadap kemanusiaan baik pada level kecil bahkan yang lebih besar yang dilakukan oleh negara terhadap rakyatnya.

Yang terjadi di tanah Papua ini dibanjiri oleh berita tentang kematian manusia baik orang tua, orang muda, kaum pria, wanita maupun anak-anak, khususnya di tanah Papua ini mulai dari Merauke sampai Sorong.

"Penyebab dari kematian ini adalah karena konflik. Konflik bersenjata, konflik kepentingan, konflik karena kesombongan, konflik karena main kuasa sendiri dan sebagainya. Konflik ideologi NKRI harga mati dan merdeka harga mati dimana mengorbankan ribuan nyawa baik oleh rakyat sipil, orang Papua maupun non Papua, maupun TNI/Polri tapi ini tetap dipertahankan hanya demi ideologi NKRI harga mati dan demi kemerdekaan harga mati,"sebutnya.

Namun, semua itu apakah tidak ada dialog? Memangnya hati manusia itu binatang ? Hati manusia itu Tuhan taruh rohresiprositi himbau, kepada Presiden Prabowo dan jajarannya harus duduk bicara menyelesaikannya bukan menjadikan kejahatan dan kematian manusia sebagai proyek kenaikan pangkat, proyek dapat duit proyek untuk mengolkan dana MPR.

"Saya kira ini sangat disesalkan kalau ini yang terjadi di Indonesia ini oleh kejahatan, karena kita semua merayakan Paskah Percuma saja, kita merayakan Paskah hanya secara seremonial dan kenaikan bendera saja bukan sungguh-sungguh mengakhiri konflik. Kita hidup sebagai saudara, sahabat karena Kristus, oleh sebab itu Ia mati di kayu salib dan Dia bangkit untuk kita,"pungkasnya. (Shanty Sang)

Pastor Gaby: Biarlah Terang Kamis Putih Menyinari Tanah Papua

 

Pastor Gaby sedang membasuh kaki umat

MIMIKA, BM

Di awal bulan April 2026 tepatnya pada tanggal 2 malam, umat Katolik di Gereja Santo Stefanus Sempan Timika, Mimika, Papua Tengah merayakan Misa Kamis Putih. Perayaan ini juga dirayakan oleh seluruh umat Katolik di dunia.

Kamis Putih juga menjadi awal rangkaian dari Tri Hari Suci sebelum Jumat Agung dan Sabtu Suci.

Dalam ritus Kamis Putih, tradisi Yesus membasuh kaki keduabelas murid-Nya dan penghormatan Sakramen Maha Kudus biasa dilaksanakan.

Perayaan di Gereja Santo Stefanus Sempan Timika, Mimika didominasi warna putih yang dikenakan umat pada misa kedua pukul 19.00 wit yang dipimpin oleh Pastor Gabriel Ngga, OFM dan bacaan Injil diambil dari Injil Yohannes 13:1-15.

Mengawali homilinya, Pastor yang akrab disapa Pastor Gaby ini mengatakan membasuh kaki adalah tindakan yang sangat rendah pada jaman itu.

“Kaki adalah bagian tubuh yang paling kotor karena debu jalanan sering selalu melengket di kaki apalagi kalau tidak pakai alas kaki,” katanya.

Lanjutnya, dengan membasuh kaki Yesus mengajarkan bahwa kepemimpinan Kristiani bukanlah tentang jabatan atau kuasa melainkan tentang pengabdian, pelayanan dan kerendahan hati.

“Dia mengharapkan hal itu terjadi juga pada para murid-Nya maka Ia berkata jika Aku Tuhan dan gurumu membasuh kakimu maka kamu pun wajib saling membasuh kaki. Satu kata yang kita pegang adalah wajib artinya bukan opsional (pilihan-red) tetapi keharusan,” tandasnya.

Sebagai pengikut Kristus dikatakan Pastor Gaby harus saling melayani dan saling membasuh kaki. Membasuh kaki di Tanah Mimika, Papua berarti mau mendengarkan rintihan sesama, mendengarkan jeritan ketidakadilan dan yang tertindas.

“Mau mendengarkan keluhan mama-mama di pasar yang berjuang demi sesuap nasi, demi sekolah anak-anaknya. Membasuh kaki berarti para pemimpin, pejabat mau turun ke pinggiran menyentuh luka-luka ketidakadilan dan membawa pemulihan bukan sekedar janji,” ucapnya.

Ia menambahkan bahwa membasuh kaki berarti berhenti saling menghakimi antar suku dan golongan.

Mulai saling melayani sebagai satu tubuh di dalam persekutuan dengan Kristus, karena sesungguhnya esensi hakikat dari Koinania dari persekutuan sebagai gereja pengikut Kristus yakni hidup sebagai suatu persekutuan.

“Perjamuan kudus malam ini mengingatkan kita bahwa tidak ada orang yang boleh kenyang sendirian sementara tetangganya kelaparan,” ujarnya.

Pastor Gaby kemudian mengajak umat untuk merenungkan bahwa memecah roti dalam konteks Mimika dan Papua berarti memastikan bahwa kekayaan alam yang Tuhan titipkan di tanah ini benar-benar terpecah dan terbagi secara adil demi kesejahteraan setiap anak bangsa dan orang yang mendiami tanah ini.

“Kita sering berkata Papua adalah tanah yang kaya. Ibarat surga kecil yang jatuh ke bumi namun ironisnya masih ada saudara-saudara kita yang mengalami kekurangan gizi atau kesulitan akses pangan yang layak karena berbagai hal,” ungkapnya.

Pastor Gaby kemudian berpesan setelah mengikuti misa Kamis Putih, umat tidak hanya ingat kenangan akan perjamuan itu melainkan dengan suatu komitmen baru menjadi pembasuh kaki bagi mereka yang terpinggirkan dan lapar akan keadilan.

“Kiranya terang Kamis Putih menyinari setiap sudut tanah Papua, menyinari setiap sudut tanah Mimika. Menjadikannya tanah yang benar-benar diberkati dimana kasih dan cinta menjadi hukum yang tertinggi. Kita semua hidup didalam harmoni dalam kasih dan damai,” pungkasnya.

Usai perayaan misa Kamis Putih di Gereja Sempan, umat kemudian melaksanakan tuguran atau penghormatan suci kepada sakramen Maha Kudus.

Sementara itu perayaan Kamis Putih di Katedral Tiga Raja Mimika juga berlangsung hikmat dan dihadiri ribuan umat.


Uskup Keuskupan Timika Mgr. bernardus Bofitwos Baru, OSA saat membasuh kaki umat

Misa Kamis Putih yang dimulai pukul 18.00 WIT dan hanya sekali misa ini dipimpin langsung oleh Uskup Keuskupan Timika Mgr. bernardus Bofitwos Baru, OSA didampingi Pastor Benny Magai, Pr.

Uskup Keuskupan Timika Mgr. bernardus Bofitwos Baru, OSA dalam homilinya mengatakan, hari ini di seluruh dunia, gereja universal merayakan malam Kamis Putih dengan dua peristiwa penting.

Pertama, Yesus memberikan makna dalam perayaan Paskah Yahudi, memberikan arti yang baru atas roti dan anggur. Dan peristiwa kedua adalah pembasuhan kaki para murid dengan dialog Petrus dengan Yesus.

Uskup juga mengingatkan umat akan tantangan iman di zaman modern. Ia menilai, semangat pengorbanan dan pelayanan kini mulai tergerus oleh gaya hidup instan serta godaan dunia digital yang menjauhkan manusia dari kepedulian terhadap sesama.

“Banyak orang lebih sibuk dengan dunia maya daripada hadir bagi sesamanya yang menderita. Padahal, Ekaristi mengajak kita untuk memberi diri secara nyata melayani, menghibur, dan memperhatikan mereka yang membutuhkan,” ujarnya.

Selain itu, ia juga menyinggung situasi sosial yang terjadi, khususnya di wilayah pegunungan Papua, yang dinilainya memprihatinkan. Ia mengajak umat untuk menjadikan Paskah sebagai momentum memperjuangkan kemanusiaan, keadilan, dan perdamaian.

“Iman tidak boleh diam. Kita dipanggil untuk meruntuhkan tembok-tembok kepentingan, baik ideologi, kekuasaan, maupun kelompok, dan mengedepankan martabat manusia,” katanya.

Perayaan kemudian berlanjut dengan liturgi Ekaristi dan persembahan, hingga puncaknya pada pemindahan Sakramen Mahakudus ke tempat penyimpanan khusus.

Altar utama pun dibersihkan dan tabernakel dibiarkan terbuka sebagai tanda memasuki Jumat Agung, hari mengenang sengsara dan wafat Kristus di kayu salib.

Dengan penuh penghayatan, umat meninggalkan gereja dalam suasana hening, membawa pesan refleksi mendalam tentang kasih, pengorbanan, dan panggilan untuk melayani sesama. (Elfrida Sijabat & Shanty Sang)

Top