Budaya

Peringati HUT Armada RI ke-80, Lanal Timika Gelar Upacara Tabur Bunga dan Baksos

Foto Istimewa/Danlanal Timika saat menabur bunga di perairan Mimika.

MIMIKA, BM

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Armada RI tahun 2025, Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Timika, menggelar upacara tabur bunga dan kegiatan bakti sosial pada Jumat (28/11/2025).

Upacara tabur bunga berlangsung di Perairan Mimika tepatnya di Dermaga Pelabuhan Perikanan Pomako yang terlebih dahulu dilakukan upacara.

Adapun tema yang diusung tahun ini adalah “Dengan Semangat Jalesveva Jayamahe Koarmada RI Siap Mempersatukan Kekuatan Laut Nusantara Untuk Mengantarkan Rakyat Sejahtera, Bersatu, Berdaulat Menuju Indonesia Maju”.

Prosesi upacara yang dipimpin langsung oleh Komandan Lanal, Letkol Laut (P) Bekti Sutiarso ini melibatkan 150 orang peserta upacara dan tamu undangan dari gabungan Perwira TNI, Kodim 1710 Mimika, Yonif 754/ENK, Brigif 20/IJK, Denkav-3/SC, Lanal Timika, Lanud Yohanis Kapiyau, Satrad 243/Timika, Yon B Pelopor Mimika, Basarnas serta Pleton Saka Bahari Lanal Timika.

Upacara diawali dengan penghormatan kepada arwah para pahlawan, diikuti dengan mengheningkan cipta yang berlangsung secara khidmat.

Selanjutnya, pelarungan bunga oleh Danlanal Timika, Letkol Laut (P) Bekti Sutiarso dan diikuti seluruh tamu undangan.

Upacara Tabur Bunga yang dilaksanakan Pangkalan TNI Lanal Timika bertujuan untuk memberikan penghormatan dan mengenang jasa para pahlawan maritim yang telah gugur dalam menjaga kedaulatan Negara Kesatuan Tepublik Indonesia (NKRI) serta memperkuat nilai-nilai tradisi TNI Angkatan Laut melalui kegiatan seremonial sebagai upaya melestarikan semangat dan militansi prajurit Jalasena.

Usai pacara, Pangkalan Lanal Timika selanjutnya melaksanakan Bakti Sosial (Baksos) dengan memberikan sembako kepada masyarakat yang berada di wilayah Pelabuhan Perikanan. (Ignasius Istanto)

Majukan Industri Kerajinan UMKM Mimika, Dekranasda Studi Tiru dan Pemkab Akan Bangun Mall Kerajinan

Ketua Dekranasda Mimika Ny. Susy Herawaty Rettob bersama Ketua Dekranasda Bantul Ny. Emmi Masruroh dan Wakil Ketua Dekranasda Bantul

BANTUL, BM

Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Mimika dibawah pimpinan Ketua Dekranasda Ny. Susy Herawaty Rettob melaksanakan studi tiru ke tiga destinasi yakni Bantul, Bandung dan Bali.

Mimika yang dikenal dengan kerajinan noken, seni ukir pahatan Kamoro, Batik Papua, pangan lokal dan kekayaan alamnya seperti buah merah dan Mangrove memiliki daya tarik sendiri.

Disitulah peran Dekranasda yang resmi dilantik pada 23 April 2025 lalu mengambil peran untuk memajukan, membina dan mengembangkan industri kerajinan dan UMKM yang ada di Mimika agar mampu bersaing baik di tingkat nasional hingga tembus pasar dunia.

Dekranasda yang dibagi ke dalam tiga tim serentak melaksanakan kunjungan studi tiru ke tiga kota tersebut pada Selasa (25/11/2025).

Tim Satu Dipimpin oleh Ketua Dekranasda Mimika Ny. Susy Herawaty Rettob Studi Tiru Ke Bantul, DIY.

Adapun Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dipimpin langsung oleh Ketua Dekranasda Mimika Ny. Susy Herawaty Rettob.

Ketua Dekranasda Bantul Ny. Emmi Masruroh menyambut dengan ramah kehadiran rombongan dari Mimika. Kemudian Ny. Emmi Masruroh menunjukkan ruang pameran yang menampilkan berbagai produk unggulan UMKM dari Bantul yang dibinanya.

Tak hanya meninjau produk unggulan, Ny. Susy Rettob bersama tim satu berkesempatan belajar membuat batik dan di latih langsung oleh mentor batik, Ny. Nur Ahmadi di Kampung Batik Giriloyo, Desa Wisata Wukirsari, Bantul.

Dari studi tiru itu, Ny. Susy Rettob dan anggota Dekranasda Mimika menambah ilmu dan mengetahui secara langsung bagaimana proses membuat batik yang baik dan berkualitas.

Ketua Dekranasda Mimika, Ny. Susy Herawati Rettob, mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk memaksimalkan kemampuan membangun cita rasa dalam pengembangan budaya di Mimika.

Batik sebagai warisan budaya Indonesia, ia berharap dapat mengaplikasikan semangat dan konsistensi Bantul dalam mengangkat kekayaan budaya lokal.

Ia juga berharap Kabupaten Mimika dengan keunikan sendiri yakni Batik Papua dapat memajukan kerajinan, seni dan budaya lokal di mata nasional dan internasional.

Tim Kedua Studi Tiru Ke Bandung, Jawa Barat dipimpin oleh Ketua Bidang Pendanaan Ny. Hetty Tandiyono

Ketua Bidang Pendanaan, Ny. Hetty Tandiyono disambut oleh Pemerintah Kota Bandung

Sementara itu, di hari yang sama tim kedua melaksanakan studi tiru ke Kota Kembang, Bandung yang memiliki pelaku UMKM sebanyak 125 ribu.

Tim disambut oleh Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Koperasi dan UMKM. Disana tim diberikan pelatihan intensif di Galeri Salapak Micro Shop milik Pemkot Bandung, yang merupakan pusat pemasaran dan pameran produk UMKM lokal.

Dari studi tiru tim dapat mengetahui bagaimana strategi pemberdayaan dan penguatan kelembagaan UMKM disana.

Selain itu juga bagaimana manajemen usaha serta pengembangan desain dan kualitas produk, inovasi dan digitalisasi pemasaran modern dan teknik pengemasan (packaging) yang sesuai standar pasar nasional.

Ketua Dekranasda Mimika Ny. Susy Rettob melalui Ketua Bidang Pendanaan, Ny. Hetty Tandiyono menyampaikan apresiasi tinggi atas kesediaan Pemkot Bandung untuk berbagi ilmu dan ruang belajar.

“Studi tiru ini menjadi bagian penting untuk memperkaya wawasan dan mencari model pembinaan UMKM yang bisa diadaptasi di Mimika. Kota Bandung menjadi rujukan karena keberhasilannya membina puluhan ribu UMKM secara konsisten,” ujar Hetty Tandiyono.

Ia berharap, materi dan pengalaman yang didapatkan rombongan dapat menjadi bekal nyata untuk memperkuat pengembangan kerajinan dan usaha mikro di Kabupaten Mimika.

Selain sesi di kelas, peserta juga diajak mengunjungi sentra industri kreatif, galeri UMKM, dan sejumlah workshop pengembangan produk.

Dari kunjungan studi tiru diketahui bahwa untuk dapat memajukan 125 ribu UMKM yang ada di Bandung membutuhkan sinergitas antara pemerintah, komunitas dan para pelaku UMKM.

Tim Ketiga Studi Tiru ke Bali, Kota Bali dipimpin oleh Ketua Harian Dekranasda Mimika, Ny Nella Manggara

Ketua Harian Dekranasda Mimika, Ny Nella Manggara bersama tim meninjau Art Centre Denpasar

Bali yang terkenal akan kekayaan seni dan kerajinannya sempat mengalami keterpurukan akibat COVID-19.

Namun, UMKM di Bali sudah terbukti mampu menyokong ekonomi warga meskipun tertimpa krisis.

Hal ini diungkapkan oleh Sekretaris Dekranasda Provinsi Bali Yupi Wahyundari saat menerima kedatangan tim Dekranasda Mimika, Koperasi dan UMUM serta Asosiasi UMKM Mimika di Art Center Denpasar, Kamis (27/11).

Dikisahkan, pameran UMKM Bali Bangkit yang berjalan sejak 2020 menjadi tonggak kebangkitan ekonomi para pengrajin saat Bali mengalami mati suri akibat pandemi Covid-19.

Dengan dukungan anggaran Rp5 miliar dari pemerintah, pameran ini berhasil meraup omset hingga Rp53 miliar.

Ia menyebut, Ketua Dekranasda Bali yang dikenal inovatif terus berupaya memperluas promosi potensi lokal, salah satunya melalui fashion show yang kini rutin digelar untuk memperkenalkan karya pengrajin Bali ke tingkat nasional dan internasional.

“Kami berharap mudah-mudahan apa yang dipelajari selama berada di Bali bisa diterapkan di Mimika,” katanya.

Sementara itu, Ketua Harian Dekranasda Mimika, Ny Nella Manggara mengatakan dirinya mewakili Ketua dan Wakil Ketua Dekranasda Mimika bersama tim dari Dinas Koperasi dan UMKM serta perwakilan asosiasi menyampaikan terima kasih atas penerimaan Dekranasda Bali.

Dikatakan, tim Dekranasda melakukan kunjungan sejak 24 November. Selama di Bali, rombongan mempelajari proses pembuatan ukiran, anyaman, kopi luwak, hingga sistem pengelolaan Pameran UMKM Bali Bangkit.

Nella mengapresiasi pemerintah Bali yang menyediakan gedung resmi untuk menampung pengrajin dari sembilan kabupaten sehingga seluruh produk lokal memiliki ruang promosi yang layak dan terintegrasi.

“Timika sangat kaya, semua yang dipamerkan di sini kami juga punya, tapi kehidupan kami di Timika masih begitu saja. Sehingga dengan adanya wadah ini kami harap Timika juga punya supaya bisa membantu ekonomi masyarakat lokal,” ujarnya.

Nella mengatakan pengrajin Mimika dibina oleh Dekranasda dan Dinas Koperasi dan UMKM, namun belum memiliki fasilitas seperti yang disiapkan pemerintah Bali. Karena itu, hasil studi tiru ini akan disampaikan kepada Bupati dan Wakil Bupati Mimika.

“Mudah-mudahan lewat perjalanan kami ini ada tindak lanjut, apalagi pimpinan kami sangat antusias dengan pengembangan ekonomi kreatif,” katanya.

Dari hasil kunjungan studi tiru, Ny. Nella menyampaikan bahwa Pemerintah Kabupaten Mimika akan membangun Mall khusus untuk menjual hasil kerajinan dan seni bagi para pelaku UMKM Mimika. (Red)

Datangi Kantor Pemerintahan, Masyarakat Amungme Tuntut Pemda Keluarkan SK

Bupati Mimika Johannes Retrob didampingi Wakil Bupati Emanuel Kemong saat menerima aksi demo damai dari puluhan masyarakat di Kantor Pusat Pemerintahan SP3.

MIMIKA, BM

Masyarakat Amungme mendatangi Kantor Sentra Pemerintahan SP 3 dan melakukan aksi demo damai pada Senin (24/11/2025).

Pantauan wartawan dilapangan, aksi demo ini dipimpin oleh Ketua Lembaga Musyawarah Adat Suku Amungme (Lemasa) Manuel John Magal beserta puluhan masyarakat lainnya.

Selain melakukan orasi dengan menyampaikan aspirasi, dalam aksi tersebut juga dibentangkan spanduk berukuran besar dengan tulisan “Masyarakat Amungme Menuntut Bupati Mimika Segera mengakui LEMASA sebagai Lembaga Masyarakat Hukum Adat Yang Sah”.

Ketua LEMASA Manuel John Magal menyampaikan bahwa aksi hari ini yaitu menuntut Pemkab Mimika untuk keluarkan SK pengakuan perlindungan terhadap lembaga musyawarah adat suku Amungme dalam rangka menjadi lembaga masyarakat hukum adat suku Amungme sesuai dengan regulasi.

"Kami disini sebenarnya sudah memenuhi kriteria lengkap sebagai lembaga masyarakat hukum adat, karena lembaga adat perlu didaftarkan ke Kemenkumham maupun Kesbangpol. Kami ini pemerintahan adat asli yang sudah ada sebelum pemerintah hadir di daerah kami," katanya.

Menurutnya, kehadiran disini supaya ada ruang dialog agar aspirasi bisa disampaikan sehingga pemerintah bisa menyelesaikan persoalan ini.

"Supaya kita diakui sebagai lembaga hukum adat yang mana bisa menjadi lembaga mitra dengan pemerintah daerah, sekaligus kami juga bisa melestarikan adat dan budaya suku Amungme," ujar Manuel John.

Lanjutnya,"Saya harapkan ini diselesaikan, supaya nasib masyarakat jangan tergantung dan bisa terorganisir serta bisa melibatkan masyarakat lokal dalam pembangunan dari berbagai bidang,"sambung Manuel John.

Bupati Mimika, Johannes Rettob usai menemui masyarakat menyampaikan bahwa pada prinsipnya pemerintah daerah tidak mempermasalahkan. Namun, pembentukan lembaga masyarakat hukum adat harus mengikuti prosedur dan regulasi yang berlaku.

"Seperti yang disampaikan oleh mereka bagi saya itu tidak ada soal, tapi lembaga hukum adat kita bentuk itu berdasarkan sebuah tatanan aturan yang ada. Mari duduk bicara, dan kalau semua sudah clear itu tidak jadi soal. Kita cek prosedurnya, karena ada tim penilai yang akan menilai, benarkah ini lembaga hukum adat yang benar," ujar Bupati.

Menurut Bupati John bahwa Lembaga masyarakat hukum adat ini penting dan harus ada di Mimika. Amungme dan Kamoro harus ada lembaga hukum adat, karena sebagai pemilik daerah ini.

"Kami pemerintah daerah sangat berharap lembaga hukum adat ini ada, untuk membantu kami dari segala macam persoalan-persoalan terkait tapal batas, pemerintahan, terkait kekayaan alam dan lain-lain,"ujarnya.

Lanjutnya,"Bahkan kalau investor masuk juga harus melalui mereka, persoalan jual beli tanah juga tidak bisa sembarang kalau tidak ada lembaga hukum adat. Nanti tanggal 9 Desember kita akan lakukan dialog dengan mereka," sambung Bupati John. (Ignasius Istanto)

Top