Budaya

Festival Pasar Imlek Meriahkan Kota Timika, Dorong Terbentuknya Mimika Fair

 

Pembukaan Festival 

MIMIKA, BM

Jelang Perayaan Imlek 2557 Kongzili yang jatuh pada tanggal 17 Februari 2026, Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) menggelar Festival Pasar Imlek.

Kegiatan dipusatkan di Jalan Budi Utomo dilaksanakan selama tiga hari terhitung sejak Minggu (15/2/2026) hingga Selasa (17/2/2026).

Festival dimeriahkan oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Mimika dan juga melibatkan 38 stan UMKM yang menyajikan aneka kerajinan pahatan khas Suku Kamoro, aksesoris, kuliner termasuk alat dan pemeriksaan kesehatan.

Turut hadir Bupati Mimika Johannes Rettob beserta Ketua TP PKK sekaligus Ketua Dekranasda Mimika Ny. Susy Herawaty Rettob didampingi anak terkasih Karen Rettob, forkopimda, para panitia dan pengurus PSMTI Mimika serta masyarakat Timika.

Kegiatan berlangsung semarak dengan hadirnya tiga barongsai yang menyuguhkan pertunjukan menarik diiringi musik khas Tionghoa yang menghibur dan mengundang perhatian masyarakat yang hadir.

Tak ketinggalan, tarian Papua turut ditampilkan oleh pelajar dari SMP YPPK Santo Bernardus. SD Sion juga tak mau kalah dimana pelajarnya membawakan tarian kipas dan tali pita.

Sementara para guru mereka bergoyang cha-cha “Maria Mariana” yang membuat suasana semakin meriah.

Sontak Bupati Mimika Johannes Rettob dan Ketua Dekranasda Mimika Ny. Susy Rettob beserta tamu undangan pun ikut bergoyang sambil memberikan angpao kepada guru-guru.

“Gong Xi Fa Cai, Xin Nian Kuai Le, Wan Shi Ru Yi" demikian Ketua PSMTI Rusli Gunawan menyapa dan mengawali sambutannya pada Festival Pasar Imlek ini.

“Artinya Selamat Merayakan Tahun Baru Tionghoa, budaya dan agama Konghucu. Semoga kemakmuran, kesejahteraan, keselamatan, kekuatan, semangat dan hoki yang akan kita masuk nanti pada Selasa (17/2/2026) dengan Shio Kuda Emas,” kata Rusli.

Hari ini ditambahkannya sebagai perjalanan 15 hari menuju Cap Go Meh yang jatuh pada Selasa (3/3/2026) dan akan dilangsungkan di Graha Eme Neme Yauware.

“Ucapan terimakasih kepada semua panitia dan pengurus PSMTI atas kebersamaan ini dalam perayaan Pasar Imlek ini. Ini merupakan suatu momen kegiatan untuk budaya Tionghoa di Kabupaten Mimika,” ungkapnya.

Pada kesempatan itu Ketua PSMTI Rusli Gunawan menyampaikan dan mengajak seluruh kerukunan dan paguyuban yang ada di Kabupaten Mimika untuk bersama-sama bersatu membuat Pasar Raya Mimika.

“Tujuannya salah satu untuk pariwisata. Untuk itu pak bupati dalam rangka HUT Mimika, Hari Kemerdekaan RI, Hari Pariwisata dan lainnya, kita sama-sama bersatu untuk membuka Pasar Raya Mimika untuk semua kerukunan dan paguyuban yang ada di Mimika,” tandasnya.

Ia berharap dengan semangat kebersamaan dan kolaborasi dalam Perayaan Imlek 2557 dapat mempererat harmonisasi antar umat beragama, antar suku dan seluruh warga Mimika.

Sementara itu, Bupati Mimika Johannes Rettob mengatakan tahun ini merupakan momen luar biasa karena tiga agama besar dalam bulan Februari ini melaksanakan ibadah sesuai kepercayaannya masing-masing.

“Secara nasional tahun ini, tanggal 17 (Februari-red) Tahun Baru Imlek 2557. Tanggal 18 semua umat Muslim memasuki bulan Ramadhan dan juga umat Katolik memasuki Masa Pra Paskah. Tanggal 19 merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948,” ucapnya.

Tahun ini dikatakan sebagai tahun harmoni. Bupati JR mengucapkan selamat memasuki Imlek, bulan Ramadhan, Masa Pra Paskah dan Nyepi.

“Kita bersyukur kepada Tuhan karena sesuai keyakinan masing-masing kita berusaha sama-sama bisa mendapatkan kebahagiaan, keharmonisan, kedamaian dan mudah-mudahan itu semua terjadi kepada kita semua,” harapnya.

“Sesuai dengan target dan visi tujuan Kabupaten Mimika yaitu menciptakan masyarakat Mimika yang sehat, cerdas, aman dan damai menuju bahagia,” imbuhnya.

Even ini juga menurutnya luar biasa karena melibatkan 38 UMKM.

Pada kesempatan tersebut, Bupati JR menyampaikan bahwa Mimika saat ini tercatat sudah memiliki 1580 dimana 870 UMKM diantaranya telah resmi masuk daring sehingga diharapkan dapat menciptakan ekonomi yang baik kedepannya.

Dari Festival Pasar Imlek ini ia pun menyatakan agar kerukunan dan paguyuban yang ada di Mimika bersatu padu dengan semangat harmoni dan kebersamaan menciptakan Pasar Raya untuk mendongkrak pariwisata Mimika.

“Kenapa PSMTI tidak bekerja sama dengan pemerintah dan semua kerukunan, kita buat Mimika Fair. Kita buat tapi produk-produk kita, industri kita buat di Mimika atau mungkin kita datangkan dari luar Mimika kita jual,” ungkapnya.

Bupati JR melihat bahwa kehadiran PSMTI memberikan kontribusi dalam pembangunan di Mimika.

“Salah satu kunci PSMTI punya hotel, rumah makan, pabrik dan Maxim artinya perkembangan PSMTI semakin baik disini,” pungkasnya. (Elfrida Sijabat)

Ari Sihasale Kunjungi Festival Pasar Imlek, Pesan Produk UMKM Tambelo

Foto istimewa/Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen ditemani Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Mimika Samuel Yogi saat di stan UMKM milik ibu Magdalena dan ibu Maria

MIMIKA, BM

Anggota Komite Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua Bidang Koperasi, UMKM, Ekonomi Kreatif Dan Kebudayaan, Ari Sihasale  bersama sang istri Nia Zulkarnaen ditemani Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Mimika Samuel Yogi mengunjungi Festival Pasar Imlek pada Senin (16/2/2026).

Ale nampak mengunjungi salah satu stan UMKM usaha tambelo dan mangrove milik ibu Magdalena dan ibu Maria.

Kepada BeritaMimika di sela-sela kegiatan, Magdalena mengaku Ale senang melihat olahan cemilan dari produk lokal Timika tersebut.

“Tadi Ari Sihasale datang kesini pesan tambelo 10 pcs, istrinya pesan, besok pagi diambil. Mau dibawa untuk oleh-oleh ke Jakarta. Produk kami halal dan sudah ada ijin edar,” ucapnya.

“Tambelo seperti ulat sagu, hidup di kayu yang sudah lapuk, ulatnya kita ambil untuk cemilan,” imbuhnya.

Magdalena mengolah tambelo menjadi cemilan seperti kerupuk dan stik. Sementara ibu Maria menghadirkan mangrove yang diolah menjadi stik, lulur dan kue basah.

“Produk unggulan kami berbahan lokal yang diminati oleh masyarakat adat, kami usahakan tambelo ini supaya nusantara mau karena kadang ada yang geli kalau dimakan mentah. Jadi kami inovasi jadi cemilan yang bisa dimakan semua orang,” ungkapnya.

UMKM usaha tambelo dan mangrove ini sudah tergabung di Dinas Koperasi dan UMKM Mimika selama tiga tahun.

“Kami belum punya lapak, jadi kami rumah produksi. Sehari kami produksi bisa dua kilogram tergantung bahan bakunya. Karena tambelo sulit harus mencari di hutan, pakai perahu ke hulu sungai lalu panjat pohon baru ambil buahnya. Jadi penuh perjuangan,” terangnya.

Magdalena dan Maria merasa bangga diundang dalam Festival Pasar Imlek ini.

“Festival ini unik karena baru pertama kali. Kami bangga karena diundang ikut meramaikan. Penjualan selama dua hari ini biasa saja kalau keluar daerah bisa melebihi target karena dianggap unik,” katanya.

Menurutnya, warga Timika sudah biasa makan ulat sagu, tetapi orang luar daerah Timika menilai tambelo itu unik, bahkan Ale pun memesannya sebagai oleh-oleh. Tambelo pun kaya akan protein.

“Semoga tambelo bisa lebih dikenal oleh masyarakat nusantara dan usaha kami sukses. Semoga produk kami semakin dikenal di luar Mimika,” harapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Mimika, Samuel Yogi yang turut mendampingi Ari Sihasale dan tim dalam kunjungan siang tadi mengatakan kunjungan tersebut bagian dari program kerja Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua.

Yogi mengatakan Ari Sihasale merupakan salah satu anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua yang membidangi Koperasi, UMKM dan Kebudayaan.

“Beliau bagian dari koperasi dan UMKM sehingga kami sangat bersyukur atas kunjungan tadi ke Pasar Imlek. Kami bangga beliau bisa hadir dan ingin membatu pengembangan produk UMKM dari Mimika,” ungkapnya.

Menurut Yogi, dalam kunjungan tadi hadir juga anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua yang membidangi perikanan dan pertanian.

“Besok saya akan menemani mereka ke Atuka untuk melihat UMKM dan Koperasi serta potensi ekonomi apa yang ada di sana,” ujarnya.  (Elfrida Sijabat)

Uskup Timika : Semoga 2026 Menjadi Tahun Rahmat

Suasana perayaan misa akhir tahun di Gereja Katedral Tiga Raja

MIMIKA, BM

Ribuan umat katolik memadati Gereja Katedral Tiga Raja mengikuti misa tutup tahun 2025 pada Rabu 31 Desember 2025.

Misa dipimpin langsung oleh Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, didampingi Pastor Amandus Rahadat, Pr dan Pastor Rinto Dumatubun, Pr.

Dalam homilinya, Uskup Bernadus menyampaikan bahwa misa malam ini merupakan malam terakhir di tahun 2025 dan sekaligus momentum refleksi atas perjalanan waktu yang telah dilalui manusia.

Hitungan tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit serta detik adalah suatu kategori waktu yang dinamai manusia.

"Tahun adalah akumulasi bulan, bulan adalah akumulasi minggu, minggu adalah akumulasi hari dan akumulasi hari adalah jam dan jam adalah menit dan menit adalah detik serta detik adalah nol dan ketiadaan kedalam kekekalan keabadian,"kata Uskup Bernadus.

Dikutip dari Santo Agustinus, Uskup Bernadus menjelaskan bahwa tidak ada pemisahan antara waktu dan sejarah hidup manusia. Waktu pada hakekatnya adalah ruang dimana manusia hidup.

Didalam ruang itulah manusia menggunakan momen ini untuk mengukir sejarah. Sejarah kebaikan atau sejarah keburukan dalam rentangan hidup manusia.

Maka bagi Santo Agustinus tidak ada waktu, waktu hanya ada hari yang telah berlalu maka memoria waktu masa lalu adalah kenangan dan sejarah dan hari akan datang adalah harapan, impian, mimpi tentang sesuatu yang akan terjadi tahun 2026.

"Tapi yang pasti kita tahu bahwa ada sejumlah peristiwa yang telah kita lalui, dan apakah itu terulang lagi pada waktu yang sama pada tahun yang akan kita lalui," ujarnya.

Ia mengatakan, Santo Agustinus menyatakan apa yang dimaksud dengan sejarah pada hakekatnya adalah waktu itu sendiri dimana manusia dan makhluk hidup yang lain berada, memberi makna pada perjalanan.

Oleh karena itu, bagi Santo Agustinus segala peristiwa yang dilakukan dan terjadi saat ini kemudian berlalu menjadi suatu kenangan memoria dan  adalah sejarah.

Pandangan tersebut, lanjut Uskup Bernardus, sejalan dengan pemikiran filsuf asal Republik Ceko, Edmund Husserl, yang menegaskan bahwa makna sejarah tidak perlu dicari di luar diri manusia. Sejarah dan waktu hidup di dalam jiwa manusia yang bersatu dengan Sang Pencipta.

“Sang Pencipta masuk ke dalam ruang dan waktu sejarah manusia, berbelarasa dengan manusia, dan membawa manusia menuju kekekalan dalam terang-Nya menuju kebahagiaan sejati,” ucapnya.

Uskup Bernardus menegaskan bahwa Allah rela turun ke dalam ruang kehidupan manusia agar manusia mampu menghadirkan karya-karya hidup yang selaras dengan rencana Tuhan, yakni membangun Kerajaan Allah, kerajaan damai, kebaikan, dan keselamatan, bukan kerajaan kejahatan, perpecahan, dan kehancuran.

Ia berpesan, jika di tahun 2025 masih terdapat rencana yang belum tercapai atau karya yang belum sempurna, maka tahun 2026 harus menjadi kesempatan untuk melanjutkan dan menyempurnakannya, baik dalam kehidupan keluarga maupun di seluruh Tanah Papua.

Menutup homilinya, Uskup Bernardus mengajak umat menjadikan segala kekurangan dan kegagalan di tahun 2025 sebagai bahan refleksi dan pertobatan, agar dapat kembali berjalan di jalan Tuhan.

“Kalau di tahun lalu memori kita belum sempurna, mari kita sempurnakan di tahun ini. Apa yang kurang di masa lalu jadikan refleksi untuk diperbaharui. Dan semoga di tahun 2026 menjadi tahun Rahmat Tuhan sebagaimana Tuhan  menerima kabar dari malaikat. Mari kita lakukan karya-karya kebaikan di tahun 2026,”pesannya. (Shanty Sang)

Top