Olah Raga

Pebasket Christina Angela Kakuna Ingin Seperti Idolanya, Lea Kahol

Christina Angela Kakuna

MIMIKA, BM

Indonesia Basketball Festival (IBF) 2022 yang berlangsung di Mimika Sport Complex mempertandingkan tiga tim putri.

Minimnya keikutsertaan para putri untuk mengikuti ajang ini dirasakan oleh Christina Angela Kakuna (18).

Christina Angela Kakuna merupakan pebasket putri yang memperkuat tim Tsunami pada laga IBF dengan nomor punggung 3.

Putri yang lahir besar di Timika ini mengutarakan sedikit cemburu karena pemain putra yang bertanding di IBF lebih banyak dari pada tim putri.

“Cuman ada tiga tim bertanding saya rasa sedih dan iri karena laki-laki lebih banyak,” tuturnya.

Sementara untuk pertandingan melawan Kalaburin, Tsunami berhasil menang. Ia pun mengungkapkan kesenangannya.

“Secara tim Tsunami menang saya senang kami bermain bagus dan kompak. Hanya saja secara pribadi saya sedikit kecewa karena empat kali under ring tadi saya gagal. Ini jadi pembelajaran untuk saya,” imbuhnya.

Sejak 2018 Kakuna bergabung dengan tim Zetro. Kemudian pada 2021 ia bergabung dengan Tsunami dikarenakan faktor usianya.

“Di Zetro yang seumuran dengan saya sedikit saja, untuk main di IBF saya bergabung di Tsunami. Saya ingin jadi seperti Lea Kahol karena dia putri Papua yang berhasil tembus tingkat nasional itu menjadi kebanggaan dan motivasi tersendiri untuk saya bisa seperti dia,” katanya.

Ketertarikannya akan basket sudah dimulai sejak di bangku sekolah tepatnya di SMPN 2 Mimika, karena diajak oleh teman berlatih dengan combat yang dibina oleh coach Ahmad Sofyan. Itulah arti dari Zetro yang bermakna from zero to hero.

Kakuna yang saat ini masih mengenyam pendidikan di SMAN 1 Mimika dihadapkan akan pilihan antara sekolah dan basket.

“Kalau harus memilih antara sekolah dengan ke timnas saat ini bagi saya sekolah masih yang utama karena dihadapkan akan ujian. Selesaikan dulu baru bergabung di timnas,” tandasnya.

Putri asal Merauke namun lahir besar di Timika ini merasakana kecintaannya akan kota Timika tempat ia terlanjur cinta akan dunia basket.

“Su terlanjur cinta dengan basket saya senang di Timika bersama dengan teman-teman semua. Untuk adik-adik kembangkan talenta yang sudah dikasih oleh Tuhan, jangan pernah sia-siakan waktu yang ada. Diatas langit masih ada langit jadi tetap rendah hati dan semangat meraih cita-cita,” pesannya (Elfrida

 

Sekretaris KONI Mimika Harap IBF Mampu Merangsang Para Pemilik Modal

Sekretaris KONI sekaligus Ketua Perbasi Mimika, Cesar A Tunya

MIMIKA, BM

Saat ini Kabupaten Mimika memiliki tujuh klub basket. Selain itu juga terdapat 14 pelatih yang bersertifikat.

Hal ini diungkapkan Sekretaris Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) sekaligus Ketua Perbasi Kabupaten Mimika Caesar A. Tunya kepada BeritaMimika Sabtu (8/1) di Mimika Sport Complex (MSC).

“Referee kita juga sudah bersertifikat. Tapi kalau mau buat klub harus punya dana, semoga dengan adanya even Indonesia Basketball Festival (IBF) di Timika ini dapat merangsang para pemilik modal,” ucapnya.

“Klub di Mimika ada tujuh tapi mereka baru latihan setiap kali ada even, bagusnya mereka latihan terus. Kalau klub tidak latihan kita mau bikin even juga percuma,” imbuhnya.

Lanjutnya, untuk sumber daya manusia (sdm) dikatakannya sudah cukup namun masih perlu untuk diupgrade dengan adanya berbagai kompetinsi dan latihan.

“Kita bersyukur ada IBF, untuk teman-teman referee mereka juga bisa bergabung dan petugas meja juga ikut. Para pemain juga menurut Ketua Umum Perbasi Pusat sudah dapat dilihat ada perkembangan,” tuturnya.

Cesar mengatakan KONI Mimika kedepan akan mengambil langkah-langkah untuk merekrut para pemilik modal demi kemajuan klub basket di Mimika.

“Kita sudah punya klub Indonesia Basketball League (IBL) berikutnya rencananya Ketua Umum Perbasi akan membuat sekolah basket dan ini sedang dirancang. Kita harap kan semua bisa berjalan,” tandasnya.

Sarana dan prasarana berupa lapangan basket yang ada di Mimika pun kini disebutnya sudah bertambah bahkan lapangan di Perbasi sudah ramai.

“Ini semua tergantung minat, kalau tidak ada minat susah. Tapi kita juga sudah punya strategi bagaimana menemukan bibit muda yang menyukai basket dan mengembangkannya,” tuturnya. (Elfrida/Milan)

Lihat Potensi Anak Papua di Basket, Ketua Umum Perbasi Pusat, Sampaikan Hal Ini


Ketua Umum Perbasi Pusat, Danny Kosasih

MIMIKA, BM

Ketua Umum Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi), Danny Kosasih selama dua hari melihat berlangsungnya even Indonesia Basketball Festival (IBF), ia mengatakan ada beberapa anak Papua yang memiliki talenta bagus bahkan disejajarkan dengan kemampuan tim nasional.

Hal ini diungkapkannya kepada awak media Sabtu (8/1) di Mimika Sport Complex (MSC).

“Saya datang kesini mau memulai suatu pembangunan prestasi di Timika. Ketika saya lihat pertandingan JungleBoys mereka itu sekelas di Jawa, kelas bagus cuman kurang jam terbang,” katanya.

“Anak-anak ini perlu diasah, coba setiap Jumat dikasih game terus supaya matang. Kalau perlu ada satu atau dua anak yang bermain bagus dikirim ke Jawa, dititipkan ke suatu daerah supaya ikut kompetisi. Jakarta bagus karena kompetisinya bagus. Kalau kompetisi tidak bagus percuma,” imbuhnya.

Menurutnya, mengirim satu tim ke Jawa dirasa tidak perlu. Akan lebih baik jika diadakan dan bila perlu mengundang dari daerah lain untuk bertanding (sparing-red) ke Timika.

“Jungleboys ini levelnya sudah seperti di Jawa seperti kerapihan, sangat rapi. Ini tim bagus. Nomor enam kalau perlu saya bawa dia, pasti bisa, mereka hanya kurang jam terbang. Anak Papua bukan kurang bakat namun kurang diasah,” ungkapnya.

Danny melihat potensi yang dimiliki oleh anak Papua sudah ada dalam diri Rioni dan dua pemain tim nasional yang salah satunya dari Timika. Ini adalah bukti talenta pebasket yang dimiliki dari negeri matarhari terbit Papua.

“FIBA pernah mengirim pelatih ke Papua, pelatih dari Serbia tetapi tertahan di Singapura karena tidak mengurus visa dengan baik. Kalau FIBA saja memberikan perhatian ke Papua maka kalau bangsa Indonesia tidak memberikan perhatian juga kan aneh. Ini saatnya kita membangun bersama untuk Papua,” tandasnya.

“Southeast Asia Basketball (SEAB) menilai satu-satunya negara yang bisa mengalahkan Filipina adalah Indonesia, karena Indonesia punya Papua. Anak-anak Papua posturnya pun bagus, sayang jika tidak dilatih hanya mereka tidak mendapat game yang bagus kalau ke Jawa saya yakin pasti bagus,” pungkasnya.

Untuk pelatih dan referee pun menurutnya perlu untuk mendapatkan pelatihan dan pengembangan di Jawa bukan untuk tiga atau empat hari saja namun enam bulan.

“Kalau empat hari bagaimana bisa berubah tapi kalau enam bulan ikut trainning tim nasional elit muda bisa belajar banyak. Kalau tim Indonesia tidak membangun Papua itu salah, di tim nasional sudah ada dua dari Papua salah satunya Reza. Mari kita membangun Papua ke depan,” harapnya. (Elfrida)

Top