Kesehatan

Distrik Mimika Baru Gelar Sosialisasi Germas Bagi Perwakilan Kelurahan dan Kampung

Staf Ahli Bidang Politik, Hukum dan HAM Setda Mimika Yakobus Karet didampingi Kepala Distrik Mimika Baru Joel D Luhukay foto bersama dengan peserta dan tamu undangan

MIMIKA, BM

Pemerintah daerah melalui Distrik Mimika Baru menggelar sosialisasi gerakan masyarakat hidup sehat (Germas) untuk kelurahan dan kampung se-Distrik Mimika Baru, Rabu (12/6/2024).

Kegiatan yang bertempat di Hotel Kanguru dibuka secara resmi oleh Staf Ahli Bidang Politik, Hukum dan HAM Setda Mimika Yakobus Karet.

Yakobus Karet dalam sambutannya mengatakan, jika ingin melakukan sesuatu maka semua orang harus sehat.

"Kalau tidak sehat bagaimana mau kerja, kalau tidak sehat bagaimana mau melakukan aktifitas," ujarnya.

Menurut Yakobus, Distrik Mimika Baru menjadi panutan bagi distrik yang lain. Distrik Mimika Baru adalah kaca mata satu Kabupaten Mimika. Pasalnya, hanya distrik ini yang mempunyai inovasi melaksanakan program kesehatan seperti ini.

"Kami memberikan apresiasi dengan inovasi yang dilakukan oleh Distrik Mimika Baru. Stunting saja menjadi barometer untuk nilai kesehatan bagi satu kabupaten ini,"tuturnya.

Ia berharap seluruh peserta menyimak dengan baik materi yang diberikan oleh narasumber agar bisa diterapkan di lingkungan sekitar.

"Kegiatan sosialisasi ini adalah kegiatan yang sangat bernilai besar, jangan melihat kegiatan fisiknya saja. Ini kegiatan kecil tapi bernilai sangat besar, dan sangat bermakna untuk kita semua,"ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Distrik Mimika Baru Joel D Luhukay mengatakan, kegiatan sosialisasi Germas adalah bagaimana distrik bisa memberikan pelayanan atau kontribusi yang baik untuk masyarakat entang kesehatan.

"Apapun kalau kita mau melakukan sesuatu itu harus sehat dulu. Kami betul-betul fokus di kesehatan. Sehingga sosialisasi ini kita libatkan kelurahan, kader posyandu, RT, PKK agar mereka bisa menjadi perpanjangan tangan pemerintah untuk menyampaikan pola hidup yang baik tentang kesehatan mulai dari dalam rumah tangga dulu," jelasnya.

Joel mengatakan, tahun lalu Mimika dihadapi dengan banyak masalah seperti polio dan stunting yang mana di wilayah Distrik Mimika Baru jumlah sangat tinggi.

Joel berharap kegiatan ini bisa mengurangi nilai stunting dan mencegah polio jangan sampai terjadi lagi di wilayah distrik.

"Kami ingin dari bawah itu masalah apa yang perlu mereka sampaikan ke kami, apa yang dibutuhkan di bawah. Dengan demikian kita bisa sampaikan ke pimpinan paling tinggi," ujarnya.

Joel berharap dengan kegiatan sosialisasi Germas ini Distrik Mimika Baru bisa bebas polio dan stunting.  (Shanty Sang)

Jangan Anggap Remeh : 2 Pasien di RSUD Mimika di Diagnosa Difteri


RSUD Kabupaten Mimika (tampak depan : foto google)

MIMIKA, BM

2 pasien di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Mimika didiagnosa difteri, sehingga mengakibatkan 1 diantaranya meninggal dunia.

Diketahui bahwa kedua pasien tersebut ternyata belum mendapatkan vaksinasi atau imunisasi Difteri.

Hal ini diungkapkan Direktur RSUD Mimika dr. Antonius Pasulu kepada BeritaMimika Selasa (4/6/2024) melalui pesan whatsapp.

“Difteri penularannya memang cepat,” tuturnya.

Dr. Anton mengatakan bahwa RSUD menerima dua pasien yang merupakan kakak dan adik berusia 7 tahun dan 5 tahun ini pada tanggal 27 Mei 2024.

Setelah mendapatkan perawatan insentif di ruang isolasi pada hari ke-7 nyawa adik tidak dapat tertolong karena komplikasi berat yang dialami.

“Sedangkan kondisi kakak saat ini menunjukkan perbaikan,” ungkapnya.

Dr. Anton menjelaskan bahwa difteri merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri corynebacterium diphteriae.

Penyakit ini dikatakan dapat menyerang segala usia terlebih pada anak-anak, melalui partikel udara, percikan air liur saat bersin atau batuk, permukaan barang yang terkontaminasi dan luka yang terinfeksi.

“Adapun gejala yang timbul adalah demam, batuk, nyeri tenggorokan, suara serak sampai dengan sesak napas. Pada pemeriksaan didapatkan pembengkakan pada leher, terdapat lapisan tipis berwarna abu-abu yang menutupi amandel dan tenggorokan juga didapatkan pada bagian hidung,” terangnya.

Bakteri ini dapat menyebabkan kematian karena menghasilkan racun yang merusak jaringan dihidung dan tenggorokan yang menyebabkan sumbatan dijalan napas atas dan bawah serta dapat menyebar ke aliran darah.

Hal ini yang mengakibatkan komplikasi ke jantung, paru, ginjal dan saraf.

“Saya harap orangtua dapat memastikan anak-anaknya memperoleh vaksinasi Difteri agar dapat  memperoleh kekebalan tubuh terhadap penyakit difteri dan menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Selain itu juga menerapkan protokol kesehatan,” tandasnya. (Elfrida Sijabat)

Pentingnya Imunisasi Polio, Ternyata Perilaku Buang Air Besar Sembarangan di Mimika 70 Persen


Kepala Dinas Kesehatan Mimika Reynold Ubra didampingi Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Obet Tekege dan tim kesehatan saat melakukan pertemuan dengan media

MIMIKA, BM

Penemuan satu kasus polio atau lumpuh layu pertama kali ditemukan pada anak berusia 9 tahun di Kampung Jimbi, distrik Kuala Kencana, Mimika, Papua Tengah.

Adapun gejala yang timbul yakni panas, demam dan tubuh bagian bawah tidak mampu untuk berdiri.

Anak tersebut kini telah mendapatkan terapi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Mimika dan sudah dapat berjalan serta diharapkan tidak ada kecacatan.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mimika merespon cepat dengan mengambil 45 sampel anak disekitar lingkungan tersebut untuk diperiksa di laboratorium Surabaya dan dinyatakan 8 anak positif polio. 

Kasus ini membuat kita bertanya apa pentingnya imunisasi polio?

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika Reynold Ubra kepada media Jumat (31/5/2024) mengatakan polio adalah salah satu virus yang dapat menyebabkan lumpuh layu.

Virus itu masuk kedalam tubuh melalui saluran cerna, ketika perilaku buang air besar masih sembarangan maka anak-anak yang belum mendapat imunisasi polio dapat terpapar.

Dijelaskan, seorang anak dapat menerima vaksin polio secara lengkap dengan cara 4 kali tetes dan 2 suntik.

Jika lengkap maka anak tidak sakit polio dan tidak menularkan kepada lainnya. Vaksinasi bukan hanya untuk melindungi anak-anak namun juga anak disekitarnya.

“Setelah tetes pertama diberikan, tetes kedua diberikan 2 minggu setelahnya. Kemudian satu bulan setelah itu diberikan tetes ketiga, dan satu bulan selanjutnya diberikan tetes keempat," ujarnya

"Adapun efek dari imunisasi ini jarang ditemukan namun apabila demam, orang tua dapat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan. Hal ini wajar karena tubuh sedang merespon membentuk kekebalan tubuh,” tuturnya.

Apabila ada keluhan setelah diimunisasi, ada tim pemantau kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI).

"Jika ada orang tua yang anaknya mengalami keluhan bisa menghubungi Call Centre 119, jika tidak bisa ke puskesmas atau rumah sakit,” imbuhnya.

Ia memaparkan menindaklajuti temuan kasus polio di Mimika, Dinkes Mimika melaksanakan sub pekan imunisasi nasional (PIN) polio dengan menargetkan 55.570 anak di Mimika mendapatkan vaksin polio, dan tercatat sudah 8.338 anak mendapatkan imunisasi polio.

Imunisasi dilaksanakan selama 4 putaran yakni putaran pertama dilaksanakan pada tanggal 27 Mei hingga 9 Juni 2024. Putaran kedua pada tanggal 24 Juni hingga 7 Juli 2024. Putaran ketiga pada 1 Agustus hingga 11 Agustus 2024, dan putaran keempat pada tanggal 9 September hingga 22 September 2024.

"Satu putaran dilaksanakan selama satu minggu ditambah 5 hari. Hari (Jumat-red) kita sudah masuk hari kelima, hari keempat putaran pertama sudah mencapai 25 persen,” paparnya.

Adapun pos-pos PIN Polio yang dapat dikunjungi yakni puskesmas terdekat, pustu, posyandu, sekolah-sekolah, gereja dan pos imunisasi lainnya.

“Cakupan tinggi di sekolah tapi bagi yang tidak sekolah mendekat ke puskesmas. Pos PIN ada pos yang statis pada saat jadwal posyandu dan yang mobile dimana petugas akan bergerak ke sekolah dan gereja. Saat ini yang tersedia vaskin yang ditetes,”ucapnya.

Reynold Ubra kemudian secara rinci menjelaskan, mengapa manusia terutama anak-anak butuh imunisasi. Ia mengatakan, kuman penyakit akan bermutasi sehingga dibuat sistem imunisasi buatan untuk melindungi dari berbagai macam penyakit.

"Semua tergantung dari perilaku, paparan dan daya tahan orang tersebut. Imunisasi sebenarnya mengambil sistem daya tahan tubuh kita supaya ketika kita ada ditengah lingkungan resiko kita sakit tapi karena diimunisasi kita bisa terlindungi. Rata-rata perilaku buang air besar sembarangan di Mimika 70 persen, selain itu penyediaan air bersih dan cuci tangan,” tandasnya.

Ayo cegah polio dengan imunisasi polio rutin, cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir, stop buang air besar sembarangan dan jangan buang popok bayi sembarangan. (Elfrida Sijabat)

Top