Kesehatan

Perawat cMc Membuat Pelindung Wajah Sendiri

Para perawat dengan pelindung wajah yang dibuat sendiri

MIMIKA, BM

Alat Pelindung Diri (APD) atau pakaian pelindung merupakan kebutuhan utama bagi tim medis dalam memerangi Corona. Virus yang tidak kasat mata bahkan tidak diketahui kapan keberadaanya ini harus diantisipasi dengan kelengkapan tersebut. Namun hingga kini Clinic Cahaya Medical Centre (cMc) belum memiliki pakaian pelindung diri.

Kepada BeritaMimika, berapa hari lalu, Bidan Ria didampingi perawat dan apoteker di cMc mengatakan Dinas Kesehatan telah menyalurkan masker dan handscoon (sarung tangan-red), namun untuk pakaian pelindung diri tidak ada.

Untuk menyiasati guna membentengi diri, para perawat di cMc pun berinisiatif membuat pelindung wajah untuk digunakan sehari-hari.

"Kami bikin sendiri. Bahannya sederhana plastik mika yang tebal biasa untuk jilid buku, pita dan spons. Pita direkatkan ke spons dengan lem perekat kemudian ditempelkan ke plastik mika. Kalau mau dipakai lagi bisa disemprot disinfektan atau alkohol terlebih dahulu. Tetapi tetap harus pakai masker," paparnya.

Dikatakan bahwa perawat di tempat lain ada juga yang menggunakan bando sebagai pengganti pita dan spons.

"Sampai sekarang kami belum menemukan pasien ODP atau PDP, tapi kalau ada yang batuk parah kita kasih masker gunanya untuk melindungi pasien dan kita disekitarnya," ungkapnya

Ria yang bekerja sebagai bidan selama delapan bulan di cMc juga mengungkapkan rasa ketakutannya saat bekerja.

"Bohong kalau kita bilang tidak takut, pasti ada tapi sebisa mungkin kita melindungi diri kita. Salah satu cara ya dengan berinisiatif membuat pelindung wajah sendiri. Kami tidak tahu kenapa APD tidak ada tapi kita berusaha tetap melayani pasien," pungkasnya. (Elfrida

Karena Corona, Hari Ini 17 Orang Diisolasi di Wisma Atlet

Jubir Reynold Ubra

MIMIKA, BM

Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Mimika melalui Tim Gugus Tugas Penanganan Covid-19 terus melakukan berbagai upaya guna membentengi Mimika dari Corona Virus. Salah satunya melakukan sosialisasi dan publikasi kepada masyarakat melalui Diskominfo.

Sedangkan, Dinas Kesehatan hingga sejauh ini terus melakukan tracing terhadap orang-orang yang pernag melakukan kontak dekat dengan pasien. Selain itu mereka juga telah melakukan isolasi agar virus ini dapat dikendalikan penyebarannya di masyarakat.

“Sampai siang tadi sudah ada 17 orang yang diisolasi, 8 orang PDP dan 9 orang Orang Tanpa Gejala (OTG). Mereka diisolasi dengan pengawasan layanan medis 1x24 jam dan didukung dengan sarana prasaran yang memadai. Kami juga akan tetap melakukan pendekatan secara persuasif agar orang-orang yang pernah kontak dengan pasien yang terinfeksi bisa mengikuti langkah-langkah yang sudah disiapkan oleh pemerintah,"jelas Jubir penanganan covid-19 Mimika, Reynold Ubra saat diwawancarai di MPCC, Senin (30/3).

Terkait isolasi, Ia menjelaskan bahwa dunia internasional menggunakan 4 pendekatan untuk penanggulan corona termasuk Indonesia yakni deteksi, tracing, treatmen dan isolasi.

“Ini sangat baik sekali dan kamipun berterima kasih kepada keluarga yang bisa bekerjasama dengan pemerintah sehingga pemerintah boleh mengambil langkah-langkah serius yaitu dengan melakukan isolasi,” ujarnya.

Reynold mengatakan jika isolasi terus dilakukan secara terus menerus maka penyebaran corona virus di Mimika bisa di kendalikan.

Bahkan ia mengatakan role mode yang digunakan Mimika akan menjadi contoh bagi daerah lain karena satu hari setelah di umumkan, tim gugus tugas langsung melakukan kontak tracing.

Ia menjelaskan, bahwa penularan virus corona hanya dengan 2 cara yaitu melalui percikan liur atau cairan dari hidung (droplet). Cairan droplet kalau menempel di tiap benda maka dapat bertahan lama dan jika disentuh oleh orang sehat maka bisa terifeksi.

"Kami bersyukur bahwa hari ini YPMAK membantu pemerintah dengan bantuan alat fasilitas kesehatan. Ini sangat membantu kami dalam menghadapi kondisi ini. Dengan tambahan dari YPMAK memudahkan kami untuk bisa bergerak secara masif di tempat-tempat yang kami bagi menjadi 2 titik,” jelasnya.

Titik yang pertama menurut Reynold Ubra adalah tempat-tempat umum beresiko tinggi seperti RSUD, RSMM, puskesmas, tempat perbelanjaan termasuk pasar modern.

Titik kedua adalah tempat umum dan keramaian termasuk tempat ibadah. Sekolah dikategorikan sebagai tempat yang beresiko rendah.

Reynold juga menjelaskan bahwa Mimika saat ini ada 19 PDP namun tidak semua sample mereka dikirim karena ada kriterianya. Pencegahan bisa dilakukan dengan isolasi mandiri. Sementara mereka dengan kasus berat akan langsung mendapatkan isolasi di rumah sakit.

"Saat ini kamar di wisma ini ada 80 kamar, 1 kamar bisa ditempati untuk 4 orang berarti sekitar 320 orang. Saya pikir ini adalah bagian dari tahapan bagaimana persiapan pemerintah daerah untuk merespon pencegahan penyebaran virus ini. Kita juga sudah menyiapkan alur layanan komperhensif sampai pasien sembuh,"ujarnya.

Reynold menjelaskan, waktu isolasi dilakukan selama 14 hari plus 5 hari untuk pasien dengan kasus berat isolasinya di rumah sakit. Setelah melewati 14 hari akan dilakukan 2 kali pemeriksaan. Jika sembuh maka pasien langsung dipulangkan dengan surat kesehatan dari dinas/rumah sakit.

“Jadi sesuai protokol Kementerian Kesehatan revisi ke 4 tanggal 27 Maret 2020, masih tetap sama. Artinya tidak semua pasien yang terinfeksi covid-19 di rujuk di rumah sakit. Ini khusus untuk mereka yang dengan pneumonia berat. Jka kasusnya ringan dan sedang bisa lakukan isolasi mandiri,” ungkapnya. (Shanty

PTFI Melalui YPMAK Sumbang Rp 2 Miliar untuk Pemda Mimika

Penyerahan bantuan oleh direktur YPMAK

MIMIKA, BM

PT. Freeport Indonesia melalui Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amunge dan Komoro (YPMAK) memberikan bantuan Rp 2 miliar kepada Pemda Mimika sebagai dukungan untuk mencegah penyebaran Covid-19 di Mimika.

Bukan hanya uang, YPMAK juga memberikan bantuan perlatan berupa 39 desinfektan, 48 mesin semprot, masker 100 dos dan pakaian pelindung serta sepatu.

Penyerahan bantuan dilakukan di MPCC, Senin (30/3) pukul 13.40 Wit yang diserahkan langsung oleh Direktur YPMAK Vebian Magal kepada Ketua Tim Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 di Mimika, Marthen Paiding didampingi Juru Bicara Tim, Reynold Ubra.

“Kami adalah yayasan yang bergerak di bidang sosial kemasyarakatan sehingga ini juga menjadi kepedulian dan perhatian kami untuk membantu pemerintah daerah dalam memerangi Covid-19 di Mimika,” ujar Direktur Vebian Magal kepada BeritaMimika by phone.

Ia menjelaskan bantuan tersebut berasal dari YPMAK yang disuport oleh PT. Freeport Indonesia. Ia berharap apa yang mereka berikan dapat membantu percepatan pemerintah dalam menangani virus ini.

“Sumbernya dari Freeport. Harapan kami agar pemerintah cepat atasi secara baik dan tetap melakukan komunikasi dan koordinasi bersama untuk melawan virus ini,” ungkapnya.

Setelah membantu pemerintah daerah, Vebian Magal mengungkapkan mereka kini sedang berkonsetrasi untuk mengurus masyarakat Distrik Tembagapura yang dievakuasi beberapa waktu lalu ke Kota Timika.

“Kami akan prioritaskan orang-orangtua dan anak-anak terutama tentang kelangsungan pendidikan mereka,” ujarnya.

Sementara itu kepada BeritaMimika, Juru Bicara Tim Gugus Tugas Pemda Mimika memberikan apresiasi dan ungkapan terimakasih kepada YPMAK Mimika.

“Kami sangat terbantu dengan bantuan yang diberikan YPMAK. Ini sangat mendukung pemerintah dalam membantu upaya percepatan dan penanganan Covid-19 di Mimika. Apa yang mereka berikan sangat dibutuhkan saat ini seperti mesin penyemprot, bahan dasar hand sanitizer dan perlengkapan kontaminasi,” ungkapnya. (Ronald

Top