Kesehatan

Hari Tuberkulosis Sedunia 2023: Ayo Bersama Akhiri TBC, Mimika Bisa


Pj. Sekda Mimika Petrus Yumte Saat Memotong Tumpeng

MIMIKA, BM

Tuberkulosis Sedunia (HTBS) diperingati setiap 24 Maret di semua negara. Demikian juga dengan di Kabupaten Mimika. Peringatan ini ditujukan agar masyarakat lebih peduli dan sadar bahwa penyakit TBC adalah penyakit yang masih dikategorikan sebagai epidemi.

Tema hari TBC sedunia pada tahun ini adalah “Ayo Bersama Akhiri Tbc, Mimika Bisa”.

Peringatan ini dibuka secara resmi oleh Pj Sekda Mimika, Petrus Yumte ditandai pemotongan tumpeng yang berlangsung di Hotel Horison Ultima Timika, Selasa (11/4/2023).

Pj Petrus Yumte dalam sambutan mengatakan, dengan tema yang diusung ini diharapkan menjadi momen yang tepat untuk mengajak keterlibatan multisektor untuk meningkatkan kampanye dengan penyebarluasan informasi terkait TBC serta mendorong semua pihak untuk terlibat aktif dalam pencegahan dan pengendalian guna mengakhiri TBC di Kabupaten Mimika.

Beberapa langkah untuk mewujudkan tema tersebut adalah dengan cara menyebarluaskan informasi seputar TBC, meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri ke faslitas kesehatan serta komitmen yang kuat dari faslitas kesehatan untuk dapat melakukan pemeriksaan semua masyarakat yang memiliki tanda gejala TBC dan mengobatinya sampai sembuh serta tidak lupa memberikan pengobatan pencegahan TBC agar TBC ini benar-benar bisa diakhiri di kabupaten ini.

"Dengan peringatan ini diharapkan hati setiap orang tergerak untuk menyadari pentingnya peran sekecil apapun, yang bahkan seorang individu lakukan untuk menanggulangi TBC akan sangat bermakna demi pencapaian eliminasi TBC dan menyadari bahwa upaya eliminasi TBC bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan saja tetapi tanggung jawab semua sektor dan setiap individu yang ada,"kata Pj Sekda Petrus.

Untuk itu momentum peringatan hari TB sedunia diharapkan benar-benar akan mendorong dan meningkatkan peran serta dan dukungan masyarakat dalam program penanggulangan TBC.

Ia meminta seluruh lapisan masyarakat, termasuk keluarga, dan segenap jajaran lintas-sektor serta semua pemangku kepentingan diharapkan mendukung program penanggulangan TBC dan menempatkan TBC sebagai masalah yang harus diselesaikan bersama.

"Kabupaten Mimika merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Papua Tengah dengan beban TBC yang tertinggi, hal ini mengindikasikan bahwa penyakit TBC memang telah berkembang di masyarakat, hampir disemua fasilitas kesehatan yang terdapat diperkotaan maupun di distrik dan kampung baik secara pasif maupun aktif telah menemukan penyakit ini,"ujarnya.

Diketahui, fasilitas kesehatan pemerintah dan stakeholder yang lain telah mempunyai kemampuan untuk mendeteksi penyakit ini, sehingga angka temuan telah berada diatas dari yang ditargetkan oleh Provinsi Papua Tengah.

Namun demikian, kata Petrus tantangan dalam pengendalian tuberkulosis adalah bukan hanya menemukan tapi bagaimana mengobati semua penderita TBC sampai sembuh, agar semua penderita TBC di Mimika dapat kembali sehat, hidup berkualitas dan produktif.

Katanya, angka keberhasilan pengobatan di Mimika baru mencapai 76 persen dan belum mencapai angka yang diharapkan yakni 90 persen, angka putus pengobatan juga masih tinggi.

"Hal tersebut menunjukan kepada kita bahwa program penanggulangan TBC di Kabupaten Mimika masih perlu mendapat dukungan dari semua pihak," Tuturnya.

Menurutnya, ada beberapa hal yang masih perlu dilakukan untuk meningkatkan pelayanan TBC serta mempercepat eliminasi TBC di Mimika yaitu, perlunya komitmen pelaksana pelayanan, pengambil kebijakan, dan pendanaan untuk operasional, bahan serta sarana prasarana. Pentingnya keterlibatan lintas program dan lintas sektor dalam penanggulangan TBC. Memastikan masyarakat dapat mengakses layanan TBC khususnya di daerah terpencil, lokasi permukiman padat seperti asrama, barak dan lapas.

Lainnya, tersedianya tenaga terlatih serta menerapkan layanan TBC dengan strategi dots. dilakukan pemantauan pengobatan serta dilakukan pencatatan dan pelaporan. Melakukan intervensi terhadap faktor kesehatan lain yang bisa berpengaruh terhadap risiko terjadinya TBC secara signifikan seperti hiv, gizi buruk, diabetes mellitus, merokok, serta semua keadaan yang menyebabkan penurunan daya tahan tubuh. Dan mengobati pasien sesuai standar guna mencegah terjadinya kekebalan ganda kuman TBC terhadap obat anti TBC (TB-RO).

"Saya menghimbau seluruh lapisan masyarakat, sektor terkait dan kalangan swasta dan dunia usaha dan yang paling penting adalah pemerintah kampung agar dapat berpartisipasi untuk sama-sama membentuk dan membiayai kader TBC kampung yang dapat dipergerakan sebagai pendamping minum obat agar menekan terjadinya putus minum obat,"ucapnya.

Selain itu, jajaran fasilitas pelayanan kesehatan swasta sangat diharapkan melakukan penemuan dan pengobatan pasien TBC sesuai standar dan menyampaikan notifikasi kepada dinas kesehatan.

Katanya, peran pelayanan kesehatan swasta sangat penting dalam meningkatkan jangkauan atau akses masyarakat pada pelayanan pengendalian TBC. Selain itu, pengobatan TB yang standar juga sangat penting.

Sebab, pengobatan yang tidak tepat dapat mengakibatkan timbulnya TBC resisten obat yang dapat menghambat terwujudnya eliminasi tbc di Indonesia.

Ia mengatakan, bahwa pengobatan TBC resisten obat memakan waktu lama, dapat menimbulkan berbagai efek samping, serta memerlukan pembiayaan yang berlipat ganda dibandingkan dengan pengobatan TBC sensitif obat.

Selain itu, beban sosial ekonomi pasien, keluarga, masyarakat dan negara akan meningkat bila jumlah pasien kebal obat TBC terus meningkat.

"Selain itu, saya berpesan agar selain mengobati pasien TBC, maka fasilitas kesehatan juga diharapkan dapat memberikan terapi pencegahan TBC agar semua orang yang serumah dengan pasien TBC serta mereka yang kontak erat dengan pasien TBC dapat dicegah untuk tidak sakit TBC dan mempercepat terjadinya eliminasi TBC di Kabupaten Mimika,"ungkapnya. (Shanty Sang)

Kasus Malaria di Kwamki Narama Menurun Karena Hal Ini 



Puskesmas Kwamki Narama

MIMIKA, BM

Masyarakat Distrik Kwamki Narama dinilai baik dalam menjaga kebersihan lingkungan dan kepatuhan dalam minum obat malaria.

Hal ini terbukti dengan jumlah rata-rata kasus malaria sampai saat ini di wilayah Puskesmas Kwamki Narama dengan 9 kampung itu terbilang tidak begitu banyak.

“Jumlah kasusnya itu rata-rata per harinya sekitar 5 sampai 6 pasien saja” kata Kepala Puskesmas dokter Armin Ahyudi saat diwawancara di Hotel Serayu, Jumat (17/3/2023).

Donter Armin mengatakan, di wilayah Puskesmas sendiri sudah disiapkan pojok malaria. Pojok malaria ini bertujuan agar tidak terjadi lost follow up (pasien keluar dari pengobatan).

“Jadi begitu ada gejala dilakukan pemeriksaan dan memang terbukti ada positif malaria pasien tersebut langsung diobati di hari pertama. Untuk follow up hari kedua dan ketiga kalau misalnya memang ada kelupaan dari pasien untuk minum obat itu diingatkan oleh petugas,” tutur dokter Armin.

Dikatakan, ada petugas yang selalu bertugas di pojok malaria dan melakukan kunjungan ke rumah agar tidak sampai terjadi lost follow up untuk penyakit malaria.

Lebih lanjut dikatakan, bahwa keberhasilan penanganan malaria tergantung dari kepatuhan minum obat yaitu minum teratur dan sampai tuntas.

Selain itu juga ditunjang dengan menjaga kebersihan lingkungan.

“Kalau untuk wilayah kerja Puskesmas Kwamki Narama termasuk kasus yang tidak terlalu banyak, karena lingkungan mereka jaga, kepatuhan minum obat dan petugas juga gencar promosi kesehatan. Jadi sudah satu paket semuanya,” ungkapnya. (Shanty Sang)

Pengidap Kasus HIV di Mimika Terbanyak Dari Golongan Perempuan

Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Reynold Ubra saat memberikan materi

MIMIKA, BM

Dinas Kesehatan mencatat jumlah kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) pada tahun 2023 sebanyak 160 kasus. Dari jumlah itu mayoritas penderitanya dari golongan perempuan.

Kepala Seksi P2M pada Dinkes Mimika, Kamaludin mengatakan, untuk jumlah kasus di tahun 2023 dari Januari sampai Mei ada 160 kasus.

Penderita kasus HIV paling banyak berasal dari rentang usia diatas 30 tahun sebanyak 79 kasus.

Lalu disusul rentang usia 15-29 tahun 76 kasus. Sedangkan, dari kelompok jenis kelamin dari 160 kasus untuk pasien laki-laki 78 kasus dan pasien perempuan 80 kasus.

"Namun, ada juga penderita HIV dari kalangan ibu hamil yang ditemukan tahun ini positif yakni sebanyak 17 kasus atau persen lebih," Kata Kamaludin.

Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Reynold Rizal Ubra mengatakan, Kalau dilihat untuk ibu hamil ada 17 kasus atau kurang lebih 10 persen lebih ini merupakan kasus yang cukup tinggi.

"Kita punya tantangan sendiri sampai hari ini yaitu inisiatif masyarakat untuk melakukan tes sendiri HIV," Tutur Reynold.

Untuk itu Reynold meminta masyarakat tidak takut untuk periksa HIV karena HIV ini bukan segala-galanya. Karena dengan minum obat secara teratur, maka jumlah virus HIV bisa diturunkan.

"Fasilitas kesehatan di Mimika untuk pelayanan orang dengan HIV sudah tersedia dan bukan sesuatu yang tabu lagi. Jadi, jangan takut untuk memeriksakan HIV,"ungkapnya. (Shanty Sang)

Top