Hukum & Kriminal

Polisi Kejar Pelaku Pembakaran Pintu Kantor SLD Freeport

Salah satu bagian pintu yang dirusaki pelaku

MIMIKA, BM

Kepolisian Sektor (Polsek) Kuala Kencana tengah mengejar seorang pelaku pembakaran pintu kantor Departemen Social & Local Development (SLD) PT Freeport Indonesia (PTFI) di Kuala Kencana, Kamis (1/10).

Pelaku pembakaran pintu salah satu ruangan milik Riky Komul sekitar pukul 08.58 WIT, diketahui berinisial AU. Beruntung aksi pembakaran pintu tersebut cepat dipadamkan sehingga tidak merambat ke ruangan lainnya.

"Kita sedang melakukan pengejaran terhadap pelaku, karena pelaku setelah membakar kantor langsung melarikan diri. Menurut informasi dari para saksi, pelaku tinggal di perumahan RT 1-6 Kelurahan Kuala Kencana," kata Kapolsek Kuala Kencana, Iptu Yakobus Sera Ayatanoi saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.

Kapolsek mengatakan, berdasarkan keterangan dari saksi, kejadian bermula ketika pelaku ingin bertemu Riky Komul dan Arnold Kayame terkait proposal pekerjaan yang telah diajukan termasuk surat pembayaran pesangon yang belum dijawab oleh pihak SLD.

"Saksi menyampaikan bahwa kedua orang yang dicari itu tidak berada ditempat. Pelaku langsung keluar mengambil minyak tanah yang sudah disiapkan, setelah itu masuk ke kantor langsung menyiramkan minyak tanah ke pintu dan langsung membakarnya," tutur Kapolsek.

Dari hasil olah TKP, kata mantan Kapolsek Kokonao itu, ditemukan barang bukti berupa jeriken berukuran 5 liter yang masih terdapat sisa minyak tanah.

"Untuk kerugian materinya belum diketahui," kata Sera. (Ignas)

Setember, Satresnarkoba Polres Mimika Bekuk 5 Tersangka Narkotika

Kasat Narkoba Polres Mimika, AKP Mansur

MIMIKA, BM

Pengungkapan kasus narkotika di Kabupaten Mimika terus gencar dilakukan Satresnarkoba Polres Mimika. Hal ini terbukti dengan tertangkapnya 5 tersangka baru pada September 2020.

Kelima tersangka yang baru ditangkap di bulan ini masing-masing berinisial AA, AW, N, S dan R. Mereka ditangkap di 4 TKP yang berbeda.

Tersangka AA ditangkap di Jalan Yos Sudarso tepatnya belakang Apotik Arguni pada tanggal 18 September pukul 11.00 wit. Tersangka AW dan N ditangkap di SP1 jalur 1 pada tanggal 18 September pukul 16.00 wit.

Tersangka S ditangkap di Jalan Hasanuddin pada tanggal 18 September pukul 23.00 wit. Sementara tersangka R ditangkap di kilo 10 pada tanggal 24 September.

Adapun Barang Bukti (BB) yang diamankan dari tersangka AA adalah 1 plastik bening kecil berisi sabu seberat 0,5 gram, 1 alat hisap, 1 buah korek api gas, 1 buah gunting warna biru, HP merk Realmi type C2 warna biru, uang tunai senilai Rp 1.270.000.

Barang bukti tersangka AW dan N berupa 4 plastik bening kecil berisi narkotika jenis sabu seberat 0,67 gram, 1 plastik bening berisikan tembakau sintetis seberat 11,43 gram, 2 alat hisap sabu, slip bukti transfer, 1 buah HP OPPO dan 1 buah HP merek samsung.

Tersangka S ditangkap dengan BB 1 plastik sabu seberat 0,37 gram dan 1 bungkus rokok gudang garam.

Sementara tersangka R ditangkap bersama 3 bungkus plastik tembakau sintetis seberat 2,52 gram, 1 buah HP merk VIVO, uang tunai senilai Rp 1.770.000 yang merupakan hasil penjualan, 1 buah ATM, 1 buah korek api warna biru dan 1 buah gunting warna biru.

Kasat Narkoba, AKP Mansur, saat ditemui diruangan, Rabu (30/9), menerangkan bahwa kelima tersangka yang sudah diamankan ini merupakan jaringan pengedar narkotika.

"Jadi ada tiga TKP dengan 4 tersangka yang kita lakukan penangkapan dihari yang sama, yaitu Jumat 18 September tapi waktunya berbeda. Semuanya berdasarkan pengembangan awal dari tertangkapnya tersangka AA. Untuk tersangka R yang beda jaringan ini merupakan penjual tembakau sintetis. Kita tangkap berdasarkan laporan dari masyarakat," terangnya.

Dengan penangkapan lima tersangka pada September ini maka sejak diangkat menjadi Kasat Narkoba Polres Mimika, AKP Mansur sudah menangkap 10 tersangka narkotika bersama barang buktinya. (Ignas

Masyarakat Miktim Tolak Puskesmas Mapurujaya Dijadikan Sebagai Rumah Sakit Darurat

Kadinkes Mimika Reynold Ubra saat memberikan penjelasan kepada warga yang berdemo di depan Kantor Distrik Miktim

MIMIKA, BM

Masyarakat Distrik Mimika Timur melakukan demo menolak Puskesmas Mapurujaya, dijadikan sebagai Rumah Sakit Darurat untuk penanganan pasien Covid-19.

Berdasarkan data yang dihimpun, awal terjadi aksi protes penolakan oleh masyarakat itu bermula ketika masyarakat melihat barang-barang dan fasilitas pskesmas dipindahkan ke beberapa titik sejak Minggu (kemarin-red) hingga hari ini, Senin (28/9).

Selain itu masyarakat juga menilai bahwa tidak ada koordinasi lintas sektor terkait wacana Puskesmas Mapurujaya akan dijadikan sebagai Rumah Sakit Darurat.

Berdasarkan penuturan salah satu warga bernama Riky, masyarakat pada prinsipnya sudah berkomitmen menolak hal tersebut. Mereka tidak ingin wilayahnya terjangkit penularan Covid-19.

"Kami takut kalau ada pasien dirawat disini, apalagi Puskesmas disini letaknya ditengah pemukiman masyarakat," tuturnya.

Aksi penolakan ini membuat Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Reynold Ubra didampingi Kadistrik Miktim, Yulianus Pinimet, S.IP langsung mendatangi TKP di halaman Kantor Distrik Mimika Timur, Senin (28/9).

Kepada masyarakat, Kepala Dinas Kesehatan, Reynold Ubra mengatakan ia menyayangkan penolakan tersebut pasalnya hal ini baru diwacanakan.

"Sebenarnya ini wacana dan untuk menuju kearah sana ada tahapan-tahapan yang harus kami lewati," ungkapnya.

Alasan Puskesmas Mapurujaya akan dijadikan sebagai Rumah Sakit Darurat bagi pasien covid kategori sedang, menurut Reynold karena rumah sakit ini sesuai penilian sangat layak.

"Karena Puskesmas Mapurujaya Ipalnya sudah ada, ruang dan tenaganya sudah tersedia, pagar untuk akses keluar masuk sangat memadai. Oleh karena itu kami berharap dukungan masyarakat. Kondisi yang terjadi hari ini adalah masyarakat yang belum mendengar secara utuh akhirnya timbul masalah. Pertanyaan kenapa tidak melakukan sosialisasi, karena kami belum memutuskan sebab harus memenuhi 4 hal fasilitas kesehatan," jelasnya kepada warga.

Reynold menambahkan, terkait dengan penularan, Mimika kini merupakan wilayah darurat covid. Berdasarkan hasil pertemuan dan laporan dari direktur RSUD Mimika dan juga direktur RSMM, jumlah pasien kini meningkat rata-rata menjadi 20 pasien per hari dari sebelumnya 15 orang.

"Maka dari itu kami coba membuat rekayasa pelayanan kesehatan supaya pasien covid maupun non covid itu tidak harus berada di rumah sakit," ungkapnya.

Dijelaskan, pada Jumat dan Sabtu kemarin telah dilakukan pertemuan agar puskesmas-puskesmas yang ada di wilayah zona merah maupun zona kuning membuka pelayanan keluar serta membuka pos-pos pelayanan.

"Itu prioritas, karena lima program esensialnya disitu. Jadi melayani orang sehat bukan melayani orang sakit. Supaya jangan ada klaster di fasilitas kesehatan maka kepala-kepala puskesmas wajib membuka pelayanan di masyarakat, tentu saja ada balai kampung supaya akses masyarakat dekat," terangnya.

Dengan kondisi pandemi covid saat ini, ruang bersalin di RSUD Mimika maupun RSMM yang kini telah penuh. Hal ini karena persalinan normal yang seharusnya di lakukan di puskesmas kini dilakukan di dua rumah sakit ini.

"Dengan meningkatnya kasus secara terus menerus maka kita berupaya mengurangi beban bukan hanya tempat tidur, tapi beban kerja dari petugas kesehatan. Kita jaga jangan sampai tenaga kesehatan terpapar," ujar Reynold.

Kondisi saat ini, shelter telah penuh. Selain itu ruangan dan tempat bagi pasien kategori sedang yang dirawat di RSUD dan RSMM juga sudah tidak lagi mencukupi.

"ICU di RSUD sudah ditutup karena penuh. Bahkan yang paling kritis adalah gas medis, yang mana sehari rata-rata waktu sebelum covid itu hanya 20 tabung dalam waktu 24 jam, kini naik hingga 60 tabung dalam 24 jam. Pagi tadi kami kuburkan 4 orang karena 1 pasien meninggal di RSMM dan 3 pasien meninggal di RSUD Mimika," ungkapnya kepada warga.

Sementara itu, Kadistrik Mimika Timur, Yulianus Pinimet, meminta warganya agar memahami kondisi saat ini. Warga diminta bijak menilai situasional Mimika sekarang.

"Saya pikir informasi sudah jelas disampaikan oleh kepala Dinas Kesehatan sehingga kita harus lebih bijak melihat ini sebagai masalah kemanusiaan," ungkapnya.

Menyangkut Puskesmas Mapurujaya akan dijadikan sebagai Rumah Sakit Darurat, mantan Kadistrik Agimuga meminta masyarakat agar hal ini dapat menjadi perhatian bersama.

"Saya sampaikan ini demi kemanusiaan. Oleh karena itu kita harus dewasa dalam berpikir dan memahaminya dengan baik karena kalau sudah ada keputusan pemerintah saya harap kita semua harus mendukung,"pinta Yulianus.

Aksi protes penolakan oleh masyarakat itu mendapatkan pengawalan ketat dari pihak Kepolisian Mimika, yang mana dipimpin langsung oleh Kabag Ops Polres Mimika didampingi Kapolsek Mimika Timur. (Ignas

Top