Ekonomi dan Pembangunan

Jual Sarang Semut, Ibu Felisitas Raup Puluhan Juta. Pembelinya Pilot Luar Negeri

Mama Felisitas Tawer

MIMIKA, BM

Salah satu kekayaan alam yang dimiliki Papua dan Mimika adalah sarang semut. Di Mimika Tanaman ini dapat ditemui di hutan bakau Pelabuhan Pomako.

Mama Felisitas Tawer melihat potensi bisnis dari sarang semut ini dan sudah sepuluh tahun lamanya ia menggeluti usaha ini.

Ia biasa di Pasar Sentral karena selalu menjual sarang semut yang sudah dikeringkan dan dikemas dalam plastik.

Pelanggannya pun dari berbagai lapisan baik masyarakat, dokter, pramugari hingga pilot dari berbagai negara seperti Perancis, Belanda, Cina dan Taiwan.

BeritaMimika mengunjungi standnya saat ia memamerkan produknya pada giat HLM di Mozza Hotel.

“Peghasilan tiap hari tidak tentu tapi pelanggan saya sudah ada. Kalau dulu jualan di Pasar Lama saya bisa dapat penghasilan sampai 15 juta karena saya sendiri yang berjualan di sana. Tetapi sejak pindah ke Pasar Baru saya paling besar dapat 10 juta itu dari pilot Air Fast yang datang. Mereka dari Perancis, Belanda, Cina dan Taiwan. Ada juga dokter dari RSMM yang beli 10 bungkus,” katanya.

Menurut kesaksian Mama Felisitas ada salah seorang pembelinya mengidap kanker rahim dan selalu membeli dan mengkonsumsi satang semutnya. 

Ibu tersebut putus asa karena sudah divonis kanker rahim dan meminta Mama Felisitas sarang semut untuk dikonsumsi sebagai obat.

Setelah beberapa waktu kotoran seperti bentuk akar-akar keluar melalui kemaluan beserta darah dan nanah. Setelah itu, pembeli sarang tersebut tersebut dinyatakan sembuh.

“Sarang semut ini kaya akan manfaat. Sebenarnya bisa untuk menyembuhkan semua penyakit karena dari alam tapi kemudian dokter membatasi untuk 32 penyakit saja,” akunya.

Ia menuturkan dari penjualan sarang semut ia mampu menyekolahkan keempat anaknya, membangun rumah dan membeli tanah.

“Saya mendapat banyak binaan dari Dinas Koperasi Mimika. Terimakasih. Saya diajarkan bagaimana usaha bisa berkembang. Mereka juga memberi bantuan dana 5 juta. Pernah dapat juga dari kementerian 2 juta dari dana itu kemudian kami olah lagi,” ucapnya.

Ia menjelaskan proses pembuatan sarang semut kering kepada BM. Pertama tanaman diambil dari hutan bakau di Pelabuhan Pomako, kemudian dikirim ke Timika.

Sesampainya di Timika tidak boleh disimpan lama, harus segera dikuliti dan diiris agar mendapatkan hasil yang memuaskan yakni berwarna merah kemudian dijemur saat panas terik, jika warnya hitam berarti sudah terkena hujan.

Setelah kering kemudian dikemas di plastik dan diberi stiker. Satu kemasan atau per kilogram sarang semut dijual seharga Rp100.000.

Sarang semut bisa dikonsumsi dengan cara mengambil 3-4 keping kemudian dicuci dan direbus dengan empat gelas air hingga menyisahkan 2 gelas lalu disaring dan diminum selagi hangat. Sarang semut bisa dikonsumsi oleh dewasa pun anak-anak.

“Baru-baru ini saya dapat telepon dari Jakarta untuk dikirim sebanyak 5kg. Saya bersyukur dari sarang semut saya bisa bertahan hidup. Saya tidak jual secara online. Kendala saya saat ini butuh modal yang lebih besar lagi dan kendaraan roda empat karena transportasi dari Pomako ke Timika satu kali angkat bisa bayar Rp700.000 belum lagi harus bayar para tukang pikul. Saya harap pemerintah bisa back up kami dengan modal dan kendaraan,” harapnya. (Elfrida

Dinas Koperasi Mimika Terus Mendata dan Lakukan Pendampingan Pelaku UKM

Ida Wahyuni didampingi kabid dan kasie Dinas Koperasi saat memasarkan produk UKM di acara HLM

MIMIKA, BM

Secara data, Kabupaten Mimika saat ini memiliki 70 Usaha Kecil Menengah (UKM). 40 UKM merupakan binaan Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) sementara 30 lainnya merupakan binaan beberapa OPD Pemda Mimika.

Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Mimika Ida Wahyuni kepada BeritaMimika Selasa (30/3) di Mozza usai giat High Level Meeting TPID Kabupaten Mimika mengatakan akan terus berupaya untuk mendata pelaku-pelaku UKM lainnya yang ada di Mimika.

“Kami terus berjalan bersama pelaku UKM dan dilakukan pendampingan mulai dari perijinan Produk Industri Rumah Tangga (PIRT) dengan segala persyaratannya, karena produk yang dipamerkan adalah legal dan sudah ada ijin PIRT untuk olahan makanan yang lebih dari tujuh hari,” tuturnya.

Lanjutnya, pendampingan juga dilakukan dengan pemberian pelatihan seperti membuat noken dan bantuan berupa dana.

“Nanti teman-teman juga akan koordinasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sehingga konsumen yakin ini aman dikonsumsi. Terkait kehalalan produk, pengurusannya ke Kantor Agama Provinsi Papua jadi langsung kami daftarkan secara online,” jelasnya.

Ida Wahyuni mengatakan, Dinas Koperasi dan UMKM juga membantu pelaku UKM dalam memasarkan produk dan penguatan untuk meningkatkan kualiatas produknya seperti packing (kemasan-red) maupun sticker.

Pada giat High Level Meeting TPID Kabupaten Mimika yang digelar kemarin, Dinas Koperasi dan UMKM Mimika turut berpartisipasi dalam memasarkan produk UKM Timika.

“Produk ini adalah binaan dari dinas terkait yang melakukan binaan dalam pengolahan, salah satunya dinas pertanian seperti kopi, tepung sagu dan buah merah. Sementara dari Dinas Ketahanan Pangan ada sagu dan olahan dari Mangrove, serta dari Dinas Perikanan berupa ikan asin,” ungkapnya.

Ditambahkan Ida, menyongsong PON XX dan Pesparawi XIII, instansinya akan mengangkat produk-produk asli dari olahan masyarakat lokal seperti handycraft dan makanan snack.

“Kami mengajak untuk semua pelaku UKM ayo jangan malas ke Dinas Koperasi karena masyarakat tidak semua paham persyaratannya. Kami akan terus memberikan pendampingan dan penguatan,” tutupnya. (Elfrida)

Bank Indonesia Berikan Bantuan Kepada KSU Kamora Abadi

Foto bersama usai penyerahan bantuan secara simbolis

MIMIKA, BM

Koperasi Serba Usaha (KSU) Kamora Abadi yang didirikan oleh Nurman Karupukaro untuk masyarakat kecil menengah di wilayah pesisir pantai mendapatkan bantuan program sosial dari Bank Indonesia.

Penyerahan bantuan dilakukan tadi malam, Senin (29/3) oleh Kepala Bank Indonesia Perwakilan Papua, Naek Tigor Sinaga kepada Nurman Karupukaro di Mozza.

Penyerahan ini juga didampingi langsung Wakil Gubernur Papua Klemen Tinal bersama Wakil Bupati Mimika Johannes Rettob.

Koperasi Serba Usaha (KSU) Kamora Abadi didirkan sejak 2013 dan telah memiliki 100-an anggota yang terdiri atas nelayan, petani dan pengusaha.

KSU ini bergerak di usaha Simpan Pinjam, Koperasi Nelayan dan Koperasi Pengumpul. Selain masyarakat Atuka dan Miyoko, Kekwa dan Timika Pantai, koperasi ini juga melayani masyarakat di seputaran Pomako.

Untuk Koperasi Nelayan, saat ini telah memiliki 30 kelompok nelayan dimana satu kelompok terdiri atas 5-7 orang.

Pendiri KSU Kamora Abadi, kepada BM mengakui bahwa banyak tantangan dan halangan yang dihadapi dalam mengembangkan KSU ini.

"Kendala banyak, salah satu paling utama adalah modal. Covid kemarin buat kami sangat merasakan dampaknya karena kita habis-habisan. Awal tahun ini kita sudah mulai star lagi selama 3 bulan ini," ungkap Nurman.

Walau masih di tengah badai pandemi, Nurman mengakui bahwa saat ini telah ada penampung ekspor udang dan pihaknya telah bekerjasama langsung dengan seorang pengusaha untuk menampungnya.

"Sementara untuk ikan kita sudah punya pasar sendiri sehingga sudah sangat membantu dan memudahkan para nelayan," ujarnya.

Ia bersyukur atas penghargaan dan dukungan yang diberikan oleh Bank Indonesia kepada KSU Kamora Abadi. Hal ini menunjukan bahwa keberadaan dan pengembangan KSU ini juga diperhatikan.

Menurutnya, dukungan tersebut semakin menguatkan mereka untuk terus melakukan pelayanan kepada masyarakat lewat KSU ini.

"Perhatian dari pemerintah daerah memang sudah jalan, mereka ada bantu jonson, fiber dan lainnya namun yang paling kita butuhkan adalah modal usaha karena dengan modal usaha koperasi bisa membeli ikan dan udang dari nelayan. Modal beli kita kurang, apalagi ada pengusaha yang kadang tidak bisa cash and carry," ungkapnya. (Ronald)

BERITA EKONOMI & PEMBANGUNAN

Top