Ekonomi dan Pembangunan

Maksimalkan Penanganan Sampah, Cara Lurah Wanagon Ini Mungkin Bisa Ditiru

Lurah Wanagon, Yance K Buinei

MIMIKA, BM

Untuk mengoptimalkan pelayanan kebersihan di wilayah Kelurahan Wanagon maka warga di wilayah setempat dibebaskan dari membayar iuran sampah.

Kepala Kelurahan Wanagon, Yance K Buinei mengatakan, sejak satu bulan terakhir program penjemputan sampah sudah berjalan di hampir semua lingkungan kelurahan.

Diakuinya bahwa sejak program ini dijalankan, terlihat sudah tidak ada lagi sampah yang bertumpuk di jalan-jalan lingkungan mulai Jalan Jeruk SP 2 sampai ke Jalur 4.

"Masyarakat juga menerima dengan baik apa yang sudah diprogramkan oleh kami di pihak kelurahan," Kata Kepala Kelurahan Wanagon, Yance K Buinei saat ditemui di Hotel Grand Tembaga, Senin (1/8/2022).

Yance mengatakan, karena warga sudah digratiskan dalam iuran sampah maka warga diwajibkan untuk mengemas sampah dalam kemasan plastik lalu diletakkan di depan rumah.

Hal tersebut agar lebih sampah tertata dan tidak menyulitkan para petugas dari kelurahan yang akan mengambil langsung sampah menggunakan mobil jenis pickup.

“Penjemputan sampah itu langsung dibayar oleh Kelurahan Wanagon, jadi tidak dibebankan kepada masyarakat lagi, artinya gratis,” jelas Yance.

Kelurahan Wanagon mengeluarkan anggaran sebesar Rp8 juta satu bulan untuk membayar sewa mobil dan juga tenaga yang menjemput sampah.

“Kami tidak dapat motor tiga roda dari DLH jadi mobil pick up ini kami sewa untuk pengangkutan sampah dari rumah-rumah warga,” katanya.

Lebih lanjut, berdasarkan data yang tersedia Yance menyebutkan ada sekitar 6 ribu kepala keluarga, dan pelayanan penjemputan sampah ini masih terus disosialisasikan.

Pasalnya, ada juga warga yang membayar kepada motor yang menjemput sampah.

“Ini kami baru masuk dengan mobil jadi banyak masyarakat baru tahu, sehingga mungkin ke depan kami akan tambah armada lagi,” ujarnya.

Tambahnya, dalam menyambut 17 Agustus nanti pihak kelurahan juga mengajak masyarakat di setiap RT untuk membersihkan lingkungan masing-masing. (Shanty)

Rumah Kopi Amungme Resmi Dibuka, Siap Melayani Para Pencinta Kopi

Barista Rumah Kopi Amungme Gold saat sedang meracik kopi untuk pengunjung

MIMIKA, BM

Sejak diresmikan kantor operasional produksi kopi yang dikenal dengan Rumah Kopi Amungme Glod pada Maret lalu, kini mulai Sabtu (30/7)
Rumah Kopi Amungme Gold resmi dibuka untuk melayani para pencinta kopi.

Bagi yang belum mengetahui tempatnya, Rumah Kopi Amungme Gold beralamat di
Jalan Malcon, Timika Indah 1, tepatnya lorong masuk samping RS. Tjandra Medika.

Vice President Community Development PTFI, Nathan Kum, mengakui bahwa sejak dimulai pada tahun 1998 hingga 2013 dalam mengembangkan petani kopi pihaknya mengalami kesulitan.

Namun berkat kerja keras akhirnya membuahkan hasil sehingga diresmikan Koperasi Amungme Gold yang mana memiliki kantor operasional produksi kopi yang dikenal dengan rumah kopi Amungme Glod.

"Ini semua atas dukungan dari PT Freeport Indonesia (PTFI). Memang jatuh bangun kita kembangkan petani kopi dan sekarang masyarakat atau petani kopi sudah bisa menikmati hasilnya, dan dari situlah masyarakat sudah berlomba-lomba menanam kopi,"ungkapnya.

Kata Nathan, peresmian Rumah Kopi Amungme Gold sudah dilaksanakan pada Maret lalu, dan saat ini diresmikan program koperasinya.

"Jadi kopi Amungme ini bukan cuman dikenal di Timika saja tapi sudah sampai di luar daerah lain," ujarnya.

Disampaikan juga sampai saat ini ada 154 petani kopi yang didampingi. Sementara jumlah pohon kopi jenis Arabica sebanyak 45.759 pohon ditanam di lahan seluas 34,6 Hektar.

"Harapan kami dari PTFI, masyarakat itu mandiri, tidak tergantung pada perusahaan. Program kopi ini memang jangka panjang dan tidak bisa habis karena dimana-mana kopi itu dibutuhkan," ujar Nathan.

Selanjutnya Direktur PTFI, Claus Wamafma mengatakan bahwa sampai pada tahapan launching Rumah Kopi Amungme Gold ini banyak sekali pergumulan panjang yang harus dihadapi.

"Jadi hari ini kita coba naik kelas karena kemarin kita masih bergerak di gunung. Kita punya ide dengan kesan selain emas ada juga sektor lain yang bergerak dibidang perekonomian," ungkapnya.

Dengan adanya rumah kopi amungme gold diharapkan bisa menjadi tetangga yang baik bagi Kabupaten Mimika dengan daerah lain.

Sementara itu mewakili pemerintah daerah, Hendritte Tandiyono, Asisten III Bidang Administrasi Umum dan Kesejahteraan Rakyat, memberikan apresiasi kepada PT.Freeport Indonesia.

Apresiasi diberikan karena komitmen PTFI yang selama ini memberikan pendampingan kepada masyarakat yang ada di dataran tinggi untuk bisa berkarya dan berinovasi dalam mengembangkan potensi di bidang pertanian terutama dalam pengembangan biji kopi yang ada di Tsinga, Aroanop, Waa Banti dan Hoya.

"Kopi memiliki potensi nilai ekonomis jangka panjang dan tidak ada kata habis bagi penikmat kopi, karena kopi menjadi kebutuhan manusia saat ini. Kopi juga telah berkembang menjadi industri yang tumbuh dengan pesat dan membawah nilai devisa yang besar bagi negara," ungkapnya.

Oleh karenanya pemerintah mengajak PTFI berkolaborasi dengan pebisnis kopi lokal untuk dapat mempromosikan sekaligus memberikan edukasi tentang potensi kopi Papua kepada publik bahwa di Mimika selain mineral emas,l dan tembaga juga qda kopi yang memiliki kwalitas baik dengan rasa yang nikmat.

"Semoga perkembangan kopi kita di Mimika semakin maju dan dikenal dunia internasional, hal ini karena beberapa bulan lalu di Jepang minta kita pasarkan kopi kita kesana," ungkapnya. (Ignas)

Kurang Tenaga Penyuluhan Pertanian, Berakibat Beberapa Wilayah Di Mimika Belum Tersentuh

Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian Mimika, Yohanes Sesa

MIMIKA, BM

Beberapa wilayah di Kabupaten Mimika, tepatnya di luar Kota Timika diketahui hingga kini belum tersentuh pelayanan penyuluhan tentang pertanian.

Hal itu, kata Kepala Bidang Penyuluhan Yohanes Sesa, disebabkan karena kurangnya tenaga penyuluhan yang ada di Dinas Pertanian Mimika.

"Selama ini kita hanya berikan penyuluhan di 6 distrik yang ada di dalam kota saja. Sedangkan untuk yang di luar seperti di gunung dan pesisir belum sama sekali karena kita kekurangan tenaga," ujar Yohanes.

Yohanes mengatakan saat ini tenaga penyuluhan yang ada di Dinas Pertanian Mimika berjumlah 28 anggota.

"Itu semuanya PNS. Biasanya dua sampai lima orang per distrik, Itu kami sesuaikan dengan kondisi daerah, atau kampung. Untuk materinya itu mulai dari mengolah tanah, menanam, merawat, hingga nanti sampai pada penjualan," jelasnya.

Dengan jumlah tenaga yang ada, Yohanes mengakui bahwa penyuluhan yang diberikan pun belum bisa maksimal kepada seluruh petani yang ada di Mimika.

Oleh karena itu, Yohanes berharap Pemerintah Kabupaten, Provinsi, maupun pusat bisa melakukan penambahan tenaga untuk memaksimalkan pelayanan penyuluhan pertanian tersebut.

"Ya kita mengerti juga kalau tambah tenaga tentu butuh anggaran lagi. Tapi kalau seperti ini terus tentu pelayanan penyuluhan tidak akan maksimal," katanya.

Di samping itu, terkait dengan penyuluhan ini pun sempat mendapatkan keluhan dari petani di SP4. Salah satunya Pade Agus yang mengeluhkan kurangnya pelayanan penyuluhan kepada petani di wilayahnya.

"Jarang sekali ada penyuluhan di sini mas. Padahal kami sebagai petani membutuhkan itu. Terlebih ketika hama mulai menyerang itu kami kesulitan untuk atasi," keluh Agus saat ditemui beberapa waktu lalu di lahan kebunnya. (Ade)

BERITA EKONOMI & PEMBANGUNAN

Top