Ekonomi dan Pembangunan

Pemda Mimika Mencoba Jajaki Kerjasama Pengelolaan Pakan Ternak Babi Dengan Kabupaten Manggarai


Foto bersama rombongan asal Mimika dengan bupati dan kapolres Kabupaten Manggarai usai pertemuan, Senin (29/5/2023)

RUTENG, BM

Kebutuhan pakan ternak babi yang terjangkau namun dapat memenuhi sumber protein, energi dan sumber mineral guna menghasilkan mutu daging berkualitas merupakan salah satu kendala yang menjadi tantangan Pemda Mimika dan para peternak saat ini.

Apalagi kondisi pakan babi sejauh ini terus mengalami lonjakan harga sehingga sangat berdampak langsung terhadap ekonomi para peternak babi di Timika.

Akibatnya, sebagian peternak babi di Timika cenderung mengggunakan limbah rumah tangga yang dipadu dengan sumber daya tersedia seperti daun petatas, umbi-umbian, ampas tahu, dedak, jagung dan lainnya sebagai makanan bagi ternak babi sehingga berdampak pada kualitas daging.

Disisi lain, nilai ekonomis daging babi juga terus melonjak karena ketersediaan di pasar juga semakin berkurang.

Konsumsi daging babi yang dulunya bisa mencapai 100-150 ekor perhari kini hanya mampu memproduksi 20-30 ekor perhari di pasaran Timika.

Kondisi nilai jual yang semakin mahal ini pastinya berdampak terhadap daya beli masyarakat.

Dengan demikian, Pemda Mimika melalui dinas terkait harus melakukan terobosan yang efektif demi ketersediaan pakan yang ekonomis dan higinis.

Pemda harus memaksimalkan potensi pakan lokal yang ada termasuk memenuhi pengetahuan para peternak dalam beternak mulai dari awal pembibitan, manajemen hingga pemasaran.

Apalagi secara industrial, PT Freeport Indonesia saat ini telah memberikan peluang kepada para peternak babi di Timika untuk memasarkan hasil ternak mereka, namun tentunya dengan kualitas babi yang memenuhi standar tertentu dan ketersediaan daging yang intens.

Menyikapi segala kondisional ini, Pemda Mimika yang dimotori oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak & Keswan) Mimika melakukan kunjungan kerja ke Ruteng, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur pada Senin (29/5/2023).

Kunjungan ini dipimpin langsung Pj Sekda Mimika Petrus Yumte bersama Asisten II Petrus Lewa Koten, dan sejumlah pimpinan OPD rumpun ekonomi Pemda Mimika.

Selain Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak & Keswan), Sabelina, turut serta Kepala Bappeda Yohanna Paliling, Kadisperindag Petrus Pali Ambaa dan Kadistanbun Alice Irana Wanmang.

Rombongan Mimika diterima langsung oleh Bupati Manggarai, Herybertus G.L Nabit, Sekda Jahang Fansi Aldus, Kapolres dan sejumlah pimpinan OPD di ruang pertemuan Pemda Kabupaten Manggarai.

"Mewakili bupati Mimika, kami sampaikan terimakasih kepada Pemda Manggarai dan masyarakat Manggarai karena bisa menerima kami dengan baik di sini," ujar Pj Sekda Mimika mengawali sambutannya.

Di momen ini, Pj Sekda Mimika memperkenalkan pimpinan OPD Pemda Mimika yang datang bersamannya.

Petrus Yumte menjelaskan, Mimika merupakan pecahan dari Kabupaten Fak-Fak sejak tahun 1996 dan tahun 2023 ini telah memasuki usia 27 tahun dan kini tergabung dalam wilayah Papua Tengah.

Mimika dikenal sebagai daerah tambangnya PT Freeport, tapi di Mimika masih ada angka stunting, warga miskin serta banyak ketertinggalan lainnya yang terus menjadi perhatian pemerintah daerah.

"Ini merupakan nasib kita provinsi termiskin orang-orang di Indonesia bagian Timur. Kondisi ini baik di Papua, NTT hingga Maluku tidak jauh berbeda," ujarnya.

Pj Sekda Yumte kemudian menyampaikan maksud kedatangan rombongan Timika ke Manggarai.

"Kami hadir di sini karena dua tahun lalu nonton di Youtube bahwa di Manggarai ada ternak babi dengan pakan ternak kategori super. Kami ke sini untuk mencoba melihat apa yang bisa kami pelajari dari sini untuk diadopsi di Mimika," ungkapnya.

Karena menurut Pj Sekda, di masa otonomi daerah saat ini kabupaten kota dituntut lebih untuk melakukan inovasi dan kolaborasi kerjasama antar daerah.

Menurutnya daerah yang surplus pengetahuan, tekonologi, dan berbagai aspek lainnya harus dapat mentransfer pengetahuan mereka kepada daerah lainnya, baik dalam bentuk kerjasama, studi banding maupun sejenisnya.

"Kami di Papua, ternak babi memiliki konteks yang lekat dengan budaya. Babi biasanya digunakan sebagai bayar mas kawin, denda masalah, damai perang, pesta adat, pesta anak dan lainnya, sehingga kebutuhan daging babi jadi kebutuhan utama bagi kami," ungkapnya.

"Apalagi kalau kita ada kegiatan adat atau peresmian gereja, babi yang digunakan buat bakar babi itu bisa mencapai 400-500 ekor," ujarnya.

Yumte juga mengisahkan bahwa harga ternak Babi di Timika, berkisar dari belasan hingga puluhan juta. Jika babi di order ke wilayah puncak, maka akan semakin lebih mahal.

"Bagi kami, sama seperti juga di Mangarai, babi bukan hanya sebagai komoditi ekonomi saja namun melekat bersama tradisi dan budaya, alat perdamian dan hal-hal lainnya," ujarnya.

Ia mengatakan, PT Freeport Indonesia saat ini telah membuka peluang ekonomi bagi peternak di Mimika namun tuntutan kualitas daging babi untuk Freeport harus menggunakan standarisasi orang luar negeri.

"Bukan babi yang kita punya kasih makan daun petatas tapi babi yang harus memiliki daging berkualitas, lemak daging yang sedikit, kadar air harus cukup dan sebagainya, karena mereka makan standar itu," ungkapnya.

Berdasarkan hal tersebut dan bagaimana memaksimalkan potensi pakan yang ada, maka ia mendorong pimpinan OPD rumpun ekonomi untuk mencari tempat dimana hal ini bisa dipelajari agar dikembangkan di Mimika.

"Sehingga salah satu tempat yang kami potret adalah Kabupaten Manggarai, berdasarkan survei pegawai dinas peternakan," katanya.

Terkait pakan terutama pakan ternak babi, Pj Sekda Mimika mengatakan bahwa Mimika sedikit mengalami kesulitan dalam hal ini. Ia berharap kunjungan kerja ini dapat memberikan faedah secara ekonomis bagi masyarkat.

"Kami memang agak kesulitan untuk pakan, harganya juga tidak bisa dijangkau oleh semua peternak. Pakan lokal memang bisa tapi kita bicara babi dalam konteks industri atau market pasar sehingga banyak unsur harus dipenuhi. Ini yang membuat terus berjuang," ungkapnya.

"Kami ke sini dan lihat, kalau memungkinkan kita akan adakan kerjasama terutama untuk pakan karena babi jadi prioritas dan dampak ekonomisnya sangat luar biasa bagi kami di Papua. Ini tugas kami sebagai pemerintah daerah," ujarnya di akhir sambutannya.

Bupati Manggarai, Herybertus G.L Nabit menyampaikan bahwa Pemda Manggarai menyambut baik kunjungan Pemda Mimika ke daerahnya.

Selain mengucapkan selamat datang, ia mengatakan bahwa segala sesuatu yang dimulai dengan niat baik, akan akan selalu dipertemukan dengan orang-orang baik pula.

"Mewakili masyarakat dan pemerintah, kami ucapkan selamat datang kepada bapak Pj Sekda Mimika bersama rombongan, yang ke Ruteng juga untuk mengunjungi salah satu peternakan skala menengah yang lengkap dengan pengelolaan pakannya" ujarnya.

Bupati Mangarai mengatakan bahwa kebutuhan masyarakatnya terhadap ketersediaan daging babi, tidak jauh berbeda dengan kebutuhan konsumtif masyarakat di Mimika.

"Kalau di pasar kami, mau berapapun daging babi di pasar, tetap habis terus. Meskipun disisi lain orang mengeluh kolesterol naik terus," ujarnya dengan senyum.

Ia mengatakan bahwa tingkat konsumsi daging sangat tinggi, meskipun diakuinya bahwa jumlah angka stunting di Kabupatennya juga masih sangat tinggi.

"Kami masih berada di angka 14 persen dan berharap target tahun depan turun ke 10 persen. 14 persen itu adalah 3.886 anak. Kalau daging babi masih naik terus tapi angka stunting masih naik maka itu ketahuan, yang makan daging bapa-bapa saja, ibu-ibu tidak makan, apalagi anak-anak," ungkapnya.

Ia mengakui bahwa ada persoalan yang menjadi masalah dari pola konsumsi pangan (babi) di daerahnya ini sehingga harus diubah namun menurutnya ini merupakan tantangan.

"Merubah ini tidak gampang karena harus merubah sebuah budaya, dimana yang bergizi itu bapak-bapak yang makan. Kondisi ini menciptakan kontradiksi karena tingkat permintaan konsumen konsumtif daging babi tinggi namun angka stunting juga cukup tinggi. Ini merupakan PR bagi kami," jelasnya.

Bupati Manggarai, Herybertus Nabit mengatakan bahwa daerahnya pernah mengalami kondisi terpuruk akibat flu babi.

Pukulan telak itu mereka rasakan pada tahun 2021 hingga pertengan 2022 karena babi milik masyarakat yang di kandang berkisar antara 10-15 ekor babi ditemukan mati. Masyarakat Manggarai banyak yang beternak babi.

"Ini memang menyulitkan kami di masa-masa itu. Di akhir 2022 sampai sekarang sudah sedikit lebih baik, meski demikian kami juga harus waspada karena ada laporan dalam dua minggu terakhir mulai lagi. Ini jadi hal yang merisaukan dan kami sudah bicarakan hal ini," ungkapnya.

Menurutnya, ternak babi di Mangarai selain berharga secara ekonomis, juga tidak terpisahkan dengan budaya.

Ternak babi menjadi andalan bagi ibu-ibu rumah tangga. Para suami mencari penghasilan dari luar, sementara ibu-ibu menabungnya dalam bentuk beternak babi.

"Jika ada acara, anak sekolah, bapak sulit cari uang maka babi akan dijual. Dan saya rasa ini juga sama kondisinya dengan di Papua " ujarnya.

Di 2023 ini, Bupati Herybertus Nabit mengatakan bahwa pihaknya akan membangun peternakan babi melalui pinjaman daerah di Manggarai.

"Karena babi dari sini untuk mencukupi kebutuhan hampir seluruh daratan di Flores. NTT ada tiga pulau besar, Timor, Rote dan Sumba. Babi dari sini juga disuplai ke sumba. Konsumsi di Sumba jauh lebih tinggi dari kami tapi mereka belum memiliki suplai yang cukup," ungkapnya.

Menurutnya ternak babi menjadi salah satu pendapatan bagi Manggarai sehingga yang harus dilihat adalah pangsa pasar dan peluang-peluang ekonomis lainnya.

"Kita sama-sama melihat peluang, pasar dan budaya. Kalau budaya peternakan sudah terbentuk maka akan lebih muda. Budaya itu sudah terbentuk namun yang masih sulit adalah pakan. Menyiapkan hewan itu tidak masalah namun yang berkualitas itu yang masih sulit," terangnya.

Di akhir sambutan, Bupati Manggarai, Herybertus G.L Nabit berharap Pemda Mimika dapat melihat dan mengkaji apa yang dimiliki Manggarai dalam pengelolaan ternak babi dan pakan sehingga jika sesuai dapat diadopsi demi mendukung kebutuhan dan pengembangan ternak dan pakan babi di Mimika.

Usai pertemuan tersebut, rombongan Pemda Mimika didampingi Asisten II sekaligus Plt Kadis Peternakan Manggarai, Yoseph Mantara, mengunjungi salah satu peternak babi di Manggarai bernama Viktor Slamet yang sejauh ini menggunakan pakan ternak babi yang disesuaikan dengan sumber daya daerah yang ada. (Ronald Renwarin)

Kemenparekraf : Pariwisata di Mimika Belum Ada Gaungnya, Perlu Didorong

Diana Indriati, saat mengikuti event TIFA 2023 di Mimika didampingi Alfo Kan Smith, Founder TIFA

MIMIKA, BM

Kabupaten Mimika sebagai salah satu kabupaten yang berada di Papua Tengah memiliki keanekaragaman etnis dan budaya.

Tak heran, jika Mimika kerap disebut sebagai Indonesia kecil.

Namun, yang menjadi tantangan saat ini adalah bagaimana menggali potensi pariwisata yang ada.

Mimika yang terbagi menjadi wilayah pesisir memiliki pantai sebagai wisata alam seperti Ipaya dan Kekwa, selain itu juga memiliki wilayah pegunungan.

Selain itu Mimika juga memiliki wisata Mangrove. Disini juga dapat ditemui wisata buatan seperti Wisata Pelangi.

Lantas, potensi pariwisata seperti apa yang bisa menjadi ciri khas kabupaten Mimika.

Menjawab hal ini, BeritaMimika berkesempatan berbincang-bincang dengan Analis Kebijakan Ahli Madya, Wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua, Kemenparekraf RI, Diana Indriati di sela tinjauannya pada even Timika Inside Festival of Art 2023 Jumat (26/5/2023).

“Pasti semua daerah punya sesuatu hanya belum tergali atau terekspos. Ini merupakan tantangan bagi warganya punya apa yang bisa dijual,” tuturnya.

Indriati menyebut pariwisata di Mimika belum ada gaungnya tapi paling tidak mindset untuk memikirkan apa yang harus diangkat, dimana di daerah lain tidak ada tapi dimiliki dan mengangkat Mimika.

“Disini multi etnis, even seperti ini (TIFA-red) bisa juga tampil, kemudian apa yang menjadi keunggulannya. Jadi itu memang yang harus supaya ketika kita bekerja sama dengan PLN atau Telkom ada geregetnya atau sponsor,” jelasnya.

Ia mengatakan pariwisata di Mimika perlu untuk didorong.

“Lebih didorong lagi, beberapa kegiatan atau aktivitas itu cukup. Pada intinya kalau kita punya sesuatu di daerah kita upayakan dan anak-anak muda harus banyak bergerak,” tandasnya. (Elfrida Sijabat)

Disperindag Beri Ancaman kepada Pangkalan Minyak Tanah 'Nakal'


Pertemuan pihak Disperindag dengan Pertamina, agen dan pemilik pangkalan minyak tanah,  (Kamis 25/5/2023)

MIMIKA, BM

OPD Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Mimika mengeluarkan ultimatum keras untuk pengelola pangkalan minyak tanah di Timika.

Bila terbukti menaikkan harga diatas harga eceran tertinggi (HET), maka izin usaha akan dicabut.

Pasalnya, hingga saat ini masalah penyaluran Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi jenis minyak tanah di Timika masih sering ditemui berbagai persoalan.

Seperti, ada pangkalan nakal yang tidak menjual kepada masyarakat tapi dijualnya ke pengecer hingga harga jual melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah.

Diketahui bahwa HET minyak tanah yang ditetapkan Pemerintah Daerah (Pemda) Mimika adalah sebesar Rp5000 per liter, namun ada pangkalan yang menaikkan harga hingga Rp6000 karena pangkalan menilai jika menjual Rp5000 mereka rugi.

Oleh sebab itu, para pemilik pangkalan meminta agar HET minyak tanah dinaikkan.

Hal tersebut disampaikan para pemilik pangkalan minyak tanah pada pertemuan antara Disperindag Mimika, Pertamina, agen dan para pemilik pangkalan minyak tanah yang berlangsung di Hotel Serayu, Kamis (25/5/2023).

Kepala Disperindag Mimika, Petrus Pali Ambaa mengatakan, permintaan untuk menaikkan HET minyak tanah itu tidak mungkin karena HET minyak tanah di Mimika termasuk yang paling tinggi melampaui batas margin keuntungan yang ditetapkan oleh Pemprov Papua.

"Kalau dinaikkan tidak bisa, harusnya diturunkan tapi pasti pangkalan akan protes lagi," tegas Petrus.

Ia meminta, pemilik pangkalan dan agen supaya benar-benar melakukan pelayanan dengan baik kepada masyarakat, jangan menjual diatas HET, jangan lakukan pelanggaran dengan menyimpan sebagian untuk dijual kepada pengecer dan jika sudah masuk jangan ditahan atau disimpan.

"Kecuali masuknya sore jam 5 sore atau 6 sore maka besok baru disalurkan itu bisa," ujarnya.

Petrus menegaskan, jika ditemukan lagi dan melakukan pelanggaran maka langsung di PHU atau izin penjualan langsung dicabut. Jadi, tidak ada lagi teguran 1 atau 2.

"Kita langsung kasih PHU supaya menjadi efek jerah juga bagi mereka. Karena kalau tidak dilakukan tindakan seperti itu nantinya akan banyak juga yang melakukan hal yang seperti itu. Harapan kami dengan pertemuan ini para pangkalan bisa menyadari hal itu," ungkapnya.

Petrus juga sudah menekankan hal ini kepada pihak agen karena agen yang melakukan teken kontrak kerja dengan pangkalan sehingga harus komitmen beri tindakan sanksi tegas.

"Pangkalan di Timika ini ada ratusan dan agennya ada 4," ujarnya. (Shanty Sang)

BERITA EKONOMI & PEMBANGUNAN

Top