Pemda Mimika Kembali Tegaskan Hal Ini

Wakil Bupati Mimika, Johannes Rettob

MIMIKA, BM

Wakil Bupati Kabupaten Mimika, Johanes Rettob mengatakan bahwa pembelajaran tatap muka di sekolah bisa dimulai setelah semua guru maupun tenaga pendidik sudah tuntas mendapat vaksinasi Covid-19.

Jikapun demikian, maka sekolah dengan metode Pembelajaran Tatap Muka wajib menerapkan protokol kesehatan.

"Ke depan nanti pemerintah akan mengevaluasi semua sekolah. Sekolah yang gurunya sudah vaksin boleh buka tapi kalau gurunya tidak vaksin lebih banyak tidak usah. Atau kita balik aturannya yang sudah vaksin yang mengajar, kalau tidak mau vaksin tidak mengajar,"tutur Wabup John saat diwawancarai di Hotel Horison Diana, Jumat (4/6).

Jelas Wabup John, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem juga telah menegaskan hal tersebut bahwa sekolah tatap muka boleh dibuka asalkan guru sudah di vaksin kecuali jika ada guru yang memiliki kormobit.

Ia menghimbau agar semua guru harus mematuhi aturan ini karena kebijakan ini bukan ditentukan oleh daerah namun oleh pemerintah pusat melalui kementerian pendidikan.

"Kita harus sadar akan hal itu. Saya himbau ke guru-guru jangan takut. Lagipula sebelum vaksin harus screaning dulu dan kita harus jujur apa yang terjadi pada kita dalam pengertian kalau memang sakit yah kasih tau sakit, jangan tidak sakit tapi bilang sakit," harapnya.

Dikatakan hingga bulan kelima tahun ini, pemerintah daerah terus berusaha menekan dan memutuskan mata rantai penyebaran covid salah satunya dengan melakukan vaksinasi.

Menurutnya ASN harus menjadi contoh, termasuk para guru karena mereka merupakan ujung tombak pemutus mata rantai covid melalui vaksinasi.

"Mungkin mereka tidak mau karena ada dua hal yakni karena sakit atau terpengaruh isu hoax. Saya sampaikan bahwa pemerintah tidak akan membunuh masyarakatnya, pemerintah pasti mencari solusi yang terbaik untuk bagaimana memutus mata rantai ini dengan cara yang pasti aman,"tuturnya.

Kepala Dinas Kesehatan Mimika, Reynold Ubra

Jika yang menjadi ujung tombak pemerintah dalam kasus ini saja menolak maka hal ini perlu dipertanyakan.

Di tempat yang sama, Kepala Dinas Kesehatan, Reynold Ubra mengatakan, saat ini Puskesmas lagi konsen melakukan vaksinasi kepada para guru, namun sayangnya beberapa guru ada yang menolak untuk di vaksin.

Reynold Ubra tidak memaparkan dari sekolah mana dan berapa jumlah gurunya yang menolak di vaksin namun iapun sangat menyayangkan hal tersebut.

"Sangat jelas bahwa salah satu kriteria sekolah tatap muka itu bisa dilakukan jika guru di vaksin. Saya pikir ini juga disampaikan oleh Mendikbud," tegasnya.

Menurutnya yang paling siap saat ini adalah SMK Negeri. Saat ini pihaknya meminta Puskesmas melist jumlah sekolah dan gurunya karena datanya sudah diminta oleh Dinas Pendidikan.

"Dalam 1 sonasi misalnya Mimika Baru jumlah SD sekian, maka berapa yang sudah di vaksin, berapa yang belum dan apa alasannya. Ini semua harus kita tahu," ungkapnya.

Tambahnya, meski pembelajaran tatap muka sudah dilakukan di beberapa sekolah namun tetap dilakukan secara terbatas.

"Artinya kapasitas ruang kelas maksimal hanya 50 persen, selain itu sekolah wajib menerapkan protokol kesehatan secara ketat," tegasnya. (Shanty)

Top