Olah Raga

Sekretaris KONI Mimika Harap IBF Mampu Merangsang Para Pemilik Modal

Sekretaris KONI sekaligus Ketua Perbasi Mimika, Cesar A Tunya

MIMIKA, BM

Saat ini Kabupaten Mimika memiliki tujuh klub basket. Selain itu juga terdapat 14 pelatih yang bersertifikat.

Hal ini diungkapkan Sekretaris Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) sekaligus Ketua Perbasi Kabupaten Mimika Caesar A. Tunya kepada BeritaMimika Sabtu (8/1) di Mimika Sport Complex (MSC).

“Referee kita juga sudah bersertifikat. Tapi kalau mau buat klub harus punya dana, semoga dengan adanya even Indonesia Basketball Festival (IBF) di Timika ini dapat merangsang para pemilik modal,” ucapnya.

“Klub di Mimika ada tujuh tapi mereka baru latihan setiap kali ada even, bagusnya mereka latihan terus. Kalau klub tidak latihan kita mau bikin even juga percuma,” imbuhnya.

Lanjutnya, untuk sumber daya manusia (sdm) dikatakannya sudah cukup namun masih perlu untuk diupgrade dengan adanya berbagai kompetinsi dan latihan.

“Kita bersyukur ada IBF, untuk teman-teman referee mereka juga bisa bergabung dan petugas meja juga ikut. Para pemain juga menurut Ketua Umum Perbasi Pusat sudah dapat dilihat ada perkembangan,” tuturnya.

Cesar mengatakan KONI Mimika kedepan akan mengambil langkah-langkah untuk merekrut para pemilik modal demi kemajuan klub basket di Mimika.

“Kita sudah punya klub Indonesia Basketball League (IBL) berikutnya rencananya Ketua Umum Perbasi akan membuat sekolah basket dan ini sedang dirancang. Kita harap kan semua bisa berjalan,” tandasnya.

Sarana dan prasarana berupa lapangan basket yang ada di Mimika pun kini disebutnya sudah bertambah bahkan lapangan di Perbasi sudah ramai.

“Ini semua tergantung minat, kalau tidak ada minat susah. Tapi kita juga sudah punya strategi bagaimana menemukan bibit muda yang menyukai basket dan mengembangkannya,” tuturnya. (Elfrida/Milan)

Lihat Potensi Anak Papua di Basket, Ketua Umum Perbasi Pusat, Sampaikan Hal Ini


Ketua Umum Perbasi Pusat, Danny Kosasih

MIMIKA, BM

Ketua Umum Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi), Danny Kosasih selama dua hari melihat berlangsungnya even Indonesia Basketball Festival (IBF), ia mengatakan ada beberapa anak Papua yang memiliki talenta bagus bahkan disejajarkan dengan kemampuan tim nasional.

Hal ini diungkapkannya kepada awak media Sabtu (8/1) di Mimika Sport Complex (MSC).

“Saya datang kesini mau memulai suatu pembangunan prestasi di Timika. Ketika saya lihat pertandingan JungleBoys mereka itu sekelas di Jawa, kelas bagus cuman kurang jam terbang,” katanya.

“Anak-anak ini perlu diasah, coba setiap Jumat dikasih game terus supaya matang. Kalau perlu ada satu atau dua anak yang bermain bagus dikirim ke Jawa, dititipkan ke suatu daerah supaya ikut kompetisi. Jakarta bagus karena kompetisinya bagus. Kalau kompetisi tidak bagus percuma,” imbuhnya.

Menurutnya, mengirim satu tim ke Jawa dirasa tidak perlu. Akan lebih baik jika diadakan dan bila perlu mengundang dari daerah lain untuk bertanding (sparing-red) ke Timika.

“Jungleboys ini levelnya sudah seperti di Jawa seperti kerapihan, sangat rapi. Ini tim bagus. Nomor enam kalau perlu saya bawa dia, pasti bisa, mereka hanya kurang jam terbang. Anak Papua bukan kurang bakat namun kurang diasah,” ungkapnya.

Danny melihat potensi yang dimiliki oleh anak Papua sudah ada dalam diri Rioni dan dua pemain tim nasional yang salah satunya dari Timika. Ini adalah bukti talenta pebasket yang dimiliki dari negeri matarhari terbit Papua.

“FIBA pernah mengirim pelatih ke Papua, pelatih dari Serbia tetapi tertahan di Singapura karena tidak mengurus visa dengan baik. Kalau FIBA saja memberikan perhatian ke Papua maka kalau bangsa Indonesia tidak memberikan perhatian juga kan aneh. Ini saatnya kita membangun bersama untuk Papua,” tandasnya.

“Southeast Asia Basketball (SEAB) menilai satu-satunya negara yang bisa mengalahkan Filipina adalah Indonesia, karena Indonesia punya Papua. Anak-anak Papua posturnya pun bagus, sayang jika tidak dilatih hanya mereka tidak mendapat game yang bagus kalau ke Jawa saya yakin pasti bagus,” pungkasnya.

Untuk pelatih dan referee pun menurutnya perlu untuk mendapatkan pelatihan dan pengembangan di Jawa bukan untuk tiga atau empat hari saja namun enam bulan.

“Kalau empat hari bagaimana bisa berubah tapi kalau enam bulan ikut trainning tim nasional elit muda bisa belajar banyak. Kalau tim Indonesia tidak membangun Papua itu salah, di tim nasional sudah ada dua dari Papua salah satunya Reza. Mari kita membangun Papua ke depan,” harapnya. (Elfrida)

IBF Hari Kedua, Partai Jungleboys Melawan Wofle Sorong Menegangkan dan Seru

Pemain Jungleboys (putih) saat berupaya memblok serangan pemain Wofle Sorong

MIMIKA, BM

Hari kedua Indonesia Basketball Festival (IBF) yang diselenggarakan di Mimika Sport Complex (MSC) Sabtu (8/1) berlangsung tiga pertandingan.

Pada pertandingan pertama The Greenhouse Basketball berhadapan dengan Bushman. The Greenhouse basketball menang telak dengan skorr 35:13.

Pertandingan kedua mempertemukan Kalaburin dan Tsunami. Kalaburin yang pada pertandingan sebelumnya menang atas Bushman (skor 22-14) harus mengakui kemenangan Tsunami yang bermain baik dan percaya diri. Tsunami menang atas Kalaburin dengan skor 26:-16.

Pertandingan yang ditunggu-tunggu dipertandingkan pada pertandingan ketiga yakni antara Jungleboys melawan Wofle Sorong.

Berbeda dengan dua pertandingan sebelumnya, pada game ini, jumlah penonton yang hadir lebih banyak dari dua pertandingan sebelumnya.

Pada quarter pertama Jungleboys yang merupakan klub asal Timika sempat ketinggalan dengan skor 4-8.

Di quarter kedua, Jungleboys mampu menambah poin, namun Wofle Sorong bermain baik sehingga mempertahankan perolehan nilai dengan skor 11-14.

Memasuki quarter ketiga lagi-lagi Wofle Sorong yang diperkuat oleh atlet PON XX ini semakin memperkuat posisinya dengan skor 17-21.

Pada babak penentuan, Jungleboys berusaha mengejar ketinggalan terlebih saat masuknya pemain nomor punggung 0 atas nama Momot.

Kehadirannya membuat penonton yang menyaksikan pertandingan bersorak memberikan semangat.

Medula (6) dan Yarinap (11) beserta tim Jungleboys pun bersemangat melakukan penyerangan dan tembakan three point.

Usaha mereka membuahkan hasil, setelah tiga quarter mereka tertinggal akhirnya Jungleboys mampu memimpin dengan skor 28-27.

Namun sayangnya, akibat pemain Jungleboys melakukan kesalahan, Wofle Sorong mendapatkan keuntungan dengan lemparan bebas dan berhasil menambah satu poin sehingga skor imbang 28-28.

Di menit terakhir disaat penentuan, Wofle Sorong kembali mencetak skor dua sehingga memimpin 28-30.

Pada sisa waktu enam detik, Jungleboys meminta time out. Hanya dengan berhasil melakukan three poin shot maka Jungleboys akan menang.

Sayangnya, pemain nomor punggung 7 berupaya melakukan three poin shot namun gagal sehingga Wofle Sorong keluar sebagai pemenang dengan skor akhir 28-30.

Usai pertandingan pelatih Jubgleboys Ahmad Sofyan kepada BeritaMimika mengatakan bahwa para pemain sudah berusaha memberikan yang terbaik namun kurang mujur.

“Hari ini ada kesalahan yang perlu kita perbaiki, akan dievaluasi untuk kedepan. Semoga di final bisa ketemu lagi,” katanya.

Ia beserta tim harus mengakui kemenangan Wofle Sorong karena juga telah memberikan penampilan yang terbaik.

“Anak-anak kurang jam terbang, mereka (Wofle Sorong-red) binaan liga pro dan atlet PON sementara adik-adik ini kan masih baru-baru cuman pertandingan ini saya cukup puas,” tuturnya.

Sofyan yang juga merupakan Asisten Pelatih NSH Mountain Gold Timika berharap anak-anak asuhannya terus giat berlatih dan perlu dibina sehingga ketika mereka sudah siap dapat direkrut menjadi pemain di NSH Mountain Gold.

“Saya pengen rekrut mereka semua kalau bisa nama Papua lebih banyak disitu tapi mereka harus dibina lagi kalau sudah cukup bisa saya rekomendasikan ke owner dan pelatih Mountain Gold," ujarnya.

"Saya berharap akan ada lebih banyak kompetisi lagi disini karena kita sudah puny venue yang sangat bagus. Lebih baik venue rusak karena digunakan daripada rusak karena tidak terpakai. Semoga ada even terus seperti ini untuk memotivasi anak-anak,” tutupnya. (Elfrida)

Top