Budaya

Peringati Natal 2024, Polres Mimika Gelar Ibadah Perayaan Natal Oikumene

Kapolres Mimika, AKBP I Komang Budiartha saat memberikan sambutan.

MIMIKA, BM

Dalam rangka perayaan hari kelahiran Yesus Kristus yang dirayakan sebagai peristiwa Natal, Polres Mimika menggelar ibadah Perayaan Natal Oikumene Tahun 2024 di Hotel 66 Cendrawasih pada Senin (30/12/2024).

Perayaan Ibadah Natal yang dipimpin oleh Pastor Gabriel Ngga, OFM ini berjalan penuh khidmat dan sukacita dengan dihadiri oleh keluarga besar Polres Mimika, tokoh agama, tokoh masyarakat serta tamu undangan.

Kapolres Mimika, AKBP I Komang Budiartha dalam sambutannya menyampaikan bahwa Natal adalah hari raya umat kristen yang diperingati setiap tahun oleh umat kristiani pada tanggal 25 Desember.

"Oleh karena itu semoga kita semua dapat merasakan kasih damai Natal pada malam ini," ujar Kapolres.

Disampaikan Kapolres Mimika, sesuai dengan tema Natal "Marilah Sekarang Kita Pergi ke Betlehem” dan dengan sub tema “Dalam Semangat Kesederhanaan, Polres Mimika Siap Menjadi Duta Pelayanaan Demi Terciptanya Keamanaan dan Kesejahteraan Msyarakat.”

"Kiranya kita dapat bersatu hati dan bersama-sama saling menopang satu dengan yang lainnya agar kebersamaan yang kita bentuk dapat menjadi kekuatan bagi kita semua. Kebersamaan yang ada kiranya akan terus ada bahkan ketika acara Natal ini telah usai," ujar AKBP I Komang.

“Kebersamaan yang dibangun kiranya dilandasi atas kasih Kristus, sehingga kebersamaan yang tercipta itu tidak mudah hilang dan rusak,"sambung AKBP I Komang.

Kata Kapolres Mimika, dalam perayaan Natal tahun ini telah dilakukan kegiatan jalan Santa Claus, dimana tujuan utama dari kegiatan yang dilakukan tentu untuk mempererat tali persaudaraan antar sesama manusia serta berbagi kasih dengan saudara-saudara di sekeliling kita yang memerlukan bantuan.

"Saya selaku pelindung panitia Natal pada tahun ini mengucapkan terima kasih kepada seluruh panitia yang telah meluangkan waktunya serta tenaganya untuk menyelenggarakan acara Natal pada hari ini (Senin-red)," kata AKBP I Komang.

"Saya juga berterima kasih kepada seluruh undangan yang hadir pada malam hari ini yang dengan penuh suka cita mengikuti perayaan Natal. Namun, terlepas dari itu semua saya sangat bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang selalu menyertai kita semua dan memberikan kelancaran pada hari ini," tutup AKBP I Komang. (Ignasius Istanto)

Misa Malam Natal Katedral Tiga Raja Timika, Umat Diajak Untuk Memiliki Hati Yang Sunyi dan Sederhana

Perayaan Malam Natal 2024 di Gereja Katolik Tiga Raja

MIMIKA, BM

Misa Malam Natal pada Selasa (24/12/2024) di Gereja Katolik Katedral Tiga Raja, Kabupaten Mimika, Papua Tengah dilaksanakan dua kali yakni pada pukul 17.00 wit dan pukul 20.00 wit.

Misa diawali dengan Maklumat Kelahiran Yesus dan peletakan bayi Yesus di palungan sebagai lambang kesederhanaan.

Pada misa kedua dipimpin oleh Pastor Gunawan, SCJ. Ia mengatakan peletakan patung Bayi Yesus di palungan berarti Yesus mengalami kemiskinan supaya manusia menikmati kelimpahan-Nya padahal Yesus berlimpah kemurahan.

Adapun Tema Natal tahun ini yakni “Marilah Sekarang Kita Pergi Ke Betlehem”. Sementara untuk Bacaan Injil diambil dari Lukas 2:1-14.

Dalam homilinya, Pastor Gunawan mengatakan bahwa kesunyian tidak sama dengan kesepian. Ini adalah keheningan yang mengandung perasaan terdalam di hati manusia seperti layaknya jatuh cinta.

“Kemiskinan bukan kemelaratan yang konyol tetapi kemiskinan yang dikehendaki oleh Allah sendiri, yang mau mengosongkan diri sebagai manusia supaya nampak untuk membawa kekayaan Allah,” tuturnya.

Menurutnya, kesederhanaan tidak sama dengan kebodohan tetapi dengan kejujuran.

“Sungguh, bayi Yesus itu tidak membawa kebohongan, tidak membawa dosa dan tidak membawa kesombongan. Tidak mau menampilkan kekayaan dari dunia ini. Itu yang dimaksudkan supaya benar-benar pribadi yang menyentuh ini adalah pribadi yang membawa cinta yang besar,” ucapnya.

Pastor Gunawan kemudian mengatakan bahwa “Bayi Keajaiban” yang membawa damai ini dampaknya abadi bukan hanya suatu sejarah 2000 tahun yang lalu kemudian selesai.

“Karena ini adalah sejarah yang mengawali sakramentalitas kehidupan dan kemudian akan menjadi sempurna pada akhir jaman,” imbuhnya.

Pastor Gunawan menyebut itu sudah dimulai pada awal masa Adven sehingga perayaan kali ini bukan hanya sekedar pulang, menikmati makanan enak, pesta apalagi tambah mabuk-mabukan

“Bukan itu. Tapi ini benar-benar hati, jiwa dan roh dihadapan Tuhan. Sang Cinta Damai ini diantar oleh malaikat Tuhan dalam kemuliaan-Nya dan begitu para pengantar lihat, yang mengantar dari surga selain satu malaikat Tuhan ada bala tentara surgawi,” katanya.

Lanjutnya, bala tentara surgawi mampu mematahkan semua kekuatan jahat yang menimbulkan kemarahan atau kehancuran untuk mengawal bayi Yesus.

“Apalagi jaman sekarang ini atau entah mungkin sejak dulu ada aportus. Jangan menganggap ini hanya dosanya orang jaman lalu tapi sekarang sebenarnya mereka para gembala yang orang-orang miskin menjagai gembala pada waktu malam itu. Mereka hanya buruh kecil yang tidak pernah diperhitunrgkan, mereka yang paling tidak berdosa yang pantas untuk menyambut Kristus,” ungkapnya.

Pastor kemudian mengatakan bahwa serigala mempunyai liang, burung mempunyai sarang tetapi Anak Mahusia tidak mempunyai tempat untuk meletakan kepala-Nya sehingga sunyi dan sederhana itu adalah kekuatan yang merendahkan diri dihadapan Allah bukan sombong untuk menerima rahmat berlimpah-limpah dari Allah.

“Apakah orang sombong dengan orang sombong bisa jatuh cinta. Tidak bisa saudara saudari. Hanya orang yang rendah hati dihadapan Allah yang berkenan kepada-Nya. Yang menerima rahmat Tuhan dan Yesus inilah yang mengawali. Penjelmaan-Nya inilah, Allah dahsyat yang menjadi bayi sederhana,” tandasnya.

Pastor Gunawam berpesan bahwa dibutuhkan hati yang sunyi dan sederhana namun berharap penuh kepada Tuhan dan menjadi miskin untuk dapat berjumpa dengan Yesus Kristus.

Misa Malam Natal tersebut berjalan dengan baik dan lancar juga berkat pengamanan dari TNI dan Polri serta organisasi dan paguyuban seperti diantaranya FKUB, Relawan Mimika dan PMI.

Selain itu juga, keterlibatan dari agama lain seperti Hindu dan Budha sebagai bentuk toleransi hidup beragama di tanah Timika yang kita cintai ini. (Elfrida Sijabat

HUT Ke-17 Gereja Katolik Sempan Timika, Pastor Gaby : Miliki Iman Yang Kuat Seperti Santo Stefanus

Anak-anak menari mengiringi persembahan ke meja altar

MIMIKA, BM

Jika kita berkunjung ke Gereja Katolik Santo Stefanus Sempan, Timika, kita dapat melihat patung Santo Stefanus yang berdiri diatas sebelum pintu masuk. Ya, Santo Stefanus merupakan santo pelindung gereja ini.

Ada yang menarik pada misa Hari Raya Natal Anak-anak di Gereja Katolik Santo Stefanus Sempan, Timika, Mimika, Papua Tengah, yang berlangsung pada Kamis (26/12/2024).

Pasalnya, misa Hari Raya Natal Anak-anak tersebut bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) paroki Santo Stefanus Sempan yang ke-17.

Nampak anak-anak memadati gereja didampingi orang tua dan mengikuti misa dengan hidmat. Dimana seluruh petugas baik paduan suara, lektor, mazmur dan persembahan dibawakan oleh anak-anak.

Pastor Paroki Santo Stefanus Sempan, Pastor Gabriel Ngga, OFM dalam kesempatan itu mengajak anak-anak dan seluruh umat paroki yang hadir untuk meneladani semangat kemartiran Santo Stefanus.

Dalam homilinya, pastor yang akrab di sapa Pastor Gaby ini mengatakan bahwa di dalam Bacaan I yang diambil dari kitab Kisah Para Rasul mengingatkan akan kisah bagaimana Santo Stefanus rela disiksa dan dibunuh demi mempertahankan imannya kepada Yesus Kristus.

“Semangat ini mesti menjadi semangat kita mempertahankan hidup beriman kita. Santo Stefanus sengaja ditempatkan oleh gereja menjadi martir pertama setelah kelahiran Yesus Kristus, Tuhan kita,” tuturnya.

Hal ini menurutnya untuk mengingatkan bahwa mengikuti Yesus Kristus itu harus penuh perjuangan, menjadi orang yang tangguh, memiliki iman yang kuat dan berani dalam menghadapi tantangan, godaan, permasalahan dan kesulitan yang terjadi didalam hidup.

“Kita diminta agar kita seperti Tuhan Yesus, setia kepada Bapa. Setia mengikuti apa yang diajarkan oleh Tuhan kita,” tandasnya.

Gereja Katolik Santo Stefanus Sempan, Timika

Pastor Gaby mengatakan berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika bahwa ada begitu banyak orang yang terkena penyakit HIV dimana persentase terbesar adalah di usia 15 tahun keatas.

“Itu disebabkan karena pergaulan bebas dan tidak sehat sehingga perlu sejak dini menyadari hal itu, agar kita didalam pergaulan tidak tergoda untuk ikut-ikut saja ajakan atau godaan,” ucapnya.

Untuk itu, Pastor Gaby berpesan agar setia kepada iman dan berkembang sebagai pengikut Yesus Kristus yang baik yang memiliki iman kuat seperti Santo Stefanus.

“Santo pelindung bertujuan agar kita menghayati semangatnya dalam mengikuti Yesus Kristus. Diharapkan kita semua mengenal siapa pelindung kita dan bagaimana semangatnya mengikuti Yesus Kristus. Semangat spiritualitasnya,” katanya.

“Hari ini juga adalah HUT paroki kita yang ke-17. Berarti paroki kita didirikan pada tahun 2007. Dimulai pada baptisan pertama yang dicatat pada buku paroki disini dan ini dimulai memang pada bulan Desember,” imbuhnya.

Lanjutnya, diusia Paroki Santo Stefanus Sempan yang masih muda ini Pastor Paroki Gaby menyebut bahwa paroki bukanlah soal budaya atau gedung melainkan persekutuan umat paroki itu sendiri dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik dalam semangat kekeluargaan dan kebersamaan.

“Dalam kebersamaan bukan tidak ada persoalan, tetapi bagaimana kita sebagai suatu persekutuan bisa menyelesaikan, mencari solusi, dan jalan keluar yang baik dari persoalan yang ada dan disitulah merupakan tugas semangat kemartiran kita,” ungkapnya.

Pastor Gaby mengajak seluruh umat Paroki Santo Stefanus Sempan bersatu hati dalam doa memohon kepada Santo Stefanus.

“Mari kita pada hari ini mohon agar Tuhan senantiasa memberikan suatu kehidupan yang sehat, senantiasa memiliki keberanian yang cukup kuat seperti Santo Stefanus. Semoga semangat Santo Stefanus senantiasa menyertai dan mendoakan kita,” pungkasnya. (Elfrida Sijabat)

Top