Budaya

Karena Pandemi, Sebaiknya Mereka Ini Jangan Ke Gereja dan Mesjid

Gereja Sempan telah dibuka sejak pekan lalu

MIMIKA, BM

Penularan Corona Virus di Mimika terus mengalami penurunan namun pandemi ini belum benar-benar berakhir.

Ini harus diingat dan menjadi catatan bagi semua masyarakat Mimika agar patuh pada penerapan protokol kesehatan.

Jika kita lalai dalam kepatuhan ini maka bisa saja penularannya kembali aktif dan akan lebih meningkat.

Apalagi dikhawatirkan masih ada kemungkinan gelombang kedua akibat dari dibukanya akses umum untuk transportasi udara termasuk laut nanti.

Saat ini Mimika tengah mempersiapkan diri menuju masa New Normal dengan diberlakukannya Status Tanggap Darurat Adaptasi Hidup Baru.

Kebijakan Adaptasi Hidup Baru ini secara tidak langsung merelaksasi banyak hal yang tidak kita temui lagi pada saat PSDD dan Pra New Normal kemarin.

Salah satunya yakni, dibuka kembali aktifitas peribadatan di rumah-rumah ibadah, baik gereja, mesjid maupun pura.

Hanya saja, dalam penularan Covid-19, perlu digaris bawahi bahwa ada kelompok masyarakat yang dikategorikan sebagai kelompok rentan sehingga mereka harus dilindungi.

Salah satunya, dengan tidak boleh mengikuti aktifitas peribadatan di rumah ibadah namun dapat dilakukan hanya dari rumah.

Mereka adalah lansia 60 tahun ke atas, yang memiliki riwayat penyakit ganguan saluran pernapasan, gangguan fungsi hati, ginjal, diabates dan komplikasi lainnya.

"Mereka ini harus berdoa dari rumah saja, termasuk anak-anak dan balita karena ini kelompok rentan yang harus kita lindungi. Masyarakat yang juga sedang sakit, batuk, sesak nafas dan pilek juga tidak boleh ke gereja atau mesjid. Selain protokol kesehatan, Ini salah satu cara kita saling menjaga," ujar Reynold Ubra.

Ia mengatakan, sejak pekan lalu sudah ada beberapa tempat ibadah yang telah dibuka dan telah menjalankan aktifitas peribadatan atau sembayang.

"Kami apresiasi gereja-gereja yang secara mandiri telah melakukan dan mempersiapkan penunjang protokol kesehatan secara mandiri termasuk di mesjid. Ini menunjukan bahwa kita semua punya tanggungjawab yang sama dalam menghadapi situasi saat ini," ujarnya.

Salah satu gereja yang telah menerapkan protokol kesehatan secara mandiri dan menyeluruh adalah Gereja Katolik Santo Stefanus Sempan. Bahkan pekan lalu, gereja ini telah melakukan tiga kali Misa Perayaan Ekaristi (Ibadah-Red).

Pantauan BeritaMimika pada pekan lalu, sebelum umat masuk di halaman gereja dilakukan pengecekan suhu tubuh oleh petugas yang dilengkapi dengan Alat Pelindung Wajah.

Jika didapati suhunya mencapai 37,5 derajat maka umat akan di suruh kembali dan berdoa dari rumah.

Di depan dan kedua pintu samping Gereja Sempan, juga telah tersedia 20 titik kran air dan sabun pencuci tangan. Umat wajib mencuci tangan sebelum masuk ke gereja.

Tempat kolekte untuk uang persembahan yang biasanya ada di dalam gereja juga dipindahkan ke depan gereja. Umat yang membawa persembahan langsung dapat memasukannya ke tempat tersebut sebelum masuk gereja.

Di dalam gereja setiap umat wajib menggunakan masker dan membawa hand sanitezer, walau Gereja Sempan telah menyiapkan hand sanitezer di beberapa tempat dalam gereja.

Umat juga tidak diperbolehkan masuk seenaknya dan memilih tempat karena sudah ada petugas yang akan mengantar dan mengatur tempat duduk umat.

Kursi yang disediakan juga telah diberi garis berbatas sehinga satu kursi yang biasanya memuat 5-6 orang hanya bisa duduki oleh 2 orang secara terpisah.

Saat menyambut Sakramen Kudus, pastor dan umat juga dibatasi dengan sekat pemisah. Batas jarak juga telah disediakan ketika umat akan melakukan komuni atau menyambut Sakramen.

Perayaan ekaristi pada misa pertama pekan lalu dihadiri sekitar 100 umat paroki gereja ini. Dari kapasitas gedung dan tempat duduk, Gereja Katolik Stefanus Sempan mampu menampung 2000 umat.

Namun di musim pandemi Covid-19 ini, kapasitas ruang gereja di seting sedemikian rupa sehinga hanya dapat menampung 670 umat.

Bagi umat Katolik yang beribadah di Gereja Katolik Santo Stefanus Sempan, Misa pertama diadakan hari Sabtu pukul 17.30 Wit.

Sementara hari Minggu dibagi menjadi tiga yakni Misa I pukul 06.30 Wit, Misa II pukul 08.30 Wit dan Misa III pukul 16.30 Wit.

Dan perlu diingat, di tengah pandemi ini balita dan anak-anak, orangtua (diatas 60 tahun), mereka yang terkena batuk, flu dan pilek tidak diperkenankan mengikuti misa di Gereja Sempan. Protokol dan aturan-aturan ini sudah dilaksanakan dan diumumkan juga oleh Pastor Paroki Santo Stefanus Sempan Maximilanus Dora, OFM. (Ronald)

Gereja Katolik Santo Stefanus Sempan Dibuka, Bertepatan Dengan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus

Berlangsungya perayaan Ekaristi di Gereja Sempan 

MIMIKA, BM

Setelah mendapatkan izin dari pemerintah daerah melalui Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (TGTPP) Covid-19 Mimika, Gereja Santo Stefanus Sempan, kembali merayakan perayaan ekaristi kudus, Minggu (14/6).

Perayaan ekrasti yang dimulai kembali setelah hampir 3 bulan lamanya gereja ditutup karena pandemi corona, bertepatan momennya dengan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus yang diperingati oleh seluruh umat Katolik dimanapun berada.

Dalam khotbanya Pastor Paroki Santo Stefanus Sempan Maximilanus Dora, OFM mengatakan dalam keadaan normal, biasanya pada perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, dilakukan komuni pertama (sambut baru-red) di berbagai gereja.

"Dalam perayaan ekaristi, kita menyantap makanan dan minuman rohani sebab Yesus mengatakan tubuh-KU benar-benar makanan dan darahku-KU benar-benar minuman. Tubuh dan darah Yesus kita sambut dalam rupa roti dan anggur," ujarnya.

Sambung Pastor Maxi, Paus Yohanes Paulus II pernah menegaskan bahwa roti dan anggur bukan hanya sebagai unsur alamiah namun merupakan tubuh dan darah Kristus.

"Iman kita meyakini hal ini. Meskipun yang terlihat adalah roti putih tak beragi, namun Iman kita memastikan bahwa itu adalah tubuh dan darah Yesus. Itulah mengapa perayaan ekaristi begitu istimewa untuk kita semua," imbuhnya.

Ia mengatakan Yesus adalah roti hidup yang turun dari surga. Tubuh Kristus yang diberkati kepada umat untuk mendapatkan jaminan kehidupan yang kekal.

"Mari kita menjadikan roti ekaristi sebagai makanan istimewa yakni dengan sikap yang pantas dan disposisi hati yang baik. Rindukanlah selalu untuk menyambut-Nya setiap hari atau setiap minggu sekali. Dengan menyambut tubuh dan darah Kristus kita diingatkan bahwa Tuhan senantiasa mencintai, memelihara dan menjamin hidup kita. Tuhan hadir tidak secara fisik namun hadir secara sakramnetal," tandasnya.

Perlu diketahui, perayaan ekaristi di Gereja Sempan sangat memegang teguh penerapan protokol kesehatan.

Sebelum umat masuk di dalam gereja dilakukan pengecekan suhu tubuh oleh petugas yang dilengkapi dengan Alat Pelindung Wajah.

Jika didapati suhunya mencapai lebih dari 37,5 derajat maka umat akan di suruh kembali dan berdoa dari rumah.

Di depan dan kedua pintu samping Gereja Sempan, juga telah tersedia 20 titik kran air dan sabun pencuci tangan. Umat wajib mencuci tangan sebelum masuk ke gereja.

Perayaan Ekaristi dipimpin Pastor Paroki, Pater Maxi OFM

Tempat kolekte untuk uang persembahan yang biasanya ada di dalam gereja juga dipindahkan ke luar. Umat yang membawa persembahan langsung dapat memasukannya ke tempat tersebut sebelum ke dalam gereja.

Di dalam gereja setiap umat wajib menggunakan masker dan membawa hand sanitizer, walau Gereja Sempan telah menyiapkan hand sanitizer di beberapa tempat dalam gereja.

Umat juga tidak diperbolehkan masuk seenaknya dan memilih tempat karena sudah ada petugas yang akan mengantar dan mengatur tempat duduk umat.

Kursi yang disediakan juga telah diberi garis berbatas sehinga satu kursi yang biasanya memuat 5-6 orang hanya bisa duduki oleh 2 orang secara terpisah (social distancing).

Saat menyambut sakramen kudus, pastor dan umat juga dibatasi dengan sekat pemisah. Batas jarak juga telah disediakan ketika umat akan melakukan komuni atau menyambut sakramen.

Perayaan ekaristi pada misa tadi pagi dihadiri sekitar 100 umat. Dari kapasitas gedung dan tempat duduk, Gereja Katolik Stefanus Sempan mampu menampung 2000 umat.

Namun di musim pandemi Covid-19 ini, kapasitas ruang gereja di setting sedemikian rupa sehingga hanya dapat menampung 670 umat.

Di masa pemberlakuan Pra New Normal ini, Gereja Katolik Santo Stefanus Sempan yang biasanya tiga kali menjadi empat kali misa dalam seminggu.

Misa pertama diadakan hari Sabtu pukul 17.30 Wit. Sementara hari Minggu dibagi menjadi tiga yakni Misa I pukul 06.30 Wit, Misa II pukul 08.30 Wit dan Misa III pukul 16.30 Wit. Selama masa ini, anak-anak di larang ke gereja karena perayaan ekaristi saat ini hanya dikhususkan bagi orang dewasa.

Sebelum berkat perutusan pada perayaan ekaristi Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus pagi tadi yang juga disiarkan secara live Streaming, Pastor Paroki Santo Stefanus Sempan Maximilanus Dora, OFM juga memberikan sosialisasi kepada umat tentang bagaimana cara mencuci tangan dengan baik dan benar di tengah pandemi Covid-19 saat ini. (Elfrida)

Tempat Ibadah Di Mimika Kembali Dibuka

Pertemuan Pemda Mimika dan tokoh-tokoh agama

MIMIKA, BM

Guna menindaklanjuti instruksi Bupati Mimika Eltinus Omaleng Nomor 6 Tahun 2020 tentang Pencegahan, Penanggulangan dan Pengendalian Covid-19, maka Pemerintah Daerah Mimika melakukan pertemuan bersama tokoh-tokoh agama.

Pertemuan ini membahas tentang kebijakan pemberlakukan Status Tanggap Darurat Pra New Normal di Moza, Kamis (11/6) siang.

Asisten III Bidang Administrasi Umum Setda Mimika, Nicolaas Kuahaty mengatakan, penerapan masa pra new normal disambut baik oleh masyarakat Mimika.

Pasalnya, semua aktifitas yang sebelumnya tidak bisa dilakukan kini mulai dibuka secara bertahap, termasuk aktifitas di tempat ibadah kembali dibuka.

Ia mengatakan pertemuan ini bertujuan untuk menyamakan persepsi bahwa pencegahan penyebaran virus ini merupakan tanggung jawab bersama dalam hal ini komunitas keagamaan.

"Kita berharap bahwa mereka (tokoh agama-red) sebagai pimpinan gereja, masjid dan wihara bisa menjadi alat penyambung untuk mengedukasi umat guna memahami bahwa kita sudah berada pada sebuah gaya hidup baru,," tutur Nicolaas.

Dikatakan, aktifitas peribadatan kembali dibuka namun pelaksanaan ibadah wajib memperhatikan protokol kesehatan Covid-19 yaitu menjaga jarak, gunakan masker dan cuci tangan pakai sabun sebelum beribadah.

Nicolaas menyebut, ada beberapa pimpinan agama yang juga telah menyiapkan thermo gun (pendeteksi suhu badan) di tempat ibadah mereka.

"Bagi yang belum memiliki thermo gun, pemerintah daerah akan memberikan bantuan sehingga semua tempat ibadah memilikinya,"ungkapnya. (Shanty)

Top