Nasional

PT Freeport Indonesia Fasilitasi 10 Media Dari Papua Hadiri Hari Pers Nasional di Kendari

Salah satu sudut Kota Kendari, Sulawesi Tenggara

KENDARI, BM

PT Freeport Indonesia (PTFI) terus menunjukan kepedulian dan dukungannya kepada media di Papua, salah satunya dengan membawa serta 10 media dari Papua untuk mengikuti Hari Pers Nasional (HPN) 2022 yang berlangsung pada 9 Februari di Kendari, Sulawesi Tenggara.

10 media asal Papua ini, 5 dari Mimika dan 5 dari Jayapura. Media asal Mimika adalah BeritaMimika, Seputar Papua, 60 detik, Fajar Papua dan Tribun News.

Sementara 5 media lainnya yang berasal dari Jayapura adalah Tribun Papua, Kabar Papua, Papua Inside, Lintas Papua dan Antara.

Perwakilan 10 media ini telah bertolak dari Jayapura dan Mimika pada penerbangan siang dan sore kemarin, Senin (7/2) dan kini telah berada di Kendari, Sulawesi Tenggara.

Supertenden Corpcom PT Freeport Indonesia, Karel Luntungan yang ikut dalam perjalanan ini mengatakan, PTFI ingin agar media di Papua juga dapat melihat bagaimana dunia jurnalistik di tingkat nasional.

Karel juga mengatakan bahwa apa yang PTFI tunjukan ini juga merupakan bagian dari kerjasama dan kolaborasi yang telah terjalin selama ini antara PTFI dan media di Papua, khususnya di Timika dalam membangun Mimika dan Papua.

"Freeport juga berterimakasih karena selama ini banyak dukungan yang sudah diberikan oleh media di Timika sehingga di momen hari pers ini kita ajak teman-teman untuk melihat kegiatan puncak nanti," ungkapnya.

Ia berharap, berbagai hal yang dapat dilihat dan didapatkan dari pengalaman di Kendari pada Hari Pers Nasional 2022 ini menjadi motivasi bagi media di Mimika dan Papua untuk semakin berkembang.

"Ini harapan kami PTFI. Semoga pengalaman yang didapatkan pada momen HPN 2022 ini menjadi motivasi lebih agar media di Timika dan Jayapura semakin berkembang," harapnya.

Diakui Karel, momen HPN 2022 di Kendari ini, PTFI tidak dapat melibatkan semua media. PTFI hanya mendatangkan beberapa media dari Timika dan Jayapura.

"Tiga empat tahun lalu, kami selalu membawa media dari Papua untuk mengikuti kegiatan HPN, kecuali pada saat pandemi kemarin. Karena banyaknya media sehingga rencananya kita akan lakukan ini secara bergantian. Artinya, di momen HPN berikutnya PTFI akan libatkan media lain yang mungkin saat ini belum disertakan. Kami tidak bisa semua sekaligus sehingga akan dilakukan bergantian setiap tahun nanti," terangnya.

Sementara itu, sejak pagi ini, Selasa (8/2), awak media dari Papua telah mengikuti sejumlah kegiatan yang diawali dengan jalan pagi bersama.

Sesuai jadwal, pada siang nanti awak media secara nasional termasuk Papua juga akan mengikuti giat Pelepasliaran Hewan Andemik, pertemuan Editor Forum Pemred dan Rapinmas Serikat Media Cyber Indonesia. (Ronald)

Panglima TNI Akui Sudah Kantongi Nama Pelaku Penembakan yang Menewaskan Tiga Prajuritnya di Gome


Panglima TNI Jenderal Muhammad Andika Perkasa saat melakukan konferensi pers di Rimba Papua Hotel, Jumat (28/1)

MIMIKA, BM

Sejak Kamis (27/1) malam hingga Jumat (28/1) hari ini, Panglima TNI Jenderal Muhammad Andika Perkasa, sedang berada di Kabupaten Mimika.

Panglima TNI hadir ke Timika untuk melihat langsung 3 jenazah prajuritnya yang menjadi korban penembakan kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Distrik Gome, Kabupaten Puncak, Kamis (27/1), sekitar pukul 05.00 Wit.

Tiga anggota TNI yang meninggal dalam penyerangan tersebut adalah Sersan I Anumerta Rizal Maulana Arifin, Prajurit Kepala Tupal Halomoan Barasa dan Prajurit Kepala Anumerta Rahman T.

Jenazah ketiga prajurit kebanggaan NKRI ini  ini pada Jumat (28/1) pagi telah diterbangkan ke daerah asal disaksikan Panglima TNI usai dilakukan upcara militer pelepasan jenazah.

Usai melakukan prosesi tersebut, Panglima TNI kemudian pada sore hari di Rimba Papua Hotel, melakukan konferensi pers kepada media.

"Kami sudah dari kemarin di sini untuk mendalami insiden yang terjadi sepanjang hari kemarin yang mengakibatkan 3 anggota TNI angkatan darat gugur," Jelas Panglima TNI Jenderal TNI Andika Perkasa saat jumpa pers di RPH, Jumat (28/1).

Kepada media, Panglima Andika mengatakan, amarhum Sersan I Anumerta Rizal Maulana Arifin berasal dari Batalyon 408 Jawa Tengah. Almarhum merupakan orang Dai Kolot Bandung.

Almarhum Prajurit Kepala Tupal Halomoan Barasa juga dari Batalyon 408 di Jawa Tengah namun almarhun berasal dari Jambi. Sementara Prajurit Kepala Anumerta Rahman T yang juga dari Batalyon 408 berasal dari Maluku Tengah.

"Mereka sudah di evakuasi kemarin dari Ilaga sekitar pukul 12.00 WIT dan tadi malam di semayamkan di Batalyon 754. Saya sendiri beserta pejabat dari Mabes TNI tadi malam juga sudah mengunjungi mereka dan memberikan penghormatan terakhir kepada prajurit kami yang gugur di Ilaga," kata Andika.

Panglima Andika menegaskan, pihak TNI tidak ada sedikitpun usaha-usaha yang memprovokasi asal muasal sehingga mengakibatkan terjadinya penyerangan ini.

Kondisi saat itu, anggotanya tengah melakukan tugas rutin namun kemudian mendapatkan penyerangan.

"Jadi terus terang mereka-mereka yang memilih cara-cara yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan. Mau tidak mau mereka harus membayar dan harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka," tegasnya.

Terkait penyerangan tersebut, Panglima TNI Jenderal Muhammad Andika Perkasa mengatakan TNI telah mengantongi nama-nama pelaku penyerangan dan penembakan.

Panglima TNI mengaku pihaknya juga telah mempelajari situasional tersebut berdasarkan penjelasan-penjelasan dari beberapa individu yang juga berada di Gome termasuk seluruh jajaran di Kodam Cenderawasih.

"Nama-nama itu yang akan terus kami kejar untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya," tegasnya.

Lanjutnya, TNI juga telah melakukan evaluasi  tentang apa yang harus dilakukan kedepannya khususnya kepada anggota yang bertugas di Papua.

Ia kembali menegaskan bahwa tidak akan ada lagi korban yang timbul akibat tindakan TNI kecuali yang terlibat dalam tindakan-tindakan pidana yang melanggar hukum nasional NKRI.

"Jadi secara umum tidak ada lagi korban yang ditimbulkan akibat tindakan-tindakan misalnya  oleh prajurit-prajurit kami yang bertugas di Papua," ujarnya.

"Tetapi jatuhnya korban TNI yang juga terjadi di Papua Barat dan Ilaga Kabupaten Puncak ini adalah tindakan melawan hukum, tindak pidana pembunuhan yang dilakukan oleh beberapa oknum masyarakat. Inilah yang kami evaluasi juga," ungkapnya.

Diakui Panglima TNI, dua insiden terakhir ini secara detail telah dibuatkan referensi khusus untuk tindakan selanjutnya namun hal tersebut tidak bisa ia sampaikan pada konferensi pers ini.

"Kami tidak akan ada penambahan anggota. Kami tetap menggunakan mereka yang sudah bertugas di sini. Secara umum kan selama ini kita sudah menggunakan personil yang memang di kirim bertugas ke Papua dan sekarang kita tugaskan mereka untuk melakukan tugas-tugas Kodim dan Koramil,” ungkapnya.

Saat ini, Panglima TNI Jenderal Muhammad Andika Perkasa bersama jajaranya masih berada di Timika. Panglima akan terus memantau situasional di Papua secara keseluruhan dari Timika dan rencananya Sabtu (28/1) besok akan kembali bertolak ke Jakarta. (Shanty)

Ikatan Keluarga Maluku di Mimika Mengutuk Keras Peristiwa di Sorong dan Kariu

Anggota Ikemal Maluku di Mimika saat menyamapikan konferensi pers terkait persoalan di Ambon dan Sorong

MIMIKA, BM

Ikatakan Keluarga Maluku (Ikemal) Mimika mengadakan pertemuan menyikapi persoalan horisontal bernuansa SARA yang terjadi di kota Sorong yang juga diduga meluas ke desa Kariu Maluku Tengah agar tidak sampai meluas di Mimika.

Rapat yang dipimpin oleh Ketua Ikemal Piet Rafra dihadiri ketua-ketua suku dari berbagai wilayah Maluku yang berlangsung di Hotel Paparisa, Kamis (27/1).

Dalam rapat tersebut, Ketua Ikemal Piet Rafra mengajak masyarakatnya yang berada di Mimika agar tidak terprovokasi.

Piet Rafra mengatakan, konflik antara orang Maluku sangat memalukan. Dan menghimbau  agar kejadian tersebut tidak merembes ke Mimika. Karena sejak pendahulu hadir di Mimika datang dengan penuh cinta kasih turut membuka daerah ini dan wajib dijunjung sebagai perantau di bumi Amungsa.

"Kita semua di daerah perantauan dimana kita harus menghormati yang punya daerah ini khususnya Kamoro dan Amungme pemilik tanah ini.  Sekalipun jasa-jasa orangtua-orangtua turut membuka daerah ini. Tetapi mereka membuka dengan penuh kasih sayang, berpendidikan dan beragama," tutur Piet.

Ia mengingatkan semua warga Maluku tentang nilai-nilai ini. Pasalnya di Mimika ada juga warga kampung Kariu (kampung kristen) dan Kampung Pelau (kampung muslim).

Ia meminta baik pemerintah yang ada di kota Sorong maupun Maluku termasuk pemerintah pusat agar segera dapat menyelesaikan persoalan ini.

"Pemerintah pusat dan Maluku dengan segala kemampuan diharapkan dapat menyelesaikan persoalan ini agar tidak berimbas pada kerusuhan SARA. Jangan sampai kita malu untuk berulang kali sebagaiman peristiwa yang terjadi pada tahun 1999 sebelumnya,”harapnya.

Sementara itu, Thom Tatiratu, Ketua Maluku Tenggara ( IKBMT) mengutuk keras peristiwa yang terjadi di dua tempat ini. Ini menjadi tanggungjawab bersama dalam hal mengangamankan kehidupan orang Maluku yang ada di tanah Amungsa ini.

"Sehingga kebersamaan yang sudah kita bangun dengan begitu luar biasa dan begitu lama tidak terjadi konflik antar suku. Masyarakat kami selalu mengupayakan untuk memperkecilkan langkah untuk mengantisipasi hal ini," Kata Thom.

Ia mengatakan bahwa di tempat perantauan ini semua datang mencari hidup dan bekerja sehingga perlu menjaga toleransi dan kekeluargaan secara bersama.

Persoalan ini dikecamnya dan ia berharap pemerintah dapat menyelesaikannya. Ia berharap gubernur dan wakil gubernur tidak biarkan masyarakat menderita karena persoalan ini.

"Kalau tidak cepat diatur akan membangun presepsi yang buruk. Saya harap supaya siapa saja yang punya kompetensi sebagai tokoh-tokoh Maluku tengah yang ada di Kabupaten Mimika ini tolong hindari dan jangan kita kebangkan persoalan yang terjadi diatas tanah ini. Mari bergandengan tangan sesuai dengan semboyan ”potong di kuku jangan sampai menjadi darah. Potong di kuku rasa didaging. Tolong selesaikan persoalan ini dengan cara mereka, jangan bikin kita rusak,”harapnya.

Selanjutnya, Anton Welerubun Ketua Kerukunan Maluku Tenggara, juga mengutuk peristiwa ini. Menurutnya kejadian tersebut merupakan tindakan-tindakan yang sungguh tidak berprikemanusiaan.

"Apalagi kita semua adalah anak-anak Maluku. Untuk apa ada sumpah-sumpa pela gandong kalau akhirnya terjadi seperti ini," tambah Anton.

Akibat perbuatan mereka, kata Anton, ada beberapa paguyuban juga mengalami masalah sehingga ia pun menyampaikan permohonan maaf.

"Hidup dengan masyarakat yang heterogen, kita harus satu konsep bahwa merupakan negara Bhineka Tunggal Ika. Sehingga perlu saling menghargai keyakinan agama masing-masing. Kerukunan masing-masing diharapkan juga untuk menjaga kamtibmas di Mimika," harapnya.

Anton meminta, untuk semua warga Maluku menghargai dan menghormati basudara yang memiliki petuanan atas negeri ini, termasuk suku-suku lainnya dengan hidup bersama dan berdampingan tanpa haus saling menyakiti.

Ia mengatakan, masala yang terjadi semuanya bisa diselesaikan tinggal bagaimana mencari solusi yang terbaik.

Hal yang sama juga disampaikan kerukunan Maluku lainnya seperti Yanto Kepulauan Aru. Ia juga mengutuk keras peristiwa yang terjadi di Malulu dan Sorong.

Hal senada juga di sampaikan Ismail  dari kerukunan Seram dan Eli Ratuanik dari Tanimbar yang juga mengutuk peristiwa tersebut.

"Saya mengutus keras kejadian yang terjadi di Maluku. Kepada Kapolda dan Gubernur Maluku dan Bupati yang di sana supaya oknum-oknum itu ditangkap karena itu kesengeajaan yang dibuat,”kata Ismail.

Usai menyampaikan pernyataan dari masing-masing kepala suku, semuanya dituangkan dalam satu pernyataan sikap bersama yang terdiri dari 3 point penting untuk mengatasi melebarnya imbas konflik yang terjadi di Sorong dan Desa Kariu Maluku.

Pertama, menghimbau seluruh masyarakat Maluku di Timika untuk tidak saling memprovokasi keadaan yang bisa menimbulkan masalah baru.

Kedua, masing-masing kepala suku menghimbau dan mengendalikan masyarakatnya supaya tidak membuat keadaan konflik yang terjadi di Sorong dan Desa Kariu sebagai konflik Kesukuan dan Agama.

Dan ketiga, menegaskan kepada Aparat Keamanan untuk langsung menindak tegas oknum-oknum yang menebarkan isu-isu juga tindakan anarki yang membuat pertikaian di Timika terhadap konflik yang terjadi di Sorong dan Desa Kariu Maluku. (Shanty)

Top