Lihat Potensi Anak Papua di Basket, Ketua Umum Perbasi Pusat, Sampaikan Hal Ini


Ketua Umum Perbasi Pusat, Danny Kosasih

MIMIKA, BM

Ketua Umum Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi), Danny Kosasih selama dua hari melihat berlangsungnya even Indonesia Basketball Festival (IBF), ia mengatakan ada beberapa anak Papua yang memiliki talenta bagus bahkan disejajarkan dengan kemampuan tim nasional.

Hal ini diungkapkannya kepada awak media Sabtu (8/1) di Mimika Sport Complex (MSC).

“Saya datang kesini mau memulai suatu pembangunan prestasi di Timika. Ketika saya lihat pertandingan JungleBoys mereka itu sekelas di Jawa, kelas bagus cuman kurang jam terbang,” katanya.

“Anak-anak ini perlu diasah, coba setiap Jumat dikasih game terus supaya matang. Kalau perlu ada satu atau dua anak yang bermain bagus dikirim ke Jawa, dititipkan ke suatu daerah supaya ikut kompetisi. Jakarta bagus karena kompetisinya bagus. Kalau kompetisi tidak bagus percuma,” imbuhnya.

Menurutnya, mengirim satu tim ke Jawa dirasa tidak perlu. Akan lebih baik jika diadakan dan bila perlu mengundang dari daerah lain untuk bertanding (sparing-red) ke Timika.

“Jungleboys ini levelnya sudah seperti di Jawa seperti kerapihan, sangat rapi. Ini tim bagus. Nomor enam kalau perlu saya bawa dia, pasti bisa, mereka hanya kurang jam terbang. Anak Papua bukan kurang bakat namun kurang diasah,” ungkapnya.

Danny melihat potensi yang dimiliki oleh anak Papua sudah ada dalam diri Rioni dan dua pemain tim nasional yang salah satunya dari Timika. Ini adalah bukti talenta pebasket yang dimiliki dari negeri matarhari terbit Papua.

“FIBA pernah mengirim pelatih ke Papua, pelatih dari Serbia tetapi tertahan di Singapura karena tidak mengurus visa dengan baik. Kalau FIBA saja memberikan perhatian ke Papua maka kalau bangsa Indonesia tidak memberikan perhatian juga kan aneh. Ini saatnya kita membangun bersama untuk Papua,” tandasnya.

“Southeast Asia Basketball (SEAB) menilai satu-satunya negara yang bisa mengalahkan Filipina adalah Indonesia, karena Indonesia punya Papua. Anak-anak Papua posturnya pun bagus, sayang jika tidak dilatih hanya mereka tidak mendapat game yang bagus kalau ke Jawa saya yakin pasti bagus,” pungkasnya.

Untuk pelatih dan referee pun menurutnya perlu untuk mendapatkan pelatihan dan pengembangan di Jawa bukan untuk tiga atau empat hari saja namun enam bulan.

“Kalau empat hari bagaimana bisa berubah tapi kalau enam bulan ikut trainning tim nasional elit muda bisa belajar banyak. Kalau tim Indonesia tidak membangun Papua itu salah, di tim nasional sudah ada dua dari Papua salah satunya Reza. Mari kita membangun Papua ke depan,” harapnya. (Elfrida)

Top